
"Sebenarnya aku hanya ingin menjaga perasaan kamu saja, aku tahu apabila aku langsung mengaku kalau tahu Aarav adalah teman lamaku pasti kami akan terlibat obrolan yang tidak terlalu penting dan bisa saja kami mengacuhkan kamu sehingga kamu berpikir yang tidak tidak. Itu sebabnya aku lebih baik berpura-pura tidak kenal, toh yang aku butuhkan bukan Aarav tetapi kamu," ucap Mimin yang langsung membuat aku terharu rasanya air mata ini ingin bermain perosotan.
Tanpa aku bisa bendungan air mata ini pun ke luar begitu saja ketika tahu kalau Mimin melakukan semua ini untuk menjaga perasaan aku.
"Mimin, aku terharu," balasku dengan menunjukkan wajah seperti menangis.
"Hay, aku hanya malas berlama-lama ngobrol dengan suami kamu, dan kamu juga. Itu sebabnya aku lebih memilih untuk tidak mengenal kamu, lagian kamu bayangkan kalau aku mengaku kenal sama Aarav bisa kamu bayangkan berapa jam waktu yang akan terbuang untuk ngobrol, sedangkan aku sangat lelah ingin segera istirahat," ucap Mimin, yang tetap saja aku terharu karena berkat Mimin berpura-pura tidak mengenali Mas Aarav, mas suami jadi tidak membahas Jasmin lagi.
Sepanjang perjalanan kami membahas hal. lain. Dan itu cukup membuat aku nyaman.
Kami pun siang ini ngobrol ringan hingga di jam tiga anak dari dokter sera datang sebut sama namanya Nina.
"Min, berhubung Nina sudah datang, aku pamit pulang yah kasihan Iko takut nyariin, meskipun sama Mamih Misel sudah pasti anteng," ucapku, yah meskipun aku sejak tadi mengurus Mimin dan lain sebagainya, tetapi aku tetap bertukar kabar dengan mamih mertua dan bahkan Mamih Misel mengirimkan foto-foto Jagoanku dan juga vidio bayi lucu ku yang selalu membuat aku ingin cepat-cepat pulang.
"Iya, terima kasih yah kamu sudah mau membantu aku untuk memberikan pengobatan ini, aku tahu biaya yang kamu gunakan tidak murah, aku ingin pakai uang David, tetapi takut keberadaanku terlacak," ucap Mimin yang mana aku langsung menggelengkan kepala tanda tidak setuju.
"Kamu jangan sampai pakai uang dari ATM David nanti mereka akan menemukan keberadaan kamu, akan sangat bahaya untuk Iko, masalah uang itu uang pribadi aku kok, dari usaha yang pernah kamu ajarkan pada aku yah, dulu kamu pernah mengajarkan pada aku bisnis tempat finest dan sekarang aku sudah punya tiga cabang dan hasil untungnya aku gunakan untuk biaya kamu, jadi kamu jangan merasa tidak enak aku ikhlas, asal kamu tetap harus bayar dengan kesembuhan kamu," ucapku dengan memamerkan berkat ide bisnis dari Mimin aku bisa memiliki tabungan dan memberikan lapangan pekerjaan untuk beberapa karyawanku, bagi aku itu semua sudah sangat hebat.
"Itu bukan karena aku, tetapi memang kamu yang pandai mengatur keuangan," balas Mimin dengan mengacungkan dua jari jempolnya.
__ADS_1
"Nina, saya pulang dulu yah, maaf kalau saya merepotkan kamu, harus membantu jaga Mimin, nanti kalau ada apa-apa dengan Mimin kamu segera infoin saya yah, ini nomor saya." Aku mengulurkan kartu nama agar di simpan oleh Nina.
"Tidak apa-apa Mbak, lagian mau di rumah atau di rumah sakit sama aja kok," balas Nina dengan ramah, sama seperti sang ibu yang sangat ramah, anaknya pun memiliki sifat yang sama.
Setelah aku menitipkan Mimin pada Nina, dan sudah berpamitan pada Mimin dengan memberikan segudang nasihat, aku pun langsung berjalan untuk pulang. Tentu sebelumnya aku berkirim kabar pada Mas suami.
[Mas, Lydia sudah selesai dan saat ini mau pulang, Mas masih di kantor atau sudah mau pulang juga] Itu adalah pesan yang aku kirimkan pada Mas suami, mengingat saat ini sudah hampir menunjukkan pukul empat sore, di mana biasanya kalau tanpa adanya meeting dan pekerjaan yang menggunung jam empat adalah waktu Mas suami pulang.
Tidak lama pun aku merasakan kalau ponselku kembali bergetar. Dan tangan ini segera membuka pesan yang masuk. Yah itu adalah pesan balasan dari Mas suami yang mana Mas Aarav memang selalu cepat dalam mengirimkan balasan.
Yang pertama aku lihat adalah Mas suami sedang bersama Tuan Hadi di pinggir danau, entah sedang apa mereka.
[Kamu pulang duluan saja Sayang, Mas sedang ada urusan dengan Hadi, dan mungkin pulang akan telat,] Dan itu adalah pesan balasan dar Mas suami. Kira-kira apa yang sedang di bahas oleh Mas Aarav dengan Taun Hadi yah? Apakah mereka sedang membahas mengenai pembicaraan dalam pekerjaan, atau ini ada hubungannya dengan rencana Mas suami untuk melindungi Iko dan Mimin?
Setelah aku membalas lagi pesan Mas suami, aku pun langsung kembali mengayunkan kaki ini untuk menuju parkiran rumah sakit di mana sopir masih setia menunggu. Sebenarnya aku bisa mengemudi sendiri, tetapi aku yang masih sangat awam dengan jalanan ibu kota pun merasa kalau membawa mobil sendiri bukanya cepat malah yang ada bisa-bisa semakin lama di jalan alias nyasar.
Tidak menunggu waktu lama, aku pun kini sudah kembali ke rumah tentunya yang paling dulu di cari adalah jagoanku yang ternyata sedang main ayunan di lantai bawah dengan menikmati pemandangan sore di temani dengan kicauan burung peliharaan Mas suami yang membuat aku kadang rasa kangen dengan suasana pedesaan cukup terobati dengan adanya kicauan burung yang merdu.
__ADS_1
"Iko... Bunda kangen." Aku merentangkan tanganku dan bibir sedikit di monyongkan dengan gerakan siap untuk memberikan satu kecupan mesra, tetapi langsung tangan Mamih Misel di majukan sembari berkata.
"Setop!! Jangan maju lagi!" Mamih Misel menahku, aku jadi bingung, masa iya baru ke luar rumah belum sampai dua belas jam aku sudah kena hukuman.
"Ke... kenapa Mih, Lydia kangen dengan Iko," jawabku dengan setengah terbata, rasanya aku sekarang jadi baper banget, masa Mamih Misel baru berkata seperti itu aku sudah mau nangis lagi. Berasa jadi anak kecil aku yang mana minta jajan aja harus nangis dulu.
"Kamu baru pulang dari rumah sakit Sayang, badan kamu kotor, malah bisa saja kamu membawa bibit pernyakit. Mandi dulu sana yang bersih dan habis itu baru boleh pegang dan cium cucu Mamih," balas mami mertua, yang langsung membuat hatiku adem lagi. Aku pikir mami mertua mau menghukum aku karena pulang telat ternyata karena mau nyuruh aku mandi.
"Ok, mau nyuruh mandi Kirain Lydia mau menghukum Lydia," ucapku sembari menujukan gigi yang rapi dengan menyengir kuda.
Dan setelah itu aku pun langsung bergegas untuk kembali ke kamar dan membersihkan diri lagi. Untuk ibadah aku sudah melakukanya tadi di rumah sakit sehingga sekarang hanya fokus dengan membersihkan tubuh ini dan setelah itu langsung kembali ke bawah. Aku sudah benar-benar kangen dengan jagoanku, rasanya seperti tidak ketemu berbulan-bulan.
"Iko sayang sekarang Bunda udah wangi dan mau cium Jagoan nih," ucapku dengan tangan kembali merentangkan dan juga Bibir yang siap untuk mencium jagoanku.
Namun, lagi-lagi Mamih Misel menahanya kali ini masih jauh juga tangan Mamih Misel udah diulurkan sebagai tanda aku tidak boleh mendekat lagi.
Lagi, dan lagi hati ini berkecil hati karena aaku rasa Mamih Misel tidak memberikan akses untuk aku mengasuh jagoanku.
#Nah loh Lydia, mertuamu marah tuh...
__ADS_1
Bersambung....
...****************...