Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Iko Suka Naik Pesawat


__ADS_3

"Mamah ... Mamah bangun." Iko pagi hari membangunkan Mimin. Setelah cukup lama Iko membangunkan ibunya, tetapi tidak ada respon. Akhirnya ia pun bergantian membangunkan babanya.


"Baba ... Baba ... bangun udah pagi kan kita mau naik pesawat." Iko mengusap-usap wajah Hadi yang masih pulas tertidur. Hadi yang pun menggeliatkan tubuhnya.


"Hemz ... Sayang ini masih pagi semalam abis nengok dede jadi kita bobo lagi sebentar yah," gumam Hadi mengira kalau yang membangunkan adalah sang istri tercinta. Padahal ada anak kecil yang sedang duduk dengan mengemas di sampingnya.


"Baba, bangun kita mau naik pesawat. Nanti kalau kesiangan pesawatnya udah belangkat loh." Iko kembali mengulang kata-katanya. Sontak saja Hadi langsung melonjak kaget ketika mendengar kalau yang membangunkannya adalah Iko.


Dengan semangat empat lima ternyata Iko bangun lebih dulu. Hadi pun beberapa kali mengerjapkan kedua bola matanya, ketika melihat Iko duduk dengan tidak bersalah.


"Sayang kenapa kamu sudah bangun?" tanya Hadi di mana saat ini saja baru jam dua. Bahkan Hadi harus melihat jam di dinding untuk memastikan kalau jam yang ia lihat memang benar, dan memang benar kalau saat ini adalah jam dua dini hari yang artinya memang Iko bangun terlalu dini.


"Kata Baba dan Mamah Iko tidak boleh bangun kesiangan nanti tidak diajak naik pesawat," celoteh Iko yang langsung membuat Hadi geleng-geleng kepala saking semangatnya naik pesawat sampai tidak bisa tidur dengan nyenyak. Sebentar-bentar bangun, dan Hadi tahu sih rasanya seperti Iko, karena dia juga dulu pernah mengalaminya, terutama ketika mau hari raya idul fitri dan semuanya baru. Mulai dari kemeja, koko, sarung, celana, dan sendal baru hingga rasanya malam idul fitri itu menjadi malam yang sangat lama.


"Iya yang Iko memang benar tidak boleh telat bangunnya, karena pasti sopir pesawatnya juga masih bobo. Kita pesawatnya terbang jam sepuluh Sayang, kalau kita bangun dari sekarang nanti ngantuk lagi. Nunggunya kelamaan di bandara," jelas Hadi dengan pelan-pelan, dan Iko pun hanya tersenyum dengan tatapan yang bingung.


Mimin yang merasa indra pendengarannya menangkap kegaduhan pun mencoba membuka matanya. "Ini ada apa Mas. Iko pengin pipis atau pengin BAB?" tanya Mimin sembari duduk. Yah biasanya kalau Iko bangun di siang hari itu antara pengin ke kamar mandi atau justru pengin minum.


"Bukan itu semua Sayang. Iko bangun kepagian dan kata dia mau naik pesawat takut ditinggal," jelas Hadi ada lucunya ada sedihnya juga saking anaknya antusias sekali ingin naik pesawat hingga ia tidak bisa tidur dengan nyenyak.


"Ya Alloh, kasihan sekali." Mimin pun langsung memeluk tubuh Iko dan mengusapnya dengan penuh sayang.


"Abang ingin banget naik pesawat yah?" tanya Mimin sembari mengusap punggung Iko. Anak kecil itu pun mengangguk dengan lemah.

__ADS_1


"Abang takut nanti Baba sama Mamah tinggalin Abang naik pesawat," ucap Iko dengan celoteh yang sangat menggemaskan. Namun, ucapannya itu justru membuat Mimin sedih campur haru.


Mendengar ucapan Iko Hadi dan Mimin pun merasa sangat kasihan. "Ya Alloh maaf Mamah dan Baba yang nakut-nakuti Abang yah. Mamah dan Baba janji tidak akan tinggalin Abang. Abang itu akan tetap ikut kita. Jadi sekarang Abang bobo lagi yah. Ini masih malam Mamah dan Baba janji akan bangunkan Abang kalau mau berangkat kita tidak akan tinggal Abang." Mimin dengan lembut meminta Iko untuk tidur lagi dan memang benar setelah dinasehati Iko pun bobo lagi.


Sebenarnya anak kecil itu juga masih ngantuk hanya saja dia takut kalau akan ditinggal baba dan mamahnya makanya ia tidur tidak tenang.


"Jadi merasa bersalah sudah bohongin anak," ucap Mimin dengan menatap Iko penuh penyesalan, dan tentu dibalas anggukan oleh Hadi. Kalau tau Iko akan kepikiran terus dengan takut ditinggal jelas Mimin tidak pernah akan melakukannya. Biarkan Iko istirahat biasa saja toh memang jam terbang mereka juga jam sepuluh. Bukan yang pagi banget. Masih ada waktu untuk Iko tidur sampai puas.


"Mas juga jadi merasa bersalah gitu," balas Hadi sembari mengusap rambut Iko dan menciumnya. Niat mereka hanya untuk membuat Iko agar tidak susah membangunkannya, atau bahkan kalau bangun tidak nangis, tetapi ia tidak menyangka kalau Iko justru akan merasakan kalau dia ketakutan dengan ucapan Mimin dan Hadi.


Setelah puas menatap Iko yang kembali pulas tertidur. Mimin dan Hadi pun sama menyusul Iko kembali tertidur pulas hingga pukul lima, mereka kembali bangun ketika alarm kembali menjerit-jerit membangunkan mereka untuk menjalankan kewajiban sebagai seorang hamba.


Hadi melihat Iko yang masih tidur dengan pulas. Yah, sejak Hadi dan Mimin menasihati malam tadi Iko pun bisa tidur pulas tidak lagi sebentar-bentar bangun, karena takut ditinggal naik pesawatnya.


"Nanti saja Mas Jam enam kalau tidak jam tujuh masih kekejar kan, kasihan pasti Iko masih ngantuk." Melihat anaknya tidur dengan pulas pun membuat Mimin tidak tega membangunkan putranya. Hadi dan Mimin pun membersihkan diri lalu bersiap untuk menjalankan kewajibannya, dan memohon pada Alloh agar perjalananya lancar, sampai ke rumah orang tuanya dengan selamat dan sehat semuanya.


Sesuai yang Mimin katakan pukul enam Hadi membangunkan Iko. Ternyata Iko bangun tidak langsung nangis.


"Baba mau naik pesawat sekarang?" tanya Iko begitu bangun.


"Iya bangun yuk, kita mandi." Hadi Merentangkan tangannya dan Iko langsung menghambur. Yah, Iko memang untuk mandi dan segala macamnya banyak dilakukan oleh Hadi karena memang Hadi yang ingin selain dia memang yang ingin belajar merawat anak. Hadi juga takut kalau akan terjadi apa-apa dengan Mimin.


"Ok Baba." Tidak seperti biasanya yang ada drama nangis, nanti saja baba dingin. Masih ngantuk dan masih banyak alasan kalau diminta mandi untuk kali ini Iko benar-benar semangat dan untuk mandi siap-siap tidak rewel langsung ok dan hemat waktu.

__ADS_1


Selama Hadi memandikan Iko. Mimin pun langsung menyiapkan pakaian untuk Iko. Setelah sarapan pukul delapan Hadi dan Mimin tentu dengan jagoan mereka yang penampilannya benar-benar jadi tuan muda. Selain penampilan yang keren abis, dengan kaca mata hitam dan topi keren serta sepatu dan celana serta kemeja yang super keche.


Mimin dan Hadi memang berangkat lebih awal agar bisa menunggu lebih lama di bandara, karena Iko senang melihat pesawat yang lalu lalang dan berakhir lepas landas di landasan pacu.


Benar saja dua jam menunggu penerbangan tidak membuat Iko bosan karena ada hal yang membuat Iko betah yaitu melihat pesawat-pesawat yang besar-besar. Tepat pukul sepuluh kurang lima belas menit pun sudah ada pemberitahuan kalau mereka akan melakukan penerbangan. Biasanya kalau untuk pertama kali naik pesawat, akan takut dan ada rasa was-was nya. Iko justru sebaliknya anak kecil itu tetap terlihat santai ketika mereka masuk ke dalam pesawat dan sudah duduk di kursi penumpang.


"Abang , apa Abang tidak takut?" tanya Hadi pada anaknya yang terlihat tetap santai duduk sendiri tanpa ada rasa takut, dan wajahnya juga terlihat kalau Iko itu seperti orang yang sudah biasa naik pesawat.


"Tidak, ini enak Baba." Bahkan banyak yang mengakui kalau Iko pemberani, apalagi saat Hadi dan Mimin mengatakan kalau ini adalah penerbangan pertama kalinya untuk Iko.


Kurang lebih dua jam mereka melakukan penerbangan, dan selama itu juga Iko tidak tidur dia benar-benar menikmati perjalanan ini, bahkan untuk turun Iko pun benar-benar tahu aturanya, dia tidak yang serobot-serobot ingin turun buru-buru seperti naik angkutan umum seperti mikrolet dan lain-lain. Iko tahu kapan waktu dia turun, dan berkomunikasi dengan pramugari atau orang yang menyapa dan bertanya Iko bisa menjawab dengan tenang.


"Gimana Sayang, pengalaman naik pesawat?" tanya Hadi ketika sekarang ia sudah sampai di pulau yang berbeda.


"Senang Baba, Iko terbang kaya bulung." Anak kecil itu bukan yang takut padahal kalau ada turbulensi dan saat akan take off dan landing di landasan pacu biasa ada getaran yang cukup membuat dada ngegelosor, bahkan kadang orang dewasa aga rasa nyes di dada, tapi Iko tidak takut atau apa dia menikmati semua sensansi naik pesawat.


"Baba, lumah Nenek sama Kakek jauh tidak?" tanya Iko.


"Iko ...." Baru juga di bicarakan tetapi nenek dan kakeknya langsung memanggil cucunya yang tampan itu.


Bersambung....


...****************...

__ADS_1


__ADS_2