Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Pangeran Hati


__ADS_3

"Ayo Sayang, kamu siap-siap! Hari ini Papih akan adakan acara," ucap Mas Aarav sebari sibuk dengan persiapan pagi ini. Sedangkan aku yang mungkin baru tidur dua jam rasanya pusing masih menggelayuti kepala ini.


"Nanti acaranya lama nggak Mas, Lydia ngantuk banget," balasku dengan sisa menguap dan mata yang merah. Mas Aarav justru menatapku dengan heran.


"Apa kamu semalaman tidak tidur?" tanya Mas Aarav sembari kedua matanya awas menatapku.


Aku menggeleng dengan lemah, "Mungkin baru tidur dua jam," jawabku jujur, bagaimana lagi meskipun mata ini di pejam-pejamkan rasa ngantuk bukanya datang malah seolah mata ini meledek sang punya raga, terus melotot.


"Ya Tuhan, kenapa kamu tidak tidur? Apa perut kamu sakit karena datang bulan? Kenapa kamu tidak bangunkan Mas? Kan Mas bisa carikan obat untuk kamu," balas Mas Aarav yang terlihat sangat cemas. Aku pun memberikan jawaban dengan gelengan kepala.


"Aku jadi terpikirkan dengan cerita Mas semalam," jawabku dengan suara yang sedikit pelan.


"Ya Allah Sayang, ini nih yang bikin Mas malas cerita masa lalu, kamu jadi kepikiran. Tau gitu Mas nggak akan cerita tentang cinta masa remaja, biar kamu nggak kepikiran." Mas Aarav terlihat sangat kurang suka mendengar jawabanku.


Namun aku buru-buru menggelengkan kepala dengan kencang. "Bukan soal Mas mantan pacar Mimin, Lydia jadi penasaran dengan nasib Mimin apa dia sudah sembuh atau justru dia sudah tidak ada di dunia ini. Dan Lydia jadi teringat terakhir berkomunikasi dengan dia ingin pinjam uang lagi, tapi nggak Lydia kasih karena memang nggak pegang uang lagi. Abis itu dia terlibat gosip dengan anak dosen, tapi nggak lama kemudian kabar dia nggak ada lagi. Lydia hanya kepikiran nasib dia soalnya kan dia sedang sakit juga," balasku agar tidak salah paham.


"Ya udah kalau gitu beres-beres aja dulu, soal Jasmin kalau memang dia masih ada di dunia ini semoga dia dalam keadaan baik-baik saja," ucap Mas Aarav, dan aku kembali melanjutkan sipa-siap untuk ikut ke kantor mas bojo. Untung pagi ini Mas Aarav bilang akan ada makan bersama di kantor sehingga aku dan Mas Aarav cukup makan roti untuk ganjal perut.


Sebelum berangkat foto dulu...



Setelah hampir satu jam bersiap kami pun berangkat bersama.


"Mas, emang penting banget yah perkenalan seperti yang Mas katakan gitu. Bukanya malah jadi privasinya terganggu karena banyak yang tahu kehidupan kita?" tanyaku ketika kami sudah berada di dalam mobil. Sejujurnya bagi aku kurang nyaman ketika banyak diketahui orang mengenai kehidupan kita. Kalu tertutup ya lebih baik di tutup semuanya, dan kalau di buka berati kita harus siap semua resikonya. Termasuk ada yang tidak suka dan mendapatkan ancaman dan segala macam.


"Kalau buat Mas, dan keluarga penting. Setidaknya mereka tahu kalau Mas sudah menikah, dan juga kalau sudah tahu menikah mereka ada batasan untuk dekat dengan Mas, apalagi cewek. Dan juga kalau seumpama bertemu dengan kita di tempat lain mereka sudah tahu kalau kita adalah pasangan jadi tidak  ada pikiran buruk. Apalagi pernikahan kita cukup tertutup dan dadakan takutnya ada pikiran yang tidak-tidak. Makanya Papih ingin mengenalkan kamu setidaknya sama sebagian karyawan. Nanti juga menyebar lambat laun sudah tahu kalau Mas sudah menikah.


Aku menganggukan kepalaku dengan kuat, alasan dari Mas Aarav sangat masuk akal. Dan tidak ada alasan aku untuk menolaknya. Meskipun ada rasa nervous karena sudah lama menarik diri dari keramaian orang-orang, tetapi aku setidaknya tidak terlalu cemas karena kata mas bojo aku hanya butuh tersenyum dan berbicara kalau ada yang menyapa. Selebihnya papih mertua dan juga mamih mertua yang akan mengurus semuanya.


Ok, aku kembali tenang, selama beberapa hari aku menjadi istri Mas Aarav mereka memperlalukan aku dengan baik, maka tidak ada alasan aku untuk ragu ataupun cemas.


Sebelum turun foto dulu...


__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan hampir tiga puluh menit, kami pun sampai di sebuah bangunan yang cukup tinggi. Sejak pertama turun dari mobil, aku sudah bisa nilai kalau memang kedudukan mas bojo cukup tinggi dalam kantor ini. Perlakuan dari scurity yang berjaga di pintu masuk dan juga para karyawan yang berpapasan dengan kami hampir semua memberikan senyum dan menyapa penuh hormat.


Jujur aku kurang merasa nyaman dengan perlakuan mereka semua. Namun, aku masih teringat kata mamih mertuaku yang mengatakan bahwa. Suamimu adalah orang yang sering bertemu dengan orang banyak dan banyak dari mereka berada dari kelas atas. Suka atau tidak, aku harus mengikuti gaya hidup mereka meskipun hanya terlihat sesaat. Agar suamiku tidak dipandang sebelah mata.


Saat Bapak yang jadi kepala desa saja aku masih kurang setuju, dan terlihat dari pelakuan mereka menghormati mas suami, itu tandanya aku saat ini sudah menjadi istri dari orang yang disegani juga. Mau tidak mau, aku akan terbiasa dengan perlakuan ini.


Huhh... aku hembuskan nafas lega, setelah kini kami berada di ruangan yang sudah aku yakini ini adalah ruangan kerja kang mas suami.


"Lega rasanya. Muka kaya kaku senyum terus," ucapku sembari menggerak-gerakan bibirku agar rileks. Mas suami pun terkekeh melihatku yang mungkin bagi dia terlalu lebai. Namun, dia tidak tahu bagaimana tegangnya aku yang sudah terbiasa mengurung diri. Bertemu dengan orang banyak adalah sesuatu yang sangat beban.


"Makanya biasain ke luar rumah biar nggak terlalu introvert. Kamu harus biasa dengan pertemuan kaya gini, karena bukan tidak mungkin nanti ada undangan dari rekan bisnis yang harus menghadiri suasana yang jauh lebih ramai lagi, dan mau tidak mau kamu harus temanin Mas," ucap Mas suami masih setengah terkekeh seolah aku terlalau lucu untuk hiburan di pagi hari.


"Aduh, beban banget tau Mas untuk menghadiri keramaian seperti itu," ucapku sembari mengusap telapak tangaku yang dingin.


"Makanya berlatih, atau kalau perlu kamu temanin Mas kerja, agar kamu nanti terbiasa dengan pertemuan-pertemuan dengan teman bisnis. Serius deh, Mamih juga gitu kok, beliau memang sering di rumah, tetapi Mamih juga kalau ada acara apa-apa selalu datang nemanin Papih. Nah, kamu juga nanti wajib pake banget kaya gitu, biar orang lain tahu kalau aku sudah nikah,"  balas mas suami, dengan tangan-tangan langsung bekerja. Karena kata Mas suami acara di mulai pukul sepuluh sehingga di pagi hari di gunakan untuk bekerja lebih dulu.


"Ya udah kalau gitu, nanti Lydia akan belajar pada Mamih atau nanti kalau ada waktu lebih dan Lydia bosan di rumah akan nemanin Mas kerja," balasku sembari tanganku mengecek ponsel aku yakin pasti balasan dari teman-temaku sudah banyak.


"Nah gitu dong, kalau di temanin istri kerja bawaanya jadi semangat," ucap mas suami, dan aku pun hanya membals senyum terbaik. Apalagi lihat mas suami sudah sibuk bekerja.


Sinar matamu memancarkan pesona cinta


Di raut wajah tampanmu aku temukan surga


Berdegup kencang jantung ini


Saat kedua bola mata saling mengagumi


Wahai pangeran hatiku


Dan tulus cinta darimu


Membuat indah hari-hariku


Engkau bagai merpati

__ADS_1


Yang membawaku terbang tinggi


Mengitari seluruh negri


Penuh kasih tak terperi


Wahai Pangeranku


Aku akan setia menemanimu


Sebagai peri kecil, penghias taman hatimu


Kau tak akan tergantikan dihatiku


Kau adalah jawaban atas segala doa


Kau adalah pangeran dalam dunia nyata


Tetaplah setia hingga maut memisahkan kita


Aku lihat wajah Mas Aarav yang tadinya fokus pada layar datarnya, kini menatapku dengan wajah memerah.


"Itu adalah puisi seharusnya Lydia kasih kemarin. Sebenarnya ide itu muncul saat Mas turun dari tangga, tapi kemarin ada Mbak Siska, jadi Lydia baru berikan saat ini. Semoga bisa menemai Mas kerja. Dan kerjanya jadi semangat," ucapku, ada rasa malu. Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba memberikan puisi cinta.


Namun, seperti biasa reaksi Mas Aarav yang malu setengah bahagia membuat aku jadi senang karena berhasil bikin anak orang melting.


"Kalau tiap hari dikasih semangat pakai puisi bisa-bisa kerjaan semua orang, Mas yang kerjain. Jujur sekarang saja semangat buat cari nafkah langsung naik," balas Mas Aarav, berlebihan mungkin. Tapi itu yang membuat aku jadi semangat mencari ide-ide cinta untuk mas suami. Aku punya memberikan simbol Finger Heart untuk menambah semangat mas bojo kerja. Benar saja usahaku tidak sia-sia mas bojo nampak kembali mengembangkan senyum malu-malunya. Rasanya sangat senang membuat anak orang baper.


Kembali setelah puas mengoda mas suami, mata dan jari jempol ini membuka layar pintarku. Benar saja sesuai dugaanku kalau banyak pesan dari teman-teman yang membahas tentang Mimin.


Kedua mataku awas membaca satu per satu pesan dari teman-teamanku yang mengaitkan satu cerita dengan cerita lain hingga aku bisa menarik garik kesimpulan. Kalau Mimin masih hidup. Aku sedikit memberikan pertanyaan pada teman yang aku yakini tahu akan keberadaan Mimin. Sungguh bukan aku ingin tahu akan kisah masa lalu Mimin dengan mas suami, aku lebih tertarik dengan kisah temanku yang satu ini karena sepertinya Mimin ini hidupnya cukup pelik. terutama dengan kisah percintaanya yang terhalang restu.


Deg!! Hatiku cukup terkejut ketika mendengar kabar kalau Mimin juga berada di Jakarta, bahkan satu temanku yang sepertinya cukup tahu dengan kisah Mimin mengatakan pada aku kalau Mimin itu beberapa waktu terakhir mencariku. Aku tidak membalas pesan temanku lagi, karena Mas Aarav sudah selesai mengecek laporanya, dan mengajakku untuk menghadiri acara yang kata mas suami sudah dimulai.


Aku hapus semua obrolan kami, aku akan lanjutkan nanti kalau waktunya memungkinkan.

__ADS_1


*****


__ADS_2