Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Doa Untuk Hadi


__ADS_3

Pukul dua siang disebuah rumah sakit yang bertaraf internasional.


Seperti yang sudah dijadwalkan sebelumnya di jam dua Hadi pun langsung menjalani operasi. Tentu setelah enam jam melakukan puasa. Karena pada operasi ini Hadi dilakukan bius total. (Tujuan puasa sebelum puasa untuk menghindari efek samping dari obat anestesi yang memiliki efek samping sering merasakan mual, kalau tidak puasa takut muntah dan takut nantinya ada cairan atau sisa makanan yang bisa masuk ke paru-paru).


"Sayang, kamu yang kuat yah Nak. Semoga ini adalah sakit terakhir dan tidak ada sakit lagi." Arum mencium putra sulungnya sebelum masuk ke ruang operasi.


"Terima kasih doanya Mah, Pah. Doakan agar semua berjalan lancar." Tidak lama Hadi pun masuk ke dalam ruang operasi. Kesan pertama pasti saja sunyi dan dingin.


"Amin," ucap keluarga Lydia dan Hadi secara bersamaan.


"Bunda, Om Hadi mau ke mana?" tanya Iko yang sedang duduk. (Anggap saja di rumah sakit Hadi boleh dikunjungi anak kecil. Meskipun kalau di kehidupan nyata pasti sudah diusir security)


"Om Hadi mau diobati di dalam sana Sayang," balas Lydia dengan mengusap rambut Iko yang setengah ikal.


"Iko mau ikut boleh? Iko mau obati Om juga," pinta Iko dengan polos. Arum dan Ahmad pun cukup terkesima dengan ucapan Iko yang sangat pintar dan perduli dengan calon papah tirinya.


"Iko kalau mau obati Om Hadi, harus sekolah kedokteran dulu Sayang, dan itu tidak mudah, dan yang masuk keruangan sana adalah dokter spesialis yang artinya sekolanya harus lama Nak." Misel pun ikut menjelaskan pada Iko kalau mengobati orang sakit tidak semudah itu.


"Iko mau sekolah juga, Bun." Iko masih terus menarik perhatian orang-orang yang ada di luar ruangan operasi dengan celoteh lucunya sehingga senyum samar pun kembali hadir, mendengar celoteh Iko cukup mengurangi rasa cemas dan was-was karena operasi Hadi.


Lydia mengusap Iko dengan lembut. "Nanti Iko akan sekolah kalau usianya sudah matang yah Sayang, untuk sekarang belajarnya dengan Bunda dulu di rumah."


"Ok Bun, nanti tulis sama belhitung lagi yah," balas Iko dengan semangat.

__ADS_1


"Tentu Sayang, nanti kita bermain calistung yah (Baca tulis dan berhitung).


"Ok," jawab Iko dengan memberikan hormat.


Iko yang saat ini usianya sudah menginjak dua setengah tahun. Memang sengaja belum di sekolahkan oleh Lydia. Calon ibu tiga anak itu ingin mendekatkan Iko dengan keluarganya. Namun, di rumah juga Iko selalu belajar, terutama Lydia mengambil waktu belajar di jam sembilan sampai jam sebelas, dilihat juga saat Iko tidak mengantuk dan mood-nya sedang bagus. Karena menurut peneritian di jam sembilan sampai jam sebelas otak  akan lebih mudah untuk berkonsentrasi. Itu alasan Lydia mengambil waktu di antara jam sembilan hingga sebelas. Agar Iko mudah berkonsentrasi.


Terbukti meskipun dia masih usia dua setengah tahun, tetapi cara bicaranya sudah sangat lancar. Untuk berhitung dan mengingat benda juga cukup kuat.


"Ya Tuhan, kenapa Iko pintar sekali." Arum yang melihat Iko sangat  pengertian pada Hadi pun mendekat dan memeluk Iko. anak kecil itu pun langsung tangan mungilnya mengusap di punggung Arum meskipun kenyataanya tidak sampai sehingga hanya pundaknya yang diusap.


"Alhamdulillah Tante. Iko bukan anak yang manja dan ketergantungan. Apa yang dia lakukan masih sebatas wajar pada anak seusianya. Mungkin dia tahu kalau mamahnya hanya sendiri sehingga kelak dia yang akan  melindungi mamahnya," balas Lydia.


Tidak pernah sedikitpun dalam benak Lydia menyesal atau marak kecewa dengan tingkah-tingkah Iko yang namanya anak-anak kadang ada kalanya tantrum Karena Lydia tahu Iko sedang beradaptasi dengan usianya yang semakin bertambah.


******


Di sebuah kantor pusat dari perusahaan yang cukup besar.


Mimin menatap ponselnya yang tiba-tiba bergetar. Tangannya seolah kaku untuk mengambil benda canggih itu. Meskipun Mimin belum membaca pesan yang masuk dan juga Mimin belum tahu siapa gerangan yang mengirimkan pesan pada dirinya. Tetapi hati kecil Mimin, mengatakan kalau yang mengirim pesan adalah Lydia. Jelas tujuan mengirim pesan adalah untuk memberitahu kondisi calon suaminya.


"Apa Mas Hadi sudah selesai operasi," gumam Mimin, ia kembali tidak bisa berkonsentrasi kerja. Hari ini bisa dibilang hari yang cukup sibuk, tetapi Mimin dari tadi justru entah mengerjakan apa. Ia baru fokus dalam pekerjaan satu jam ke belakang dan sekarang sudah diserang dengan rasa yang kecapean lagi.


Karena penasaran Mimin pun langsung mengambil ponsel yang ia letakan di atas meja kerjanya. Benar dugaan Mimin kalau yang kirim pesan adalah Lydia. Dengan tangan yang bergetar ia membuka pesan dari sahabatnya.

__ADS_1


[Min, barusan jam dua Hadi sudah masuk ruang operasi. Doakan semoga operasi yang dilakukan oleh Hadi tidak ada masalah, dan untuk recovery juga mudah-mudahan cepat] Itu adalah pesan yang dikirimkan oleh Lydia.


Air mata wanita itu kembali menetes dengan deras. Hatinya tidak bisa dibohongi kalau dia sangat takut akan terjadi sesuatu saat Hadi melakukan operasi ini. Apalagi ia tadi pergi dalam kondisi yang cukup kecewa dengan Hadi karena tidak memberitahukan sakit apa yang calon suaminya alami.


Namun, sekarang Mimin tahu kenapa Hadi tidak mau memberitahu sakit apa yang dia alami, karena benar yang ditakutkan oleh Hadi, Mimin jadi cemas, fokus kerja tidak ada. Belum rasa penyesalan yang banyak, takut kalau akan terjadi sesuatu, dan masih banyak rasa was-was lainnya yang membuat Mimin tidak bisa berkonsentrasi.


"Ya Alloh mudahkan segala urusan yang Mas Hadi lakukan, semoga cepat sehat dan bisa berkumpul bersama lagi." Mimin terus melangitkan doa untuk calon suaminya.


Waktu terus berjalan rasanya Mimin tidak melewatkan satu detik pun. Ia terus berdoa untuk Hadi, dan Mimin juga menunggu pesan dari Lydia. Menunggu kabar dari Hadi.


Sebelumnya Mimin sangat yakin ia akan mencoba berbicara dengan Hadi agar laki-laki itu mencari pengganti dirinya. Namun, saat ini yang terjadi justru sebaliknya. Ia ingin terus berada di samping Hadi. Memberikan dukungan untuk kesembuhan dan kesehatan yang jauh lebih baik.


Dalam otak Mimin, terus teringat pesan dari Aarav yang mengatakan soal calon mertua.


"Kamu mungkin bisa mendapatkan pengganti Hadi kelak, tapi dengan mertua belum tentu kamu akan menemukan mertua yang baik, dan mendukung pernikahan anaknya. Apalagi kamu sudah punya anak, sangat jarang mertua yang akan Terima calon menantunya yang sudah pernah berumah tangga apalagi memiliki anak. Tapi orang tua dan. adik Hadi tidak mempermasalahkan semua itu. Ini adalah kesempatan yang sangat jarang."


Setiap mendengar nasihat Aarav tentang restu mertua, Mimin langsung berpikir dua kali. Benar yang dikatakan Aarav karena Mimin sendiri merasakan betapa sakitnya ketika menikah tapi mertua tidak merestui.. Pernikahan yang didasari saling cinta pun porak poranda.


"Aku akan coba temui Lukman dan Julio."


Bersambung....


...****************...

__ADS_1


__ADS_2