Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Keresahan Lydia


__ADS_3

Begitu ke luar dari ruangan Joe, aku pun langsung meminta maaf pada mas suami. Meskipun Mas Aarav sudah mengatakan kalau dia tidak marah, tetapi rasanya aku masih merasa bersalah.


"Mas, Lydia minta maaf yah. Tadi Lydia spontan saja rasanya tidak terima sekali ketika ada yang merendahkan wanita seperti itu, padahal statusnya istri. Apalagi mereka juga lahir dari seorang perempuan, tetapi kenapa terlalu merendahkan seperti itu. Apalagi istrinya sedang mengandung anaknya. Lydia nggak terima sekali ketika David berbicara kalau dia sudah mengganti semuanya dengan uang-uang yang dia kirimkan selama ini. Hati siapa yang tidak sakit mendengar ucapan itu? Seolah semuanya bisa diselesaikan dengan uang?" Aku masih terus emosi ketika mengingat ucapan itu.


"Kamu tidak salah, yang kamu katakan semuanya benar. Jujur Mas yang laki-laki juga tidak setuju dengan ucapan David, dan Tuan Wijaya. Kenapa kalau tidak mau anak dari wanita itu malah dinikahi, dan setelah hamil seperti dibuang, dan yang paling miris meminta untuk menggugurkan kandungan, kasihan bayinya. Jadi penasaran apakah wanita itu saat ini baik-baik saja atau dia juga mengikuti apa kemauan David dan papahnya."


Aku  merasa sedikit lega dengan jawaban mas suami yang secara  tidak langsung kita satu pemikiran, aku pikir mas bojo akan marah dengan ucapanku yang membuat David sepertinya tidak menyukai ucapanku.


"Tapi, tadi Mas lihat tidak reaksi David itu seperti apa? Lydia lihat kalau David itu seperti tidak terima ketika Lydia mengatakan tidak setuju dengan caranya." Yah, aku tahu dari sorot matanya David seperti marah dengan ucapanku, di bibir laki-laki itu memang mengatakan tidak apa-apa, tetapi dari sorot matanya aku bisa lihat kalau dia seperti kesal dan marah ketika ada orang yang tidak setuju dengan caranya memperlakukan wanita.


Aku melihat mas suami menghela nafas dalam, dan seperti merasakan sesak setelah pertanyaanku. "Paling resiko terbesarnya kerja sama kita batal," balas Mas Aarav dengan suara lirihnya.


Deg!! Jantungku seolah berhenti berdetak dan aku pun seketika menghentikan langkah. Aku benar-benar tidak kepikiran sampai sejauh itu.


"Kenapa?" tanya mas suami yang melihat aku seperti kebingungan. Dan mas bojo pun ikut menghentikan langkahnya.


"Lydia nggak kepikiran sampai sejauh itu. Maaf yah Mas, gara-gara Lydia masalah Mas Aarav nanti malah makin sulit," ucapku, ada segumpal penyesalan yang aku sesali karena keteledoranku, yah aku lupa kalau mas suami sedang menjalin kerja sama dengan perusahaan David.


Hahaha... Justru aku melihat mas bojo tertawa dengan santai, seolah dia tidak masalah kalau proyeknya dengan David terancam gagal gara-gara masalah pribadi yang aku buat.


"Aku tidak masalah kalau memang kerja sama aku dan David akan gagal, lagi pula kami baru berencana dan proyek belum mulai berjalan masih mempertimbangkan untung rugi dan masih banyak yang lain, dan kalau memang David akan membatalkannya itu jauh lebih baik dari sekarang-sekarang. Ya, mungkin ini adalah jalan terbaik untuk Mas, dan siapa tahu David mundur malah dapat ganti yang jauh lebih baik lagi dan tidak seperti David, lagian kayaknya kamu tidak suka dengan laki-laki itu jadi sepertinya memang mengakhiri kerja sama jauh lebih baik. Kata orang ridho istri adalah jalan rezeki kita. Mudah-mudahan kalaupun memang Mas tidak cocok untuk menjalin kerja sama dengan David akan digantikan dengan rezeki yang lain," ucapnya, yang membuat hati ini langsung adem.

__ADS_1


"Amin... " ucapku dengan sangat tulus. Sayang saat ini kami masih berada di dalam area rumah sakit, kalau dalam mobil atau rumah sudah aku peluk mas suami karena kata-katanya yang membuat aku baper.


"Mas, kamu memang tidak pandai merangkai kata menjadi puisi yang indah, dan membuat hati ini berbunga-bunga, tetapi dari setiap kata dan perlakuan kamu, aku cukup merasa menjadi wanita yang paling beruntung," ucapku dengan memberikan tatapan cinta.


"Mas juga merasakan yang sama, yuk buruan jalanya nanti Iko nyariin bunda dan papahnya."


Kami pun mengayunkan langkah lebih cepat, yang meskipun kami keluar belum sampai dua jam, tetapi buat aku yang hampir tidak pernah meninggalkan Iko pun rasanya sudah terlalu lama ke luar rumah.


Setelah menempuh jalanan yang lumayan padat akhirnya kami pun sampai ke rumah dan melihat Iko yang masih tertidur dengan pulas.


Salam dari Baby Iko yang lagi bobo dengan nyenyak...



"Mas sudah mengajukan surat permohonan adopsi pada pengadilan wilayah kita tinggal, tapi kan untuk mengadopsi anak syaratnya banyak. Nanti akan ada dinas sosial akan datang ke rumah kita untuk mengecek, ekonomi kita, tempat tinggal, kenyamanan anak, dan bahkan kejiwaan kita, tingkat kesabaran dan lain-lain nanti akan diperiksa," jawab Mas Aarav yang saat ini sedang mengecek laporan pekerjaannya.


"Cukup ribet yah Mas," jawabku yang aku pikir the power of money bisa diberlakukan, tetapi sepertinya aku harus bersabar untuk hal ini.


"Justru untuk adopsi anak syaratnya cukup ribet dan cukup lama dari pada hamil Sayang. Kalau hamil sembilan bulan kita bisa dapat surat akta anak yang menyatakan kalau anak itu adalah anak kita. Kalau adopsi minimal satu tahun setengah baru bisa diputuskan untuk anak itu bisa jadi anak kita atau justru pengajuan kita di tolak."


Sontak saja aku langsung terkejut, dan duduk dengan mata yang hampir loncat.

__ADS_1


"Se... selama itu Mas?" tanyaku lagi rasanya tidak percaya kalau proses mendapatkan surat satu lembar yang menyatakan kalau anak itu anakku sangat lama.


"Yah, langkah awal pengecekan psikolog kita, kondisi ekonomi, tempat tinggal dan macam-macam, dan setelah itu Iko akan di berikan waktu untuk tinggal sama kita selama satu tahun di bawah pengawasan dinas sosial, yang akan dilakukan pengecekan berkala (Waktu tidak menentu) setelah semua bisa membuktikan kalau kita layak jadi orang tua dan sudah saling kenal dan berinteraksi dengan calon anak dengan baik baru di lanjutkan dengan sidang yang paling lama bisa memakan waktu empat bulan, dan di sidang itu juga nanti kita membutuhkan kesaksian orang tua kandung Iko, jadi kamu nanti bilang sama teman kamu kalau apabila ada keperluan sidang mohon datang dan ceritakan alasannya meminta kita yang mengadopsi dengan jelas dan pasti, agar proses sidang tidak berlarut-larut," jelas mas suami lagi yang saat itu juga tubuhku langsung lemas.


"Jadi orang tua kandung Iko juga harus datang ke pengadilan dan diperiksa Mas?" tanyaku lagi, itu tandanya jati diri orang tua kandung Iko akan terbongkar kalau ibunya adalah Mimin, atau Jasmin mantan cinta pertama mas suami.


"Oh ya jelas Sayang, kalau kamu kurang yakin bisa baca artikel yang banyak di jelaskan di internet," balas mas suami masih terlihat tenang.


"Kalau orang tuanya tidak mau?" tanyaku dengan perasaan yang was-was.


"Harus mau, karena kalau tidak mau perjuangan kita satu tahun lebih bisa-bisa berakhir sia-sia. Kan juga dibutuhkan pengecekan dari orang tua kandung (Yayasan apabila diambil dari panti asuhan) surat-surat, latar belang orang tua kandung, motif orang tua kandung menyerahkan anaknya untuk diadopsi oleh kita, dan masih banyak lagi yang akan pengadilan cek, dan kalau ditahap akhir tidak terpenuhi kemungkinan besar permohonan kita akan ditolak," jawab mas suami, yang membuat hati ini sesak, dan tubuhku pun terasa lemas.


"Tapi kalau surat adopsi sudah ke luar dan Iko sudah menjadi anak kita yang sah sesuai dengan hukum, apa kalau keluarga papah Iko menuntut untuk mengambil Iko akan bisa membatalkan surat adopsi?" tanyaku dengan suara yang berat dan tubuh yang lemah.


"Tidak!! Sekali pun Ibunya yang datang dan meminta balik dengan mengajukan pembatalan adopsi, Iko akan tetap sah dimata hukum sebagai anak kita."


Kini hatiku sedikit terobati dengan ucapan mas suami. Dan itu tandanya aku harus menemui Mimin untuk menyampaikan maslah ini. Dan kembali berbicara baik-biak dan aku juga harus menceritakan David.


Bersambung....


...****************...

__ADS_1


__ADS_2