Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Berita Membahagiakan


__ADS_3

Acara pengajian empat bulan yang diadakan Aarav dan Lydia pun berjalan dengan lancar. Tidak ada ganguan yang berarti, paling juga sura tangisan dari anak-anak yang bergantian dan itu sudah pasti sangat ramai dan menjadikan suasana seperti ini mungkin akan sangat dirindukan ketika semua saudara kembali kesibukan masing-masing.


Keluarga inti Aarav pun sedang pada kumpulan di taman belakang. Lebih tepatnya pada melepas rindu dengan orang tuanya di temani cucu-cucu yang jumlahnya ada lima orang dan yang cowok hanya Iko saja. Berasa paling ganteng yah Ko .....


"Iya dong, nih mau jemput pacal."



Sementara Aarav, Lydia dan Hadi serta Mimin memilih duduk di tempat yang tidak terlalu jauh dari keluarga Aarav yang sedang bermain-main dengan anak-anak.


"Rav, coba lihat deh." Hadi yang memang tidak langsung pulang paska acara pengajian pun duduk bersantai dengan keluarga Aarav ngobrol yang ringan-ringan agar tidak terlalu setres memikirkan yang tidak seharusnya di pikirkan.


"Apaan?"


Hadi pun memberikan ponselnya yang  menunjukan berita sangat penting dan tentu sangat bikin bahagia. Aarav yang memang sangat penasaran pun langsung mengambil ponsel Hadi dan juga membaca berita yang sangat penting itu, apa lagi kalau bukan tentang Wijaya. Nah kira-kira ada kabar apa nih Wijaya?


"Nah kan, gue kata juga apa orang usil itu akan tumbang dengan sendirinya. Alloh maha adil, ketika kita diam tertindas ada orang lain yang membalasnya. Tidak perlu kita berkoar-koar membalas perbuatanya. Ada orang lain yang siap membalas kejahatanya," oceh Aarav yang nampaknya sangat bahagia ketika membaca berita yang ada di ponsel Hadi.


"Kenapa Mas?" tanya Lydia yang penasaran apa yang kiranya terjadi, karena dari nada bicaranya suaminya nampak sangat senang membaca berita dari ponsel sahabatnya.


"Nih lihat sendiri." Hadi mengambil ponselnya dari tangan Aarav dan memberikanya pada Lydia yang duduk  tidak jauh dari Mimin. Dengan semangat Lydia pun mengambil ponsel Hadi. Namun, bukanya dia fokus dengan berita yang ada di ponsel itu, matanya malah lebih fokus pada wanita dan anak yang dijadikan walpaper ponsel Hadi.


#Memang yah namanya mata wanita selalu lebih jeli, yang ditujukan apa yang dilihat apa.


"Jadi Mas Hadi dan Mimin sudah jadian?" tanya Lydia, dengan pandangan mata menatap ke Mimin lalu bergantian menatap ke Hadi. Sontak Hadi dan Mimin yang memang sepakat kalau orang-orang belum ada yang tahu dengan kedekatanya pun panik.

__ADS_1


"Apaan sih Lyd."


"Bukan begitu konsepnya Lydia."


Hadi dan Mimin langsung buka suara secara bersamaan sontak hal itu justru membuat Lydia semakin yakin kalau apa yang terjadi dengan Mimin dan Hadi yang memang sudah cukup jauh hubunganya.


Lydia menatap Mimin yang nampak salah tingkah. "Apa kamu tidak percaya kalau kamu cerita dengan aku?" tanya Lydia dengan suara yang cukup dingin dan serius.


Mimin langsung mengangkat wajah menatap Lydia dengan serius. "Bukan gitu maksud aku Lyd, aku dan Mas Hadi memang hubungannya belum sejauh apa yang kamu bayangkan?" ucap Mimin dengan sedikit lirih biacaranya karena tidak enak juga dengan yang lain, meskipun yang lain tidak akan fokus dengan obrolan mereka. YNg yang lain sedang bermain dengan anak-anak mana bisa nguping. Namun yang jelas tidak enak juga tentunya dengan Hadi.


"Aku merasa kedekatan kita selama ini hanya simbol saja, karena nyatanya kamu tetap menganggap aku orang lain." Lydia kembali meletakan ponsel Hadi di atas karpet, tidak fokus lagi dengan berita yang sebenarnya sangat penting.


"Lydia, memang hubungan kita belum sejauh yang kamu bayangkan. Bukan kami tidak ingin bercerita dengan hubungan kita, tetapi memang dari Mimin belum memberikan jawaban apa-apa. Mimin berjanji ia akan memberikan jawaban atas apa yang pernah aku dan dia bicarakan setelah urusan David dan dia selesai begitupun urusan dia dan Wijaya selesai. Niat kita kalau memang sudah pasti kita akan bicarakan dengan kalian kok. Memang kami selama ini belum katakan apa-apa karena memang aku dan Mimin sepakat itu, takut nanti sudah ramai dan ternyata tidak sesuai yang dibacarakan jadi menghindari sesuatu yang tidak diinginkan jadi kita tahan dulu semua mengenai hubungan kita."


"Iya apa yang Mas Hadi katakan benar. Aku bukannya tidak percaya sama kamu, atau mau main sembunyi-sembunyian aku hanya ingin memberitahukan pada kamu kalau semuanya sudah jelas," imbuh Mimin.


"Ya udah aku percaya," balas Lydia  dengan tangan kembali mengambil ponsel Hadi yang mana ia sejak tadi pun cukup penasaran berita apa yang berhasil membuat suaminya sebahagia itu.


Cukup lama Lydia membaca berita yang sebenarnya di baca judulnya saja sudah bisa menyimpulkan apa yang terjadi, tetapi rupanya Lydia ingin membuktikan dengan pasti kalau yang ia baca beneran.


"Jadi kakek tua itu sekarang ditangkap polisi?" tanya Lydia. Mimin sendiri yang penasaran dan belum baca beritanya langsung mengambil ponsel calon suaminya. dan membaca dengan sangat jeli.


"Salah nggak kalau aku bilang Alhamdulillah?" tanya Mimin dengan memberikan senyum di balik cadarnya.


"Mungkin dari sekian banyak berita yang pernah aku baca ini adalah berita yang benar-benar bikin  aku sangat bahagia," imbuh Mimin, bibirnya tak henti-hentinya mengucapkan hamdalah. Mungkin terkesan sangat jahat di saat yang lain terkena musibah Mimin justru tertawa bahagia dan berkali-kali mengucapkan syukur.

__ADS_1


"Nah kan orang jahat itu tidak perlu dibalas dengan kejahatan orang lain yang akan membalas sakit hati kita." Aarav pun ikut nimbrung.


"Ngomong-ngomong itu infonya pasti kan? Udah nggak sabar nunggu dia berbaju orange kaya anaknya," ucap Hadi siapa sih yang enggak gemes dengan tingkah Wijaya yang selalu membuat onar.


"Bukanya itu di bagian bawah sudah diamankan pastinya sudah ditangkap polisi dong. Tapi nggak tahu nantinya damai atau justru dipolisikan." Aarav angkat bicara dengan berita bahagia itu.


"Ya setidaknya kalau damai ada uang yang dia keluarkan untuk karyawan yang tidak di bayar upahnya apalagi, itu ada yang sampai lima bulan tidak di bayar kan?" tanya Lydia yang tidak tahu hukuman untuk para pemilik perusahaan yang tidak bayar para karyawanya bahkan sampai berbulan-bulan.


"Tapi kalau dipenjara kayaknya nggak deh, paling dia diamankan polisi biar para karyawan yang merasa dirugikan tidak berbuat anarkis, dan Wijaya akan tetap bisa bebas, tetapi dengan membayar hak karyawanya yang dia tidak bayar bahkan sampai lima bulan."


"Tapi itu juga ada yang buka suara soal gaji, uang lembur kerja sampai jam sepuluh malam tidak dapan uang tambahan gaji apa itu tidak termasuk pidana. Siapa sih yang mau kerja sia-sia kaya gitu apalagi ada ancaman di dalamnya kalau tidak mau kerja sampai jam sepuluh di pecat. artinya mereka memanfaatkan ketidak berdayaan para karyawan untuk mengambil keuntungan yang berlipat ganda."


"Niat hati ingin ambil keuntungan sebanyak-banyaknya tapi malah karyawanya berani angkat bicara dan berontak alhasil sekarang dia kocar kacir."


"Baiklah kita lihat drama ini, kayaknya ini jauh lebih seru dari drama-drama korea deh."


"Ah, kalau gini beritanya kayaknya malam ini kita bisa tidur nyenyak deh," ucap Lydia dengan tersenyum bahagia.


"Kita tidur nyenyak, Tuan Wijaya nggak bisa tidur," celetuk Mimin dengan renyah.


#Nih yang ditunggu-tunggu Wijaya mulai panen. Ada yang mau bantuin Wijaya panen buah simalakarma?


Bersambung......


...****************...

__ADS_1


__ADS_2