
"Mih, Lydia nitip Iko yah," pamit Lydia sebelum meninggalkan anaknya untuk menjalani panggilan polisi atas laporan Wijaya.
"Iya Sayang, kamu tenang yah. Jangan kepikiran dan tetap yakin semuanya akan baik-baik saja." Misel memeluk tubuh menantunya, untuk memberikan dukungan atas masalah yang dihadapinya.
"Iya Min, semalam Mas Aarav sudah memberikan masukan, dan sekarang Lydia sudah jauh lebih tenang." Senyum terlukis di wajah cantik wanita berhijab itu.
"Iya memang kamu harus seperti itu, tunjukan pada Wijaya kalau kita tidak akan menyerah."
Lydia mengulas senyum dan memberikan anggukan untuk ucapan mertuanya.
"Abang, sekarang mainya sama Oma dan Bibi dulu yah, Bunda ada urusan di luar rumah." Kini Lydia bergantian pamit dengan jagoanya, dengan berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi Iko.
"Iya Bun, Bunda mau belanja..." Iko tahu kalau omanya pamit untuk keluar dan pergi dari rumah selalu beralasan belanja, sehingga kini Lydia izin pun Iko beranggapan kalau Lydia akan belanja.
"Iya betul Sayang, apa Abang mau dibelikan sesuatu sama Bunda?" tanya Lydia dengan tangannya mengusap rambut tipis Iko.
Iko langsung memberikan senyum semangatnya. "Mau ikan, yang banyak."
Mendengar permintaan anaknya, Lydia pun heran. Kemarin Hadi sebelum pulang sudah membelikan ikan, dan juga di kolam ikan banyak, belum aquarium, dan opanya pun selalu membelikan ikan. Lalu sekarang minta ikan lagi.
"Kok Abang mintanya ikan lagi, kemarin ikan dari Om Hadi ke mana?" tanya Lydia karena Iko main sekarang sering bersama Oma dan juga asisten rumah tangga. Sejak hamil Lydia hanya menemani sesekali saja.
"Ikanya sudah mati." Misel mewakilkan menjawab pertanyaan Lydia karena Iko kayaknya ketakutan karena sudah bikin ikan-ikanya mati lagi.
"Hah, diapakan Sayang ikannya kenapa sampai mati padahal Om Hadi belikan yang bagus ikannya." Lydia hanya menggelengkan kepalanya pelan. Karena Iko akhir-akhir ini sedang suka ikan, kemarin-kemarin kelinci dan sekarang ikan.
"Dia buat mainan mobil-mobilan. Ikanya diambilin dinaikin ke mobil-mobilan jadi mati deh. Tidak apa-apa nanti beli lagi yah. Tapi jangan ditaikin mobil-mobilan lagi yah, biar ikannya tidak mati lagi." Mami Misel mengusap Iko dan berusaha berbicara dengan lembut.
"Iya Oma, ikanya di talo di ail...?" tanya Iko dengan suara lembutnya.
"Iya taro diair aja jangan dinaikin mobil dan airnya jangan di kasih sabun," ulang Mami Misel dengan pelan agar Iko tahu apa saja yang membuat ikan-ikanya pada mati.
"Baik Oma..."
__ADS_1
"Ya udah Bunda berangkat dulu yah. Nanti Bunda belikan ikan lagi kalau Abang nggak matikan lagi."
"Enggak Bunda, Iko baik..." rayu anak kecil itu bahkan Lydia tidak menyangka kalau Iko sekarang sangat pandai kalau diajak berkomunikasi. Setelah berpamitan dengan mertua dan putranya. Lydia pun langsung melanjutkan perjalanan untuk ke kantor polisi. Ia merogoh ponselnya untuk bertanya pada Mimin sudah sampai ke kantor polisi atau belum.
[Aku baru sampai, kamu masih di mana.] Itu adalah pesan balasan yang dikirimkan oleh Mimin untuk Lydia.
[Aku baru jalan paling setengah jam lagi aku sampai. Kamu pemeriksaan duluan kan, kalau gitu kamu masuk dulu. Aku akan nyusul.]
Setelah memberikan balasan untuk sahabatnya, kini Lydia bergantian mengirimkan pesan pada suaminya.
[Lydia sedang dalam perjalanan ke kantor polisi. Doakan agar semuanya lancar yah Mas.] Itu adalah pesan yang dikirimkan Lydia pada suaminya.
Sembari menunggu balasan dari suaminya. Lydia menatap ke luar jendela mobil, jalanan Ibukota seolah tidak pernah ada sepinya hingga di jam yang hampir tengah hari dan panas panjang banyak yang rela panas kepanasan dan hujan kehujanan untuk mengais rezeki, tetapi bereka sepertinya sangat riang tanpa beban. Berbeda dengan kehidupanya yang sangat banyak masalah, bahkan ada saja yang dengan sengaja mencari-cari terus masalah seperti Wijaya.
[Iya, kamu hati-hati yah. Dan apa yang Mas katakan semalam tolong dipertimbangkan juga. Jangan tegang dan tetap santai. Biarkan nanti ada kekurangan dan kelebihanya Mas yang akan urus lagi.
Setelah menempuh perjalanan yang hampir satu jam, Kini Lydia langsung menyusul Mimin tentu ada Handan juga yang mendampingi kasusnya. Sehingga Lydia semakin percaya kalau ia akan menang dalam pengadilan ini. Dan biarkan Wijaya menelan kekalahanya.
Pertanyaan demi pertanyaan bisa Lydia jawab dengan baik, dan kini ia sudah ke luar setelah hampir satu jam di dalam ruangan pemeriksaan yang tentu berbeda dengan Mimin.
"Mimin belum keluar?" tanya Lydia dengan duduk di kursi yang bersebelahan dengan Handan.
"Sepertinya pertanyaan Mimin jauh lebih banyak. Bagaimana tadi pertanyaanya gampang?" tanya Handan dengan mengulas senyum samar.
"Masih bisa di jawab dengan baik, itu tandanya bisa di bilang gampang."
"Yah, karena kalian tulus merawat Iko jadi pertanyaanya pun gampang."
"Ngomong-ngomong kasus David gimana?" Mendengar uacapan Handan Lydia jadi teringat akan kasus David dan Mimin.
"Semuanya berjalan lancar, justru yang sepertinya alot kasus kalian. David tidak melakukan pembelaan apa pun, dia benar-benar mengakui semuanya dan sepertinya juga tidak akan melakukan banding apa pun, dan akan menerima apa pun itu putusan hakim. Kasus seperti ini akan cepat selesai paling dua kali pertemuan, berbeda kalau lawan orang yang keras seperti wijaya pasti episodenya akan panjang."
Lydia menghela nafas dalam dan membuangnya perlahan. "Entah terbuat dari apa orang itu. Aku heran ada orang yang suka bikin keributan, bukanya dari pada bikin keributan kaya gini buang-buang waktu mending fokus bekerja. Kalau kaya gini hanya buang-buang waktu saja."
__ADS_1
Mendengar ucapan Lydia, Handan pun tertawa renyah. "Kalau orang berpikir seperti kamu semua, lalu aku tidak ada kerjaan Lydia."
"Yah, aku tahu, abis gemes banget aku lihatnya."
"Jangan terlalu diambil hati, anggap saja laki-laki itu terlalu cinta dengan kita sehingga ia ingin terus melihat muka kita." Suara Mimin pun menyela obrolan Handan dan Lydia.
"Gimana pertanyaanya? Susah tidak?" tanya Lydia yang melihat Mimin terlihat tenang-tenang saja.
Wanita itu pun menggelengkan kepalanya dengan lemah. "Semuanya aman. Mau ngobrol terus apa mau pulang?" tanya Mimin tetapi malah wanita bercadar itu duduk di samping Lydia.
"Gimana deg-degan?" tanya Lydia dengan mengusap tangan Mimin yang berkeringat.
"Sama dengan kamu, deg-degan takut salah jawab."
"Mau makan dulu?"
"Lapar sih, tapi masih ada kerjaan."
"Kerjaan bisa nanti lagi, biarkan Mas Aarav dan Mas Hadi yang kerjakan. Mereka tidak akan pecat kamu."
"Tidak akan lama kan?
"Enggak makan aja, sekaian cari ikan, anak kamu minta dibelikan ikan."
Mimin mengerutkan alisnya. "Ikan, untuk apa? Bukanya kemari Mas Hadi sudah belikan cukup banyak," tanya Mimin heran.
"Sudah mati dan sekarang ingin beli lagi."
"Kok bisa?"
"Panjang ceritanya kalau diceritakan di sini keburu pingsan aku kelaparan. Yuk cari tempat makan dulu. setelah itu aku ceritakan bagaimana pintarnya anak kamu."
Dua wanita itu pun tampak asik bercerita, dan mengabaikan Handan yang jomblo.
__ADS_1
Bersambung....
...****************...