Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Kenangan Masa Remaja


__ADS_3

Ayah, Ibu, Mimin dan Julio pamit yah. Kita akan sering-sering ke sini untuk menjenguk kalian." Terakhir Mimin mencium nisan ke dua orang tuanya.


"Ibu, Ayah, Hadi pamit yah. Kalian jangan khawatir Hadi akan jaga Mimin, dan bahagiakan putri Ibu dan Ayah." Hadi pun melakukan hal yang sama dengan Mimin. Begitu pun Julio, berpamitan dengan ayah dan ibunya.


Setelah pemakaman Lukman selesai hari itu juga Mimin dan keluarganya langsung pulang kembali ke Jakarta. Meskipun perjalanan darat hampir sepuluh jam. Cape sudah pasti dirasakan oleh Mimin, apalagi Hadi yang tubuhnya belum fit betul.


Malam harinya pun di rumah Lukman di adakan pengajian. Lydia dan Arum serta Mamy Misel yang mengatur pengajian di rumah Lukman, itu semua karena Mimin dan yang lainya masih di jalan menuju Jakarta.


"Kamu istirahat saja Sayang. Aku takut kamu malah sakit lagi." Kini gantian Hadi yang menepuk pahanya agar Mimin merebahkan diri di atas pangkuannya.


Mimin menatap Hadi, dengan mata yang sembab. "Seharusnya Mimin yang bilang seperti itu sama Mas Hadi, kan Mas juga masih sakit," balas Mimin dengan mengulas senyum dengan terpaksa. Yah, ia akan mengikuti apa kata Hadi dan mertuanya, mengikhlaskan ayahnya pergi agar hati dan pikirannya tenang.


"Aku sudah minum obat tadi. Dan juga sekarang tubuhku sudah enakan. Kalau tidak enakan tidak mungkin kemarin aku kerja." Hadi kembali menepuk pahanya dan meminta agar Mimin merebahkan tubuhnya di atas pahanya.


"Mas yang maksa yah." Tanpa pikir lama Mimin pun mengikuti apa kata suaminya. Ia merebahkan tubuhnya di atas pangkuan sang suami, dan benar saja tidak lama ia tidur, dan Hadi pun sama tidur dengan menyandarkan kepalanya di hand rest.


Kini Mimin maupun Hadi pun tidur bersama. Rasa lelah membuat mereka pulas merangkai Mimpi.


Pukul empat pagi rombongan pun sampai di rumah Lukman. Kini untuk pertama kalinya juga Mimin kembali menginap di rumah keluarganya, dan kini ia akan tidur di kamarnya yang dulu yang sudah belasan tahun tidak ia tempati.


Hadi mengerjapkan matanya ketika ia merasa kalau mobil yang ditumpanginya mulai berhenti.


"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di rumah dan semuanya selamat, dan acara pemakaman pun lancar," gumam Hadi dengan pandangan mata mengedarkan mata menatap rumah mewah sang mertua yang terlihat tua dan uang karena catnya sudah mulai kusam.


"Sayang ... Sayang ...  bangun yuk. Kita sudah sampai rumah." Hadi mengusap wajah Mimin dengan mesra. Tentu setelah supir turun. Mimin pun mengerjapkan matanya, pandanganya menatap Hadi yang jarak mereka sudah sangat dekat.


Setelahnya Mimin menatap ke luar. Yang ternyata ia pulang ke rumah kedua orang tuanya. Mimin menatap pada Hadi, dengan tatapan yang meminta penjelasan kenapa pulang ke rumah keluarganya.


"Untuk satu minggu kita tinggal di sini, karena akan diadakan doa bersama selama satu minggu di rumah Ayah," jelas Hadi. Mimin pun langsung membalas dengan anggukan kepala.

__ADS_1


Tanpa berbicara Mimin pun mengikuti Hadi, untuk turun dan langsung melanjutkan ke kamar mereka karena ini masih terlalu pagi dan orang-orang di rumah ini juga pasti masih tidur dengan nyenyak.


"Kamu tidak keberatan kan kalau kita tinggal di sini untuk sementara waktu?" tanya Hadi sebelum masuk ke kamar sang istri dulu saat masih tinggal di rumah ini.


"Tidak, aku sudah membuka pintu maaf dan menutup segala kenangan buruk yang pernah menjadikan dendam di hatiku," balas Mimin, meskipun tidak sepenuhnya langsung bisa melepaskan itu semua, tapi Mimin tahu kalau apa yang dia lakukan cepat atau lambat ia harus benar-benar menutup semua kenangan buruk yang pernah ia alami. Kini ayahnya juga sudah menyusul sang ibu. Yang ada marah yang ia pelihara hanya akan membuatnya kembali sesak.


Hadi sendiri sangat senang ketika mendengar jawaban dari Mimin. Kini Hadi pun membukakan pintu kamar untuk sang istri tercinta.


Begitu masuk ke kamarnya, Mimin mengedarkan pandanganya. Ada rasa sedih dan berat ketika ia pulang lagi ke rumah masa kecilnya, dan yang membuatnya sedih kini ia tidak lagi bersama tinggal di rumah ini dengan orang tuanya.  Kedua orang tuanya sudah pulang sudah bahagia di samping-Nya.


"Dulu kamar ini adalah tempat paling nyaman, tidak banyak yang berubah dari kamar ini," ucap Mimin sembari berjalan menghampiri meja belajarnya. Dulu saat ia meninggalkan kamar ini saat itu masih sekolah menengah atas. Masih banyak juga foto-foto Mimin saat ia masih muda.


Hadi pun mengikuti ke mana sang istri berjalan.


"Ini kamu?" tanya Hadi sembari tangannya mengambil satu figura yang terdapat foto cewek dengan pipi cabi dengan senyum manis, tetapi tidak mengurangi kecantikannya.


"Jelek yah?" tanya balik Mimin, ia pun mengambil foto yang lain saat ia masih bersama teman-temanya, dan juga ada foto dirinya bersama dengan keluarganya yang masih lengkap Mimin mengambilnya dan meletakan di depan dadanya dengan memeluk hangat foto yang masih lengkap antara ia dan kedua orang tuanya serta abangnya.


"Mungkin dia takut kalau orang lain tidak percaya kalau aku ibunya," kelakar Mimin, sehingga apa yang ada di tubuh Iko semuanya sangat mirip dengan Mimin.


"Bisa aja jawabnya," balas Hadi, laki-laki itu pun kembali membuka-buka album lama yang terdapat di kamar Mimin. Begitu pun Mimin yang terus membuka album satu persatu, dengan memory yang terus berputar pada zaman dulu saat keluarganya masih utuh dan masih bahagia.


"Ngomong-ngomong ini siapa?" Hadi menujukan foto Mimin bersama dengan Aarav yang diambil di foto box. Mungkin jaman sekarang terkenal dengan selfi. Namun saat jaman Mimin muda itu hanya ada foto box yang diambil di mall.


Mimin yang penasaran pun mengintip siapa gerangan yang Hadi maksud.


"Kalau dilihat-lihat seperti kamu dan Aarav?" Hadi memberikan satu lembar foto yang terdiri dari empat foto dengan gaya berbeda.


Wanita cantik itu mengambil foto itu dan melihatnya sekali lagi, dan memang benar dia adalah Aarav. "Hehe ia ini Aarav. Gendut yah." Mimin terkekeh melihat betapa alaynya dirinya dengan Aarav jaman dulu.

__ADS_1


"Berapa lama kamu dulu pacaran dengan Aarav?" tanya Hadi dengan kepo.


"Kalau pacaran tidak lama, tapi kalau kenal sih dari jaman masih taman kanak-kanak," balas Mimin, tidak mengambil serius pertanyaan Hadi. Karena Mimin sudah menutup kenangan bersama dengan Aarav. Ia kini sudah menganggap Aarav masa lalu yang tidak perlu diingat-ingat lagi, karena Aarav sudah bahagia bersama dengan keluarganya, dan Mimin pun sudah bahagia karena mendapat suami yang jauh dari yang ia harapkan.


"Serain Aarav ada mantan lagi nggak?" tanya Hadi dengan menatap Mimin yang masih membuka satu demi satu album foto yang ada di tangannya.


"Adalah," jawab Mimin dengan santai.


"Siapa?" tanya Hadi semakin penasaran dong. Mendengar suara Hadi yang semakin penasaran Mimin pun langsung menatap Hadi dengan serius.


"Ayahnya Iko."


Mendengar jawaban Mimin, Hadi pun mengerutkan keningnya seolah ia tidak percaya dengan apa yang Mimin katakan.


"Kenapa seperti itu responnya? Tidak percaya?" tanya balik Mimin.


"Aga tidak percaya yah. Bukanya kamu dan Aarav itu pisah saat masih sekolah menengah atas, dan kamu menikah diusia dua puluh sembilan tahun. Emang kalian pacaran berapa lama?" tanya Hadi semakin kepo dengan masa lalu Mimin. Yang memang belum banyak Hadi ketahui.


"Entahlah, aku pun tidak pernah menghitungnya. Hanya saja aku dan ayahnya Iko kenal saat kuliah di kotanya Lydia karena saat itu ayahnya Iko anak dari ketua yayasan kampus di mana aku kuliah. Ya memang dari awal aku dan ayahnya Iko juga hubungannya tidak direstui. Sempat beberapa kali putus nyambung dan putus lagi lalu nyambung lagi. Hingga saat aku kerja di Kalimantan ketemu lagi dan kamu nekad menikah lari. Tanpa restu dan kalau yang ini tidak usah aku ceritakan lagi karena Mas Hadi sudah tahu semuanya. Yang jelas hubungan kami tidak semanis saat pacaran banyak perjuangannya. Namun, saat sudah menikah justru sudah lelah berjuang dan saling menyakiti."


Suara Mimin pun semakin melemah. Mendengar suara Mimin yang semakin berat. Hadi sebagai suami pun sigap langsung menggeser tubuhnya dan merangkul Mimin.


"Tidak apa-apa. Mungkin perjalanan kamu beberapa tahun ke belakang adalah perjalanan yang sangat berat. Namun, untuk kali ini aku berjanji akan memberikan kebahagiaan yang tidak pernah kamu rasakan. Aku akan ada saat kamu butuh, dan aku akan selalu menghapus luka-luka kamu dan berganti bahagia." Hadi mengusap rambut Mimin yang tergerai indah.


Wanita cantik itu pun membalas pelukan Hadi dengan mesra.


"Terima kasih telah hadir di hidupku dan menyebuhkan lukaku.Aku sangat beruntung karena Tuhan mempertemukan aku dengan kamu," balas Mimin. Kini ia justru merasakan tubuh benih-benih cinta dengan indah. Tuhan memang tahu siapa yang baik untuknya dan siapa yang buruk untuk hidupnya sehingga Tuhan menjauhkannya.


Mereka pun menghabiskan sisa malam untuk saling bercerita masa-masa kecil Mimin, dan juga Hadi.

__ADS_1


Bersambung....


...****************...


__ADS_2