Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Menemui Jasmin


__ADS_3

Seperti hari-hari sebelumnya aku bangun akan selalu lebih awal, sedang melakukan kewajibanku atau pun sedang libur aku selalu akan bangun di jam lima dan setelahnya akan menyiapkan sarapan untuk mas suami.


Pagi ini setelah membersihkan diri aku pun membangunkan mas suami untuk beribadah.


"Mas bangun, Sholat Subuh dulu. Bukanya Mas semalam bilang akan olahraga udah lama nggak latihan otot," ucapku membangunkan mas suami yang masih pulas tertidur. Tidak harus berdrama dengan sulitnya bangun, itu semua karena ternyata mas suami orang yang sebelumnya rajin bangun pagi untuk berolahraga.


"Apa kamu nggak ikut olahraga Sayang?" tanya Mas suami mungkin ingin bertarung untuk Pull Up mengingat aku sering cerita kalau aku dulu jago pull up, tapi itu dulu aku suka olahraga yang menaikan masa otot itu sesabnya aku lebih suka latihan workout dari pada cardio.


Aku menggelengkan kepala dengan pelan. "Tidak usah, olahraga Lydia sekarang sudah beda. Mengepel, nyuci, nyapun dan beres beres serta masak, sudah membakar kalori yang cukup banyak," ucapku dengan tangan menyiapkan pakaian mas suami untuk berolahraga.


"Tapi kapan-kapan sempatkan olahraga untuk kebersamaan kita yah," balasnya lagi. Dan aku membalas dengan anggukan yang lembut.


"Kalau gitu Lydia siapkan sarapan dan setelah itu akan siap-siap ke rumah baru untuk mengatur pindahan. Bahkan aku sudah membayangkan kalau hari ini sampai tiga hari ke depan akan menjadi hari yang sangat melelahkan.


"Tapi ingat loh kamu nggak usah harus cape-cape. Jangan mentang-mentang kuat kamu bantu angkat-angkat. Tugas kamu hanya mengawasi dan mengatur barang yang akan ditempatkan di mana," ucap mas suami yang semakin hari semakin posesif. Bahkan kalau masak bukan hobby aku mungkin tidak akan aku diizinkan untuk  masak.


Pandangan mataku tertuju pada ponsel yang terus nyata yang menandakan kalau itu ada panggilan masuk. Jantung ini semakin berdetak lebih kencang ketika yang melakukan panggilan adalah Sari. Dengan ekor mataku, aku memastikan kalau mas suami sudah pergi ke kamar mandi. Dengan jempol yang bergetar seolah aku tengah berselingkuh, aku pun geser ikon telpon berwarna hijau.


"Assalamualailkum..." jawabku jujur aku rada kurang nyaman ketika harus mengangkat telpon. Mungkin sedang ada yang penting sehingga aku  memutuskan mengangkat telpon dari Sari.


"Lyd, tadi aku dapat kabar kalau Mimin kembali masuk rumah sakit. Apa kamu bisa temanin dia? Aku takut dia memang sedang benar-benar membutuhkan kamu?" tanya Sari dari tempat yang berbeda. Dari nada bicaranya aku bisa pastikan kalau Sari juga sedang panik.


"Kalau sekarang kayaknya aku nggak bisa Sar. Hari ini aku ada pindahan rumah dan sepertinya sampai tiga hari ke depan aku sibuk," jawabku dengan tidak enak hati. Mengingat Sari juga teman baikku. Padahal dulu Sari dan Mimin bisa dibilang musuh yang nggak pernah akur, tapi justru aku sekarang dikagetkan ketika Sari justru yang seolah selalu ada di saat Mimin butuh.


"Aduh gimana yah. Kamu juga tahu kan kalau aku sedang di luar kota. Aku nggak mungkin ke Jakarta dalam waktu dekat pekerjaan aku sedang banyak," ucap Sari terlihat sangat panik.

__ADS_1


"Atau bagaimana kalau aku minta nomor ponsel yang bisa dihubungi biar aku pantau lewat ponsel dulu untuk tiga hari ke depan mungkin aku baru bisa datang untuk membantu," balasku nggak mungkin kan dalam dunia super canggih seperti sekarang ini Mimin ngak punya ponsel.


"Nah itu dia ponselnya dia aja di gadekan untuk biaya berobatnya," ucap Sari.


"Nah kamu tahu Mimin di rawat di rumah sakit dari siapa?" tanyaku, makin nggak masuk akal saja.


"Tetangga Mimin yang mengabarkan. Kalau bisa kamu jengukin dulu Lyd, dia udah nggak ada suami baru ninggal suaminya saat dia hamil empat bulan dan sekarang kayaknya dia sudah melahirkan." Dari suara Sari yang semakin cemas aku semakin tidak bisa  menolak permintaan Sari.


"Aku coba tanya sama suami aku yah," ucapku ketika mas suami ke luar kamar mandi dengan wajah yang sudah kembali segar.


"Tanya apa?" Mas suami yang sudah jelas dengar ucapanku pun langsung menanyakan maksud ucapanku tadi.


"Ini teman Lydia katanya sodaranya mau lahiran di bawa ke rumah sakit dan dia sendiri sedang di luar kota. Minta tolong sama aku untuk memastikan sodaranya baik-baik saja atau tidak." Aku menunjukan pesan Sari yang mengatakan kalau posisi dia sedang kerja di luar kota. Dan meminta aku untuk mengecek sodaranya. Memang aku bilang pada Sari jangan sebut nama Mimin atau justru Jasmin.


"Ya udah kamu bantu aja. Kasihan lagi kalau memang dia nggak ada siapa-siapa. Emang suaminya ke mana?" tanya Mas suami sembari mengenakan pakaianya.


"Kamu bantu dia ajah. Urusan pindahan bisa dikerjakan oleh yang lain," balas Mas suami yang mungkin dia juga kalau berada di posisi aku akan melakukan hal yang sama.


"Kalau gitu Lydia akan kabaran pada teman Lydia biar dia bisa tenang," ucapku dan aku pun bersiap untuk menyiapkan sarapan dan setelah itu mengunjungi Mimin.


"Kamu nggak perlu diantar oleh Mas kan?" tanya mas Aarav sebelum pergi ke ruang olahraga.


"Tidak usah Mas, taxi banyak," balasku dengan santai aku punya mobil juga belum tahu jalanan ibu kota rasanya percuma mending naik taxi.


"Jangan naik taxi. Nanti Mas telpon sopir Mamih untuk antar kamu, biar lebih tenang Mas di kantor."

__ADS_1


Aku langsung menyanggupi apa ucapan mas suami. Mungkin ini yaang terbaik untuk aku sehingga tidak ada alasan untuk aku menolak usulan dari mas suami.


Kini aku bisa sedikit bernafas lega karena rasa penasaran selama ini tentang Mimin sebentar lagi akan aku ketahui, dan kini aku pun bergegas untuk menyiapkan sarapan seperti biasa yang simpel dan tidak ribet. Apalagi aku akan segera pergi sehingga aku pun tidak banyak memiliki waktu luang.


"Ingat, kamu kalau nanti ada apa-apa langsung hubungi Mas. Dan kalau semua urusan sudah selesai langsung pulang ke kantor Mas yah. Dan hati-hati di jalan," pesan mas suami sebelum dia benar-benar pergi untuk berangkat kerja.


"Siap Mas. InsyaAllah Lydia nggak lama kok, karena kata teman Lydia nanti sore atau siang akan ada sodara yang datang menggantikan Lydia jaga," jawabku, seperti yang dikatakan oleh Sari.


Kini aku setelah mas bojo pergi aku pun bersiap untuk pergi juga tentu setelah aku menitipkan urusan pindah rumah pada Mbok Jum dan security yang nanti akan bantu mengawasi pindahan rumah ini.


Kini masalahku di kota ini justru semakin banyak yang kemarin bermasalah dengan Mbak Siska dan kini sedang sibuk pindahan rumah, aku malah disibukan urusan Mimin. yang ternyata mantan cinta pertama mas suami.


"Mang, ke alamat ini tahu nggak?" tanya aku memberi catatan alamat yang Sari berikan.


Cukup lama sopir mamih Misel membaca alamat ini hingga akhirnya mengatakan tahu. "Tahu Non kalau nggak salah ini lokasinya dekat jembatan layang Rawamangun, kalau tidak sebrang terminal," ucap sopir dan aku pun meminta di antar ke rumah sakit di mana Mimin di rawat. Sesuai yang dikatakan mas suami kalau Rawamangun memang cukup jauh bahkan aku sempat tertidur di mobil hingga akhirnya aku terbangun begitu sudah sampai.


Bayangan aku rumah sakit yang besar dan mewah ternyata salah rumah sakit yang ada dalam alamat itu justru hanya sebuah klinik dua puluh empat jam yang melayani rawat inap juga.


"Kira-kira bagaimana kabar Mimin yah, dan apa dia masih mengenali aku," batinku dengan perasaan yang tidak menentu aku pun mulai masuk ke dalam klinik tersebut dan bertanya mengenai pasien bernama Jasmin, dan aku pun langsung diarahkan ke ruangan rawat yang berada di ujung, bahkan kesan pertama hanya sepi.


Kelopak mataku langsung menghangat ketika kedua mata ini menangkap sosok yang masih bisa aku kenali.


"Mimin... apa kamu Mimin...?" tanyaku dengan suara yang berat. Aku hanya ingin memasikan apakah wanita itu benar Mimin atau bukan?


Bersambung...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2