Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Kedatangan Cucu


__ADS_3

Setelah makan bersama Mimin pun menemani sang suami yang masih bekerja. Ia benar-benar memanfaatkan waktunya untuk ngobrol dan mendekatkan diri dengan Hadi. Laki-laki itu sendiri merasa nyaman danĀ  semakin bersemangat ketika kerja ditemanin sang istri.


"Mas, Mimin pamit yah. Mau ke rumah Ayah." Tepat pukul satu Mimin pun berpamitan pada sang suami untuk ke rumah ayahnya, mengecek perkembangan ayahnya, dan setelah itu ia akan ke rumah Lydia.


"Ya udah, salam buat Ayah dan Julio yah. Dan nanti kamu jangan pulang dulu aja. Biar Mas yang jemput," ucap Hadi memberi intruksi pada Mimin.


"Gak usah Mas, aku nggak lama di rumah Lydia kok, biar Iko bisa bermain dengan Mamah dan Papah. Kasihan mereka di rumah sepi," balas Mimin. Yah, dia sendiri pasti bosan kalau jadi mertuanya tidak ada yang ajak bermain kalau ada Iko mungkin mereka di rumah jadi nggak bosan.


"Oh ya udah, kamu hati-hati yah kalau sudah sampai rumah kabarin." Hadi memeluk istrinya dan mencium dengan mesra. Selain untuk menunjukkan rasa sayangnya. Pelukan istri juga menambah semangat untuk kerja.


"Mas kerja yang benar yah, jangan terlalu cape ingat Mas Hadi juga baru pulang dari rumah sakit." Mimin pun membalas pelukan sang suami dengan mesra.


Di saat Hadi dan Mimin bermesraan, di kantor gosip Mimin dan Hadi semakin berhebus semakin kencang. Banyak yang percaya kalau Hadi dan Mimin sudah menikah, tapi banyak juga yang tidak percaya, dan menganggap kalau gosip yang berhembus tidak benar. Mimin sendiri tidak tahu kalau akibat ia keceplosan tadi justru banyak yang kepo dan ngomongin dirinya dengan Hadi.


Bahkan ketika Mimin ke luar dari ruangan Hadi banyak pasangan mata yang menata kepo.


Sesuai yang Mimin katakan ia pun datang ke rumah orang tuanya. Biasa mengajak ngobrol Lukman meskipun laki-laki itu sudah tidak bisa menanggapi apa yang Mimin katakan. Namun, sesuai janji Mimin ia akan memperbaikinya hubungnya dengan ayah dan abangnya.


Setelah hampir dua jam di rumah Lukman, Mimin kembali pamit, kali ini ke rumah sahabatnya. Tentu Mimin sebelumnya juga sudah mengabarkan kalau Mimin akan datang ke rumah Lydia untuk izin mengajak Iko nginap. Dan seperti yang sudah-sudah juga. Lydia tidak keberatan dengan Iko yang diajak nginap di rumah Mimin, apalagi Mimin sekarang sudah nikah dengan Hadi dan mungkin mereka ingin merawat Iko, apalagi Lydia sendiri perutnya sudah semakin besar hanya tingga menunggu satu bulan lagi maka Lydia akan melahirkan sehingga memang lebih baik untuk sementara waktu Iko diasuh dengan Mimin.


Ya meskipun Iko tetap diasuh oleh Lydia juga tidak ada apa-apa karena memang hampir setiap hari Mami Misel juga datang untuk mengasuh Iko. Sehingga Iko tidak mengganggu kehamilan Lydia yang sudah semakin membesar perutnya.

__ADS_1


"As'salamualaikum ..." Sapa Mimin langsung masuk ke rumah sahabatnya yang sudah kaya rumah sendiri.


"Wa'alaikumussallam ... masuk Min makan dulu. Aku baru selesai bikin pecel. Kamu mungkin mau cobain." Lydia memang sangat berbeda dengan Mimin, ketika Lydia adalah si paling handal dalam urusan makanan Mimin justru sebaliknya dia payah soal masak memasak. Dia bukan tipe orang yang telaten berlama-lama di dapur.


"Wah enak tuh. Iya makanya makan dulu Iko juga lagi mandi baru bangun tidur." Lydia menyiapkan pecel hasil olahanya untuk Mimin. Yah wanita hamil itu sedang ingin makan pecel. Makanan saat ia masih kecil dulu. Bahkan untuk lalapannya ia pun mengikuti saat masih kecil. Biar terasa makanan saat kecil, yah itu yang dirindukan oleh Lydia makan pake pincuk daun pisang dan lontong serta mendoan. Bukan makanan mewah tapi cukup membuat calon ibu dari tiga anak itu kebayang-bayang terus makanan itu.


"Mimin sembari menunggu Iko yang sedang mandi pun menikmati olahan dari tangan Lydia yang jangan salah selalu berhasil menggoyang lidah.


"Aku kayaknya lain kali harus berlajar sama kamu bagaimana masak yang bener. Malu juga kalau nggak bisa masak, apalagi mertua jago masak tapi aku justru tidak bisa masak." Mimin merasa tidak enak selalu mertuanya yang masak meskipun mereka tidak pernah protes.


"Ya enggak apa-apa tidak harus setiap istri pandai masak, tidak pandai masak kan bisa pandai urusan yang lain. Aku yakin kamu banyak kelebihannya kok." Lydia memberikan semangat pada temannya.


"Ngomong-ngomong Iko mau berapa hari di rumah kamu?" tanya Lydia, agar ia bisa menyiapkan keperluan Iko sesuai dengan Iko nginap. Meskipun kalau kekurangan baju pasti papah sultan bisa membelikan untuk anak tirinya.


"Ya Alloh kok tanya gitu sih, kan Iko juga anak kamu mau lama atau sebentar kayaknya tidak masah deh. Biarkan kalau Iko mau lama nginap di rumah kamu ya tidak apa-apa. Paling juga aku yang kesepian dan kalau aku kesepian paling menyusul ke rumah kamu," ucap Lydia. Wanita itu juga sebenarnya tidak ingin membatasi Mimin dengan Iko, apalagi Mimin dan Iko adalah ibu kandung. Mimin tetap bisa mendapatkan hak yang sama dengan dirinya.


"Makasih yah, aku cuma nggak enak ajah. Kamu dan Aarav yang selama ini sudah merawat Iko dan mendidiknya sampai dia jadi tubuh anak yang baik jadi, kalau aku tiba-tiba datang ingin mengajak nginap lebih lama takut kamu atau Aarav tersinggung. Karena kalian sudah merawat Iko dari kecil bahkan dari masih bayi, giliran gede Iko malah aku rawat lagi."


Yaah, dari pada salah sangka dan menimbulkan masalah yang nantinya jadi berselisih paham bukanya lebih baik berbicara jujur apa yang jadiketakutan Mimin, agar kalau Lydia keberatan Mimin juga tidak keberatan.


"Kamu tenang saja, aku dan Mas Aarav nggak kaya gitu kok. Lagian rumah kamu dan rumah Mas Aarav tidak terlalu jauh sehingga aku rasa kalau kami kangen bisa kami bermain, gantian juga bosen juga kamu yang main terus ke rumah aku. Sekali kali kami mau juga main ke rumah kalian."

__ADS_1


"Aku akan senang kalau kamu main ke rumah kami, dan Mas Hadi juga pasti akan senang."


Setelah berbasa basi dan numpang makan di rumah Lydia. Mimin pun pulang ke rumahnya dan tentu dengan Iko yang nampak senang karena akan bertemu dengan kakek dan neneknya yang baru.


"Iko senang gak mau ketemu Kakek dan Nenek?" tanya Mimin, meskipun di awal Iko sudah berjingkrak beberapa kali bilang horeh.


"Senang, nanti main lagi sama Kakek, kemali Iko main sama Kakek." Jelas Iko masih ingat bagaimana serunya main dengan kakek dan neneknya.


"Anak pintar dan anak baik." Mimin memeluk tubuh Iko dengan hangat. Ia sangat bersyukur meskipun keluarga papah kandungnya Iko pernah tidak menginginkan anaknya hadir, tapi di keluarga lain Iko sangat dimanja dan juga sangat disayang. Anak usia hampir tiga tahun itu tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang, dan kekurangan apa pun. Dan sekarang papah tirinya pun mau menerima Iko dengan baik, bahkan keluarga papah tirinya juga menganggap Iko seperti cucunya sendiri. Mimin lagi-lagi bersyukur karena akhirnya ia bisa merasakan kebahagiaan yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan..


"Kakek ... Nenek ..." Iko yang melihat Arum sedang duduk santai di taman belakang pun langsung lari menghampiri dua pasangan paruh baya yang romantis itu.


"Oh astaga cucu Nenek datang juga."Arum dan Ahmad tampak sangat senang ketika cucu barunya datang.


"Iko mau nginap di sini," celoteh Iko dengan senang kemarin-kemarin Arum dan Ahmad meminta Iko nginap di sini tapi takut nangis jadi dibatalkan dan sekarang Iko benar-benar akan mewujudkan mereka untuk menjadi kakek dan nenek seharian.


"Alhamdulillah, pasti abi kamu senang." Arum dan Ahmad langsung bermain dengan Iko.


#Teman-teman masukan dong panggilan untuk Hadi dan Mimin enakan.


Mamah dan Baba atau Abi dan Umi? komen yah....

__ADS_1


Bersambung....


...****************...


__ADS_2