
Sebelum baca bab ini mohon baca ulang bab 161 dan 162, bab sudah direvisi agar tidak bingung karena loncat-loncat.
********
"Rav, loe udah baca berita terbaru?" tanya Hadi yang tiba-tiba masuk ke ruangan Saraf tampa salam, permisi, ketuk dan langsung nyelonong aja.
"Setidaknya kasih salam dulu Di, biar gue enak buat jawabnya," protes Aarav.
Hadi pun hanya membalas dengan tersenyum pepsodent. "Iya, As'salamuallaikum." Hadi mengulang salam, agar Aarav tidak marah-marah terus. Semejak Lydia hamil Saraf iitu sangat sensitif, bahkan kalau kesabaran Hadi setipis tisu sudah pasti sering berkelahi, untungnya Hadi orang yang memiliki kesabaran setebal Wafer tango, yang berlapis-lapis itu.
"Wa'alaikumussalam, gak enak banget ngucapin salamnya udah kaya depkolektor mau nagih utang," dengus Aarav. Protes terus pokoknya.
"Rese banget loe, gue bawa kabar gembira nih." Hadi langsung duduk di depan Aarav.
"Soal apa? Perasaan apa yang loe bawa beritanya gembira semua, tapi gembira buat loe, belum tentu gembira buat gue. Apaan buru bilang gue lagi sibuk. Maklum bos banyak kerjaan."
"Dih, sombong banget orang satu ini. Beritanya tentang Wijaya ...."
"Gak ada berita lain apa, pembaca sampai bosan tuh dengar nama kakek tua itu terus." Aarav langsung memotong ucapan Hadi, padahal Hadi baru menyebut nama kakek tua itu tapi sudah dipotong aja.
"Yang lagi tranding, di mana-mana itu berita tentang Wijaya. Jadi nggak bakal bosen. Sekarang Wijaya benar-benar bangkrut. Dia akan jual perusahaanya, untuk menutupi tuntutan upah karyawanya." Hadi sangat antusias menujukan berita yang bikin dia sangat gembira. Namun, hal sebaliknya justru terlihat dari raut wajah Aarav.
"Bukanya itu bagus, iya sih bikin bahagia, tapi yang bikin loe bahagia banget berita yang dia bangkrut atau berita yang mana? Kalau gue dan Papi sih udah predisikan ini bakal terjadi. Laki-laki tua itu tentu tidak mau merugi terlalu banyak sehingga lebih baik menjual apa yang ada untuk menutup semua tuntutan dari karyawanya, lalu apa hal seperti ini sangat bahagia buat loe?" tanya Aarav yang nampaknya justru kayaknya Hadi ini sangat dendam pada Wijaya, lebih dendam dari Aarav dan Mimin.
Hadi sangat menujukan kalau dia sangat tidak suka dengan kakek tua itu dibanding Mimin sendiri yang bermasalah langsung dengan Wijaya.
__ADS_1
"Yang bikin gue bahagia adalah, bagaimana kalau kita beli perusahaan itu."
Brughh!! Sebuah map langsung mendarat di pundak Hadi.
"Loe jangan gila, beli perusahaan loe kira kaya beli cilok. Ya loe memang terlahir sudah sultan dari sultan sesungguhnya sedangkan gue masih merintis mana mungkin beli perusahaan yang sudah punya nama." Aarav langsung menolak tawaran Hadi.
"Maksud gue, bagaimana kalau kita patungan, loe dan Om Sony serta adik ipar loe, suami Amora kan tajir melintir, jet pribadi juga punya. Nah nanti saham kita bagi rata, kita rombak semua perusahaan itu dan bikin gebrakan baru, gue yakin ini sangat menguntungkan. Apalagi ketika suasana mendesak seperti ini Wijaya juga pasti jual murah," balas Hadi dengan percaya diri.
"Gigi loe kering, semurah-murahnya perusahaan kalau tidak ratusan milliar ya triliunan, loe bener-bener kalau ngomong pengin gue jejelin seblak cobek ala Mamang Rafael Tan beneran biar nggak ngoceh lagi."
"Tapi lebih baik perusahaan itu jatuh ke tangan kita, dan kita bikin prodak yang lebih baik lagi dari pada jatuh ke orang lain. Sekalian balas dendam Rav." Mendengar ucapan Hadi, Aarav pun langsung melebarkan pandangan tajamnya pada Hadi.
"Kenapa bukan loe dan adik loe aja yang beli."
"Handan sulit diajak bekerja sama dia sibuk dengan pekerjaanya, loe tahu kan dia di sini aja nggak mau ambil rugi, dia bukan mengambil kasus kalian aja banyak kasus yang dia ambil juga apalagi dia advokat yang kerjanya bisa di seluruh Indonesia jadi dia sibuk tidak akan mau diajak bisnis kaya gini." Hadi terus merayu Aarav agar memperhitungkan apa tawaranya.
"Ya udah nanti gue bilang sama Handan juga, mungkin saja anak itu mau berpikir lurus sekarang, jangan kalau diajak bisnis dan buka usahan Handan akan menyerah dan bilang tidak berminat."
"Ya udah mudah-mudahan secepatnya agar Wijaya tidak sampai stres karena perusahaanya tidak laku-laku," kelakan Aarav dengan tubuh di sandarkan ke kursi kerjanya. Pandangan matanya menatap ke langit-langit ruanganya.
"Hahaha, nanti giliran laku dan yang beli lagi-lagi keluarga loe dan gue pasti laki-laki tua itu akan kembali marah dan kesal. Malah nanti bisa-bisa stres beneran karena yang mereka ingin tumbangkan malah justru menjadi penyelamatnya."
"Eh, tapi gue kok malah jadi pengin buru-buru sidang penentuan, apakah dia akan seperti biasanya yang arogan dan sombong, atau justru berubah jadi ayam negri dan malah tidak mau hadir di persidangan."
Aarav dan Hadi pun bukanya bekerja malah nampak bergosip ria sejak tadi. Menggosipi Wijaya. Udah kaya artis papan atas selalu jadi perbincangan kalangan papan atas.
__ADS_1
******
Sesuai yang Hadi inginkan Aarav pun menemui papohnya. Eh lebih tepanya merayu agar mau patungan untuk membeli perusahaan Wijaya, yang sebenarnya sangat memungkinkan untuk berjaya kembali, asal diolah dengan sangat baik.
Bukan hanya Aarav yang langsung menemui papihnya dan mencoba berbicara dengan para adiknya mungkin ada yang ingin ikut patungan dan tentu nantinya akan dibagi saham sesuai dengan uang yang dikeluarkan.
Hadi sendiri pun juga langsung melancarkan niatanya yaitu menemu adiknya Handan untuk ikut gabung patungan untuk membeli perusahaan Wijaya. Tentu Hadi yang memang sangat lihai dibidang penjualan, jiwa sales dikeluarkan dengan sangat mahir dan profesional. Hampir dua jam bibirnya ngoceh terus untuk menyakinkan pada adiknya kalau berinvestasi dalam sebuah perusahaan tidak akan rugi dan tidak akan buntung. Karena produksi jelas, sudah punya nama pemasaran tentu sudah luas. Sehingga Aarav dan Hadi. sangat yakin kalau bisa membuat perusahaan Wijaya akan jaya kembali.
"Apa loe nggak ada kerjaan, sampai perusahaan loe mau beli," protes Handan hampir dua jam dia di tawarin kerja sama. Sedangkan Handan sebenarnya sudah tidak tertarik, tetapi Hadi tidak mau menyerah dong. Ia terus berusaha agar Handan mau diajak patungan untuk membeli perusahaan itu.
"Justru kerjaan gue bikin loe mau membeli perusahaan ini," jawab Hadi dengan wajah sangat menyebalkan menurut Handan yah.
"Kalau gue nggak mau," tantang Handan dengan santai.
"Gue paksa dan harus mau."
"Memang loe rada-rada setengah tidak waras." Handan memberikan tatapan yang penuh kemarah sama Hadi.
"Makanya kalau mau gue waras loe harus bergabung," paksa Hadi.
"Atur aja, terserah loe ajah. Gue males berdebat." Handan pun akhirnya menyerah, dengan kata lain dia mau membantu agar Hadi dan Aarav bisa membeli perusahaan Wijaya.
"Serius? Gila adik gue memang bukan kaleng-kaleng." Tak henti-hentinya Hadi memberikan pujian untuk adiknya. Padahal biasanya akan terus berkelahi tetapi hari ini terlihat sangat manis. Jelas semua Hadi lakuin demi pujaan hati.
Bersambung.....
__ADS_1
...****************...