
Di sebuah ruangan bersalin. Lydia dengan didampingi oleh Aarav pun sedang bersiap untuk melakukan operasi cesar, tidak ketinggalan juga ada sang mertua yang juga selalu mendampingi sang menantu yang akan melakukan kelahiran pertamanya.
"Kamu santai saja yah Sayang, banyak berdoa dan jangan tegang." Banyak pesan yang dari tadi diberikan Misel pada menantunya. Maklum Lydia akan melahirkan anak pertama diusia tiga puluh delapan tahun.
"Benar kata Mamah, Sayang. Kamu rileks dan jangan terang yah, selalu berdoa. Mas juga akan terus mendoakan kamu dan anak kita."
Tidak berbeda jauh juga Aarav memberikan dukungan pasa sang istri saat ini Lydia sendang menjalani persiapan termasuk melakukan anestesi epidural di punggung, setelahnya dipasang kateter dan setelah semuanya siap Lydia pun mulai masuk ke ruangan operasi.
Tentu Aarav juga ikut mendamping sang istri untuk memberikan dukungan dan doa untuk istri dan buah hatinya. Tidak menunggu lama hanya butuh waktu sekitar empat puluh lima menit dua buah hati yang ditunggu-tunggu pun langsung menangis bergantian.
Rasa bahagia pun menyelimuti dua pasangan bahagia itu.
"Selamat yah Mbak Lydia dan Mas Aarav anak pertama cowok." Dokter Dinda selaku dokter pendamping Lydia saat ini memberikan anak pertamanya agar Lydia menciumnya bergantian dengan Aarav lalu buah hati diambil alih oleh dokter anak untuk dibersihkan dan dilakukan tes kesehatan baik panca indra dan lain-lain.
Air mata bahagia pun langsung menetes baik pada Lydia maupun Aarav yang juga baru merasakan memiliki buah hati. Meskipun ini bukanlah pernikahan pertamanya. (Eh, kabar Siska gimana yah lupa ada si ulet. Udah dikasih rumah sampe keenakan kayaknya tidur di rumah baru)
"Selamat yah anak keduanya perempuan. Udah sepasang nih." Kembali dokter Dinda meletakan anak Lydia di atas dada dan membiarkan Lydia mencium begitupun Aarav bahkan mereka juga mengabadikannya melalui jepretan kamera, bersama anak pertama dan anak kedua juga.
"Terima kasih Dok," ucap Aarav saking terharunya dia bisa memiliki buah hati sepasang. Yah, ia memang selama ini meminta dokter tidak memberitahukan jenis kelaminnya agar semuanya terasa spesial seperti sekarang ini. Dan terbukti Aarav dan Lydia sangat terkejut dengan anugrah Tuhan. Karena sudah memberikan buah hati dua sekaligus, semuanya sehat dan juga sepasang. Siapa yang tidak bahagia dengan kejutan ini.
"Sama-sama ini semua berkat doa kalian juga." Dokter Dina melajutkan menyelesaikan tugasnya mengeluarkan plasenta dan membersihkan rahim serta terakhir menjahit kembali bagian perut bawah Lydia.
"Setelah ini Mbak Lydia akan masuk ruang observasi mungkin dua atau tiga jam hingga semuanya berjalan dengan lancar dan tidak ada indikasi masalah paska persalinan dan obat anestesi sudah mulai berkurang. Mas Aarav bisa ikut kami untuk meng-Azan'kan putra putrinya. Sekarang sudah cantik dan tampan." Seorang suster meminta Aarav mengikuti dirinya.
"Sayang, Mas tinggal dulu yah. Kita nanti akan ketemu di ruang rawat dan bersama anak-anak kita. Kamu cepat pulih yah. Terima kasih untuk semua pengorbanan kamu. Mas sayang dengan kamu," bisik Aarav sebelum meninggalkan istrinya yang masih dalam penanganan terakhir. Dan Lydia pun hanya membalas dengan seulas senyum dan anggukan yang lemah.
__ADS_1
*******
Di saat Lydia sedang bahagia karena telah melahirkan buah hati yang sepasang. Mimin malah di kantor sedang merasakan mulas sakit perut dan bahkan panas dingin terutama setelah membaca pesan dari Lydia yang bertujuan untuk mengabarkan kalau dia akan melahirkan, dan Lydia meminta doanya dari Mimin.
Ini bukan lebai, tetapi entah mengapa Mimin langsung merasakan sesuatu yang semakin aneh. Perutnya mulas kaya ingin buang air besar yang benar-benar tidak bisa ditahan, tetapi setiap ke kamar mandi tidak ada yang ingin di keluarkan. Seperti itu terus. Pokoknya kata orang sama seperti kontraksi. Yah, maklum othor gak pernah merasakan kontraksi jadi gak tau bagaimana rasanya. Pokoknya kaya gitu lah mules-mules tapi nanti hilang timbul terus.
"Sayang kamu kenapa sih," ucap Hadi yang terus mengusap perut Mimin, dengan minyak kayu putih, bahkan rasanya ruangan Hadi yang biasanya harum dengan pengharum ruangan yang wangi dan membuat rileks, sekarang tercium minyak kayu putih di mana-mana.
"Mimin juga nggak tau Mas, tiba-tiba rasanya seperti ini," jawab Mimin dengan terus bibirnya melafalkan doa-doa yang ia hafal.
"Kalau gitu kita ke rumah sakit yah," ucap Hadi, siapa yang tega melihat wajah istrinya yang pucat dan juga keringat sebesar biji jagung terus keluar. Bahkan tubuh Mimin terasa dingin.
"Kok ke rumah sakit lagi Mas, Mimin sampai kantor juga belum setengah jam. Udah itu juga kalau di rumah sakit juga makin kepikiran Lydia." Mimin menolak dengan meminta agar Hadi terus mengusap perutnya. Hadi juga semakin bingung entah apa mau istrinya.
"Mamah sakit Sayang. Iko coba doakan Mamah biar cepat sembuh," balas Hadi sembari mengajarkan mendoakan Mimin agar sembuh.
"Iko tidak tau doanya gimana. Iko taunya doa mau makan dan mau bobo," ocehnya dengan nada yang sangat menggemaskan. Siapa yang tidak ingin tersenyum mendengar jawaban Iko. Yah, itulah yang dirasakan oleh Hadi dan Mimin, bahkan Mimin yang sedang merasakan perutnya tidak nyaman pun terkekeh dengan kelakuan anaknya.
"Ya udah Iko doanya dengan bahasa Indonesia aja. Pasti Tuhan juga tahu apa yang Iko pinta." Hadi kembali mengajarkan agar Iko mengikutinya.
"Ya Alloh, semoga Mamah cepat sembuh." Iko mengikuti apa yang babanya ajarkan. Terakhir Iko mengusap wajah Mimin dan menciumnya dengan mesra. Hingga beberapa kali dan itu berhasil membuat Mimin terharu.
Tanpa terasa air mata menetes, bahagia karena memiliki anak yang bisa mengerti keadaanya.
"Ya udah sini Abang bantu Baba usap perut Mamah." Hadi meminta agar Iko duduk di sampingnya agar bisa membantu Hadi mengusap perut Mimin.
__ADS_1
Iko pun mengikuti arahan Hadi dan Hadi sambil memangku Iko juga melakukan hal yang sama.
"Baba, di pelut Mamah ada dede bayinya yah. Kaya Bunda juga ada dede bayinya." Iko mengusap-usap perut Mimin sedangkan Mimin lebih merasa enakan setelah diusap-usap tidak begitu melilit lagi.
"Amin, Iko mau adiknya cewek atau cowo?" tanya Hadi, Mimin sendiri terus mendengarkan obrolan Hadi dan Iko yang membuat hatinya nyaman karena dua orang tua sama-sama sayang.
"Cewek dong." Iko menjawab dengan malu-malu. Mimin dan Hadi pun mengulas senyum sembari saling tatap.
"Baba, emang dede bayi ada di pelut Mamah sama Bunda gimana masuknya? Masuk nya dali mana?" tanya Iko sembari mencari-cari lubang yang mungkin bisa dijadikan jalan masuk oleh dede bayinya.
Hadi dan Mimin kembali saling tatap, bingung mau jawab dengan apa karena memang Hadi dan Mimin juga tidak bisa menjawabnya.
"Oh, dede bayi masuknya dari sini yah Ba." Iko menunjuk lubang pusar yang ada di perut Mimin. Buru-buru baba Hadi menganggukkan kepalanya. Intinya iya aja biar cepat.
"Iya dede bayinya masuk dari dalam situ." Hadi langsung memberitahukan kalau adik bayi masuk ke dalam perut bunda dan mamahnya nanti dari lubang pusar.
"Oh dari sini. emang muat Baba?" tanya Iko masih terus mengamati lubang yang jelas itu kecil, dan jari telunjuknya memainkan lubang itu sampai Mimin tertawa geli.
"Ya dimuat-muatin saja. Kan adik bayinya masih kecil." Hadi bingung mau jelasnya, sedangkan Mimin malah tertawa renyah mendengar jawaban Hadi. Ya kali dikasih tutorial masukin dede bayi ke dalam perut ibunya. Bisa-bisa Pas Supir iri.
Masa Iko dikasih tutorial sementara sopir hanya pembukaan saja terus. Bahkan sampai panas dingin dengar-nya.
Bersambung....
...****************...
__ADS_1