Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Sogokan Untuk Camer


__ADS_3

Di kantor. Sesuai yang sudah Mimin  rencanakan tepat pukul tujuh dia pun langsung bersiap untuk pulang setelah merapihkan meja kerjanya kini ia pun langsung turun ke lantai bawah. Sebelumnya tentu Mimin sudah sempat pesan taxi online, dan benar saja begitu Mimin sampai di bawah taxi online yang sudah ia pesan pun baru datang juga.


Tidak lupa Mimin mampir dulu ke tempat catering langganannya dulu saat ia masih mengikuti pola diet kangker. Sebelumnya Mimin sudah pesan menu makan bubur dengan sup ikan gabus. Yang biasanya diyakini bisa membantu pemulihan paska operasi. Tidak hanya itu Mimin juga memesan nasi dan lauk pauk untuk kedua orang tua Hadi.


Sebagai calon menantu tentu Mimin juga ingin dinilai baik dan sopan, setidaknya bawakan sogokan agar calon mertua lebih baik lagi. Masalah udah  makan itu urusan nanti yang penting terlihat baik dulu aja. Setelah urusan catering selesai Mimin tanpa tunggu lama langsung menuju ke rumah sakit.


Jangan ditanya perasaanya sudah pasti deg-degan banget malah jauh lebih deg-degan dari menghadapi sidang kemarin masalah dengan David dan Wijaya kemarin.


Wanita bercadar itu pun langsung mengusap-usap tanganya. Meskipun katanya Aarav dan Lydia ke dua orang tuan Hadi baik, dan juga saat telepon mereka juga menujukan keramahan, tetapi tetap saja di saat akan mengadakan pertemuan Mimin dilanda rasa tidak nyaman.


Di saat Mimin dilanda rasa ketakutan malah perjalanan seolah jadi sangat cepat. Kini tiba-tiba saja Mimin sudah sampai di lobby rumah sakit di mana calon suaminya di rawat. Tanpa menunggu lama Mimin pun keluar dan membawa dua keranjang makanan yang yang ia bawa spesial untuk calon besan dan calon suaminya.


Lagi-lagi langkahnya pun terasa sangat cepat, padahal ingin Mimin lebih lama mempersiapkan diri, tetapi ia sekarang sudah ada di depan ruang rawat inap Hadi.


Tentu sebelum masuk Mimin melafalkan doa agar semuanya berjalan dengan lancar.


Tok ... tok ... tok .... Wanita itu mengetuk pintu dengan pelan.


"Masuk!" Terdengar ucapan dari seorang wanita dengan samar. Yah, itu pasti ibu dari Hadi, begitu kira-kira pemikiran Mimin. Tanpa menunggu lama Mimin pun masuk dan benar saja ada orang tua dan juga tentunya calon suaminya yang masih terlihat pucat.


"As'salamualikum ...." ucap Mimin, pertama tentu menghampiri papah Hadi yang sedang duduk di sofa, setelah memperkenalkan diri dan ngobrol basa basi, Mimin pun bergantian menyapa wanita cantik yang sedang duduk di samping calon suaminya. Yah, sudah jelas itu adalah ibunda dari Hadi.


"Mah, salam kenal." Mimin bersalaman dan cipika cipiki.


"Salam kenal Sayang. Kalau gitu kamu gantian jaga Hadi, Mamah dan Papah mau ke luar cari makan," ucap Arum yang tahu mungkin calon menantu dan anaknya mau ngobrol sesuatu.


"Kalau Mamah mau cari makan malam ini Mimin bawa makan untuk Mamah dan Papah, ada nasi daun jeruk mungkin bisa di coba." Mimin memberikan satu keranjang makanan yang berisi nasi daun jeruk beserta lauk pauknya lengkap.


__ADS_1


"Wah, ini sih rejeki nomplok. Makasih yah Sayang. Kalau gitu Mamah dan Papah harus langsung coba pasti enak." Arum menerima keranjang berisi makanan  yang dari wanginya aja sudah pasti enak.


"Sama-sama Mah, semoga suka yah," balas Mimin, meskipun yakin kalau calon mertuanya pasti akan suka karena menu catering yang ia pilih sudah terkenal rasanya lezat. Bahkan kalangan atas pun banyak yang memilih tempat catering itu untuk pilihan makanan mereka.


Arum pun meninggalkan anak dan menantunya. Wanita paruh baya itu memilih makan di kantin dengan suaminya. Menghargai Hadi juga yang masih belum diperbolehkan makan karena belum flatus (Kentut) Kenapa  harus nunggu ada flatus dulu baru boleh makan dan minum?


#Sebenarnya ada beberapa operasi yang boleh langsung makan atau minum tanpa ada flatus dulu, tetapi beberapa kasus operasi terutama yang besar itu dianjurkan usus bergerak dulu baru diperbolehkan makan, nah salah satu tanda usus bergerak biasanya ditandai dengan flatus.


"Mimin bawa bubur dengan sup ikan gabus untuk kamu Mas?" Mimin meletakan keranjang makanan yang tentu ukuranya jauh lebih kecil dari yang isi makanan untuk calon mertuanya.


"Terima kasih, sebenarnya pengin cobain, tapi kayaknya belum boleh masih diminta puasa, sampai nanti ada yang cek untuk pastikan boleh buka atau belum," balas Hadi, sembari mengulas senyum bahagia. Senang, pasti lah dijenguk calon istri apalagi dibawakan makanan yang kalau Mimin yang bawa boleh makan, tidak seperti Aarav yang datang cuma buat ngeledek.


"Oh maaf, kirain udah langsung boleh makan," balas Mimin dengan rasa bersalah.


"Tidak apa-apa, karena memang biasanya yang bius setengah badan boleh langsung makan, kalau ini yang operasi justru ususnya jadi ya butuh kesabaran. Terima kasih ini malah karena udah dijenguk. Kerjaan banyak apa kok pulang malam amat?" tanya Hadi, meskipun Aarav sebelumnya sudah menjelaskan.


Mendengar ucapan Mimin, jangan ditanya perasaan abang Hadi sudah jelas berbunga-bunga dong. Hadi mengulas senyum ketika sekarang Mimin sudah berani mengatakan kecemasannya dengan kondisi Hadi meskipun masih malu-malu.


"Terima kasih sudah cemasin, padahal ini operasi ringan. Pasti akan baik-baik saja."


"Tetap saja, mau ringan atau besar namanya operasi tetap akan ada resikonya, tapi sekarang sudah senang karena sudah bisa lihat tersenyum lagi." Mimin masih melihat senyum samar di wajah Hadi.


"Sebenarnya ingin tertawa bukan senyum aja, tapi dibekas operasi masih nyeri jadi bisanya cuma senyum aja."


Hadi merasa sekarang Mimin lebih banyak omong dan juga tidak terlalu kaku obrolannya malah lebih cenderung mengungkapkan perasaanya.


"Mas ...."Mimin memanggil Hadi dengan suara yang lirih.


"Kenapa? Katakan saja, jangan malu atau ragu. Bukanya kamu sudah lihat reaksi Mamah dan Papah mereka sangat baik sama kamu, jadi apa yang buat kamu ragu?" tanya Hadi, penasaran dong, kalau dari nada bicaranya, tentu Mimin ingin kalau ia mengatakan sesuatu.

__ADS_1


"Mas Aarav tadi ke sini? Ada ngomong sesuatu?" tanya Mimin, takutnya Aarav cerita kejadian tadi pagi.


"Iya, barusan aja tapi udah pulang sih. Eh, tepatnya diusir sih, abis ngeselin. Aarav tidak ada ngomong apa-apa hanya ngecek aja, biasa orang itu kalau nggak bercanda ya bukan Aarav, kenapa emang ada terjadi sesuatu dengan Aarav?" tanya Hadi balik. Penasaran dong, apalagi Aarav mantan Mimin, kan meskipun tidak akan mungkin kalau bakal bermain petak umpat.


"Tidak ada, tanya aja soalnya tadi ditanya mau ke rumah sakit, jawabnya enggak," elak Mimin agar Hadi jangan beranggapan buruk dengan sahabatnya.


"Oh, kan emang Aarav mah kaya gitu orangnya, agak-agak lain."


Mimin mengangguk membenarkan ucapan Hadi. "Mimin, akan ikuti saran Mas Hadi," imbuh Mimin.


Hadi justru menyipitkan kedua matanya. "Saran apa? Emang kapan aku kasih saran?" tanya Hadi balik, ya jelas Hadi bingung Mimin bicaranya setengah-setengah dan masih terlihat ragu-ragu.


"Soal restu dari wali dari perempuan," jawab Mimin seolah enggan untuk menyebut ayahnya.


"Oh, alhamdulillah. Jujur aku juga sebenarnya sedang cari ayah dan juga abang kamu. Sudah dapat informasinya, tapi belum bisa mengunjungi karena langsung sakit. Mungkin nanti kita bisa mengunjungi sama sama." Saran Hadi dengan semangat tentunya, karena artinya Mimin sudah mulai mau membuka hatinya setidaknya untuk menemui ayah dan abangnya.


"Yah, mungkin memang lebih baik seperti itu," balas Mimin dengan tersenyum masam. Seolah masih ada rasa berat.


******


#Di sini bukan othor bela tokoh Mimin, tapi othor sendiri cukup salut dengan dia yang mau berdamai dengan orang tuanya terutama ayah dan abangnya.


Di bab sebelumnya sudah Othor jabarkan saat pertama kali Lydia bertemu dengan Mimin, di mana gadis itu seperti orang depresi berat, bahkan untuk pertama bertemu Lydia jujur nggak pernah mau bertemu dengan Mimin, karena takut kalau Mimin akan melukai dirinya, sampai Mimin cukup dekat dengan Lydia karena hubungan hutang piutang, dan tempat Gym-nya Mimin akhirnya dijual ke Lydia karena tidak bisa bayar utang.


Di sana Mimin memang mengalami goncangan mental yang sangat hebat, paska perceraian tiba-tiba kedua orang tuanya, padahal mereka awalnya keluarga bahagia dan berkecukupan. Lalu tiba-tiba ibunya meninggal karena kecelakaan, dan dia yakin besar kalau yang menabrak adalah orang suruan ayahnya. Kehilangan ibu saja sudah bikin Mimin depresi hebat, karena dia kehilangan pegangan dan panutan dalam hidupnya, padahal yang dia punya cuma ibunya. Dan pas cerita ke abangnya minta bantuan  buat mengungkap kasus kematian ibunya yang dia yakini ayahnya yang bunuh dan ayahnya tinggal dengan abangnya. Julio, abangnya malah menuduh Mimin mengarang cerita dan meminta Mimin terima nasibnya. Siapa yang nggak sakit hati dan marah sampai sekarang.


Dia tidak meminta harta dari ayahnya yang kaya, dia hanya minta keadilan untuk ibunya, agar dia tidak merasa bersalah karena tidak bisa menjaga ibunya. Dan rasa bersalah itu masih ada sampai sekarang. Makanya pas dia harus menemui ayah dan abangnya dalam batinnya dendam yang sudah lama coba kubur kembali hadir lagi, dan sekarang Mimin berani mencoba berdamai meskipun tidak sepenuhnya damai di sini sudah menggambarkan kalau Mimin cukup hebat. Tidak semudah itu memaafkan orang yang sudah menyakiti hati dan perasaannya apalagi pelakunya adalah orang yang seharusnya melindungi dirinya. Marah, kecewa, dendam dan benci jadi satu, tapi dia memilih mengalah.


Belum Mimin, mendalami agama baru dua tahun lebih tepatnya sejak dia sakit dan tinggal bareng dengan Abah dan Ambu, dan progres dia sampai sini cukup cepat menerima aturan agama yang kadang tentu bertentangan dengan hati dan perasaanya, tapi dia masih mau terus belajar. Tokoh Mimin beda dengan Lydia yang memang sudah tertarik memakai hijab sejak sekolah meskipun awalnya hanya buka tutup, tetapi ia ada kemauan untuk belajar dari masih muda, kalau Mimin benar-benar berangkat dari gadis yang hidupnya terserah gue, maklum tidak ada yang mengarahkan. Ketika dapat suami pun tidak bisa membimbing dan justru hanya disakiti jadi hatinya makin keras.

__ADS_1


__ADS_2