Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Sang Sultan


__ADS_3

"Ngomong-ngompng Tuan Wijaya ada perlu apa Pah, datang ke kantor ini? Bukan sedang membujuk sesuatu yang tidaknya dilakukan kan?" tanya Aarav, sembari memangku putranya yang nampak masih sangat ngantuk. Hingga suasana rame pun belum bisa membuat bangun dari tidur siangnya.


"Tidak, Wijaya dengan Papih tidak akan berani melakukan itu."


"Lalu dia datang untuk apa Pih?" Mamih Misel pun ikut penasaran, sedangkan Lydia yang tidak begitu tahu dengan latar belakang Tuan Wijaya pun hanya diam menyimak.


"Dia menawarkan supermarket yang dulu ada proyek dengan kamu, tapi David putuskan tidak jadi bekerja sama secara sepihak. Berhubung sekarang David di penjara maka Tuan Wijaya menawarkan agar kita membelinya."


Mendengar ucapan sang papih, Aarav pun cukup terkejut. Bukan hanya Aarav saja yang kaget, semua yang menyimak obrolan mereka pun kaget dengan ucapan papi Sony.


"Kenapa Tuan Wijaya setiap mau jual sesuatu lari ke kita, tapi selalu mencar-cari kesalahan kita. Dia itu iri atau gimana sih?" gerundel Aarav, wajar yah Aarav menggerutu karena Wijaya sekarang ia harus berurusan dengan hukum yang cukup menguras waktu dan pikiran.


"Entahlah, kira-kira kamu mau nggak beli supermarket itu? Kamu bisa kelolanya sendiri, dan bisa dijadikan juga cabang atas usaha kamu dan Hadi yang sekarang, tempatnya strategis," ucap Papi Sony seolah mendukung agar anaknya membeli tempat yang dulu menjadi idenya.


Aarav tidak langsung menjawab, tetapi pandangan matanya bertemu dengan pandangan mata Lydia, seolah tengah saling berkomunikasi. Lalu perlahan Lydia menggelengkan kepalanya pelan. Menandakan kalau Lydia tidak begitu setuju kalau harus berurusan dengan Wijaya. Trauma mungkin itu yang Lydia rasakan.


"Tidak deh Pih, uang Aarav tidak sebanyak itu, lagi pula Aarav sudah hilang semangat untuk melanjutkan ide yang dulu, mungkin karena pernah dikecewakan."


"Ya gak apa-apa kalau kalian tidak mau. Lagian Tuan Wijaya hanya menawarkan pada kita, kalau kita tidak mau mungkin dia akan jual ke orang lain."


Pembahasan mengenai Tuan Wijaya pun berhenti, dan dilanjutkan dengan pembahasan hasil sidang David dan Mimin. Aarav dan Mami Misel pun lebih banyak bercerita, terutama pertemuan David dan anaknya. Yang cukup membuat haru.


"Makanan datang ...."


Bukanya kurir yang datang mengantarkan makanan justru Hadi yang datang. Eh, tunggu di belakang tetap ada kurir yang membawa makanan pesanan Lydia. Hadi hanya membawa satu kantong kecil. Mungkin hanya simbol biar mirip seperti kurir.


"Pantes loe Di jadi kurir," ledek Aarav dengan memangku Iko yang baru bangun tidur, dan masih lesu.


"Gue sih mau-mau aja jadi kurir juga, tapi apa loe mampu bayarnya." Ya jelas Hadi jadi kurir tarifnya sultan pasti lah.


"Nyerah deh gue kalau loe yang jadi kurir, karena mantan renternin mana bisa lihat duit dikit."


"Pih ngomong-ngomong coba nih tawarkan pada Hadi mungkin dia mau, secara anak sultan duitnya tinggal gunting." Aarav memberikan kode pada Hadi dengan apa yang barusan mereka bahas.


"Tawarkan apa nih? Kira-kira apa yang harus di beli oleh sultan," kelakar Hadi, ia hanya mengikuti candaan Aarav yang selalu bilang sultan-sultan, sedangkan Hadi sendiri tidak tahu arti sultan itu sendiri apa.

__ADS_1


"Tuh Pih, kalau Hadi jamin pasti bakal mau beli dah." Mamih Misel langsung mendukung juga.


Papi Sony pun menceritakan kembali yang tadi sempat diobrolkan pada Aarav. Kalau dilihat dari reaksi Hadi sih sepertinya laki-laki itu sangat tertarki dengan apa yang Wijaya tawarkan.


"Hadi belum tahu betul lokasi, dan belum tahu seberapa bagus supermarket itu kalau di pegang lagi oleh Hadi, tapi jujur Hadi tertarik," jawab Hadi dengan yakin.


"Nah kan kalau sultan mah bebas, jangankan beli saham supermarket, beli tol aja sanggup. Gue bangga punya teman kaya, jadi bisa di pinjamin duit," kelakar Aarav.


"Jujur gue tertariknya bukan hanya karena tempat dan lainya, tetapi ada hal yang terselubung," balas Hadi dengan memberikan kode-kode rahasia.


"Yah gue tahu, loe mau kasih ke Mimin tuh supermarket biar Wijaya tahu rasa kalau wanita yang dia hina dulu bisa jauh lebih bisa diandalkan dari pada anak dia?" tebak Aarav yang tahu ke mana arah pikiran Hadi.


"Emang gue sejahat itu?" tanya Hadi dengan serius.


"Kalau dilihat dari mukanya sih tidak meyakinkan kalau loe itu orang jahat, tapi sayangnya otak loe berbeda jauh dengan wajah loe," jawab Aarav dengan nada yang santai. Untung Hadi nggak baperan.


Hadi pun tertawa renyah mendengar ucapan Aarav.


"Gak salah kan membungkam mulut orang dengan pembuktian?" ucap Hadi dengan senyum sinis.


"Jadi kamu benar-benar tertarik?" tanya Papi Sony sekali lagi. Karena kalau dia mau maka nanti bisa disampaikan langsung dengan Wijaya.


"Boleh deh Om, buka dari harga berapa? Saham David ada berapa persen? Rekan bisnisnya siapa saja, tapi rahasikan dari Wijaya yah Om kalau Hadi yang beli saham supermarket itu?" cecar Hadi nggak mau rugi dong takutnya dapat rekan bisnis yang licik.


"Loh kenapa?" tanya Mamih Misel, di mana orang-orang akan pamer kalau bisa membeli apa yang diidam-idamkan. Lah Hadi malah nggak nyaman.


"Tidak ada apa-apa Tan."


"Ya udah nanti Om akan tanyakan lengkap pada Wijaya, dan soal masalah sekarang kamu makan dulu. Udah makan belum?"


"Kebetulan belum, emang sudah niat sih tadi dari ruangan mau nebeng makan," balas Hadi dengan santai.


Sontak saja Aarav mendengar ucapan Hadi langsung melotot. "Apa loe sudah jatuh miskin?"


"Bukan miskin sih, tapi kan lumayan sehari hemat makan siang."

__ADS_1


Bruggghhh... Aarav menendang kursi yang di duduki Hadi, kebetulan duduknya tidak jauh dari Aarav.


"Awh... Gila loe yah kalau gue nyunsep gimana," protes Hadi yang untung bisa ngimbangin sehingga tidak sampai nyungsep, dan nyium lantai.


"Abis gue gemez, beli saham yang harganya ratusan milliar sanggup beli makan cuma ratusan ribu nebeng. Pantas kaya," oceh Aarav.


"Kapan coba ditraktir sama loe." Hadi pun tidak mendengarkan ucapan Aarav, dan duduk dengan bersandar santai.


"Ngomong-ngomong, Mimin gak ke kantor Mas Hadi?" tanya Lydia sembari menyuapi Iko, sengaja sih tanya Mimin, biar suami dan Hadi tidak berantem lagi.


"Tadi izin bilangnya ingin istirahat," jawab Hadi tidak ingin membahas lebih meskipun ia tahu kalau Mimin pasti sedang menenangkan hatinya yang mungkin diselimuti rasa bersalah karena telah membuat David masuk penjara dan hukumanya lima tahun penjara dan itu pasti cukup lama.


"Pantas ke sini, biasanya loe kalau ada Mimin nggak pernah inget gue."


"Ya ngapain inget loe, yang ada nanti Lydia cemburu lagi."


"Iko, makanya sama Om sini." Hadi menepuk pahanya agar Iko duduk di pangkuanya.


Iko langsung menggeleng. "Gak mau."


"Kenapa? Om kangen nih belum gendong Iko."


"Nanti saja, Iko lagi makan sama Bunda." Aarav yang menjawab. Sembari memberikan tatapan yang tajam.


"Hadi sini ikut makan." Mami Misel menepuk tempat yang masih kosong, kebetulan Lydia membeli makanan banyak.


"Tidak Tan, tadi sebelum ke kantor sudah makan sama mamahnya Iko, masih kenyang banget. Ini mau lanjut kerja malah ngantuk, makanya cari hiburan dulu biar nggak ngantuk," balas Hadi yang justru duduk tanpa ikut makan. Hanya melihat yang makan siang nampak sangat lahap.


Bersambung....


,


...****************...


Om, tantenya Iko, othor punya karya menarik tapi sepi banget kayak kuburan keramat. Coba ramaikan yuk! Dijamin ini gado-gado rasanya, ada asem, manis, pedes, panas, bahkan ada hujannya juga.

__ADS_1



__ADS_2