
"A ... aku tidak bisa menikah dengan Had!" Mimin menjawab dengan pelan.
Mendengar jawaban Mimin, Aarav pun terkekeh dengan renyah.
"Jadi ceritanya sekarang kamu mau menghindar, gara-gara tidak mau menikah dengan Hadi. Kamu bicarakan lah dengan Hadi kasih alasan yang jelas biar Hadi bisa ngelupain kamu. Jangan kaya gini caranya," balas Aarav dengan suara yang kembali dingin.
"Aku akan bicarakan dengan Mas Hadi." Mimin masih menunduk tidak berani menatap balik Aarav yang sangat jelas dari sorot. wajahnya laki-laki itu tengah marah besar.
"Yah, itu memang jauh lebih baik. Karena yang punya perasaan bukan hanya cewek saja. Cowok juga perasaan apa lagi Hadi sudah berkorban banyak sama kamu. Bahkan Hadi pernah menyelamatkan kamu dari David, entah apa jadinya kalau saat itu Hadi tidak datang menolong kamu, mungkin kamu sudah tidak ada di dunia ini, atau justru kamu kembali dihadapkan dengan masalah yang jauh lebih rumit dari sebelumnya. Hadi juga laki-laki yang baik, tulus sayang sama kamu. Bahkan Lydia yang awalnya ragu kamu akan dapat laki-laki baik setelah melihat betapa tulusnya Hadi sayang sama kamu dan Iko. Lydia pun mendukung hubungan ini. Orang tua Hadi pun sangat mendukung kamu dengan Hadi, bahkan menerima Iko seperti cucunya sendiri. Pertimbangkan juga perasaan orang-orang yang sudah mendukung hubungan kalian. Pertimbangkan perasaan orang tua Hadi, dan dipertimbangkan lagi sebanyak apa pun laki-laki yang datang pada kamu dan ingin menjadi suami kamu belum tentu kamu akan mendapatkan mertua yang sebaik orang tua Hadi. Kamu pikirkan baik-baik jangan egois." Aarav menatap Mimin dengan tajam.
Mendengar nasihat Aarav wanita bercadar itu hanya bisa diam saja.
"Mungkin kalau kamu bukan sahabat dari istriku dan kamu bukan mantan dariku dulu. Aku tidak akan seperti ini. Aku hanya ingin kamu bahagia dengan orang yang bisa terima kamu apa adanya. Hadi datang saat kamu benar-benar terpuruk. Tubuh kamu hanya tulang berbalut kulit, tapi Hadi tidak lihat itu sebuah kekurangan Hadi justru melihat itu sebagai kelebihan kamu ia bisa melihat kamu wanita yang kuat dan mandiri. Hingga sekarang kamu sudah bisa dikatakan jauh lebih menarik. Penampilan kamu pun dari orang melihatnya sangat paham dengan agama dan kebaikan, jangan nodai anggapan pakaian yang kamu gunakan dengan tingkah kamu yang tidak baik. Kamu pikirkan juga itu. Lihatlah di dunia ini banyak yang menilai orang dari luarnya. Jangan sampai ada yang beranggapan pakai cadar, tapi prilakunya buruk. Pertimbangkan itu Min. Kamu masih punya waktu untuk memperbaiki keputusan kamu."
Mimin hanya membalas nasihat Aarav dengan mengangguk pelan.
"Tolong pikirkan ucapan aku, karena aku menasihati kamu bukan karena benci, tapi karena kami perduli, bukan sama kamu aja tapi dengan orang-orang yang perduli sama kamu. Jangan salah arti." Aarav pun langsung kembali menatap ke depan.
"Terima kasih nasihatnya. Aku akan coba pertimbangkan lagi keputusan aku," balas Mimin tangannya mengusap air matanya yang sejak tadi turun dengan deras.
"Yah. Kamu kembalilah ke kantor. Kerjakan pekerjaan kamu yang terbengkalai."
Tanpa menunggu lama Aarav pun melajukan mobilnya. Dadanya sesak setelah menasihati Mimin seolah laki-laki itu yang sedang merasakan masalah ini.
__ADS_1
********
Di rumah sakit.
Tepat pukul satu siang ke dua orang tua Hadi pun sampai di rumah sakit di mana Hadi dirawat. Dan di sana kebetulan Hadi juga sedang menunggu jadwal operasi yang akan dilakukan di jam dua siang. Setelah menerima hasil lab di jam sebelas dan langsung di lakukan operasi hari ini juga.
Lydia pun masih menjaga Hadi, tentu dengan Mami Misel dan Iko sedang tidur siang setelah makan.
"As'salamualaikum...." Tiga orang masuk setelah mengetik pintu ruangan yang Hadi tempati.
'Wa'alaikumussalam..." balas Hadi, Lydia dan Mami Misel dengan pelan karena Iko sedang tidur.
Orang tua Hadi langsung terkejut ketika ada dua orang yang sedang menjaga Hadi mereka langsung bersalaman, dan mengucapkan terima kasih karena telah menjaga Hadi.
"Namanya sakit Mam, mungkin ini teguran agar Hadi lain kali lebih baik lagi dalam menjaga pola makan, olahraga dan lain sebagainya. Jangan nangis nanti malu sama Mamah dan istrinya Aarav." Hadi menunjuk Mami Misel dan Lydia yang duduk tidak jauh dari ranjang Hadi.
"Mamah hanya takut kalau kamu kenapa-kenapa. Kamu kan janji mau kasih cucu buat Mamah." Arum kembali mendesak Hadi agar cepat memberikan cucu untuk dirinya yang sudah tidak lagi muda.
"Tenang Mah, tuh cucu Mamah lagi tidur." Hadi dengan percaya diri memperkenalkan Iko yang sedang tidur sebagai cucu untuk Arum.
Mendengar ucapan Hadi Arum pun menatap anak yang sedang tidur.
"Apa yang sedang tidur, Iko?" tanya Arum pada Lydia.
__ADS_1
"Iya Tan, ini Iko anaknya Mimin. Sekarang ibunya sedang kerja. Tadi udah sempat ke sini." Lydia menjawab dengan pelan.
"Oh ya Tuhan, akhirnya bisa ketemu juga dengan anak tampan ini." Arum berjalan menghampiri Iko dan melihat dari dekat betapa tanpanya Iko.
"Gak heran kalau difoto tampan dan ganteng banget. Lagi tidur aja sangat menggemaskan." Arum terus matap calon cucunya dengan gemas rasanya tidak sabar ingin bermain dengan Iko.
"Kamu kapan operasinya Di." Kali ini Ahmad yang bertanya pada putranya.
"Nanti jam dua Pah."
"Masih satu jam lagi. Mulai saat ini kamu harus jaga kesehatan jangan banyak menghabiskan waktu untuk bekerja akibatnya seperti ini. Handan bilang kamu sering ambil lembur. Untuk apa? Apa kebutuhan hidup kamu di kota ini sangat besar?" cecar Ahmad yang sebenarnya kurang setuju Hadi tinggal di kota ini. Karena ya seperti ini akibatnya. Tidak ada yang menjaga, tidak ada yang menginginkan untuk istirahat alhasil jadi kecolongan dan sakit.
"Bukan hanya kebutuhan sih Pah, tapi kan sekarang Hadi udah punya banyak karyawan jadi mau tidak mau Hadi ikut bertanggung jawab dengan mereka." Sebagai bos yang baik tentu harus mempertimbangkan kesejahteraan karyawan juga.
"Ngomong-ngomong, rencana nikah kamu dengan Mimin gimana? Kalau bisa dipercepat lah. Biar kamu ada yang merawat dan Mamah dan Papah tidak cemas melepaskan kamu tinggal sendirian di kota ini. Kalau ad istri pasti kamu ada yang mengatur, dan kita bisa tenang meskipun kamu tinggal berjauh dengan kami." Ahmad pun berpikir hal yang sama dengan Lydia dan yang lainnya.
"Iya Pah, nanti dibicarakan lagi dengan Mimin."
Tentu sekarang Hadi tinggal menunggu orang suruannya memberikan informasi mengenai keluarga Mimin. Agar dia bisa secepatnya tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarga Mimin versi ayah dan abangnya Mimin.
Bersambung...
...****************...
__ADS_1