
Candaan Hadi dan Arum pun harus terhenti ketika Ahmad sudah kembali tidak jauh di belakanya ada dokter dan perawat yang akan memeriksa Mimin.
"Gimana Pak, boleh pulang?" tanya Hadi, dengan cemas. Takut kalau permintaanya tidak diizinkan.
"Boleh, kalau Papah yang urus semuanya beres," balas Ahmad dengan sedikit berbangga diri.
Ck... Hadi mengecap bibirnya cukup keras. Kalau ia yang bicara pun hasilnya akan sama. "Wah Papah memang bisa diandalkan. Kalau gitu Hadi masuk yah, nitip Iko dulu." Hadi pun langsung mengikuti dokter yang akan periksa Mimin sekali lagi untuk memastikan apakah memang bisa pulang saat ini juga atau belum.
Hadi berdiri tepat di samping dokter yang akan memeriksa calon istrinya.
"Selamat Siang Mbak Mimin, tadi calon papah mertuanya bilang pada kami kalau Mbak Mimin pengin pulang sekarang. Emang kenapa kalau nginap di sini lagi, setidaknya satu sampai dua hari lagi agar kondisinya makin membaik," ucap dokter yang sedang memeriksa Mimin.
Wanita itu mengulas senyum di balik cadarnya. "Sudah nggak betah Dok, pengin istirahat di rumah. Kalau di rumah sakit malah makin stres," jawab Mimin dengan jujur.
"Ya udah kalau memang udah nggak betah. Hari ini juga sudah boleh pulang, tapi ingat yah. Kalau ada apa-apa kami tidak tanggung jawab," ucap sang dokter memastikan kembali sebelum tadi Ahmad sudah sempat tanda tangan surat pernyataan kalau pasien pulang memang atas kemauan sendiri.
"Baik Dok, kalau ada apa-apa kami tidak akan menyalahkan siapa pun," balas Mimin dengan yakin. Setelah dokter memeriksa, kini Mimin pun sudah diizinkan pulang. Selang infus pun sudah di lepas oleh perawat. Sama halnya Hadi. Mimin pun begitu selang infus lepas dari punggung tanganya ia langsung merentangkan tanganya bahagia.
"Kita pulang dulu," lirih Lydia. Namun Mimin langsung menggelengkan kepalanya.
"Aku langsung ke tempat itu aja Lyd, maaf yah. Kalau nanti urusan aku sudah selesai baru main ke rumah kamu. Ngomong ngomong terima kasih banget yah, kamu sudah ada di sini. Ketika aku butuh bahu untuk bersandar. butuh baju untuk mengelap ingus karena habis menangis," kelakar Mimin, yang langsung calon ibu tiga adak itu mengecek pakaianya, karena takut kalau apa yang Mimin katakan benar yaitu dirinya benar menggunkan bajunya untuk mengelap ingus bekas Mimin nangis.
"Enggak Lyd, aku hanya bercanda kok, ya mana mungkin lah aku menggunkan pakaian kamu untuk mengelap kaya gitu, jorok banget aku." Mimin pun terkekeh karena berhasil mengerji sahabatnya.
"Yeh kamu mah, aku lagi serius-serius, tapi malah kamu bercanda. Ya udah maaf nggak bisa ikut. Aku mau istirahat di rumah. Kamu jalan sama Mas Hadi aja, nanti kalau ada apa-apa kabar-kabar aku aja," balas Lydia. Sebagai wanita hamil yang sudah masuk usia tujuh bulan dan dengan kehamilan kembar tentu cukup membuat calon bundanya si kembar langsung sensitif. Masih mending tidak diajak duel.
"Tidak apa-apa, aku sudah ditemanin sama kamu juga sudah bahagia banget. Kamu memang wanita yang baik hati dan tidak sombong." Mimin mengedip-ngedipkan kedua matanya, seperti kelilipan.
__ADS_1
"Dih, ngeselin nih anak." Lydia menepuk pundak mamahnya Iko yang makin genit.
"Oh iya Lyd, tadi Mamah dan Papah bilang, sekaligus minta izin. ingin ajak Iko main ke rumah boleh nggak? Nanti pulangnya bakal di antarkan oleh Mamah dan Papah." Hadi pun menyampaikan apa kata mamahnya. yang susah ingin sekali punya cucu.
"Ya udah aku tidak masalah, nanti kalau mau pulang Wa ajah biar di kirimnanti alamat rumah kami."
Hadi pun langsung mengangkat kepalanya, mereka pun akhirnya ke luar rumah sakit bersama-sama. Iko pun sudah terlihat sangat sehat. Sudah bisa bermain gelembung.
"Iko Sayang pulang yuk." Mimin merentangkan tanganya yang langsung di serbu oleh Iko. Anak laki-laki itu langsung memeluk Mimin dan mengusap punggung Mimin layaknya orang dewasa.
"Mamah udah sembuh?" tanya Iko yang terlihat sekali kasih sayangnya.
Mimin mengangguk dengan kuat. "Iya Sayang, kan Iko datang jadi Mamah cepat sembuh. Iko juga do'akan Mamah kan, jadi Alloh cepat sembuhkan sakit Mamah."
Iko pun tersenyum, dan mengangguk.
"Sekarang Iko sama Kakek dan Nenek yah." Mimin menatap calon mertuanya.
Setelah berpelukan dan melepaskan rindu dengan putranya. Kini mereka pun berpisah. Lydia pulang ke rumah, Iko berserta kakek dan neneknya pulang ke rumah Hadi. Sementara Hadi dan Mimin langsung pergi menuju rumah Lukman. Sebelumnya tentu Hadi sudah lebih dulu mengabarkan kalau ia dan Mimin akan datang.
Mimin memejamkan matanya, dalam hatinya ia terus berdoa agar dikuatkan hatinya apa pun nanti yang akan dia ketahui.
Hadi menatap Mimin. "Apa kamu masih pusing, atau ada yang kamu pikirkan?"
Perlahan Mimin membuka matanya. "Aku hanya sedang berdo'a. Seharusnya aku bertanya pada Mas, apa sakit Mas sudah sembuh? Bukannya yang baru keluar dari rumah sakit itu Mas, dan Mas habis operasi malah."
"Kalau itu sudah mendingan, mungkin karena udah ketemu kamu," goda Hadi.
__ADS_1
Ckkk... Mimin mengecap bibirnya cukup kencang.
"Jangan tebar gobalan, di depan ada sopir." Mimin menunjuk sopir yang ada di depan, dan sudah pasti sopir hanya tersenyum, maklum dengan kelakuan bosnya. Yang sedang dilanda kebucinan.
*******
Di tempat lain.
Julio begitu membaca pesan dari calon adik iparnya, tak henti-hentinya mengucapkan syukur. Karena belum ada dua belas jam ia mengabarkan kondisi sang ayah, tapi akhirnya Mimin mau menemui ayahnya.
Laki-laki berusia tiga puluh empat tahun itu pun langsung ke kamar Lukman, untuk segera memberi kabar kalau adiknya akan datang.
"Man, Ayah tidur?" tanya Julio pada perawat yang baru saja bergantian jaga dengan dirinya. Niat hati Julio akan beranjak istirahat, tapi yang ada malah adiknya akan datang dan alhasil ia tidak jadi istirahat.
"Tuan habis minum obat Mas. Kenapa emang?"
"Adikku akan datang." Julio duduk di samping sang ayah. Tangannya mengusap punggung tangan Lukman. Masih sama seperti sebelumnya, tangan Lukman dingin.
"Yah, Jasmin sedang dalam perjalanan, dia akan datang ke sini, Yah. Ayah pengin ketemu Jasmin kan?" Julio berbisik di samping telinga Lukman.
Sama seperti kemarin ketika mendengar nama putrinya, laki-laki itu membuka matanya. Yah, meskipun dia memejamkan matanya, tapi nyatanya ia tidak sepenuhnya istirahat. Lukman mendengar apa yang orang lain katakan.
Lukman memalingkan pandangan matanya pada Julio, dari sorot matanya ia seolah menegaskan apakah yang putranya katakan benar?
"Iya, Jasmin sedang di jalan, Jasmin akan pulang seperti yang Ayah ingin. Apa Ayah senang?" tanya Julio, masih berbisik di telinga ayahnya.
Lukman mengembangkan senyumnya, dan bisa dilihat laki-laki itu menganggukkan kepalanya dengan lemah.
__ADS_1
Bersambung....
...****************...