Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Di ujung Ramadhan


__ADS_3

Tuan Wijaya menatap anak semata wayangnya dengan tatapan yang kesal. Dari dulu David tidak bisa diandalkan dan tidak juga bisa bertindak tegas selalu saja menye-menye, itu yang ada dalam pikiran laki-laki paruh baya itu.


"Kalau gitu kamu pakai otak kamu untuk berpikir, agar wanita itu mau berkata jujur. Masa kamu hanya melawan wanita seperti itu saja tidak bisa, jangan mau kamu dibutakan oleh cinta. Buktinya kamu modal cinta saja tidak akan pernah bisa bahagia," balas Tuan Wijaya dengan nada yang ketus.


David yang sudah tahu ke mana arah bicara sang Papah pun langsung mengangkat lagi wajahnya.


"Udahlah Pah, jangan bahas yang sudah lalu, bukanya David sudah mengikuti kemauan Papah, jadi Papah jangan bahas-bahas yang sudah sudah sekarang bukanya fokus kita hanya sama anak aku saja. Aku nggak mau anakku menderita kalau dibesarkan oleh wanita itu." David kembali melemparkan jawaban dengan nada yang tidak kalah dingin.


"Itu karena istri kamu nggak bisa kasih keturunan, coba kalau istri kamu bisa hamil, tidak harus kita datang sama wanita itu. Sekarang kamu cari cara yang gampang untuk ambil anak kamu, kalau perlu culik atau ancam orang yang melindungi wanita pesakitan itu, tidak mungkin dia akan congkak kalau tidak ada orang yang mendukungnya." Semakin David membalas makan semakin keras juga Tuan Wijaya untuk segera mewujudkan keinginannya.


"David akan pikirkan itu," balas David dengan beranjak dari duduknya.


"Ingat David, Papah kasih kesempatan satu bulan, kalau kamu tidak bisa tahu di mana anak itu berada, maka orang-orang Papah yang akan bergerak. Dan kamu tidak bisa melarang Papah lagi." Tuan Wijaya pun langsung menggunakan jurus ancamannya karena laki-laki paruh baya itu tahu kalau David masih memiliki rasa pada mantan istrinya sehingga untuk berbuat yang ia inginkan akan sulit karena terhalang perasaan. Lagi-lagi David harus bermain dengan perasaannya.


"Aku tidak akan biarkan David jatuh ke tangan wanita itu, aku tidak akan biarkan dia bahagia," geram Tuan Wijaya sembari menatap punggung sang putera.


Sedangkan David yang tidak budeg pun dengar dengan apa ucapan sang papah kini dia memilih masuk ke kamar.

__ADS_1


Brugggg!!! Sesosok wanita jatuh tersungkur ketika pintu kamar David buka, kedua mata laki-laki itu pun melebar sempurna menatap wanita yang jatuh tersungkur.


"Apa yang lo lakukan? Nguping?" tuduh David dengan kedua mata melebar bahkan bola matanya hampir lepas, pada wanita yang satu bulan lalu dia nikahi.


"A... aku hanya ingin tahu apa kamu punya anak dari wanita lain?" tanya wanita itu dengan setengah terbata.


"Bukan urusan lo, mau gue punya anak mau gue punya istri lain, udah bukan urusan loe. Karena loe udah tidak bisa kasih gue anak jadi lebih baik loe pulang ke rumah orang tua loe dan kita cerai," ucap David dengan nada bicara yang dingin. Pikirannya sedang sangat kalut dengan ucapan papahnya, di tambah dengan Joe yang mulai kepo dengan kehidupan pribadinya sehingga dia bisa melampiaskannya pada wanita yang sudah sah menjadi istrinya.


"David, kamu ngomong apa sih. Bukanya Papah Wijaya bilang kalau dia tidak akan meminta kita berpisah tapi kenapa kamu meminta aku pergi dan itu sama aja kita akan cerai," balas Joe dengan tidak percaya kalau David yang manis dan juga baik nyatanya justru dari bibirnya kini menyakiti hatinya.


"Yah, Papah memang tidak meminta kita cerai tapi Papah meminta aku cari wanita lain yang bisa memberikan aku keturunan. Menikah bukan hanya cinta dan hidup bersama Joe, tujuan gue menikah itu karena gue pengin punya anak dan keturunan bukan sekedar pelampiasan s'ex tanpa adanya hasilnya. Umurku sudah empat puluh tahun, tidak mungkin aku hanya butuh s'ex semata, gue butuh anak dan loe nggak bisa memberikannya, sehingga papah meminta aku cari wanita yang bisa memberikan apa yang aku mau." David pun makin menjadi bicaranya. Yah, laki-laki itu ingin kalau Joe mundur dengan sendirinya dari pernikahan mereka dan tidak menjadi pemancing emosi seperti saat ini, sehingga David memilih berbicara kasar dan menyakitkan.


"Jangan lupa bilang sama papah kamu kalau kamu sudah mandul biar tidak menyalahkan aku sebagai laki-laki," ucap David ketika dia mau meninggalkan kamarnya. Yah, laki-laki itu kembali mengayunkan kakinya untuk pergi lagi, ia ingin menenangkan pikirannya sebelum dia menemui Mimin.


Wanita yang hingga detik ini masih ada dihatinya menduduki tempat yang spesial, tetapi ketika ia sudah terbiasa hidup dengan mewah dan tumpukan harga penyebab ia tidak bisa membuat David untuk memperjuangkan cintanya bersama dengan Mimin yang hidup sederhana justru untuk makanan saja susah.


Di tempat yang berbeda

__ADS_1


Di seluruh sudut penjuru muka bumi, sebagian umat muslim sedang meraih suka cinta untuk menyambut hari kemenangan. Suara takbiran menandakan kalau hari kemenangan sudah tiba. Tidak terkecuali di rumah mewah dengan tiga lantai. Keluarga besar dari pasangan Papi Sony dan Mami Misel sedang berkumpul untuk menyambut hari kemenangan. Semua anaknya sudah datang dari belahan bumi yang berbeda-beda dan tempat berkumpulnya di rumah orang tua mereka.


Gelak tawa memberikan tanda bahwa orang yang ada di rumah itu sedang merayakan hari kemenangan. Suasana sibuk pun mulai terlihat, di dapur sibuk mengolah makanan untuk menyambut hari raya esok.


Tiga puluh hari menahan lapar, haus dan hawa nafsu, amarah dan berlomba-lomba mendapatkan pahala terbanyak  di malam ini sebagai tanda bahwa pintu gerbang kemenangan sudah terbuka, hari  yang ditunggu umat muslim pun akan segera menyambut.


"Ibu senang bisa merasakan lebaran yang sangat berbeda, coba kamu lihat bapakmu terlihat sangat bahagia. Andai hari raya tahun ini kami merayakan di kampung halaman, mungkin kami akan menangis rindu dengan anak-anak kami yang jauh di sana, tapi Ibu dan Bapak mengambil keputusan yang benar. Ibu dan Bapak tidak merasakan kesepian, terima kasih karena kamu kini kita banyak mengenal saudara yang tidak  pernah merendahkan, mereka adalah orang yang sukses di dunia tetapi tidak juga melupakan sesama. Ibu banyak belajar dari keluarga suami kamu," ucap Ibu Isah dengan mengusap tangan sang putri di mana mereka sedang duduk di sofa bersama dengan yang lain.


Jangan di tanya tentang Iko kali ini anak laki-laki itu sudah hak milik bersama, banyak sekali yang mengaku ibunya. Bahkan hampir semua adik dan kakak ipar dari Lydia ingin membawa Iko untuk mengamalkannya dari papah biologis, dan mungkin juga kalau dalam situasi mendesak dan mepet Iko akan dititipkan pada adik atau kakak Aarav, itu jalan terakhir setelah di rundingan.


"Lydia seneng kalau Ibu dan Bapak juga senang dan Lydia berharap lebaran yang akan datang keluarga kita juga lengkap," balas Lydia dengan menatap ke arah laki-laki paruh baya yang nampak ikut larut dengan obrolan yang terlihat sangat seru.


Aarav pun dari tempat yang berbeda terus menatap kagum pada sang istri. Diam-diam laki-laki itu terus mencuri pandang pada mantan pembantunya. Bagi Aarav malam ini Lydia sangat cantik. kesederhanaan dari sang istri mampu menambah getaran cinta di hatinya. Sejak mengenal Lydia dan memutuskan untuk menikah dengannya kini jiwanya selalu dipenuhi oleh rasa cinta. Hingga tanpa sengaja Lydia yang sedang menatap sang suami pun bertemu pandang. Wajah merah merona dari pipi Lydia yang terpergok sedang mengagumi sang suami pun menambah Aarav semakin senang melihatnya.


**Gema Takbir Berkumandang**


Rasa haru yang terus bergeming. Rasa syukur yang terus terucap, tubuh gemetar dengan hebat. Suara-suara itu menutup bilik hati yang kosong. Suara indah itu meramaikan gendang telinga. Mengalir deras rasa semangat itu di setiap aliran darah, terus mengalun dari ujung kaki hingga ujung kepala. Terus berdenging memanjakan rasa. Decak kagum yang selalu melintas di benak atas keagungan-MU. Gema takbir berkumandang mengalun berirama di mana-mana. Mengisi lorong lorong sunyi di setiap sudut kota maupun desa. Mengisi relung hati yang sunyi, berdamai dengan jiwa, berdiskusi tanpa ilusi, Mengalun lembut dari barat ke timur. Menyapa rasa dari selatan ke utara. Luluh dosa dalam doa diakhir ramadhan. Hari kemenangan telah tiba, saatnya menyambut dengan suka cita. Pintu ma'af saling terbuka, membakar segala dosa, menjadikan kita kembali fitri.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2