Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Menolong Berkedok Pekerjaan


__ADS_3

"Terima kasih yah Lyd, kamu sudah mewujudkan impian kecilku. Berkat kamu, aku bisa merasakan arti hari raya. Aku seperti memiliki keluarga yang utuh. Punya ibu, ayah adik dan kakak. Aku sangat senang hari ini," ucap Mimin, dari sorot matanya sangat terlihat bahwa wanita itu memang sangat senang. Hari ini ia benar-benar merasakan arti keluarga yang sudah belasan tahun tidak ia rasakan.


"Sama-sama Min, aku ikut senang kalau. kamu juga senang," balas Lydia, dengan hati yang jauh lebih bahagia karena kini Mimin seolah menemukan semangat baru lagi, terutama setelah dia bergabung dengan tim sukses untuk mewujudkan supermarket sehat yang sedang suaminya bangun. Di mana mulai hari esok dia sudah terhitung kerja. Yah, sebenarnya ini cara Aarav dan Hadi agar Mimin semangat untuk menjalani kesembuhan dan menata masa depannya.


Meskipun proyek masih tahap perencanaan, tetapi untuk membuat Mimin ada aktivitas mereka menugaskan Mimin untuk membuat desain untuk tempat fitness yang akan dibangun secepatnya. Tentu semua ini atas persetujuan Lydia juga.


"Kalau gitu aku pamit dulu yah, masih harus kembali ke rumah sakit," balas Mimin, setelah puas bermain dengan jagoannya, bahkan wanita bercadar itu sempat tidur bersama dengan buah hatinya dan itu sudah cukup membuat dia sangat bahagia. Mengobati segala rasa rindu yang sudah lama dia rasakan.


"Baiklah meskipun aku masih kangen ngobrol dan cerita-cerita dengan kamu. Tapi kamu juga masih butuh perawatan, jadi aku mengalah. Semoga kamu cepat sembuh dan kita bisa ngobrol lebih lama lagi. Banyak yang ingin aku ceritakan dengan kamu." Lydia memeluk Mimin dengan mesra.


"Aku janji akan cepat sembuh, aku ingin hidup normal. Bisa kerja dan bisa menjalani hidup seperti dulu."


"Kamu pasti bisa, aku tahu kamu adalah orang yang hebat, orang yang punya semangat kuat untuk mewujudkan apa yang kamu inginkan." Dukungan terus Lydia berikan untuk sahabatnya. Dia tahu Mimin hanya memiliki buah hati sebagai penyemangat hidupnya.


Mimin membalas dengan senyuman terbaiknya. "Aku nitip Iko yah, aku seneng banget karena dia sangat sehat. Kalian pantas menjadi orang tua asuh untuk Iko."

__ADS_1


"Kamu jangan khawatir, Iko akan baik-baik saja di sini. Dia anak yang pandai, dan juga baik jadi banyak yang sayang sama anak kamu. Kamu tadi lihat kan Mas Hadi aja segitu sayangnya, bahkan sering mampir ke rumah untuk bermain dengan Iko. Anak kamu memang punya aura yang bikin orang lain terpesona," puji Lydia, dan memang itu yang terjadi. Meskipun masih bayi Iko sudah banyak yang sayang. Tanpa bantuan dari keluarga mantan suami Mimin, anak itu juga hidup dalam kecukupan.


Setelah berpelukan dan berpamitan kini wanita bercadar itu kembali ke rumah sakit.


Lambaian tangan menandakan kalau mereka akan berpisah. Perpisahan yang hanya sementara. Itu janji Mimin.


Kini Lydia masuk kembali ke dalam rumah dengan wajah yang bahagia. Setelah memastikan mobil ambulance meninggalkan rumah mertuanya.


"Terima kasih berkat ide Mas dan Mas Hadi, Mimin terlihat sangat senang dan juga dia terlihat memiliki semangat baru, dan dia tadi berjanji kalau dia akan sembuh," ucap Lydia dengan senyum mereka tak kalah bahagia dari Mimin yang dapat pekerjaan, meskipun ia masih sakit.


"Aku hanya membantu dia, agar memiliki semangat baru untuk sembuh. Sejak kamu cerita kalau dia tidak ada penghasilan, aku sebenarnya ingin bantu untuk meringankan biaya berobatnya, tapi kalau aku kasih uang langsung takutnya malah menyinggung perasaanya. Tapi kalau kasih dengan cara dia bekerja kan dia lebih semangat. Dan terbukti kan dia jadi semang untuk sembuh. Itu tandanya dia memang senang dengan pekerjaan ini. Aku yakin dia bakal bekerja dengan baik karena dari semangatnya sudah terlihat kalau dia pekerjaan keras," balas Hadi dengan senyuman bangga, melihat semangat Mimin.


"Yah, awalnya simpati sekalian pendekatan yah, kan siapa tau dari karyawan jadi teman tidur." Aarav kembali meledek, laki-laki itu tahu kalau rekan bisnisnya sudah mulai tertarik dengan mantan kekasihnya, lebih tepatnya mantan cinta pertamanya.


"Ya kalau memang dia mau, aku mah gas aja, apalagi dia sholehah, tau agama itu modal utama, karena yang paham agama dia akan menghargai pernikahan."

__ADS_1


Kembali Aarav dan Lydia saling tatap, setelahnya tersenyum penuh arti. Ini perubahan yang baik, karena menurut Aarav tidak biasanya rekan bisnisnya memiliki tertarik. lagi dengan wanita. Yah, setelah istrinya meninggal dunia dia menjadi laki-laki yang membatasi diri dari wanita. Ia benar-benar menjaga cinta untuk mending istrinya. Namun kali ini Aarav melihat ada perubahan dari Hadi.


"Tapi kamu kalau udah memutuskan untuk mencari pengganti almarhumah, kamu juga harus bisa menjaga perasaan istri baru kamu, jangan banding-bandingkan dengan yang sudah tidak ada. Kasihan nanti istri baru kamu merasa kalau kamu nggak bisa move on dari yang pertama. Kadang hal seperti itu sepele tapi bikin istri nggak nyaman." Aarav menasihati sahabatnya, sebelum memutuskan menikah Hadi harus memikirkan hal itu apalagi dia bisa dibilang sangat cinta dengan istri yang sudah meninggal dunia. Ketika ada orang baru ditakutkan tanpa sadar mem banding-bandingkan.


Lydia yang mendengar nasihat Aarav pun terharu, ia tidak tahu kalau laki-laki bisa berpikir seperti itu. Pantas saja selama ia menjadi istrinya, Aarav tidak pernah membanding dirinya dengan Siska, baik yang buruk maupun yang baiknya. Itu karena Aarav sangat menghargai perasaan sang istri.


"Mas kenapa Lydia terharu dengar nasihat Mas, apa yang Mas Aarav bilang itu sangat benar Mas Hadi. Lydia sendiri apabila dibanding dengan mantan sakit lah, jadi kalau Mas Hadi memutuskan untuk menikah lagi harus pikiran perasaan istri yang baru," imbuh Lydia, bukan meminta untuk melupakan mantan istrinya, tetapi kalau bisa jangan membahas hal yang tidak seharusnya dibahas di hadapan istri baru. Setiap pasangan pasti ada kurang dan lebihnya.


"Yah, aku sendiri juga sebenarnya masih ragu, aku takut tanpa sadar justru membanding dengan almarhumah, dan membuat kecewa dengan yang baru. Makanya aku tidak mau buru-buru memutuskan untuk melanjutkan ke jenjang yang serius. Aku ingin kenal lebih dalam dulu, setidaknya sudah tahu kekurangan dan kelebihannya, jadi tidak kaget nantinya," balas Hadi dengan serius.


Aarav dan Lydia pun setuju dengan pemikiran Hadi. Apalagi Mimin juga masih ada urusan yang belum selesai dengan mantan suaminya, dan Hadi harus siap akan hal itu, di mana bisa saja mantan suami Mimin akan hadir untuk membuat masalah. Setidaknya Hadi bukan hanya tahu dengan Mimin, tapi juga tahu dengan keluarga David, sehingga nantinya tidak akan kaget dengan teror-teror yang mungkin saja akan hadir sebagai ujian yang menghadang. Dan bisa melindungi Mimin dan juga Iko.


Bersambung....


...****************...

__ADS_1


__ADS_2