Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Keluarga Bahagia


__ADS_3

Berbekal aduan dari Iko, Arum pun langsung menghubungi anak bungsunya. Yah, tidak aneh sih kalau Arum mendapatkan aduan seperti yang cucunya katakan. Itu memang karena sifat anak bungsunya itu sangat jauh berbeda dengan Hadi. Pokoknya Handan memang memiliki sifat jahil dan super duper ngeselin. Bahkan ibunya sendiri sering dibuat kesal dan ingin getok kepala putranya dengan centong. Saking ajaib sifatnya.


Namun, jelas dibalik sifat jahilnya Handan memiliki kelebihan sebenarnya dia adalah orang yang baik dan juga pengertian hanya memang sifat selengeanya dari kecil sudah mendarah daging.


[As'salamualaikum Mamah, pasti kangen yah sama anaknya yang tampan ini.] Nah kan, ibunya sendiri aja digodain. Gimana dengan yang lainnya.


[Wa'alaikumus'salam. Bukan kangen tapi Mamah mau marah,] sembur Arum dengan menunjukkan wajah marahnya. Jelas Iko puas banget karena pada akhirnya Om jahilnya bisa kena marah juga, Maklum Hadi marah malah diajak bercanda sama Om Jahilnya  Iko.


[Kok marah sih Mah. Emang Handan salah apa?] tanya Handan yang belum sadar kalau ada Iko yang sedang dipangku oleh Arum.


[Kamu apakan cucu Mamah. Katanya kamu jahatin dia.] Kali ini Arum menunjukkan wajah Iko yang penuh dengan kemenangan.


[Hai ponakan cengeng. Om kangen nih. Nanti main ah ke rumah Iko bawa jarum mau pecahin balon Iko yang banyak itu.] Nah kan, Handan malah memancing api lagi.


[Aaaaa huaa ....] Jelas Iko nangis lagi, padahal baru diledek kaya gitu. Tapi ingat Iko hanya cengeng di depan Hadi doang di depan yang lain dia menjadi anak yang good boy, hanya di depan Hadi dia jadi cengeng boy.


[Handan kamu pulang Mamah sunatin lagi yah. Iseng banget sih. Cucu mamah nangis lagi kan.] Mungkin kalau dekat beneran sodet melayang ke kepala Handan yang malah tertawa ngakak karena sudah berhasil nangisin Iko.


[Awas kamu Handan. Lihat aja nanti kalau kamu punya anak bakal aku isengin sampai nangis.] Biasalah kalau anaknya nangis pasti orang tuanya maju. Dan itu terjadi pada Hadi. Tapi apa Handan takut diancam seperti itu oleh Hadi? Oh jelas tidak Handan justru semakin menantangin Hadi.


[Wah kebetulan nih aku sedang bersama calon anak. Kalau mau dibikin nangis nih. Bagus malah biar makin pendekatan sama ibunya.] Yah Handan yang sedang dengan Gio pun tidak menyia-nyiakan kesempatan dengan itu. (Cerita Handan ada di novel GAME OVER (MANTAN SUAMI. Nyambung dengan adegan di novel sebelah.


[Wah Mah, lihat Mah anak bungsu Mamah makin mengawatirkan. Dia sudah berani culik anak orang.] Lah kali ini Hadi justru yang profokasi adiknya.

__ADS_1


[Heh serbet warteg. Jangan sembarangan ngomong yah. Dia calon anak gue. Enak aja  ngomong nyulik. Gue udah izin dengan emaknya dan emaknya sih ok-ok aja anaknya gue bawa.] Handan jelas  tidak mau kalau dengan ucapan Hadi dia jadi dimarahin oleh Mamah Arum.


[Yakin emaknya mau sama play boy kaya loe. Mantanya ada di mana-mana. Paling juga emaknya manfaatin kloe buat ngasuh dia secara orang kaya loe mah cuma bikin sakit hati dong.] Jangan ditanya yah memang dua orang ini selalu bertengkar meskipun nanti ujungnya baikan lagi. Arum dan Ahmad sih udah  tau banget kalau ujungnya ya akan seperti ini. Mereka pun mengabaikan Hadi yang justru saling bersitegang dengan adik kandungnya dengan permasalahan uang tidak jelas.


Mereka menikmati makan bersama dengan hangat termasuk Iko yang sudah tidak nangis lagi itu semua karena Hadi sudah membuat Handan tidak bosa meledek Iko lagi. Yah Iko memang sangat tidak akur dengan Handan yang jahil itu.


[Gue bakal buktiin biar play boy, tapi urusan kalau sudah nikah mah setia sampai Janah.]


[Pret, setia sampai Janah, gak yakin gue. Loe melipir sedikit aka di depan gang ada nenek-nenek pake lipstik tebel aja udah langsung digodain.] Hadi yang sudah paham betul dengan sifat adiknya pun hanya tertawa renyah setiap Handan bilang setia.


[Itu gue dulu, sekarang gue insaf deh. Pengin serius dan pengin punya rumah tangga juga yang bahagia. Makanya sekarang gue mau serius nggak lagi-lagi main-main udah cukup gue main-main di usia tiga puluh enam itu artinya usia tiga puluh tujuh gue harus sudah nikah. Malu di ceng-cengin terus sama temen.]


[Tumben loe mikir bener. Apa jangan-jangan karena loe digetok pake gagang sapu sama Mamah Arum.] balas Hadi dengan menatap sang bunda tercinta yang sedang menikmati makan malam, dengan menyuapi cucu tercintanya.


"Oh jelas, gagang sapu Mamah Arum itu sangat luar biasa mujarab. Ngomong-ngomong mana ponakan Om yang cengeng. Kok nangisnya sebentar. Ayo dong nangis lagi. Biar rame.] Handan pun terkekeh dengan renyah ketika meledek Iko. Seolah ada kepuasan sendiri kalau Iko nangis.


"Hadi, Handan sudah deh kalian kalau sudah telpon apa aja dibahas. Sampai gagang sapu dan sodet tidak luput dari gibahan kalian. Buruan makan nanti kita tinggal pulang lagi." Arum mulai menggunakan  jurus andalannya. Dan benar saja kini Hadi dan Handan pun tidak lagi bertengkar lagi.


"Loh, ini yang belum makan hanya Hadi?" tanya Hadi saking asiknya ngobrol sampai lupa kalau hanya dirinya yang belum makan.


"Iya makanya buruan makan kalau nggak makan kita tinggal pulang," balas Arum dengan mode emak-emak marahin anaknya.


"Ayo Nek, kita tinggal aja Baba." Nah Iko sepertinya sudah ketularan Om Handan jahilnya.

__ADS_1


"Jangan dong jagoan, tunggu bentar yah Baba makan dulu." Hadi pun tidak menunggu lama makan dengan lahap. Ternyata mengajak jalan-jalan anak lapar juga, buktinya ia langsung makan dengan lahap, bahkan sampai nambah.


"Ternyata ngajak jalan-jalan anak lapar juga yah," ucap Hadi begitu selesai makan.


"Nah itu baru satu anak dan Mamah sama Papah yang banyakan jaga. Coba kalau punya anak banyak. Udah siap belum?" goda Arum.


"Wah, kalau itu sih jangan ditanya Mah. Harus kuat masa mau bikinya nggak mau jaganya."


"Ya udah kalau gitu bikin yang banyak." Ahmad yang sedang mengajak Iko memberi makan ikan pun langsung menimpali.


"Tapi ngomong-ngomong tadi anak yang sama Handan siapa sih Mah, kok dia bilang calon anaknya." Hadi kembali membahas adiknya yang super play boy.


"Entahlah, kaya nggak tau adik kamu aja. Anak tetangga lewat aja dia bilang calon anaknya. Padahal masih punya suami. Mamah juga heran sama anak satu itu. Kenapa kelakuannya nyeleneh banget padahal papah nggak kaya gitu mamah juga nggak yang kaya Handan banget." Arum menatap Ahmad yang memang suaminya jauh lebih setia dan sifatnya hampir sama dengan Hadi.


"Handan ya ikut Mamah. Bukanya Mamah dulu juga kaya gitu setiap sekolah ada pacarnya. Papah dulu itu ya pacarnya cuman Mamah, tapi kalau Mamah ya mantanya banyak," timpal Ahmad sontak saja Hadi dan Mimin langsung tertawa renyah.


Tidak kalah Iko juga ikut tertawa, menertawakan neneknya yang ternyata play girl.


Noh lihat Mamah Arum diketawain cucunya.



__ADS_1


"Hist Papah, tapi tidak seperti Handan lah, dia mah cewek masih punya suami juga bisa kena goda dia." Arum mengeles dan membela diri.


"Yah tidak kaya Handan, kan setiap tahu mesin juga di upgrade. Dan Handan juga play boy-nya di upgrade." Ahmad lebih santai menghadapi anaknya yang play boy. Karena laki-laki itu tahu kalau Handan itu play boy hanya saat pacaran kalau sudah serius nikah pasti tidak akan main-main dengan perasaan perempuan. Yah, kurang lebih sama dengan Arum dia dulu adalah play girl, tapi ketika sudah nikah bucin akut bahkan sampai usia pernikahan puluhan tahun masih romantis dan tanggung jawab dengan keluarganya.


__ADS_2