
"Pertanyaanya apa aja?" tanya Lydia dan Mimin hampir bersamaan.
"Kalian kompak banget," ledek Handan.
"Iya penasaran takut besok salah jawab," balas Mimin dengan wajah yang serius, tentu Handan tertawa mendengar jawaban Mimin.
"Pertanyaan untuk kamu jelas beda Min, barusan Aarav di periksa sebagai saksi untuk pembeli, sedangkan kamu dituduh dengan dugaan sebagai penjual jelas pertanyaanya beda dong."
Mendengar jawaban dari Handan wajah Mimin langsung berubah, hal itu bisa dilihat dari tatapan matanya yang terlihat sangat mendung.
"Terus pertanyaan yang akan ditanyakan padaku kira-kira soal apa?" tanya Mimin, ada harapan Handan bisa cari solusi atas dirinya, ini adalah pertama kalinya dia berurusan dengan hukum tentu ada rasa takut kalau salah jawab setatusnya akan naik dari saksi menjadi tersangka dan hari-harinya akan dilalui didalam penjara.
"Kalau menurut saya tidak akan jauh dari alasan kamu menyerahkan Iko pada Aarav dan Lydia, lalu apakah tuduhan Wijaya benar atau tidak, lalu kalau kamu bilang tidak, alasanya apa, sekalian kamu serahkan bukti-buktinya sekuat apapun itu, nah nanti kalau sidang saksi bisa didatangkan untuk memberikan saksi tambahan dan pasti pertanyaanya tidak akan jauh dari alasan kamu dan keputusan kamu memberikan Iko pada Aarav dan Lydia. Lalu paling kenapa kamu memilih menyerahkan pada Aarav dengan Lydia. Dan untuk pertanyaan Lydia yang dituduh menjadi pembeli pasti juga alasan mau menerima Iko sebagai anak, serta pertanyaan seperti saat kalian mau adopsi anak seperti kasih sayang, kebutuhan finansial dan penghasilan."
"Kalian tenang saja jangan tegang itu hanya pertanyaan biasa kok." Aarav mengusap punggung tangan sang istri yang tampak berkeringat.
"Tetap saja Mas takut kalau nanti malah salah jawab. Apalagi ini adalah kali pertama Lydia berurusan dengan polisi."
"Iya betul, aku juga baru pertama kali berurusan dengan polisi Lyd." Mimin pun membenarkan apa yang Lydia katakan.
"Eh, tapi ngomong-ngomong uang yang ada di rekening aku gimana tuh Ndan kalian sudah dapat alasanya?" tanya Mimin, ini adalah masalah yang paling berat .
"Uangnya ada berapa sih?" tanya Handan, karena dia belum melihat tabungan Mimin.
"Berapa Lyd?" Mimin malah bertanya pada Lydia.
"Kalau tidak salah pertama aku pinjamkan lima puluh, terus kedua seratus ke tiga lima puluh. Mungkin kurang lebih dua ratus juta." Lydia mengingat berapa kali ia mengirim uang ke Mimin dan jumlahnya.
Handan cukup lama diam dan saling tatap dengan Hadi dan Aarav.
Lydia pun menceritakan apa yang ia rencanakan mengenai tempat fitness yang Mimin pernah jual. Mungkin itu bisa membantu memberikan alasan kenapa ia transfer uang dengan nominal yang cukup banyak ke rekening sahabatnya itu.
"Apa dulu kalian jual beli disahkan oleh notaris?" tanya Handan pada Mimin dan Lydia.
__ADS_1
Lydia dan Mimin menggeleng. "Tidak kayaknya, aku tidak tahu seperti apa notaris, tapi saat itu kalau tidak salah hanya ada kuitansi pembayaran, dan kami hanya percaya gitu saja. Apa itu termasuk notaris?"
Handan hanya mengulas senyum. "Berati surat-surat tempat itu atas nama siapa?" tanya Handan lagi, mengabaikan pertanyaan Lydia.
"Yang pertama masih punya Mimin, yang ke dua dan ke tiga karena itu aku yang mulai dari awal atas namaku," jawab Lydia dengan bingung.
"Gini saja kayaknya ini lebih masuk akal, dari pada membuat alasan jual beli tidak masuk akal karena uang yang dikirimkan pada rekening Mimin terlalu sedikit kalau untuk jual beli tempat usaha. Kalau jual beli tempat usaha setidaknya uang yang masuk ke rekening Mimin jumlahnya milliaran bukan ratusan juta. Jadi lebih baik, tempat yang pertama itu anggap saja masih punya Mimin, dan kamu diberikan kuasa oleh Mimin untuk mengolah tempat itu karena Mimin yang tiba-tiba menghilang sehingga pembagian hasil usah tidak dilaksanakan nah ketika kalian ketemu Mimin minta haknya yang sudah beberapa tahun tidak diberikan oleh Lydia. Dan jangan lupa Lydia siapkan surat-surat bangunan dan usaha yang masih milik Mimin, dan bikin surat kuasa yang Mimin berikan untuk Lydia mengolah usahanya. Sepertinya itu lebih masuk akan iya nggak Rav, Di?" Handan menatap Aarav dan Hadi bergantian.
"Yah lebih masuk ide yang itu Dan dari pada jual beli, benar kata kamu jual beli tempat usaha nilainya bukan ratusan juta, tapi milliaran apalagi tempat fitnes yang sudah jelas untuk alat dan barang-barang mahal, jadi kalau uang yang dikirim Lydia hanya dua ratus juta terlalu kecil." Hadi mendukung masukan dari Handan, dan di balas anggukan kuat oleh Aarav menandakan kalau dia setuju dengan usul Handan, dan Hadi.
"Dua ratus juta kok kalian bilang hanya sih, itu banyak loh Mas." Mimin yang hampir tiap hari memeras otaknya agar bisa mengumpulkan uang untuk membayar hutang-hutang yang dua ratus juta pada Lydia tentu sangat tidak setuju kalau dua ratus juta dibilang sedikit. Yah, meskipun entah berapa kali Lydia bilang kalau ia rela membantu Mimin, tetapi Mimin cukup tahu diri ia tetap bertekad untuk mengembalikan uang-uang itu.
"Iya aku tahu Min, uang itu banyak. Tapi yang jadi masalah polisi juga tidak akan percaya kalau alasan yang kamu berikan tidak masuk akal, kalau dalam usaha uang dua ratus juta itu buat beli tempat usaha saja belum tentu dapat apalagi kalau tempatnya strategis, bisa-bisa setengah milliar hanya buat beli tempat usaha saja. Gitu loh." Handan menjelaskan ulang maksudnya bicara dua ratus juta sedikit.
"Berati jawaban aku dan Lydia harus sama yah."
"Oh ya jelas Min, tujuan kita datang ke sini sebenarnya membahas ini, jangan sampai jawaban kalian bertentangan, karena ini akan menjadi celah untuk membuat pertanyaan yang berisi jebakan.
"Aduh kok aku jadi semakin deg-degan yah."
Aarav mengusap punggung istrinya.
"Dari pada mikirin masalah Wijaya bagaimana kalau kita beli makanan?" Hadi yang tau kalau obrolanya semakin tegang pun memutuskan mentraktir makan biar otaknya segar.
"Kita udah makan baso," jawab Mimin dengan lesu pikiranya masih kalang kabut ditanya makan kurang selera lah.
"Itu kan baso, ini makan yang lain, pilih aja aku yang bayar."
"Beli rujak Di." Aarav yang nyahut.
"Perasaan tiap hari makan rujak nggak bosan Rav." Hadi yang lihat Aarav makan rujak tiap hari perutnya ikut mulas.
"Enggak lah, rujak enak."
__ADS_1
"Tapi ini udah hampir magrib Mas, masa ada yang jual rujak," balas Lydia
"Ada, belinya ditukang langganan Mas suka beli, dia homemade gitu."
"Ya udah terserah Mas aja, emang kalau nggak makan rujak setiap hari kurang yah?"
"Yah, kayak ada yang aneh."
"Terserah yang ngidam dah. Tiap hari di kantor juga selalu ada kurir Lyd buat antar rujak, dan kalau masuk ke ruanganya kayaknya selalu lihat lagi makan rujak. Apa orang ngindam kaya gitu banget yah."
"Beda-beda Mas, dulu ayahnya Iko malah tidak bisa nyium..." Mimin pun langsung menghentikan ucapanya yang merasa kalau Hadi wajahnya berubah.
"Tidak apa-apa Min cerita aja," ucap Lydia.
"Tidak ah, udah bukan cerita yang enak untuk di bahas."
"Tidak enak untuk dibahas atau takut kalau Hadi cemburu." Handan pun langsung meledek calon kakak iparnya.
"Tidak enak di bahas aja. Udah masa lalu."
"Iya deh percaya, udah masa lalu, menjaga perasaan masa depanya yah. Udah sih akui saja. Aku setuju kok punya ipar kaya kamu."
"Handan...."
Mimin dan Hadi langsung melebarkan matanya dengan kompak.
"Cie kompak banget. Jadi kapan sahnya tahun ini apa tahun depan. Tapi kayaknya tahun ini aja yah. Kalau tahun depan takut aku keburu nikung." Handan menepuk punggung abangnya.
"Pulang loe sana!" Hadi langsung melebarkan matanya, dan mengusir adiknya.
Bersambung.....
__ADS_1
...****************...