Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Rindu Yang Terobati


__ADS_3

"Aduh Sayang, Iko mau pulang kampung yah, tinggalin Oma dan Opa dong," ucap Misel dengan berpura-pura sedih karena akan di tinggal cucunya.


"Iya Oma, Opa, kan nanti Iko pulang lagi," jawab Iko dengan lancar, dan terlihat seperti anak jauh lebih tua dari umur. Mungkin pengaruh bermain yang banyakan dengan orang dewasa sehingga cara bicaranya sangat dewasa. Tidak terlihat seperti anak-anak.


"Tapi nanti Opa dan Oma kesepian dong." Sony tidak mau kalah berpura-pura sedih. Yah, pasti sedih benaran juga sih, apalagi sudah terbiasa rumahnya hampir setengah tahun tinggal bersama anak dan cucunya rumah selalu ramai dengan Iko yang sangat pandai berbicara. Dan sekarang ditinggal mudik pasti sedih sepi dan kebayang-bayang celoteh Iko.


"Tidak Opa, kan bisa telpon."


Mendengar jawaban Iko justru opa dan omanya makin gemas.


"Ya udah Iko pulang kampung yah, salam untuk Eyang Uti dan Eyang Akung. Hati-hati di jalan dan pulang lagi ke Jakarta dengan selamat yah." Akhirnya Misel dan Sony merelakan anak, mantu dan cucunya pulang kampung juga.


"Siap Opa dan Oma, da-dah." Iko langsung berdadah-dadah setelah bersalaman dengan kakek dan neneknya.


"Mih, Pih Lydia pamit dulu yah." Lydia bersalaman dengan mertuanya, begitupun Aarav.


"Iya kalian hati-hati yah." Lydia dan Sarah mengangguk dengan bersamaan.


Setelah berpamitan Aarav dan Lydia pun langsung meninggalkan rumah yang selama ini mereka tempati bersama untuk sembunyi. Niatnya untuk bersembunyi agar tidak dapat ada yang menerror lagi dari Wijaya, tetapi justru semakin betah tinggal di rumah itu.


Perjalanan pun lancar tidak ada kendala apa-apa. Iko pun tidak rewel di dalam mobil, selama menempuh perjalanan yang memakan waktu hampir sepuluh jam. Anak-anak Aarav dan Lydia yang masih di dalam perut pun tidak rewel, Lydia lebih banyak tidur sepanjang perjalanan, sehingga tugas jaga Iko benar-benar diambil alih oleh Aarav sedangkan untuk mengemudi diserahkan pada sopir. Sekarang Aarav kalau ke mana-mana bersama keluarganya tidak bisa mengemudi karena sangat repot harus jaga Iko, yang hampir apa saja yang dilihat ditanyakan, dan otomatis Aarav harus melihatnya agar bisa menjawab.


"Alhamdulillah sudah hampir sampai, Sayang bangun sudah hampir sampai." Aarav membangunkan Lydia yang masih pulas tertidur. Dengan mata yang masih berat Lydia pun membuka matanya.


"Bunda sudah hampil sampe, bangun." Iko tidak kalah antusias untuk mengunjungi rumah eyangnya. Meskipun anak itu belum pernah ke kampung halaman orang tuanya, tapi sudah sangat antusias dan banyak agenda yang akan dilakukannya terutama mancing bersama papahnya.


"Oh iya sudah sampai yah. Bunda ngantuk berat Sayang." Lydia pun mulai duduk dan mengambil ponselnya untuk memberi kabar pada ke dua orang tuanya, bahwa dirinya sudah hampir sampai ke rumahnya.


*****

__ADS_1


[Hah, kamu sudah hampir sampai ke rumah? Kamu sedang pulang Mbak? Kok nggak kasih kabar?] tanya Isah dengan panik dari balik telepon.


[Iya Bu, kangen dengan keluarga. Kata Mas Aarav biar buat kejutan,] balas Lydia biarkan jual nama suaminya toh Aarav juga setuju agar tidak memberikan kabar dulu pada keluarga di kampung.


[Tapi kalau kamu pulang dadakan gini, Ibu nggak ada suguhan, nggak masak apa-apa juga.] Sedangkan biasanya kalau ada sodara, yang datang dari jauh disiapkan suguhan dan makanan yang lezat-lezat, apalagi anak sendiri sudah pasti penyambutanya harus lebih.


[Enggak usah repot-repot Bu, lagian kaya sama siapa aja. Lydia itu anak Ibu kalau lapar ya bisa masak sendiri, toh sudah biasa dulu juga kalau lapar masak kan.]


[Ya udah kalau gitu ati-ati di jalan yah. Ibu mau nyusul bapakmu di penggilingan padi.] Lydia pun langsung memutuskan sambungan teleponnya.


Sedangkan Isah pun langsung meminta orang rumah untuk menyusul suaminya yang sedang bekerja di penggilingan padi, sejak suaminya tidak lagi menjabat kepala desa, keseharianya disibukan dengan mengurus beberapa penggilingan padi, dan sawah yang terbentang luas.


Setelah urusan kasih kabar suaminya diserahkan pada orang lain. Isah pun langsung menyiapkan masakan alakadarnya untuk anak, menantu dan cucunya.


"Lysa, mbakmu sedang dalam perjalanan pulang, kamu bantu Ibu masak yah." Isah langsung memanggil anaknya yang masih tinggal dalam satu rumah dengan dirinya.


"Hah, Mbak Lydia mau pulang?" tanya Lysa kali ini terlihat raaut wajah bahagia dari Lysa. Memang akhir-akhir ini hubungan Lysa dan Lydia sudah jauh lebih baik, bahkan sering tukar kabar dan menanyakan keponakanya. Begitupun Lydia dengan Luka sudah mulai membuka komunikasi. Hanya dengan Lysa yang masih belum saling berbaikan.


Tidak menunggu lama Lisa pun langsung membantu ibunya, mesiapkan bumbu dan membantu menyiapkan sayuran dan menggoreng ikan serta memasak semur ayah kampung. Seketika rumah besar itu pun disibukan dengan kegiatan masak memasak. Harum masakan pun menyeruak dari masakan yang sudah setengah matang.


"As'salamualaikum ...." Suara Lydia dan Iko yang menirukan bundanya mengucapkan salam.


"Wa'alaikumussalam ..... Hai ganteng. Isah langsung memeluk cucunya dengan gemas, bahkan mencium pipinya dengan berkali-kali.


"Ya Ampun Mbak anaknya ganteng banget sih." Lisa pun tidak kalah mencium Iko.


Lydia hanya menjawab dengan senyuman setelah bersalaman dengan  ibu dan adiknya.


"Lagi masak apa Bu? Kok wangi banget?" tanya Lydia memang masakan ibunya sangat lezat jadi jangan heran kalau Lydia pulang juga memang ada niat untuk  makan hasil olahan sang ibu dengan sepuasnya.

__ADS_1


"Masak semur ayam kampung, tumis kangkung, genjer sama masak ikan digoreng. Abisan kamu pulang nggak kasih kabar apa-apa jadi Ibu masak juga seadanya. Itu juga baru setengah matang di masaknya," jawab Isah dengan mengusap perut putri sulungnya yang sudah mulai membuncit.


"Yeh ... makan pake ikan." Iko yang memang sangat suka ikan otomatis langsung bahagia ketika mendengar ada goreng ikan.


"Wah, Iko suka ikan yah?" tanya Lysa, gemas dengan tingkat anak tampan itu.


"Banget. Bahkan dia kayaknya mau ternak ikan di rumah setiap sudut rumah hampir dipenuhi oleh ikan." Kali ini Aarav yang menjawab, dia memang merapihkan barang bawaanya dulu sehingga masuk telat.


"Eh, Mas sehat?" Lysa dan Isah langsung menjabat tangan Aarav. Dalam sekejap pun Lisa akui suami kakanya memang sangat tampan, sangat beruntung kakaknya yang mendapatkan suami tampan, baik dan juga kaya.


"Ngomong-ngomong Bapak belum pulang Bu?" tanya Lydia.


"Belum paling sebentar lagi. Kamu duduk dulu biar ibu selesaikan masak pasti Iko sudah lapar pengin makan pake ikan." Isah bergegas ke dapur lagi, begitupun Lisa.


"Mas tolong jaga Iko yah, Lydia mau buatkan minum dulu buat Mas mau kopi atau teh?" tanya Lydia.


"Air putih aja Yang, jangan yang manis-manis Mas sudah jarang olahraga." Yah, sejak Lydia yang hamil Aarav jadi tim mager banget, udah gitu makanan yang masuk dalam tubuhnya tidak lagi dijaga, sudah pasti sudah mulai membangun persatuan lemak di tubuhnya. Kalori masuk dengan keluar banyakan yang masuk cadangan makanan pun semakin banyak. Dan akan sangat bahaya kalau ditampah gula-gulaan, akar dari segala pernyakit.


"Bunda Iko mau susu ...." rengek Iko.


"Ok Sayang, tunggu yah Bunda bikinkan buat Abang yang baik, karena sudah baik tidak rewel di mobil." Lydia mengusap-usap rambut buah hatinya.


"Itu karena ada Mas, Sayang. Kalau tidak ada Mas sudah jelas Iko rewel," sela Aarav dengan nada bangga karena Iko sangat dekat dengan dirinya bukan hanya dekat tapi Iko juga sangat nurut kalau sama Aarav.


"Iya deh, makasih Sayang." Lydia pun memberikan senyum terbaiknya, agar Aarav tidak lagi iri.


Benar saja calon bapak tiga anak itu langsung terlihat bahagia.


#Dih Aarav gitu ajah iri

__ADS_1


Bersambung.....


...****************...


__ADS_2