Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Terror Berdatangan


__ADS_3

"Awas kamu Aarav, kamu akan menyesal karena ikut campur dengan urusanku," maki David ketika laki-laki itu hendak dibawa ke kantor polisi. Sedangkan Aarav yang mendapatkan ancaman hanya membalas dengan mengangkat bibirnya sebelah dan menunjukkan senyum sinis.


Laki-laki itu langsung mengambil ponsel yang sebenarnya sejak tadi bergetar terus dari balik saku jasnya. Namun, berhubung situasi yang belum aman ia tidak berani mengangkatnya. "Lydia? Apa jangan-jangan dia curiga kalau aku tidak ke kantor?" gumam Aarav yang melihat lima panggilan tidak terjawab dari sang istri. Ia yang penasaran kenapa sang istri menghubunginya terus pun kembali menelepon Lydia untuk mengabarkan bahwa ia akan segera pulang.


Mungkin memang karena pengaruh hamil sehingga bawaannya ingin kalau suaminya ada di sebelahnya terus. Itu adalah yang sedang Aarav pikirkan.


[Hallo Mas, kamu bisa pulang sekarang nggak. Sepertinya kecemasan kamu terbukti. Rumah Mami diterror. Dua kali ada yang melepar bangkai ayam, dan Bibi sama Mbok Jum juga barusan telpon kalau di rumah kita ada yang melepar petasan besar sama bangkai kucing,] Lydia yang sedang ketakutan pun langsung mengatakan apa yang membuatnya menghubungi suaminya.


Padahal biasanya wanita itu akan mengucapkan salam lebih dulu apabila melakukan sambungan telepon, tetapi kali ini saking paniknya sampai ia lupa dengan kebiasaanya itu.


[Ok, Mas akan pulang saat ini juga. Kamu tenang yah.] Tanpa menunggu jawaban dari sang istri Aarav pun langsung mengayunkan kakinya dengan tegas kembali ke mobil dan akan kembali ke rumahnya, tentu sebelumnya laki-laki itu juga menghubungi sang papi dan polisi, untuk mengungkap kasus ancaman ini. Meskipun laki-laki itu sudah tahu siapa kira-kira yang berbuat seperti pecundang. Namun, ia akan mengumpulkan bukti-bukti yang mungkin bisa digunakan untuk menambah bukti dari masalah Mimin.


"Baiklah kita buktikan Tuan, siapa yang akan memenangkan permainan ini." Aarav menginjak pedal gasnya dengan dalam, rasanya ia sudah tidak sabar ingin segera sampai di rumahnya dan memastikan anak, istri dan maminya baik-baik saja.


********


Di tempat lain.


"David memang bodoh sejak dulu dia tidak bisa dianadalkan. Cerobah, nafsu saja yang diutamanakan. Padahal susah payah aku menyusun rencana ini, malah kembali digagalkan sama anak itu."


Pyarrrr... Gelas yang ada dalam gengaman tangan laki-laki paruh baya itu di lempar hingga hancur tak berbentuk lagi.


[Datang ke ruanganku sekarang!]

__ADS_1


"Coba anak itu dari awal bisa ajak kerja sama dengan baik, semuanya tidak akan berakhir serumit ini. Tugas dia hanya mengalihkan fokus orang-orang itu pada Mimin, tapi malah semuanya gagal, dan aku sekarang makin sulit untuk mengambil anak itu." Mata merah menandakan bawa laki-laki paruh baya itu sangat kecewa dengan putranya yang justru sekarang tertahan di kantor polisi, karena kecerobohan.


"Masuk!"


Seorang laki-laki berpakaian rapi masuk dan langsung menghadap pada atasannya dengan sopan.


"Kamu sudah tahu kasus anak itu?" tanyanya dengan nada yang dingin dan ketus.


Laki-laki kepercayaan Tuan Wijaya pun mengangguk dengan sopan. "Barusan pihak polisi sudah menghubungi kami, dan mereka menceritakan kronologi yang terjadi sehingga David bisa tertahan di kantor polisi."


"Siapkan uang untuk membebaskan anak itu, lalu kamu sembunyikan anak itu disuatu tempat yang aman hingga masalah yang membelitnya selesai dan ditutup," ucap Tuan Wijaya dengan nada yang tidak bisa ditolak.


Laki-laki itu hanya bergeming ingin mengatakan apa yang ada dalam pikiranya, tetapi dua puluh tahun bekerja sebagai tangan kanan dari tuannya membuat ia tahu betul kapan dia harus diam dan kapan ia harus berbicara.


"Kasus dibawah laporan Hadi Tuan, dia sudah memastikan kalau kasus ini tidak akan ada proses uang di dalamnya," jawab Yono dengan menunduk sopan.


"Hadi, dia itu anak kemarin sore. Dia masih bisa dikelabuhi. Minta orang dalam kepolisian untuk mencari orang yang mirip anak saya, dan bayar dengan nominal yang besar dan setelah beres pastikan David tidak berkeliarah hingga kasus selesai. Begitu saja kok repot." Wijaya yang sudah berulang kali berurusan dengan polisi baik dengan perbuatan onar David, bisnis yang banyak melakukan pelanggaran dan kejahatan yang lainya, tentu tahu betul kelemahan hukum dalam Negri ini, dan dia akan memanfaatkan itu semua.


"Tapi Tuan, Hadi tidak bisa dianggap sepele dan terlalu kecil karena dia juga punya power yang tidak sembarangan, baik dia secara mandiri maupun keluarganya, saya takut alih-alih bisa menyuap orang-orang yang memanfaatkan kasus ini malah nanti kita terseret dalam kasus yang baru." Yono yang sudah beberapa kali juga menghadapi hukum untuk mencari celah agar kasus-kasus yang melilit bosnya cepat terselesaikan pun tahu, mana lawan yang bisa dikelabuhi dengan uang adan mana lawan yang justru sangat bahaya apabila dirinya menggunakan uang sebagai penyelesai masalah-masalah yang membelit atasanya.


"Jadi kamu menolak perintahku?"


"Saya hanya mengingatkan Tuan, karena apabila kita terlilit masalah baru dan itu penyuapan, kasusnya akan semakin bertambah dan tentunya Anda tahu kalau kemungkinan untuk bisa bebas akan sangat sulit." Yono dengan berhati-hati mencoba menjelaskan lagi apa yang ada dalam pikiranya, dan tentunya yang dia lakukan demi atasan dan juga anak kesayangan sang tuan.

__ADS_1


"Terus rencana kamu apa?" tanya Wijaya, mencoba mendengarkan usuran dari asisten kepercayaanya.


"Ikuti hukum yang berlaku, apalagi ini bukan pertama kalinya putra Anda bermasalah dengan hukum dan mungkin dengan adanya pelajaran ini David lebih bisa kita arahkan tidak keras kepala dan mejalankan semua rencanyanya sesuka hati."


"Gila kamu, mana tega aku biarkan anakku tidur di penjara dengan alas dan makan seadanya, kamu pikir aku cari uang mati-matian untuk apa kalau bukan untuk anak dan keluargaku." Wijaya memukul meja dengan kasar, karena tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh asistenya.


"Ini semua demi kebaikan David, Tuan. Kasusnya pem'bunuh berencana, sulit untuk lolos."


"Inu bukan demi kebaikan David tapi kamu sudah berhianat dan berpihak pada keluarga Sony. David seperti ini juga karena wanita itu yang kurang ajar. Wanita itu yang mulai duluan dengan cara menjual cucuku pada keluarga Sony, jadi aku pun setuju kalau wanita itu lebih baik mati dari pada hidup hanya membuat masalah dengan anakku," balas Wijaya yang tidak terima ketika Yono memberikan solusinya.


"Kamu jalankan sesuai yang aku katakan, siapkan uang untuk membuat anakku bebas, soal nanti kita ketahuan atau tidak itu masalah nanti. Aku akan pastikan kalau David tidak akan terpenjara apapun caranya," imbuh Wijaya ketika lagi-lagi Yono, sang asisten kepercayaan hanya berdiri tanpa kata. Dan bisa dipastikan kalau dia tidak setuju dengan idenya.


"Baik Tuan, kalau gitu saya undur diri." Yono pun dengan perasaan yang berat mengundurkan diri dan menyiapkan apa yang bosnya mau. Meskipun dalam hati kecilnya laki-laki itu sangat tidak setuju dengan cara bosnya. Bukan tanpa alasan Yono  menyarankan mengikuti aturan hukum yang berlaku, pasalnya adik dari Hadi adalah salah satu yang ditunjuk untuk mengungkap kasus ini, sangat sulit untuk menjalankan perintah bosnya.


"Apa Tuan Wijaya tidak tahu kalau salah satu adik dari Hadi adalah Advokat hukum, bahkan terkenal sulit disuap. Banyak kasus-kasus besar yang sudah dimenangkan, bukan hanya kasus perorangan, kasus  yang menyinggung pejabat-pejabat juga banyak yang terungkap berkat adik dari Hadi." Yono pun bimbang pasalnya pesainya bukan orang biasanya, hidup kaya dari lahir membuat adik dari Hadi sangat anti suaap.


Dan apabila mengetahu ada kecurangan dalam kasus ini bukan tidak mungkin semua borok, dari pribadi hingga perusahaan sang atasan akan terungkap, itu yang ada dalam pikiran Yono.


Bersambung....


Intip Om dan Tante dulu ah, udah lama Oboss kecil gak hadir pasti pada kangen...


Astagfirullah bibir Iko tolong disesuaikan, di sini banyak yang lemah iman. Termasuk othor....

__ADS_1



__ADS_2