Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Membuat Kue Lebaran


__ADS_3

Pagi hari yang cerah, di rumah kami berbeda dengan biasanya harum selai nanas dan juga butter bercampur dengan wanginya susu bubuk yang di panggang sudah memenuhi seisi rumah kami.


Yah, setelah ibadah sahur aku dan Mbok Jum serta Bibi Lilis sudah mulai eksekusi membuat kue khas lebaran yang pertama di bikin adalah nastar. Aku pun sengaja bikin dengan jumlah yang cukup banyak selain untuk suguhan di rumah kami sediri, dan juga rumah mertua, Bi Lilis dan juga Mbok Jum untuk oleh-oleh mudik juga pasti dapat jatah, belum asisten rumah tangga Mamih Misel, terutama Bi Lastri yang tahun ini akan pulang kampung sudah masuk dalam hitunganku, sehingga aku membuat kue dalam jumlah yang cukup untuk di bagi-bagi.


"Sayang ini wangi apa? Kenapa Mas jadi lapar, gara-gara wangi yang menggoda," ucap Mas suami yang sudah siap untuk berangkat bekerja.


"Ini kue nastar Mas, persiapan untuk lebaran, selain kita nanti beli kue yang lain, ini juga kita ada yang bikin sendiri agar bervariasi," ucapku dengan menunjukkan beberapa loyang nastar yang sudah jadi.


Koleksi nastar, dan cookies othor nih yang mau sok ambil...



"Ya ampun ini kamu yang bikin? Cantik sekali aku pikir hanya orang-orang tertentu yang bisa bikin, ternyata kamu itu memang serba bisa Sayang, tidak salah aku pilih kamu sebagai istri," puji Mas suami dengan menatapku yang mungkin wajahku cemong dengan terigu dan juga butter. Yah semua aku kejar cepat selesai, mumpung jagoan masih tidur sehingga mau kerja apa pun aman.


"Mas ini puasa yah, jangan sampai bikin batal, karena aku terlalu di puji," godaku dengan tersenyum penuh arti mengingat manisnya perlakuan Mas Aarav malam tadi.


Mas suami pun kembali menatapku dan tersenyum penuh arti pula, aku yakin suamiku juga pasti berpikir sama dengan aku. "Ya udah, kamu nanti habis ini mau bikin kue apa lagi?" tanya Mas suami yang justru duduk memperhatikan aku yang sedang membentuk kue nastar dengan toping nutella.



Aku pun menyebutkan satu persatu kue yang akan kita bikin hari ini, kebetulan kapasitas oven di rumah ini ada dua yang ukuran besar dan ukuran kecil, sehingga aku bisa lebih cepat untuk menyelesaikan satu resep kue.

__ADS_1


"Kalau gitu nanti sisakan untuk Mas yah, pokoknya buka puasa nanti mau cicipin kue buatan istri tercinta," ucap Mas suami sembari tersenyum seolah tidak sabar ingin segera mencicipi kue bikinan Mbak Lydia.


"Astaga Mas, jangankan disisain untuk makan, kalau mau di minta satu toples juga di kasih, kan di bikin untuk di makan, malah Lydia suka kalau Mas suami doyan makanan buatan Lydia," balasku, yah jujur yang membuat aku senang untuk bergelut di dapur sedangkan sebenarnya masakan Mbok Jum pun tidak kalah enak dari hasil olahan tanganku, tetapi ketika Mas suami terlihat sangat puas saat menikmati makanan yang aku masak, disitulah aku merasa kalau semua cape hilang sudah dengan wajah puas mas suami, dengan makanan yang aku olah.


"Mas kok malah duduk bukanya kerja, nanti telat loh," ucapku, yang mana Mas suami terus memperhatikan kerjaan aku, dan jujur itu cukup membuat aku risih dengan tatapan mas suami. Meskipun aku tahu Mas Aarav itu hanya memperhatikan bagaimana cara aku mencetak adonan kue yang nampak terlihat cantik. Tetapi dasar aku yang selalu gede rasa jadi seolah Mas suami menatapku terus.


"Mas nunggu Tuan Sony dan Nyonya Misel datang, mobil Mas kan ada di kantor, mau pakai mobil kamu, rasanya sayang kan ada tumpangan gratis," ucap Mas suami yang sembari aku perhatikan kejahilannya sudah mulai. Yah Mas suami mengambil beberapa gambar kue yang sudah jadi dan membuat rusuh di grup keluarga. Sontak saja adik-adiknya yang berjauhan sampai pada heboh ingin segera pulang kampung untuk mencicipi kue yang aku buat.



Seperti biasanya Mas suami akan bangga setelah membuat rusuh, yah seolah sudah menjadi kebiasaanya setelah membuat rusuh adik-adiknya Mas suami menghilang, hanya membaca pesan-pesan sang adik dan kakak perempuanya, tanpa ingin membalas pesan pesan yang masuk.


"Waw, Mamih pikir tadi ada toko kue di sekitar sini? Ternyata menantu Mamih sudah sibuk bikin kue." Mamih Misel dan Papih Sony pun langsung menghampiri kami yang sedang kerja di dapur.


Satu demi satu kue kami pun bisa buat dalam waktu seharian. Yah, aku memang sengaja menggunakan hari ini untuk membuat kue dan mungkin kalau besok masih ada yang ingin di buat, akan di lanjutkan baking, tetapi dalam waktu satu hari ini saja aku sudah banyak membuat jenis kue.


Dan sesekali Mami Misel pun ikut terjun membuat kue ketika jagoan sudah tidur atau sedang anteng.


"Mamih, nyerah deh, Mami tidak sesabar kamu Lyd. Kamu mah bisa sabar satu-satu di cetak, kalau Mamih mending beli saja, atau mending menikmati saja," ucap Mamih Misel yang mana saat ini adalah jatah membuat thumbprint strawberry yang mana menurut aku ini tidak terlalu ribet dibandingkan dengan nastar yang benar-benar harus sabar dan prosesnya tidak sebentar, dari membuat selai membagi satu persatu selai setelah itu kulitnya di bulatkan satu-satu dan diisi selai, lalu di panggang dan terakhir di oles kuning telor agar glowing. Pantas saja nastar di juluki The Queen Of Cookies, itu semua karena prosesnya yang cukup lama, dan juga rasanya yang benar-benar khas membuat nastar selalu jadi cookies paling di gemari saat hari raya tiba.


__ADS_1


Rasanya yang sangat unik dan juga bentuknya yang sangat cantik membuat nastar banyak di buru oleh ibu-ibu untuk suguhan saat hari raya tiba. Bahkan ada yang bilang lebaran tanpa nastar kurang afdol, ya meskipun itu hanya istilah saja, sebenarnya arti lebaran adalah maaf-maafan meskipun yang namanya maaf-maafan tidak harus nunggu lebaran saja.


"Akhirnya, ini adalah adonan terakhir," gumamku sembari merentangkan tanganku yang cukup kaku karena dari tadi nunduk terus.


Ini adalah adonan terakhir yang memanfaatkan putih telur, aku pun gunakan untuk membuat lidah kucing, dan juga almond crispy.



"Wah, Bunda hebat," ucap Mami Misel menirukan suara bayi seolah Iko yang bilang dan menuju aku.


"Bikin cookies sudah selesai Min, besok kita bikin apa lagi?" ucapku mengingat lebaran sudah tinggal menghitung hari.



"Mami tidak tahu, karena biasanya Mamih akan beli dan di siapkan oleh asisten rumah tangga semua, belum parsel-parsel dari rekan bisnis Papi juga banyak, jadi Mamih jujur kalau mau lebaran apa saja yang di siapkan tidak tahu," jawab Mamih Misel dengan tersenyum.


Yah memang orang kaya jelas berbeda dengan aku, yang mana tradisi di keluarga ku, sebelum hari raya datang maka satu minggu sebelumnya akan sibuk dengan membuat anek kue lebaran. Dan saat ini jujur membuat aku sangat senang untuk menyambut hari raya.


#Kalau Readers sama tidak dengan Mbak Lydia setiap menyambut hari raya yang di rindukan adalah baking aneka cookies khas hari raya?


Bersambung....

__ADS_1


...****************...


__ADS_2