Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Dia yang memulai


__ADS_3

"Sekuat apapun kalian mengelak berselingkuh, tetapi waktu yang akan menjawabnya. Berpura-pura anak dari orang lain, nyatanya anak dari hubungan gelap. Kalau aku sih malu berhijab, tetapi kelakuan menjijikan tidak lebih baik dari seorang pellacuur."


Deg!! jantungku seolah saat itu juga berhenti berdetak. Sekuat aku berusaha sabar, kalau disamakan dengan pe-la-cur siapa yang akan tahan? Aku mencoba tetap mengembangkan senyumku meskipun hati sakit, dan tidak terima dikatakan hina seperti itu, tetapi aku yakin Mbak Siska hanya ingin membuat aku terpancing. Sebisa mungkin aku tetap sabar. Meskipun aku bukanlah orang yang penyabar-penyabar banget. Aku manusia biasa, kalau orangnya keterlaluan yang udah tak ajak gelut sekalian.


"Jangan bicara sok tahu kalau memang Anda tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Pasti Anda pernah dengar istilah ucapan adalah doa, doa yang baik akan berbalik pada kita dengan kebaikan, begitupun doa yang jelek akan berbalik pada Anda dengan keburukan. Jangan sampai niat Anda yang ingin membuat saya kesal justru menjadi doa buruk untuk Anda. Lagipula saya berhijab bukan merasa paling suci, tetapi saya berhijab untuk mentaati perintah Allah. Saya paham betul sebagai seorang hamba saya masih jauh dari kata sempurna dan baik, tetapi saya tahu gunanya mulut itu selain untuk makan mamang untuk berbicara, tetapi bicaranya sebisa mungkin tidak menyakiti hati orang lain. Karena saya juga punya hati apabila ada yang mengusik saya juga marah sama seperti yang lain jadi kalau tidak mau diusik saya memilih diam." Meskipun hati ini sudah dikuasi dengan api kemarahan yang meletup-letup nyatanya aku masih berusaha untuk tetap berbicara baik, jangan sampai niat aku dan suami untuk kondangan justru membuat malu suami dan mertuaku.


"Pantas saja Aarav kepincut, mulutnya manis banget. Pasti selain punya keahlian ilmu bela diri ternyata pandai juga bersilat lidah," balas Mbak Siska, yah aku paham betul sekalinya manusia sudah dikuasai dengan kebencian, makan kita berbicara baik pun akan tetap salah, jadi lebih baik diam.


Yah, aku yang tidak ingin menanggapi Mbak Siska karena aku berbicara kebenaran dan kebaikan pun akan tetap salah di mata wanita yang ada di hadapanku itu, dan juga rasanya percuma menasihati orang yang benci sama kita, ucapan kita hanya dianggap seperti sampah.


Aku pernah mendengar ucapan orang baik. "Wanita muslimah menggunakan mulutnya untuk mengatakan kebenaran, suaranya berucap untuk kebaikan, telinganya mendengar untuk welas asih, dan hatinya untuk mencintai mereka yang tidak menyukainya." Yah itu tandanya aku harus belajar menyukai Mbak Siska yang tidak menyukai aku.


Kembali dalam meja kami hanya ada kebisuan, meskipun aku tahu Mbak Siska sangat marah karena aku mengacuhkan ucapnya, tetapi sungguh hatiku jauh lebih tenang dan tidak semarah tadi, mungkin kalau aku menanggapi ucapan Mbak Siska, aku akan mengucapkan ucapan yang menyinggungnya. Karena tabiat buruk ku adalah sekalinya ngomong, aku ingin lawanku tahu diri. Terserah hatinya sakit atau memang sadar diri. Yah, dulu aku adalah orang yang kalau ngomong tanpa disaring. Terserah orang lain sakit hati atau tidak aku akan menggunakan mulutku untuk menyumpal mulutnya hingga diam dalam satu kali ucapan. Kalau nggak bisa diam juga aku ajak ribut sekalian. Tapi itu dulu yah, sekalian nggak lah, udah berusaha memperbaiki diri.


Namun, sekarang rasanya malas, karena aku ingin menggunakan mulut ini hanya untuk ucapan yang baik-baik saja. Aku tetap membiarkan susana canggung ini. Pandangan mataku kembali tertuju pada pelaminan menatap pengantin yang sedang berbahagia.


Dan pandangan mataku pun tertuju pada Mas Aarav yang langsung menghampiriku ketika tahu ada Mbak Siska di hadapanku. Mungkin mas bojo cemas kita akan saling sendir, meskipun kalau aku meladeninya, pasti lidah kami sudah saling menebas lawan dengan ucapan paling menyakitkan.


"Maaf aku lama, habis kalau sudah ketemu teman suka panjang obrolannya," ucap Mas Aarav begitu datang ke meja kami, dan tangannya mengambil minuman di meja dan siap meneguknya.

__ADS_1


"Duduk Mas, nggak baik minum sambil berdiri," balasku sembari menepuk kursi yang kosong, samping Mbak Siska, di mana aku dan Mbak Siska memang duduk berjarak kursi kosong satu. Namun bukanya mas suami duduk di kursi yang aku tunjuk, justru muter dan duduk di sampingku.


"Kamu di sini Sis, gimana sudah pindah ke rumah bekas kita belum?" tanya Suami dengan suara yang terdengar seperti meremehkan, aku yang merasa bukan wewenang ku pun hanya diam, dari pada berbicara yang ada makin aneh  lagi nanti Mbak Siskamenilai ku.


"Sedang di renovasi, maklum penghuni sebelumnya teledor merawat rumah jadi banyak kerusakan di mana-mana dan didiamkan saja." Aku cukup tersenyum dan menunduk mendengar ucapan Mbak Siska. yang sudah jelas ditunjukkan untuk kami.


"Yah bagus dong, jadi kelihatan baru lagi. Semoga betah yah, dan juga tenang tinggal di rumah itu. Pastinya udah tenang dong kalau udah dapat rumah, nggak perlu usik kita lagi, cari kebahagiaan lagi saja dari yang lain, karena kamu ngintilin kita terus yang ada bukan makin tenang malah makin nggak bisa move on," balas mas suami, aku masih tetap membiarkan mereka berdebat seru juga melihat wajah merah Mbak Siska.


"PD banget sih nggak bisa move on. Aku juga ke sini mau ngucapin selamat untuk anak kalian, akhirnya di publish juga. Jadi bener kan kalau kalian sudah berhubungan sejak lama. Jadi benar kan, kalau kamu meminta cerai dari aku karena wanita ini?" tanya Mbak Siska lagi, ketika dia tahu ngomong dengan aku hanya dikacangin, sekarang menyerang mas suami.


Aku semakin menajamkan teling apa kira-kira yang akan diucapkan oleh mas suami.


Hati ini langsung longsor ketika mendengar jawaban mas suami yang dengan sabar justru meminta agar Mbak Siska mendekatkan diri pada Penciptanya. Ya, tentu aku berharap Mbak Siska mendengarkan ucapan mas suami, karena pahalanya besar sekali kalau kita membawa satu hamba untuk berjalan di atas perintah Allah.


"Kebanyakan main sama yang kaya gini (Siska nunjuk kearah Lydia dengan dagu) jadi sibuk ngurusin neraka dan surga orang lain."


Aku kembali menghela nafas dalam dan membuangnya dengan perlahan ketika mendengar ucapan Mbak Lydia padahal aku berharap kalau aku akan mendengar jawaban yang baik dari bibir bergincu merah, tetapi nyatanya sepertinya wanita itu tipe yang berpendirian keras dan selalu merasa benar.


Dengan lembut aku usap pundak mas suami. "Mas, kita masih lama? Lydia takut Iko nangis. Kasihan kalau kelamaan. Lagian udah kangen sama jagoan." Aku berusaha mengalihkan obrolan mereka yang aku tahu pasti akan terus saling serang tidak ada hentinya.

__ADS_1


Biarkan Mbak Siska tahu betapa bahagianya rumah tangga kami, jadi semakin Mbak Siska ingin masuk ke dalam rumah tangga kami, paling juga hatinya yang akan panas. Siap-siap aja liat kebucinan kami, biar makin mateng tuh hati.


"Ya udah Mas cari Mamih, dan Papih dulu untuk pamitan." Mas Aarav langsung bangkit dari duduknya dan langsung mengedarkan pandanganya mencari orang tuanya untuk berpamitan pulang. Jadi ini perasaanku sebelum berangkat tidak tenang akan bertemu dengan Mbak Siska toh.


"Oh iya Mbak, berhubung besok adalah awal Ramadhan, saya pribadi maupun mewakilkan Mas Aarav, minta maaf kalau dari kata dan sikap kami banyak membuat Mbak Siska marah dan kecewa. Saya hanya ingin kita tetap menjadi orang yang saling mengenal, tanpa harus saling menjatuhkan. Dan kalau Mbak Siska mau bertemu dengan anak kami datanglah ke rumah kami. Lydia yakin Mbak Siska sudah tahu di mana kami tinggal." Aku memulai untuk berbicara lagi, tetapi bukan untuk meladeni ucapan Mbak Siska, tetapi untuk mencoba mengobrol baik-baik.


"Dih sudi banget, aku sibuk kerja, jadi nggak ada waktu buat ngawasin kalian apalagi untuk mengunjungi anak hasil perzinahan rugi banget." Balasnya masih dengan ucapan yang menyakitkan.


"Jangan ngomong gitu Mbak. Meskipun Iko tidak lahir dari rahim aku, tetapi aku tahu ibunya orang baik, dan dia lahir dari hasil pernikahan yang sah. Jadi lebih baik Mbak Siska jangan berbicara seperti itu. Kalau ibu kandung Iko tahu pasti akan sangat sedih."


Aku mengusap dadaku yang sakit mendengar ucapan Mbak Siska. "Semoga ini semua tidak jadi dendam yang akan hangus membakar hati. Semoga tak jadi benci yang mengisi sepanjang hari. Mungkin hanya sabar yang akan menjadi kunci. Meskipun aku tahu, ada banyak cara untuk menghakimi."


Yah aku memilih banyak cara untuk menyerang balik ucapan Mbak Lydia, tapi. sepertinya kembali diam akan jauh lebih baik.


Bersambung....


Salam nih dari Papah dan Bunda nya Iko, katanya selamat berpuasa dan tetap semangat....


__ADS_1


__ADS_2