
Hari terus berganti dan aku pun masih terus menunggu kabar dari dokter Sera yang akan segera menghubungi aku dan memberitahukan alamat Mimin tinggal. Rasanya tidak sabar mengajak Iko bertemu dengan Ibu kandungnya.
Aku bergegas ke depan ketika suara mobil mas bojo udah kedengaran. "Iko sayang, Papah udah pulang kita sambut yuk," ocehku sembari menggedong jagoanku.
"Tumben Mas kali ini pulangnya sudah hampir Maghrib, lagi banyak kerjaan?" tanyaku ketika menyambut Mas suami pulang.
"Tidak, tadi ada urusan dulu dengan Hadi, ada meeting sedikit, masalah proyek modern supermarket yang kita gagas kayaknya harus ada perubahan, soalnya benar dugaan Mas di awal. David memutus kerja sama dengan Mas karena dia cari rekan bisnis yang lain, tetapi konsep kerja sama kita diawal sudah ia kerjakan, bahkan sudah memasuki tahap pembangunan," adu Mas suami dengan tertawa masam. Seolah sudah paham betul atas. kelakuan David.
Yah, meskipun bukan aku yang diperlalukan seperti itu, tetap saja aku merasa sangat sakit hati dengan cara kerja David yang cukup licik. Entah apa maksudnya tetapi kalau memang mau mengakhiri kerja sama kenapa setelah konsep semua matang dan deal harus diputus, meskipun kalau dibilang untuk secara materi belum ada kerugian yang berarti, tetapi waktu, otak, dan ide itu jauh lebih brerharga dari sekedar materi.
Sama saja kita punya ide cerita dan setelah baca outline kita pada kenyataanya teman kita menjalankan ide cerita kita, kan nyesek.
"Terus Mas dan Tuan Hadi mau gimana lanjutanya? Terus Papih Sony tahu tidak masalah Mas dengan David?" tanyaku mengingat Papah Sony cukup dekat dengan Tuan Wijaya. Bahkan mungkin akan membeli kebun kelapa sawit Tuan Wijaya, nanti malah jual lima ribu hektar yang di beri hanya sebagian, atau justru harga siap panen yang di beri masih harus menunggu setengah jalan lagi agar menikmati hasil panen. Kan kita tidak pernah ikut campur, salah siapa anaknya curang, jadi orang tuanya juga di curigai kan.
"Sebenarnya Papah dari awal sudah memperingatkan yah, mereka seolah takut kalau aku akan rugi kerja sama dengan David, dan sekarang Mas baru sadar dan tahu betul tujuan Papih memperingatkan Mas seperti itu. Baru sekarang Mas tahu kalau semuanya memang seperti cara kerja mereka yang kurang percaya dengan orang lain. Eh, tidak tahu kurang percaya atau justru mungkin mereka takut kalau Mas akan mendapatkan keuntungan yang banyak karena kita membuka kerja sama dengan dia, mungkin iri atau apalah."
Aku kini yang kembali tertawa. Yah, lucu saja kalau kaya gitu jatuhnya malah jadi David yang seolah ragu dan tidak yakin kalau semuanya sudah diatur oleh Allah.
"Terus kerja sama Mas dan Tuan Hadi lanjut atau setop juga?" tanyaku balik, mungkin Mas suami sedang bingung sehingga dia tidak menjawab pertanyaanku.
__ADS_1
"Lanjut dong Sayang, kalau Mas sih tetap optimis kalau kita akan tetap berhasil di pasaran, mengingat bisnis supermarket bukan bisnis pertama. Bahkan sebelumnya Mas sudah bisa menikmati hasilnya dari supermarket sebelumnya, meskipun konsepnya belum modern seperti yang baru, dengan konsep modern pasti akan semakin banyak menarik pengunjung. Yang penting kita tetap berusaha, dan ada ridho dari istri semuanya InsyaAllah akan tetap menemukan pembelinya." Mas Aarav pun seolah tengah memberitahukan kalau semuanya akan baik-baik saja.
Aku sangat senang mendengar jawaban dari Mas suami. Yah, aku pun yakin kalau niatnya bagus pasti semuanya dimudahkan dengan sangat baik.
"Kalu gitu ayo kita siap-siap buka, Lydia sudah nunggu dari tadi. Yuk makan dengan masakan Lydia semoga saja langsung encer otaknya menemukan ide-ide yang semakin cemerlang."
"Amin..." Kami pun makan dengan damai Iko masih anteng belum begitu ribut kalau orang tuanya makan, mungkin beberapa bulan lagi aku akan semakin harus ekstra sabar karena kalau Iko MPASI maka harus di sibukan dengan kegiatan baru.
Sholat Magrib adalah waktu paling aku tunggu karena di momen ini kami selalu ibadah bersama mas suami. Yah kalau Isya mas suami di Masjid, Dzuhur, dan Ashar di kantor. Subuh Mas suami pun lebih sering ke Masjid sehingga aku selalu memanfaatkan waktu kumpul untuk berjamaah dengan baik.
"Iko pinter banget sih Bun kalau diajak ibadah selalu anteng," puji Mas suami dengan mengambil Iko yang sengaja aku rebahkan di samping kami seolah Iko juga ikut beribadah dengan empeng di bibirnya.
Setelah Sholat Maghrib berjamaah aku pun langsung membuka ponselku, biasanya Ibu atau Bapak berkirim pesan mengabarkan mereka buka dengan apa, dan juga mengabarkan ponakan aku yang rajin-rajin puasanya. Sehingga aku harus memberikan bonus untuk nanti buat yang puasanya full. Yah itu yang membuat para ponakan lebih semangat untuk berpuasa karena ingin mendapatkan hadiah dari Budhe-nya.
Sama seperti beberapa hari yang lalu, pandangan mata ini tertuju pada pesan dari dokter Sera.
[Lydia, sore tadi kondisi Mimin semakin memburuk dan sekarang di bawa ke rumah sakit Menuju Sehat. Apakah kamu bisa datang ke sini. Kalau bisa ajak Iko, karena saya takut, Mimin semakin memburuk dan tidak bisa tertolong lagi.]
Prannggg... ponsel yang ada di tanganku pun jatuh. Tubuhku lemas seketika dan air mata pun tidak bisa aku bendung lagi, aku pun terisak dengan tubuh duduk di sisi ranjang tanpa aku perdulikan kalau Iko juga ikut nangis ketika melihat aku menangis. Bahkan Mas suami langsung panik bingung ada apa kira-kira yang membuat aku menangis.
__ADS_1
Mas suami mengambil Iko untuk di tenangkan dan juga setelah Iko cukup tenang mas suami mengusap punggungku, dan duduk di sampingku.
"Kamu kenapa Sayang? Apa ada hubunganya dengan Ibu atau Bapak?" tanya Mas suami dengan suara yang terdengar sangat lembut. Aku pun yang bibirnya masih kaku, hanya menjawab dengan memberikan gelengan kepala.
"Lalu kalau bukan ada hubunganya dengan Ibu dan Bapak, apa ada hubunganya dengan adik-adik kamu. Lyra atau Lysa mungkin," ucap Mas suami lagi dan segera aku balas dengan gelengan kepala juga. Bibir ini ingin bercerita, tetapi justru kaku yang aku rasakan. Mana ponselku juga mati lagi.
Aku semakin bingung. Apa ketakutanku akan terjadi kalau Iko tidak akan tahu siapa ibu kandungnya? Karena Mimin tidak akan sembuh?
Kemarin-kemarin aku sangat bahagia karena mendengar kabar dari dokter Sera kalau Mimin mengalami perubahan yang cukup banyak, dan memiliki kemauan untuk sembuh. Bahkan dokter Sera sampai mengirimkan obat-obatan, tetapi kenapa sekarang aku justru mendengar kabar yang sangat buruk.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Mas suami lagi, kali ini dengan suara yang sedikit tinggi karena aku yang terus menangis, tetapi ketika ditanyakan dengan tangis yang tiba-tiba, aku justru tidak menjawab.
"Mimin..." ucapku dengan lirih bahkan raasanya bibir ini sudah mencoba mengucapkan panjang kali lebar, tetapi yang keluar hanya satu kata.
"Maksud kamu apa? Mimin siapa? Apa Mimin yang kamu maksud Jasmin?" cecar Mas Aarav dengan suara yang bergetar dan pandangan mata yang bingung sama seperti aku yang bingung kenapa Mas suami bisa bertanya soal Mimin?
Bersambung.....
...****************...
__ADS_1