Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Sambutan dari Mertua


__ADS_3

"Mbak, Ibu hanya bisa menasihati kamu harus bisa jaga diri dan selalu ingat Tuhan." Haya itu yang Ibu katakan ketika aku berpamitan pada kedua orang tuaku. Sangat berbeda dengan dulu  yang selalu berbicara dari A sampai Z udah itu kembali ke A lagi dan ke Z lagi. Seperti itu, Ibu selalu cemas dan takut kalau anaknya kenapa-kenapa. Namun, saat ini beliau hanya memberikan wejangan yang sangat singkat.


Justru lebih terlihat Ibu juga bingung mau berbicara dengan aku. "Maafkan Lydia yang tidak bisa berlama-lama di rumah ini, padahal di sini masih banyak kekacauan, tetapi Lydia malah pergi dari rumah dan membiarkan Ibu dan Bapak mengurusnya sendiri," ucapku menyampaikan unek-unekku.


Ibu kembali mengusap pundakku. "Bukan Ibu mengusir, tapi lebih baik kamu memang tidak ada di rumah ini. Ibu takut malah ada hal yang tidak diinginkan."


Aku kembali tersenyum dan mengangguk apa yang Ibu katakan tentu masuk diakal. Aku sendiri juga sebenarnya berpikir hal yang sama. Setelah berpamitan dengan Ibu, dan Bapak serta ponakan-ponakan aku, kami pun mulai meninggalkan rumah masa kecilku. Berat masih menggelayuti di hatiku. Aku lebih terpikirkan dengan Ibu yang nampaknya sangat syok dengan serentetan kejadian ini. Aku lihat Ibu yang biasanya lebih dekat dengan aku saat ini pun lebih diam dan juga jarang menegurku.


Pikiranku sempat berburuk sangka, mungkinkah Ibu juga kecewa dengan aku? Namun, aku segera menepisnya, tidak mungkin rasanya Ibu kecewa dengan aku. Apalagi aku tidak tahu menau dengan apa yang terjadi denga Lyra. Sehingga aku menduga Ibu kecewa dengan Lyra dan orang lain jadi korbanya.


"Kamu tenang saja. Nanti kalau kodisi keluarga kamu sudah membaik kita datang lagi berkunjung ke rumah kamu, untuk menjenguk orang tua kamu. Saat ini kamu memang harus ke luar dari rumah itu. Karena kalau Lyra sadar dan melihat ada kamu bisa saja dia kembali emosi atau justru dengan pemikiran yang lain. Sekarang biarkan adik kamu sembuh dulu dan mepertanggung jawabkan atas perbuatanya, yaitu mondok di pesantren yang berada di luar pulau." Mas Aarav pun mulai membuka obrolan.Yang entah dari mana sejak masuk ke dalam kendaraan roda empat aku justru lupa kalau di sampingku duduk kang mas suami.


"Tapi apa nanti dia akan bisa menerima mengingat dia itu paling beda dari kita semua, dari kecil di memang sudah kelihatan kalau sulit dinasehati. Aku sebenarnya hanya kasihan sama Bapak dan juga Ibu mengingat beliau sudah Tua. Mas lihat kan bagaimana Ibu jadi murung terus sejak kejak kemarin." Aku menatap Mas suami dengan dalam.

__ADS_1


"Kamu tenang saja, orang tua kamu pasti tahu mana yang terbaik untuk anaknya. Dan kalau Lyra sulit untuk berubah itu juga yang rugi paling dia. Dunia hanya sementara kalau dia nggak segera tobat yang rugi juga dirinya sendiri, Tinggal pilih dia mau masuk surga atau neraka," ucap suamiku, di mana hati ini langsung damai mendengarnya.


Aku menatap kagum sama mas suami baru tiga hari menjadi suami bahasanya sudah kelihatan makin baik. Makin dekat dengan Alloh.


"Kenapa lihatin aku kaya gitu sih? Pasti mau bikin puisi lagi," tegasnya wajahnya sudah merah merona. Mungkin dia kira kalau aku akan menggombalinya dengan rangkaian baik-baik cinta yang selalu bikin kang Mas suami salting. Namun nyatanya aku sedang mengagumi suamiku yang pemahaman agamanya sedikit ada perubahan dari sebelumnya.


Tentu tidak seperti pertama aku kenal dia untuk ibadah wajib lima waktu pun aku rasa kang mas suami asal inget atau justru dengan sengaja meninggalkanya. Namun sekarang malah seolah aku dan Mas suami sedangkan berlomba untuk lebih dulu meningkatkan sholat. Aku sangat senang melihat perubahan ini.


"Kita pulang ke rumah Mamih yah. Mamih kirim pesan katanya sudah masak banyak kesukaan kamu. Emang makanan kesukaan kamu apa? Kok malah aku nggak tahu makanan ke sukaan istri," ucap Mas Aarav dengan menunjukan ponsel yang di dalam sana mamih mertua baru saja mengirimkan pesan.


"Aku di mana ajah tidur mah ayok aja Mas, dan soal makanan kesukaan aku itu suka semua makanan. Tidak ada yang tidak aku sukai, jadi kayaknya nggak ada yang khusus kalau di masakan ini suka banget. Semua sama suka semua," jawabku dan memang aku soal makanan segampang itu. Beda sekali dengan mas bojo kalau di tanya makan itu harus mikir dulu udah gitu makan harus di hitung kalori yang masuk dan keluar sangat ribet, ngatur rumus-rumusnya.


"Kok aku jadi tersinggung yah. Kamu kaya lagi nyindir aku," kelakar mas bojo padahal aku  memang setengah menyindir. Karena kebiasaan kalau mau makan buat malam, sarapan moodaku harus sudah bertanya makan malam nanti begitupun untuk sarapan. Ribet deh kalau soal makanan untuk kang mas bojo.

__ADS_1


"Hehe... Lydia memang setengah menyindir, kadang sampai bosen banget bolak balik nunggu pesan masuk nungguin balasan mas mau makan apa," ucapku jujur, unek-unek yang kemarin-kemarin akhirnya bisa aku katakan juga.


Sontak saja aku lihat mas suami terkejut, "Jadi kamu sering marah kalau aku telat balas chat untuk kasih tau menu makan malam dan sarapan?" tanyanya dengan wajah yang terlihat serius.


"Marah mah tidak, hanya saja sedikit kesal karena kadang Lydia harus buang waktu untuk nunggu. Giliran sudah mendekati makan malam atau sarapan mas bilang ingin makan ini. Kadang kita harus keja dengan terburu-buru agar waktunya makan malam atau sarapan sudah siap," balasku lagi. Yah, bukanya kalau  sudah jadi suami istri saling terbuka, agar mau memperbaiki apa yang tidak di suka pasangan. Dan mau melakukan perubahan.


Mas Aarav pun langgung merakulku dan tertawa renyah. "Ya Tuhan, aku minta maaf yah, jujur kadang aku kelupaan kadang juga memberikan kesempatan pada kamu untuk kamu berkreasi kamu masak apa kalau aku nggak balas, dan ternyata masakan yang kamu sajikan selama ini selalu sesuai dengan selera aku. Terus kenapa kamu nggak bilang mana yang tidak suka," ucap kang mas bojo, sembari terus mengecup pucuk kepalaku sebagai ucapan maaf.


"Kalau kemarin mana berani, kan Lydia masih jadi pembantu. Nah, makanya sekarang Lydia bilang biar Mas jangan kaya gitu lagi, jadi kita bisa siap-sipa dari jauh-jauh waktu untuk menyiapkan bahan-bahanya, dan pas Mas pulang Lydia sudah tingga masak jadi makanan masih hangat. Lain kali jangan kaya gitu lagi yah," ucapku dengan suara yang sedikit lembut agar Mas bojo tidak merasa digurui oleh aku. Kadang niatnya menegur karena bahasanya yang kurang pas atau bahkan nada bicaranya yang kurang pas juga bisa membuat sakit hati orang yang kita tegur.


"Iya Sayang, Mas janji lain kali nggak kaya gitu lagi." Mas Aarav kembali menghujami aku dengan kecupan mesra tentu dengan pelan agar yang di depan tidak merasa jadi obat nyamuk.


Kini setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang aku pun sampai di rumah mamih mertua yang sudah di sambut oleh mertuaku dan juga Bi Lastri dan asisten rumah tangga yang lainya. Tanpa terasa aku pun merasa sangat tihargai. Mereka benar-benar menganggap aku sebagai keluarga. Aku merasakan benar-benar memiliki keluarga yang utuh.

__ADS_1


__ADS_2