Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Pelukan Dari Iko


__ADS_3

"Iko, ini Ayah. Iko boleh peluk dan kenalan sama Ayah." Aarav yang melihat kalau Iko kebingungan pun membantu Mimin untuk menjelaskan siapa David itu.


"Ayah... Ayah itu apa Pah?" tanya Iko dengan polos.


Mendengar pertanyaan Iko, Aarav dan yang lainya pun cukup terkejut.


"Ayah itu sama dengan  papah Sayang." Aarav mencoba menjelaskan dengan singkat agar Iko mengerti apa yang dia maksud.


"Oh jadi Iko punya papah dua yah." Iko menujukan jari-jarinya yang menujukan lima jari.


"Iya Sayang, Iko sekarang punya Papah dua, Papah Aarav, dan ini namanya Papah David." Aarav menujuk ke David yang nampak kagun dan bangga dengan kecomelan Iko.


"Sama kaya Bunda yah Pah, Iko punya Bunda dan Mamah juga. Ye... Iko nanti dapat ikan banyak lagi dong," celoteh Iko membuat suasana haru jadi rame, dengan tingkah-tingkah lucunya.


Sedangkan Hadi dan Handan lebih memilih tetap duduk di kursinya dengan sesekali menatap ke arah Mimin dan David, yang Hadi tahu kalau David dan Mimin masih memiliki perasaan yang belum sepenuhnya hilang, tetapi hatinya juga sudah terlanjur jatuh pilihan pada sosok Mimin sehingga ia akan terus berjuang.


"Iko, boleh Ayah peluk Iko?" tanya David dengan hati-hati.


Iko justru yang merasa belum kenal dengan David mundur satu langkah, setelahnya menatap Aarav di mana Lydia berdiri di belakang Aarav, sedangkan Mimin berjongkok di samping kiri Iko, begitupun Aarav di sebelah kanan Iko.


"Kenapa Iko mundur Sayang?" tanya Mimin, dan Aarav pun memilih berdiri dan menggenggam tangan Lydia, membiarkan ini waktu Mimin dan David serta Iko, ia akan berbicara kalau dibutuhkan.


"Kata Papah, dan Bunda, Iko halus hati-hati dengan orang yang tidak Iko kenal, Mamah," jawab Iko dengan polos.

__ADS_1


"Ini Ayah, Sayang. Iko memang belum kenal dengan Ayah tapi Ayah baik kok. Ayah juga sayang dengan Iko. Ayah juga sama dengan Papah Aarav sayang dengan Iko." Mimin mencoba menjelaskan pada anaknya dengan hati-hati karena kasihan melihat David yang nampak sedih ketika melihat anaknya yang seperti tidak mau dipeluk oleh ayahnya biologisnya.


Mimin bisa merasakan betapa hancurnya David ketika anaknya jauh lebih nyaman dengan orang lain. David memang pernah salah dan membuat Mimin dan Iko menderita, tetapi kali ini laki-laki yang memakai baju tahanan itu sudah tobat dan sudah banyak perubahanya sehingga Mimin, perlahan ingin mengenalkan pada anaknya siapa ayah biologisnya. Agar David juga tetap merasakan kalau dia juga memiliki buah hati, tidak berkecil hati. Bagaimanapun. keadaannya Iko tetap anaknya sehingga Mimin tidak ingin memisahkan David dengan anaknya.


Iko menatap David sekali lagi yang nampak sangat sedih wajahnya karena Iko yang menolak di peluk oleh anaknya.


"Tapi kenapa tangan Ayah kaya gitu?" Iko menujuk tangan David yang diborgol.


Lagi, mendengar pertanyaan Iko David hanya bisa menunduk, ia memang orang jahat sehingga tidak pantas untuk dipeluk oleh Iko, itu yang ada dalam pemikiran David.


"Tidak apa-apa Min, kalau Iko tidak mau di peluk, mungkin dia takut dengan penampilan aku. Hanya melihat Iko juga aku sudah sangat bahagia. Mungkin kalau dia sudah besar akan mengerti keadaan aku, meskipun mungkin dia juga akan marah dan kecewa dengan aku karena sudah menyakiti mamahnya."


"Mas.... jangan bicara kaya gitu. Aku sudah memaafkan kamu. Aku bangga dengan kamu yang sekarang karena kamu sudah mau berubah, kamu jangan bersedih, kamu jangan berkecil hati. Setiap orang pernah melakukan kesalahan. Justru aku bersyukur dengan apa yang pernah kamu dan papah kamu lakukan pada aku, sekarang aku jadi jauh lebih kuat untuk menghadapi cobaan apa pun. Kamu tetap ayahnya Iko bagaimanapun keadaan kamu. tanpa kamu tidak akan ada Iko, aku akan tetap berbicara dengan Iko, agar dia tahu kalau kamu adalah ayah biologisnya," balas Mimin dengan suara bergetar ia tidak setega itu menghukum David dengan menjauhkan anaknya.


Setelah mendapatkan  nasihat dari Lydia, Iko pun langsung memalingkan pandanganya, dan menatap David sekali lagi, lalu perlahan kaki kecilnya melangkah menghampiri David.


"A... Ayah kenapa nangis?" tanya Iko ketika melihat mata David yang memerah.


"Ayah tidak nangis Jagoan, Ayah hanya kelilipan." David mengerjapkan matanya berkali-kali dan mencoba menarik bibirnya dengan senyum yang manis. Sangat mirip dengan Iko kalau tersenyum.


"Tapi mata Ayah melah? Kata Papah kalau matanya melah nangis. Kata Bunda kalau laki-laki tidak boleh nangis. Iko nggak boleh nangis lagi sama Bunda kalena Iko sekalang mau jadi Abang, jadi halus kuat dan nggak boleh nangis. Ayah juga dong jangan nangis."


Deg!! Semua yang ada di situ kaget dengan ucapan Iko, padahal tidak ada yang mengajari untuk berbicara seperti itu, tetapi Iko sangat pandai dan bisa berkomunikasi selancar itu.

__ADS_1


"Ya udah Ayah tidak nangis, Ayah kan juga laki-laki." David mengulas senyum bangga dengan tingkah anaknya dan mengusap air matanya dengan punggung tangan yang terborgol.


Namun, betapa kagetnya David ketika Iko maju beberapa langkah lagi dan mengusap ujung matanya yang masih ada air mata yang bandel tetap keluar dengan baju yang anaknya pakai.


"Ayah jangan nangis. Nih Abang peluk." Iko memeluk David dengan mesra. Sehingga David bukanya berhenti nangis justru ia semakin terharu dengan perlakuan David.


"Terima kasih Nak, sudah mau peluk Ayah. Ayah sayang sama kamu." David terus mencium pipi Iko dan rambutnya. Meskipun dari tingkahnya Iko seperti kurang nyaman dengan perlakukan David, tetapi anak itu tetap diam seolah membiarkan ayahnya memeluknya hingga puas.


Mimin pun langsung mengalingkan pandangan matanya, karena tidak kuasa air matanya juga ikut mengalir dengan kuat.


Andai David tidak meninggalkanya, dan memilih papahnya, mungkin kali ini ia dan dirinya akan menjadi keluarga yang bahagia dengan anak imut di tengah-tengah keluarga sebagai sumber kekuatan keluarganya, dan hubunganya dengan Wijaya pun tidak akan seperti sekarang.


Namun, jalan dari Alloh memang sangat sulit untuk ditebak sulit untuk dimengerti, tetapi banyak sekali yang Mimin dapatkan dari tiga tahun kebelakang. Ia benar-benar mendapatkan teman yang baik dan arti keluarga di mana ia tidak tahu arti keluarga sebelumnya seperti apa.


Bukan hanya Mimin yang sedih melihat pemandangan ini Lydia pun sedih dengan pemandangan di hadapannya, bahkan ia pun sampai meneteskan air mata. Sejahat-jahatnya orang kalau sudah melihat buah hatinya ia akan sangat lemah dan menjadi orang yang penuh dengan kasih sayang.


Iko pun terus mengusap punggung David seperti orang besar.


"Terima kasih Nak. Terima kasih sudah peluk Ayah ...."


Bersambung.....


...****************...

__ADS_1


__ADS_2