
Aku menghirup nafas dalam dan membuangnya perlahan, setelah itu aku pun langsung mengalihkan pikiran panasku untuk menghubungi Ibu dan bertanya sudah sampai mana. Mungkin ini yang aku bisa lakukan untuk mengurangi pikiranku yang jadi semrawut dengan adanya berita David yang sudah tahu di mana keberadaan Mimin.
Setelah bertukar kabar dengan Ibu, aku pun kembali masuk ke dalam kamar yang ternyata mas suami sudah selesai bekerja.
"Ada apa kok kayaknya mukanya kusut amat?" tanya suami yang sedang memberi susu untuk Iko, ternyata saking seriusnya telpon aku sampai tidah tahu kalau jagoan bangun dan haus.
"Ya ampun Sayang, maafkan Bunda yah. Karena keasikan ngobrol sampai lupa dengan Iko," ucapku sembari duduk di samping Mas Aarav, dan berniat untuk mengajak ngobrol masalah Ibu kandungnya Iko dan ancaman David.
"Mas..." Aku memanggil dengan suara manja.
"Nanti, tunggu setelah Iko tidur lagi," jawab Mas suami yang mungkin mengira aku mengajak ibadah.
"Bukan itu, ini soal yang lain. Lydia sedang ada masalah. Apa Mas mau dengar? Dan Lydia sih berharap bukan hanya dengar, tapi Mas juga bantu." Aku membenarkan posisi duduk yang lebih nyaman.
"Katakanlah, memang kapan Mas tidak pernah mau bantu, Mas akan selalu bantu meskipun masalah kamu sangat berat." Kali ini aku pun melihat mas suami semakin serius, tidak lagi cengengesan seperti tadi.
__ADS_1
"Maaf kalau Mas merasa bosan masalah yang kita bahas selalu dari Mimin, tapi barusan Lydia dapat telpon dari Mimin kalau David sudah bertemu dengan Mimin, dan juga laki-laki itu menanyakan anak Mimin..." Aku belum selesai berbicara, tetapi Mas suami nampaknya langsung kaget dengan ucapan aku.
"Lalu Mimin, bilang apa? Apa dia bilang masalah anaknya ada sama kita?" tanya Mas suami semakin kepo.
"Mimin bilang kalau anaknya sudah meninggal, dan tidak bilang kalau Iko masih ada di dunia ini, tapi masalahnya David ngancam akan cari tahu semua faktanya, dan dia juga bilang akan nuntut hak asuh untuk anaknya." Aku pun menjelaskan dengan detail apa yang Mimin katakan, seolah sepatah kata pun aku tidak biarkan terlewat untuk aku ceritakan pada Mas suami. Berharap semakin aku jujur dengan apa yang terjadi, mas suami dan papih Sony akan mencari solusi dari semua ini.
"Mas belum tahu yah, semuanya bakal seperti apa, karena posisi kita juga nggak kuat untuk mempertahankan Iko, tetapi untuk sementara waktu kamu jangan temui Mimin dulu, jangan sampai kalau David menempatkan mata-mata dan dia akhirnya tahu kalau kamu adalah teman Mimin. David sudah tahu kalau anak yang kita asuh bukan anak kandung, dia bisa curiga kalau anak kita adalah anak Mimin. Kamu serahkan semua urusan Mimin pada Suster Ria, dan juga dokter Sera. Jangan biarkan info apa pun ke luar dari mulut mereka karena hanya mereka kunci semuanya aman."
Aku pun langsung memberikan info yang Mas Aarav katakan pada suster Ria kalau dia harus tutup rapat rahasia pasien, termasuk aku yang kenal dengan Mimin. Begitupun dengan dokter Sera anak dan suaminya aku meminta untuk menutup rapat semuanya, dan aku pun sempat ceritakan yang Mimin tadi ceritakan dengan aku. Setelah dokter Sera dan Maria sepakat aku pun mengabarkan pada Mimin kalau info Iko akan selalu aman dan tidak akan pernah David tahu kalau aku sekarang mengasuh anaknya.
Meskipun hati ini sedang tidak tenang, antara memikirkan kedua orang tuaku yang sedang menempuh perjalanan ke rumah kami, antara memikirkan nasib jagoanku. Andai mendapatkan surat adopsi bisa dengan mudah seperti membeli bawang, mungkin aku tidak akan sangat gelisah seperti ini. Karena aku punya hak yang kuat untuk mempertahankan Iko. Namun, nyatanya apabila melanjutkan adopsi malah David akan semakin gampang mendapatkan Iko, karena dianggap Mimin tidak bisa merawat anaknya. Posisi ini bener-bener bisa dimanfaatkan oleh David untuk mengambil Iko.
Pukul dua aku pun sudah benar-benar tidak bisa tidur lagi. Hal pertama adalah menghubungi Ibu lagi untuk memastikan Ibu dan Bapak baik-baik saja.
[Ibu, dan Bapak lagi istirahat Mbak, paling nanti lanjut jalan setelah subuh, mau pada tidur abis sahur.] Itu yang Ibu katakan dari pesan singkat yang aku terima. Hati ini cukup lega karena tidak digeber terus dalam berkendara, selain mesin yang panas, fisik juga butuh istirahat, apalagi Ibu dan Bapak bukan usia muda lagi.
Setelah memastikan Ibu dan Bapak aman, aku pun memastikan Mimin apakah bisa tidur nyenyak atau tidak. Mengingat aku sendiri saja tidurnya kurang nyaman.
__ADS_1
[Mbak Mimin tidurnya Nyenyak Mbak, karena obat masih ada efek yang bikin ngantuk jadi tidak begitu berpengaruh ke jam istirahat Mbak Mimin.] Aku kembali merasa lega setelah memastikan semuanya. Sembari menunggu pukul tiga, aku pun memperhatikan Iko, yang akhir-akhir ini jam istirahatnya sangat baik, buktinya hari ini biasanya akan bangun untuk membangunkan sahur, tetapi malam ini mungkin jagoan akan bablas istirahat sampai pagi.
Aku pun iseng-iseng berselancar ke Instagram dan sosial media serta coba cari info di internet siapa keluarga Wijaya sebenarnya. Ini hanya iseng yang mungkin saja akan membawa aku untuk mengetahui lebih lanjut siapa David itu. Kalau dilihat dari wajahnya pasti bakal banyak yang suka dia adalah orang yang sangat tampan secara fisiknya, tetapi seperti kebanyakan pada umumnya, bahwa manusia itu tidak ada yang sempurna. Tampan rupa, buruk hati mungkin itu yang pas dengan istilah untuk David.
Hampir tiga puluh menit jari ini scroll sosial media, dan aku pun menemukan satu nama dan foto profil yang hampir mirip dengan Joe, yah Joe adalah istri dari David, aku yang memang niatnya untuk ngepoin kehidupan mereka pun langsung menekan profil wanita berparas ayu tersebut, dan betapa kagetnya aku yang mana Joe ini ternyata model. Seharusnya tidak usah kaget-kaget banget sih di lihat dari bentuk tubuh dan parasnya saat pernikahan dia sudah sangat masuk dengan dunia modeling. Namun, sayang nampaknya modelnya dewasa, atau memang sebenarnya wanita itu sangat gemar memamerkan kemolekan tubuhnya.
Hampir yang foto yang diunggah ke feed Instagram semuanya berpakaian terbuka, bikini dan lingerie sudah menjadi pemandangan biasa.
Bahkan sebelum hari pernikahan Joe dan David, wanita itu sudah mengunggah hubungan yang cukup intim dengan David. Apakah mereka menikah siri dulu baru menikah secara sah di mata agama, atau justru memang mereka tinggal satu atap dulu baru menikah? Kepo ku semakin meningkat.
Setelah aku mengintrogasi akun Joe, aku pun menemukan aku sang suami. Alias David rasanya kurang afdol apabila aku tidak mengunjungi aku laki-laki itu. Dengan akun palsuku, aku pun mampir untuk melihat sebagaimana hidup laki-laki itu.
Tidak ada yang menarik, justru aku melihat kalau David orang yang tidak terlalu pamer dengan pencapaiannya, berbeda dengan Joe yang apabila dilihat dari unggahan sosial medianya wanita itu cukup glamor.
Hasil kepo-kepo malam ini pun aku belum banyak tahu sifat-sifat David dan keluarganya, mungkin nanti kalau aku ada waktu lagi bakal cari tahu lebih dalam. Yah, sesuai yang pernah Mamih Misel katakan keluarga itu memang kurang suka masalah keluarganya bocor ke umum, tetapi dengan adanya Joe kayaknya aku bisa mengetahui sedikit-sedikit masalah keluarga itu. Manfaatnya ngepon keluarga itu mungkin tidak terlalu berarti banyak, tetapi siapa tahu saja dengan tahu kelemahan lawan, suatu saat bisa berguna untuk menekan mereka dari perbuatan yang mungkin tidak menyenangkan untuk kami.
Ibarat kata kita tahu duluan kekuatan lawan sebelum berperang agar tidak banyak mengeluarkan tenaga, sekali sentil runtuh sampai akarnya. Tunggu hari itu akan tiba.
__ADS_1
Bersambung....
...****************...