
Mimin mengangkat wajahnya. "Bukanya saya menolak niat baik Mas Hadi, tapi kalau Mas mau menunggu sampai masalah saya dan ayahnya Iko serta kakeknya Iko selesai saya akan pertimbaangkan lagi niat baik Mas Hadi, untuk saat ini saya benar-benar ingin menyuelesaikan masalah-masalah yang membelit saya. Saya tidak mau kalau masa lalu saya nanti akan mengganggu hubungan saya di masa datang. Saya benar-benar ingin menyelesaikan masa lalu saya dengan benar-benar selesai dan setelah itu saya akan fokus dengan masa depan saya."
Mendengar jawabab Mimin, hati Hadi lebih tenang ia tersenyum. "Tidak apa-apa aku pun ingin kamu selesaikan masalah kamu dengan keluarga David dulu, bukan aku tidak mau direpotkan dengan urusan kalian, tapi aku hanya ingin kita benar-benar berangkat dengan hati yang sudah bersih dengan kisah-kisah sebelumnya. Dan menjalani rumah tangga yang diridhoi Alloh."
"Amin, terima kasih atas pengertianya."
Hadi membalas dengan anggukkan dan senyum sumringah.
"Ya udah ayo lanjut lagi, ini pembahasan penting, tapi ngomong di depan toko ikan hias kaya gini." Hadi pun langsung menyalakan kendaraanya dan menginjak pedal gas hingga perlahan mobil melaju meninggalkan toko ikan hias.
Tidak harus sampai satu jam perjalanan, kini Hadi dan Mimin sudah sampai di rumah mewah dengan penjagaan super ketat. Sesuai yang Mimin bayangkan anaknya sudah duduk rapi menunggu kedatanganya tentu dengan bak di sampingnya jangan ditanya isinya apa, sudah jelas ikan-ikan peliharaanya.
"Hay Sayang, maaf Mamah lama sampainya yah," sapa Mimin dengan berjongkok di depan tubuh kecil jagoanya.
"Iya lama, Iko sampe mau nangis ...." adu anak kecil itu dengan melipat tanganya di depan dadanya sedangkan Lydia hanya mengulum senyum di belakang Iko yang semakin pandai untuk protes kalau ada sesuatu yang tidak iya sukai.
"Iya maaf yah Sayang, tadi Mamah mampir belikan ikan dulu buat Iko. Apa Iko mau lihat?" tanya Mimin, dengan mencium tangan anak tampan itu.
"Mau, mana." Iko langsung lupa dengan marahnya dan mencoba turun dari tempat duduknya dengan tidak sabar.
"Dih kaya gitu dong marahnya, udah baikan..." Lydia malah tertawa geli dengan kelakuan anaknya.
"Tara... Iko dapat kado ikan yang bagus." Hadi membawa aquarium yang sengaja di belikan untuk calon anaknya.
"Waw... bagus sekali ...." Iko langsung tak henti-hentinya bilang bagus sekali.
"Abang suka?" tanya Lydia yang melihat anaknya langsung jingkrak-jingkrak tidak sabar ingin melihat ikan yang bagus-bagus.
"Suka Bunda. Ikanya bagus. Waw keren ...."
"Kalau suka bilang terima kasih dong sama Mamah dan Om Hadi."
Mendengar ucapan Lydia, Iko langsung menatap Mimin, dan Hadi bergantian. "Telima kasih Mamah, Om."
"Peluk dong." Mimin merentangkan tanganya, agar Iko menghambur ke dalam pelukanya.
"Telima kasih Mamah, Iko suka ikanya." Ulang anak tampan itu.
"Sama-sama, dijaga yah ikannya jangan lupa kasih makan biar nggak mati, dan jangan buat mainan biar nanti ikanya beranak dan tambah banyak." Mimin mencium pucuk kepala putranya dengan lembut.
"Siap Mah." Iko bergaya hormat pada Mimin.
__ADS_1
"Om, nggak di peluk. Peluk dong." Hadi pun merentangkan tanganya seperti Mimin.
"Enggak ah, Om bau..." Iko menutup hidungnya dan sudah bersiap akan kembali melihat kado dari mamahnya.
"Wah, anak Aarav memang ngeselin. Kalau Iko mau peluk Om, nanti di kasih aquarium satu lagi."
Mendengar ucapan Hadi, Iko pun langsung mengalihkan pandanganya pada Hadi. "Bohong..." ledek Iko dengan tatapan kembali ke ikan-ikan yang cantik.
"Serius yuk lihat ke mobil. Ikannya ada di mobil." Hadi mengulurkan tanganya agar Iko mau ikut ambil aquarium yang ia belikan untuk calon anaknya.
"Om bohong nggak?" tanya Iko lagi setelah ia melihat keseriusan di wajah Hadi.
"Kalau bohong, besok Om belikan ikan yang lebih banyak lagi."
"Ok..." Langsung semangat dong.
Hadi pun tertawa renyah melihat tingkah calon anaknya. Ia benar-benar merasakan seperti punya anak sendiri, akhirnya doanya di mana ia ingin merasakan bagaimana memiliki buah hati sudah terjawab dengan kehadiran Iko. Meskipun bukan darah dagingnya tapi ikatan batin dan kedekatannya cukup untuk Hadi seperti memiliki anak sendiri.
"Waw... bagus sekali. Om ambil buluan Om, nanti ikannya mati." Iko pun langsung berjingkrak tidak sabar ingin Hadi mengambilkan aquariumnya.
Mimin dan Lydia hanya tertawa renyah lihat anak kecil itu.
"Kamu dulu lagi hamil, ngidam apa sih Min, lucu banget Iko itu. Sampai kita harus benar-benar hati-hati kalau ngomong, karena Iko akan sangat cepat ngikutinya."
"Dih pede banget, nyesel aku tanya."
Mimin hanya tertawa melihat temannya marah.
"Bunda... Bunda... lihat ikanya banyak, dan bagus-bagus." Iko langsung membertahu sang bunda kalau aquarium yang dibelikan Hadi jauh lebih bagus dan ikanya juga.
"Wah iya ikan Abang, bagus dan banyak sekali." Lydia memberikan respon antusias.
"Jadi punya Mamah bagus nggak?" celetuk Mimin, dengan wajah sedihnya.
"Bagus, tapi itu lebih bagus ...." Iko diam sejenak. "Dua-duanya bagus." Kini Iko meralat ucapanya, karena kata bundanya harus menghargai pemberian orang apa pun bentuknya.
"Terima kasih, Mamah senang Iko suka kado dari Mamah."
"Udah tuh aquariumnya ada dua." Hadi meletakan aquarium darinya dan dari Mimin berjejeran.
"Waw, bagus sekali ...." Entah ini kata WAW keberapa kali yang diucapkan bocah kecil itu.
"Kalau gitu mana peluknya." Hadi merentangkan taanganya, agar Iko mau memeluknya. Iri dong masa Mimin dapat peluk ia tidak.
__ADS_1
Iko pun tanpa pikir panjang langsung menghambur ke dalam pelukan Hadi.
"Telima kasih Om, Iko suka ikanya," ucap Iko dengan suara menggemaskan.
"Sama-sama, dijaga yah Nak ikanya, biar sehat dan pintar kaya Iko."
"Siap Om." Iko memberikan hormat sama persis dengan yang dilakukan pada Mimin.
Hadi dan Mimin pun membiarkan Iko main dengan ikan-ikanya dulu sampai puas baru diajak pulang ke rumahnya.
"Ngomong-ngomong Aarav belum pulang Lyd?" tanya Hadi mengingat mobil sahabatnya belum ada di rumahnya.
"Tadi izin lembur sedang ada meeting dengan toko milik Amora yang Mas Aarav pegang, sama ngecek supermarketnya yang lain."
Hadi mengangguk paham.
"Minum dulu Mas Hadi, Mimin, biar Iko main dulu sampai puas." Lydia memberikan teh dan beberapa kue untuk teman minum teh.
"Iya sih yang bos beneran mah sibuk terus," sahut Hadi sembari mengambil kue yang Lydia sungguh dan memakanya maklum perut lapar juga.
"Yah Mas Aarav emang bisa dibilang bos beneran, tapi penghasilanya jauh lebih besar dari Mas Hadi. Mas Aarav kan hanya dipercaya oleh adiknya dan mengurus bisnis keluarga. Kalau Mas Hadi sudah jelas milik sendiri."
Hadi hanya tersenyum mendengar ucaapan Lydia. "Amin kan saja lah."
Cukup lama Iko bermain dengan ikan-ikanya termasuk diajaak ngobrol dan menunjukan koleksi mobil-mobilan dan juga ikan yang lain. Sedangkan ketiga orang dewasa terlibat obrolan ringan.
"Sayang pulang yuk, udah hampir magrib, katanya mau bobo di rumah Mamah, Oma Sera dan Tante Olin kangen sama Iko loh," ucap Mimin, mengingat hari sudah hampir magrib.
"Ikanya ditinggal?" tanya Iko, seperti sangat berat meninggalkan ikan-ikannya.
"Hanya semalam menginapnya, besok Iko pulang dan akan bermain dengan ikan-ikan lagi." Kali ini Lydia yang membalas pertanyaan Iko.
"Ya udah deh." Meskipun berat tapi ia juga ingin menginap dengan mamahnya. "Dadah ikan.... Iko mau bobo di lumah Mamah dulu yah. Ikan jangan nangis yah."
Sontak saja yang mendengar ocehan Iko langsung terkekeh lucu.
Dari mana ceritanya ada ikan nangis. Dasar Tiko.
#Iko lagi ngelakuin ikan kenapa gak mati dia di dalam air. Tapi kalau di taro di darat mati?
Bersambung....
__ADS_1
...****************...