Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Aku Cape!


__ADS_3

Lydia berjalan dengan bergandengan tangan dengan sang suami. Sedangkan Iko digendong oleh Aarav. Setelah mengunjungi poli anak, kini mereka pun menuju ruangan rawat di mana Mimin dirawat. Dari lorong rumah sakit Lydia melihat ada Dokter Sera yang duduk di kursi tunggu, dan di depannya ada laki-laki yang mungkin umurnya tidak jauh dengan Aarav. Lydia tidak mengenainya.


"Mimin kondisi gimana Dok?" tanya Lydia dengan nada bicara yang panik.


Dokter Sera menatap laki-laki yang ada di depannya.


"Dia hanya tertekan, dan dia sekarang ada di dalam, ingin menyendiri. Tapi kamu coba masuk dan kasih dukungan mungkin saja ketika ngobrol dengan kamu Mimin akan jauh lebih baik dan bisa menceritakan apa yang dia rasakan. Biar Iko di sini saja dulu." Dokter Sera mengambil Iko, dari gendong Aarav yang terlihat sangat lemas.


"Iko kenapa emang Sayang." Dokter Sera memegang kening anak tampan itu, yang terasa hangat.


"Semalam demam Dok, dan kata dokter ada infeksi di rahangnya, tapi tadi udah ke dokter sebelum ke sini," jawab Aarav.


"Ya Alloh semoga kamu cepat sembuh yah Sayang. Kamu memang paling nggak mau lihat Mamah sakit selalu ikut merasakan apa yang Mamah rasakan. Kamu anak yang sayang Mamah." Dokter Sera pun gantian menjaga Iko karena Aarav harus tetap bekerja maklum timnya sedang sakit semua. Sedangkan Lydia pun masuk ke dalam ruangan Mimin.


Pertama kali membuka pintu, ia melihat Mimin yang sedang melamun, menatap ke luar jendela. Bahkan sepertinya wanita itu tidak sadar kalau Lydia itu masuk ke dalam ruanganya.


"As'salamualaikum ..." Sapa Lydia dengan suara yang pelan. Mimin terkejut ketika mendengar ada suara di belakangnya. Yah, benar dugaan Lydia Mimin sedang melamun.


"Wa ... wa'alaikumussalam," balas Mimin dengan terbata.


"Aku tahu kamu sakit dari Dokter Sera. Kamu kenapa sih? Aku sudah seneng banget lihat kamu yang kemarin-kemarin ceria semangat dan seru, tapi sekarang kenapa amalah kaya gini lagi." Lydia menggeser korsi dan ia duduk di hadapan Mimin.


Bukanya menjawab Mimin justru menunduk dengan sedih. Kembali memainkan jari-jarinya. Seolah ia tengah mengumpulkan kekuatanya.


Lydia menggeser duduknya semakin dekat. Tanganya menggenggam tangan sahabatnya. "Kamu cerita yah, kalau kamu tetap pendam di dalam hati, kamu tidak akan sembuh," lirih Lydia meminta Mimin mengangkat wajahnya dan bercerita dengan apa yang sebenarnya ia rasakan.


"Aku cape Lyd ...." Mimin kembali menunduk dengan air mata yang kembali turun.


Lydia mengangguk . "Ia aku tahu, makanya ceritakan biar kamu tidak cape sendirian. Kalau cape cerita biar kita bisa bantu."

__ADS_1


"Kenapa Tuhan tidak izinkan aku ikut dengan Ibu saja, kenapa akau dibiarkan tetap tinggal di dunia ini dengan orang-orang yang jahat." Tangis Mimin semakin kencang.


Lydia menggeser duduknya dan kini ia bersebelahan Ia memeluk Mimin, membiarkan Mimin menangis di bahunya. Mungkin setelah Mimin nangis ia akan jauh lebih baik. Lydi hanya mengusap punggung Mimin dengan lembut.


"Aku cape ..." ucap Mimin lagi setelah cukup lama ia menangis.


"Iya aku tahu." Lydia kembaliĀ  memberikan jawaban yang sama.


"Kamu tahu tidak, semalam Iko demam, tepat setelah kamu di bawa ke rumah sakit. Iko adalah orang yang pertama tidak pernah mau kamu tersakiti, dia selalu merasakan hal yang sama seperti yang kamu rasakan. Iko tidak mau kamu sakit dan sedih. Jadi jangan sampai kamu berputus asa, cepat sembuh yah, dan jangan terus-terusan seperti ini. Kasihan Iko kalau kamu pergi dia tidak ada pegangan hidup."


"Iko sekarang di mana?" tanya Mimin yang cemas dengan keadaan Iko.


"Ada di luar bersama Dokter Sera, kita baru ke luar dari poli anak, dia ada radang di tenggorokanya, makanya deman. Makanya kamu cepat sembuh kalau kata aku dia bukan semata karena radang, tapi ikatan batin antara anak dan ibu. Iko bisa merasakan kalau kamu sedang sakit. Kalau kamu sayang dengan Iko jangan sakit karena Iko akan merasakan hal yang sama," balas Lydia.


Mimin pun mengangguk dengan pelan.


"Lyd, aku sudah ketemu dengan Julio, dia minta aku menemui Lukman, apa yang harus aku lakukan?" tanya Mimin, akhirnya ketika dengan Lydia ia mau mengungkapkan apa yang terjadi dengan dirinya.


"Tapi kalau ternyata memang benar Lukman yang memerintah orang untuk menabrak ibuku bagaimana?" tanya Mimin, kembli terisak untuk membayangkanya saja ia ingin marah dan teriak sekencang-kencangnya. Apalagi kalau memang benar adanya. Mungkin dia akan balik bunuh mereka.


"Intinya jangan kotori pikiran kamu dengan sesuatu yang belum tentu benar, cari tahu dulu apa itu kebenaranya. Kalau memang kebenaranya seperti yang kamu katakan, kamu bisa laporkan ayah kamu ke kantor polisi. Biarkan mereka yang menanggungnya. Kamu hanya cukup doakan ibu kamu bahagia di surga-Nya, dan pelaku penabrakan ibu kamu mendapatkan keadilan yang seadil-adilnya. Tidak apa-apa mungkin dia tidak mendapatkan ke adilan di dunia ini tapi percayalah keadilan di akhirat itu jauh lebih sakit," balas Lydia.


"Terima kasih," lirih Mimin.


"Kamu mau bertemu Iko?" tanya Lydia mencoba mengalihkan obrolan, mungkin dengan bermain dengan Iko, Mimin akan kembali bersemangat.


Mimin pun mengangguk memberikan jawaban dari pertanyaan Lydia.


"Tunggu yah aku akan panggil Iko di luar, mungkin dia jalan-jalan ke taman, karena bosan kayaknya sudah dua hari ke rumah sakit terus. Cepat sembuh biar bisa main dengan Iko."

__ADS_1


Mimin mengulas senyum dan mengangguk sebelum Lydia pergi ke luar ruangan.


******


Di luar ruangan Mimin. Aarav yang sudah kenal dengan Julio pun menghampiri laki-laki itu. Ia semalaman tidak tidur demi menjaga adiknya. Ya meskipun tidak diharapkan oleh Mimin.


"Kenapa baru muncul sekarang?" tanya Aarav sama dengan yang Mimin tanyakan semalam. Kenapa baru muncul sekarang sedangkan saat ini Mimin sudah cukup bahagia. Kenapa tidak muncul saat Mimin sedang membutuhkannya.


Julio menunduk malu dengan perlakuannya pada orang-orang karena telah menelantarkan adiknya.


"Aku salah," jawab Julio dengan lirih.


"Jadi udah sadar, ya bagus sih kalau udah sadar. Gimana rasanya sakit lihat kondisi adik kamu kaya gitu?" tanya Aarav dengan nada bicara yang cukup sinis.


"Aku banyak melewati apa yang terjadi pada adikku. Sampai rasanya aku malu mengakui sebagai kakaknya."


"Ya memang sebaiknya seperti itu. Karena memang kamu tidak layak disebut kakak. Kalau aku sih udah malu yah buat datang ke sini. Ketika orang lain lebih perduli dengan adik kamu, kamu sendiri yang memiliki hubungan satu darah dan satu rahim malah membuat mentalnya jatuh. Membuat luka yang kembali menganga. Aku tidak tahu bagaimana cara berpikir kalian." Sama halnya ketika Mimin melakukan hal yang salah makan Aarav akan menegurnya, ketika Julio muncul pun Aarav tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia langsung menegur Julio agar jangan mengulang kesalahan yang sama lagi.


"Aku menyesal, sangat menyesal."


"Terus kebenarannya sebenarnya bagaimana? Apa benar Om Lukman yang menyebabkan ibu kalian meninggal dunia?" tanya Aarav ikut kepo.


" Papah sudah mendapatkan balasannya. Beliau sekarang sedang sakit keras dan mungkin itu teguran dari Tuhan."


Deh! Aarav menatap Julio dengan tajam.


"Jadi kamu sudah tahu kebenaran itu dan kamu biarkan adik kamu melewati ini semua seorang diri? Jahat memang kalian Julio. Kalau aku jadi Mimin juga pasti tidak akan maafkan kalian," geram Aarav. Salah dia bertanya seperti itu karena akhirnya ia jadi ingin menghajar Julio.


Bersambung.....

__ADS_1


...****************...


__ADS_2