Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Keluarga Besar Yang Hangat


__ADS_3

Iko ...." Suara kakek dan neneknya langsung terdengar dengan nyaring.


Baru juga dibicarakan, tetapi nenek dan kakeknya langsung memanggil cucunya yang tampan itu.


Iko pun lari dengan semangat, bahkan meninggalkan baba dan mamahnya untuk segera sampai pada nenek dan kakeknya. Anak tampan itu langsung berpelukan dengan kakek dan neneknya. Padahal mereka hampir setiap hari berkomunikasi dengan kakek dan neneknya tetapi baik Iko maupun Arum dan Ahmad sangat menikmati pertemuan ini.


"Sayang kamu gimana kabarnya." Arum langsung memeluk anak dan menantunya dan tentu mengusap perut menantunya, senang rasanya melihat anak dan menantunya sehat.


Apalagi Mimin sekarang jauh lebih berisi. Melihatnya sangat gemas melihat pipi dan perutnya. Yang makin montok menambah Arum ingin memeluknya terus.


"Sehat Mah, Mamah dan Papah sehat kan?"


"Sehat semuanya. Handan tidak ikut jemput, karena akhir-akhir ini katanya dia sedang sangat sibuk banyak kasus yang dia tangani." Ahmad menyela ucapan mereka. (Kisah OM Handan ada di novel Game Over yah)


"Tidak apa-apa Pah toh kita juga akan ke rumah." Hadi yang memberikan jawaban setelah kangen-kangenan, Mimin dan Hadi serta kedua orang tuanya dan Iko jelas langsung pulang. Terlebih katanya di rumah mereka sudah banyak sanak saudara yang ingin kenal dengan Mimin dan Iko.


"Nenek, Kakek. Iko tadi naik pesawat sama kaya Nenek dan Kakek kemalin." Sepanjang perjalanan Iko dan neneknya pun langsung bercerita apa saja yang terjadi di dalam pesawat. Sampai dia lihat apa saja dari jendela pesawat. Ada yang nangis dan sebagainya Iko ceritakan semuanya. Yah, Iko memang sedetail itu kalau cerita. Bahkan di pesawat pun tidak ada yang percaya kalau Iko itu umurnya saat ini baru tiga tahun. Karena cara bicara dan cara berpikirnya bener-bener dewasa. Mungkin karena pengaruh dia yang sudah jadi abang sehingga cara bicaranya makin dewasa.


"Iko emang pintar pantas saja Iko kan mau jadi abang yah," puji Ahmad. Tidak harus menempuh perjalanan lama, kini mobil yang Mimin tumpangi pun sudah sampai di depan rumah yang sangat mewah. Yah, rumah orang tua Hadi memang seperti istana gede dan sangat luas.


"Ya Alloh Mah, rumah segede ini ada asisten rumah tangga berapa?" tanya Mimin iseng-iseng aja sih.


"Wah kalau kaya gitu Mamah kurang tau Sayang, kan ada orang yang mengaturnya," jawab Arum sembari membantu Mimin turun dari mobil.


"Untuk bayarnya nggak bingung Mah?" Mimin memang kepo maksimal.

__ADS_1


"Ada yang ngatur Sayang. Mamah itu punya asisten sendiri yang mengatur segala macam gaji karyawan." Hadi yang mengambil alih jawaban atas pertanyaan sang istri yang terlihat masih penasaran dengan pengeluaran bulanan sang mertua.


Arum pun membenarkan apa yang dikatakan oleh Hadi. Dan memang ada yang mengatur semuanya. Kalau harus Arum yang mengaturnya ya bingung lah belum uang listrik dan gas, internet, air, segala macam yang harus dikeluarkan, bisa-bisa nggak bisa bercanda dengan cucu.


"Hai Iko .... Hadi ini anak kamu?" tanya saudara-saudara yang sudah kumpul di rumah mereka.


"Iya Tante, ini istri Hadi namanya Jasmin, dan ini anak Hadi namanya Iko," ucap Hadi memperkenalkan anak dan istrinya.


"Abang Iko, Baba ..." Nah tuh Hadi anak kamu sudah bisa protes apa yang kamu katakan. Yah sekarang maunya Iko dipanggil dengan tambahan Abang.


Mimin dan Iko pun bersalaman dengan saudara-saudara mertuanya.


"Keren kamu Hadi bisa langsung isi," ucap para saudara Hadi.


*****


Seperti biasanya Iko pun selama di rumah kakek dan neneknya tidur dan bermanja-manja pada kakek dan neneknya. Acara pun terus berjalan dari selamatan calon anak Hadi, dan resepsi semuanya persiapan sudah beres.


"Mas, keluarga mantan istri Mas nggak datang. Apa kita yang nanti akan datang ke rumah mereka?" tanya Mimin yang sebenarnya penasaran bagaimana reaksi keluarga mantan istri dari suaminya. Ketika melihat Hadi membawa istri baru.


"Besok katanya mereka akan datang, kan besok acara selamatan anak kita, baru lusa acara resepsi." Untuk yang mengurus semua acara memang diserahkan pada WO dan yang mengatur kemauan seperti apa real dari Arum, Mimin hanya terima beres.


"Kok, Mimin deg-degan yah, takut mereka tidak suka dengan Mimin," ucap Mimin dengan jujur.


"Hey Sayang jangan berpikir seperti itu. Mereka baik kok, jadi percaya deh mereka akan menerima kamu sebagai ganti dari anaknya.' Hadi yang tahu bagaimana sifat mantan mertuanya pun langsung memberikan semangat pada Mimin agar tidak bersedih dan berputus asa.

__ADS_1


Setelah Hadi memberikan dukungan kini Mimin pun langsung semangat lagi dan tidak pucat lagi wajahnya. Sejauh ini keluarga mertuanya memang sangat ramah baik dan menerima Mimin dengan terbuka. Hingga Mimin merasakan bahagia yang luar biasa karena keluarga suaminya kali ini benar-benat bisa menerima dirinya dengan kekurangan dan kelebihannya.


Kini Handan dan Iko pun tidak seperti dulu yang selalu bertengkar hingga Iko benci dan takut dengan Handan. Kini Handan justru sangat manis memperlakukan ponakannya. Mungkin karena pengaruh ia yang juga sedang mengincar janda dengan calon anak dua. Sehingga Handan takut kalau hukum karma berlaku. Anak tirinya nanti dijahili Hadi.


Acara satu persatu pun berjalan dengan lancar. Pagi hari pengajian, dan kegiatan lainnya mengikuti tradisi di tempat suaminya tinggal.


"Sayang kenalkan ini orang tua dari almarhum mantan istrinya Hadi." Arum memperkenalkan Mimin dengan laki-laki dan perempuan yang masih terlihat muda. Yah kurang lebih sama dengan usia mertuanya.


"Salam kenal Tante, Om, senang kenalan dengan Anda," ucap Mimin dengan sopan.


"Salam kenal juga. Hadi sudah sering cerita tentang kamu dan anak kamu. Kami senang akhirnya Hadi bisa menemukan pengganti anak kami. Dan semoga kalian bahagia selalu."


"Amin ..." Mimin dan Hadi pun terus bercerita dengan mantan mertua Hadi. Setelah siang Hari di mana Mimin dan Hadi lebih banyak menyambut tamu-tamu keluarga yang datang untuk mendoakan calon buah hadi Hadi dan Mimin. Malam hari pun diperuntukan untuk tim bapak-bapak untuk mengadakan selamatan atau mendoakan Mimin dan calon anaknya.


Acara hari ini pun berjalan dengan lancar. Meskipun cape, tapi Mimin menikmatinya. Apalagi dia jadi tahu tradisi apa saja yang ada di daerah sang suami. Mimin pun senang karena dia akhirnya bisa merasakan hamil dengan begitu di manja tidak seperti hamil Iko dulu. Mimin benar-benar diratukan saat ini ketika hamil anak Hadi. Dikehamilan yang sekarang seolah rasa yang dulu Mimin tidak rasakan langsung ditebus dengan beraneka rasa bahagia yang dulu untuk membayangkannya saja tidak berani.


"Sayang kamu istirahat yah. Lusa kita akan merayakan acara resepsi. Makan yang banyak dan istirahat yang cukup. Tadi Mas sudah panggil tukang salon untuk pijat kamu, lulur-lulur agar kamu bisa lebih rileks," ucap Hadi ia saat ini membawakan makanan untuk sang istri. Bahkan Mimin disuapi oleh Hadi. Dan tentu baba juga makan dengan sesekali menyuapi mamahnya Iko.


Jangan ditanya Iko yah, di sini dia punya pengasuh khusus. Baba Hadi dan Mamahnya benar-benar menikmati waktu kebersamaan.


Segala urusan Iko ada yang mengaturnya. Bahkan nenek dan kakeknya hanya terima beres. Iko pun di sini banyak saudaranya sehingga banyak teman bermain. Meskipun dia anggota baru tapi langsung diterima dengan hangat. Tidak membedakan anak tiri dari Hadi atau anak kandung semuanya sama.


Bersambung....


...****************...

__ADS_1


__ADS_2