
Sebelum lanjut kita kenalan dulu yuk dengan Om Duda dan Mbak Mimin. Sepertinya belum pernah kenalan.
Hadi nama lengkapnya adalah Mulya Hadi Al Hussain usianya sudah tiga puluh delapan tahun. Sudah pernah menjalani pernikahan selama lima tahun. Namun tepat disaat istri mengandung beliau meninggalkan Hadi bersama sang buah hati yang sedang dikandungnya. Hadi yang mengalami guncangan hebat karena kepergian istri dan anaknya pun rela menduda selama sepuluh tahun untuk membuktikan cintanya pada sang istri.
Hingga akhirnya bertemu dengan Mimin yang saat itu ia kagum dengan kesabaran Mimin menghadapi ujian sakit dan cobaan hidup yang hebat.
Berawal dari kagum sampai akhir ia berani membuat hati untuk memulai melabuhkan hatinya pada sosok wanita kuat dan hebat untuk dijadikan pengganti sang istri. Ia perlahan membuka hati untuk wanita baru.
Anak sulung dari pasangan kaya raya Ahmad dan Arum pun sekarang sedang berjuang untuk mendapatkan wanita yang ia anggap cocok dan layak untuk menjadi pendamping hidup selanjutnya.
Kasihan yah kelamaan menduda sampai yang dicium kucing. Tenang Om Duda sebentar lagi ada yang dipeluk dan dicium beneran kok.
Mimin nama lengkapnya Jasmin Aprillia Mahalini usianya sekarang tiga puluh dua tahu, iya dia usianya beda empat tahun dengan Lydia. Punya anak satu namanya Tiko Uwais Al Isya, nama pemberian papah Aarav.
Untuk Mimin sebagian sudah tahu kisahnya jadi gak usah dijabarkan detail lagi karena sebelumnya sudah dijelaskan dalam cerita mulai dari sakit dan masalah dengan mantan istrinya dan sekarang dengan keluarganya.
Intinya dia wanita lemah yang memiliki hati kuat. Yah fisiknya tidak sekuat orang lain tapi hatinya kuat sudah terbukti berkali-kali dipatahkan tetap bisa menata kembali kepingan yang hancur.
*******
"Apa aku harus temui laki-laki itu?" tanya Mimin di sela-sela tangisannya.
Sama dengan Hadi. Lydia pun mengusap punggung Mimin, seolah memberikan dukungan. "Kalau aku boleh memberikan usul, sebagai anak, kamu temui ayah kamu. Terlepas dari kesalahannya. Ia tetap ayah kamu. Namanya orang tua tidak ada bekasnya. Begitupun orang tua dengan anak tidak ada istilah bekas anak. Salah atau tidak kita tetap ada kewajiban untuk menghormati mereka," balas Lydia dengan pelan-pelan. Ia tidak mau nanti apa yang Lydia sarankan justru terkesan membela Lukman.
Masih dari kamar pasien yang sama. Setelah mendengar jawaban Lydia, kini Mimin pun beralih menatap calon suaminya. Dari sorot matanya Hadi sudah tahu, kalau calon istri juga menginginkan masukan dari dirinya. Laki-laki itu mengulas senyum teduh, dan memberikan tatapan yang sendu.
"Terlepas dari ayah kamu bersalah atau tidak. Tentu semua ini juga ada andil Tuhan. Takdir, mungkin sudah takdirnya ibu kamu hanya hidup sampai hari itu. Tanpa ada izin-Nya mungkin ibu kamu akan selamat, dan tidak berpulang. Kamu tidak harus terus merasa bersalah karena kamu tidak bisa menolong ibu kamu. Semuanya sudah jadi kehendak-Nya. Meskipun tidak ada kecelakaan itu kalau memang takdir sudah memberikan jangka waktu hidup ibu kamu sampai hari itu. Beliau akan tetap berpulang, kamu harus coba buka keikhlasan kepergian ibu kamu. Tidak baik juga terus-terusan dendam yang ada hati kita juga yang tersakiti."
__ADS_1
Sama dengan Lydia, Hadi pun berbicara dengan nada yang sangat hati-hati agar Mimin tidak tersinggung.
"Kalau lelah istirahatlah, tapi bukan alasan untuk berhenti. Kata orang lelah itu suatu alarm karena kita sudah berjuang satu tahapan pencapaian dari sesuatu yang telah dilewati. Aku tahu selama ini kamu sudah berjuang. Maka dari itu sekarang kamu merasa lelah. Tapi jangan berhenti. Istirahat sejenak tenangkan pikiran kamu, dan kembali melangkah lanjutkan perjuangan yang sudah bertahun-tahun kamu lewati. Bisa jadi ini adalah perjuangan terakhir, setelah kamu membuka pintu maaf dan menerima takdir ini. Hati kamu jauh lebih tenang. Kamu bisa merasakan nyaman dan tenang. Percayalah ketenangan adalah anugrah yang paling indah dari-Nya."
Kembali Hadi mengusap punggung Mimin. Untuk sesaat Mimin pun diam, ia pun mempertimbangkan apa yang Hadi dan Lydia katakan. Tidak memungkiri, apa yang Lydia dan Hadi katakan memang benar. Berbeda dengan biasanya kini Mimin pun lebih bisa mendengar nasihat dari Lydia dan juga calon suaminya.
"Kalau gitu aku mau bertemu dengan laki-laki itu," balas Mimin dengan suara lirih. Meskipun rasanya masih berat untuk Mimin menyebutnya ayah. Namun, setidaknya dia sudah jauh lebih baik. Ia bisa membuka hatinya untuk memaafkan atas semua yang telah berlalu.
"Alhamdulillah, Lydia dan Hadi pun mengucapkan hamdalah secara bersamaan.
"Kapan mau ke temu Om Lukman?" tanya Lydia tidak bisa dipungkiri wanita yang tengah berbadan tiga itu pun ikut merasakan senang ketika Mimin akhirnya mau berdamai dengan hatinya. Yah, berdamai dengan keegoisan hatinya, meskipun Lydia tahu betul kalau Mimin belum bisa sepenuhnya memaafkan ayahnya.
"Sekarang boleh. Aku sudah jauh lebih baik. Aku juga cape di rumah sakit terus. Aku sudah baikan," balas Mimin dengan menunjukkan wajah ceria seolah wanita itu ingin menunjukkan kalau dirinya sudah baik-baik saja. Sontak Hadi dan Lydia pun saling memberikan tatapan ragu.
"Aku sudah baikan, serius deh. Semalam aku hanya kaget, marah dan kesal dengan Julio, tapi sekarang aku sudah jauh lebih baik," protes Mimin, yang tahu kalau Hadi dan Lydia seolah tidak setuju kalau dirinya langsung keluar rumah sakit saat ini juga.
"Ya udah aku coba berbicara dengan dokter, tapi apa kamu sudah benar-benar merasa baikan. Aku tidak mau nanti kalau menandatangani surat perjanjian malah kamu kenapa-kenapa lagi," ucap Hadi. Yah, kalau sudah membuat surat pernyataan ingin keluar meskipun belum diizinkan oleh dokter, kalau ada apa-apa tidak bisa menuntut orang lain, karena kemauan keluar dari rumah sakit itu atas kemauan pasien dan penanggung jawab keluarga pasien.
Hadi pun mengangguk karena yang dirasakan Mimin sama halnya dengan yang dirasakan oleh Hadi. Laki-laki yang baru ke luar dari rumah sakit itu pun kembali berjalan ke ruangan dokter penanggung jawab pasien. Untuk meminta kalau pasien dipulangkan dengan alasan tentu pasien sudah baikkan.
"Kamu mau ke mana?" tanya Ahmad yang sedang bermain dengan Iko.
"Ke ruangan dokter. Mimin pengin pulang," jawab Hadi jujur.
"Udah kamu di sini saja, biar Papah yang urus semua. Kamu baru pulang dari rumah sakit biar Papah yang urus, kamu jangan terlalu cape nanti malah kembali sakit." Ahmad pun menghampiri putra sulungnya dan meminta untuk duduk daan menggantikan bermain dengan Iko, dan Arum. Untuk urusan Mimin digantikan oleh Ahmad.
Hadi pun tidak masalah karena papahnya sejauh ini memang bisa diandalkan ia kembali memilih bermain dengan Iko. Hadi memilih duduk di samping Arum di mana Iko sedang main gelembung.
"Hadi setelah ini akan mengantar Mimin menemui ayahnya," ucap Hadi memulai obrolan di antara dirinya dengan Arum.
Mendengan ucapan anaknya. Arum pun langsung menatap Hadi. " Mimin sudah mau ketemu ayahnya?" tanya Arum, dan Hadi menjawab dengan anggukan kepala.
"Kondisi ayahnya semakin parah, tadi setelah melihat rekaman kondisi ayahnya akhirnya Mimin mau bertemu dengan ayahnya," jawab Hadi.
__ADS_1
"Kalau gitu pergilah, biar Iko dengan kami. Dia anak yang baik pasti kami bisa menjaganya," ucap Arum yang berpikir kalau Iko memang tinggal dengan Mimin.
"Kalau soal Iko nanti tanya Lydia karena Lydia yang merawatnya, mungkin kalau sebentar boleh."
"Ya udah kamu izin dengan Lydia. untuk siang ini Iko ikut Mamah dan Papah, biar Mamah dan Papah tidak bosan di rumah kami pasti sepi.
"Iya nanti dibikin rame dengan anak-anak Hadi," kelakar Hadi dengan percaya diri.
"Ah kamu mah cuma ngomong doang, sepuluh tahun cari pasangan aja nggak dapat-dapat." Arum menyikut perut putranya yang baru menjalani operasi.
"Awww ... Mamah sakit." Hadi meringis menujukan wajah sakit.
"Cuma sikut biasa aja sakit, manja sekali. Lihat tuh anak kamu aja nggak manja." Arum justru membandingkan Hadi dengan calon anaknya.
Mendengar jawaban Arum, Hadi pun langsung menyebabkan bibirnya lima senti.
"Tapi kan ini udah dapat izin tinggal di SAH kan saja, izin sudah dapat kok," balas Hadi nggak mau dong dibilang nggak dapat-dapat calon istri. "Cari istri itu nggak bisa sembarangan Mah, makanya harus seleksi benar-benar dan kalau yang sekarang sudah mantap lahir dan batin."
"Ya udah kalau memang restu udah di dapatkan, kamu tinggal gas aja cari penghulu nikahkan. Mumpung ayahnya Mimin masih ada setidaknya bisa menyaksikan anaknya menikah," usul Arum. Yah dia sebagai orang tua tentu sangat tahu bagaimana bahagianya menyaksikan anaknya menikah.
"Iya nanti dipertimbangkan lagi," balas Hadi dengan lirih.
"Jangan dipertimbangkan aja. Lebih baik disegerakan biarkan nikah sederhana dulu, yang penting ijab kabul. Setelah semuanya aman mau mengadakan pesta juga tidak masalah yang penting sah dulu saja."
"Iya iya Mamah kalau perlu hari ini nih langsung di nikahi."
"Amin ... biarin Mamah aminin biar kejadian hari ini juga dinikahin kamu."
#Nah loh Om Duda, biasanya doa orang tua mujarab loh. Mana baru pulang rumah sakit dua-duanya kalau langsung nikah kasihan dong nggak langsung lembar bikin mochi yang gemoyyy...
Bersambung....
...****************...
__ADS_1