Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Hidayah itu Datang Tidak Mengenal Tempat


__ADS_3

"Apakah doa apa harus di masjid saja?" tanya David lagi, semakin ia mendapat jawaban, semakin banyak rasa penasaran di hatinya.


"Tidak, berdoa dimanapun, Allah juga bisa mengabulkan, doa yang dikabulkan oleh Alloh tidak selalu saat kita berdoa di masjid saja. Ada juga Allah kabulkan saat kita berdoa di atas kendaraan, di jalan atau di mana saja."


"Lalu, kalau Tuhan bisa kabulkan doa ketika kita di mana saja, untuk apa pergi ke tempat itu untuk berdoa?"


Senyum teduh tersungging dari bibir laki-laki yang berpeci putih tersebut.


"Jujur saya lebih suka kita membahas masalah ini dari pada masalah poli-tik." Laki-laki itu justru duduk di samping David dengan santai.


"Terus jawaban atas pertanyaan saya apa? Kenapa orang-orang itu lebih memilih berdoa di masjid dari pada di tempat lain, kalau kata Anda tadi berdoa di mana saja bisa dikabulkan bukan?" tanya David ulang yang makin penasaran dengan jawabannya.


"Maaf kalau saya tidak salah, agama Anda islam kan?" tanya laki-laki itu balik, dan langsung dibalas anggukan yang cukup kuat dan bersemangat oleh David.


"Ada tempat yang mustajab untuk berdoa dan salah satunya adalah di masjid, kenapa kita lebih dianjurkan berdoa di masjid, sedangkan di mana saja kita boleh berdoa. Karena masjid adalah tempat berkumpul banyak kebaikan, banyak orang yang menjadikan tempat itu untuk hal kebaikan setiap harinya, didoakan setiap harinya, dan ketentraman hati saat kaki menginjak masjid akan terasa."


"Tapi bukanya Anda tadi bilang doa yang di masjid juga belum tentu di kabulkan, bahkan bisa saja yang di tempat lain yang dikabulkan, lalu untuk apa datang ke masjid?" David adalah orang yang harus dijelaskan dengan sangat masuk akal baru dia percaya dengan apa yang orang lain yakini.


"Itulah keseruannya, kalau doa kita langsung dikabulkan sama Allah saat ke masjid, nanti orang-orang akan langsung datang ke masjid semua hanya untuk berdoa dan langsung pergi tanpa menjalankan perintah Allah yang lainya. Kita sebagai seorang manusia akan lupa dengan tugas kita kalau sudah dapatkan apa yang kita mau, begitupula dengan doa. Tuhan menguji kita dengan menunda doa kita, memilih yang terbaik untuk kita. Jadi ketika kita doa tidak langsung Tuhan kabulkan, melainkan Tuhan seleksi dulu apakah yang kamu minta memang terbaik untuk kamu atau tidak?"


"Misalkan?" tanya David lagi.


"Misalkan Anda datang ke masjid, berdoalah Anda, 'Ya Tuhan hamba minta hujan, cuaca hari ini sangat panas' Lalu Anda ke luar Masjid dan melanjutkan perjalanan, duduk karena lelah. Dan Anda berdoa lagi, 'ya Tuhan haus sekali coba ada tukang es lewat'. Tidak lama Anda selesai berdoa melihat tukang es yang Anda mita lewat. Dan doa Anda lebih di kabulkan yang di pinggir jalan, karena yang Anda butuhkan adalah satu gelas es untuk penghilang dahaga bukan air hujan yang banyak. Sehingga Tuhan kabulkan doa Anda bukan yang di dalam Masjid."


Cukup lama David diam dan tidak bertanya lagi.


"Apa Anda ingin mencoba melaksanakan kewajiban? Sholat?" tanya Laki-laki itu lagi, ketika melihat kalau David sepertinya ingin melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim.


David memalingkan wajahnya ke laki-laki yang ada di sampingnya.


"Saya tidak pernah diajarkan untuk melakukan kewajiban, bahkan doanya saya tidak bisa," jawab David dengan lirih.

__ADS_1


Senyum teduh terukir di wajah laki-laki yang mengenakan peci itu.


"Alhamdulilah, Anda baru niat ingin Sholat saja sudah dapat pahala, padahal Anda tidak tahu cara, begitupun bacaannya. Apalagi kalau Anda mau belajar, Tuhan pasti akan sangat senang."


Kembali David menatap laki-laki itu dengan tatapan yang kosong.


"Kalau Anda mau belajar, saya akan ajarkan apa yang saya bisa. Saya memang bukan ustadz maupun orang yang ahli dalam agama, tetapi seseorang yang mau berbuat baik tidak harus yang ahli karena apabila sudah ahli justru biasanya tugasnya untuk mengoreksi kesalahan."


David hanya menunduk dan memainkan jari-jarinya yang saling bertaut.


"Tapi saya adalah seorang napi, orang yang menyandang status narapidana apakah layak untuk melakukan itu semua?" tanya David lagi.


Dan disambut tawa yang cukup renyah dari laki-laki berpeci itu.


"Boleh saya bercerita?"


David mengangguk dengan pasrah.


David menatap laki-laki itu dengan tatapan yang semakin penasaran. "Saya tidak tahu," jawab David singkat dan lirih.


"Empat puluh persen adalah orang yang memang benar-benar jahat, dalam hatinya bisa dibilang sudah ada kelainan, yaitu dia kalau tidak jahat tidak bisa hidup, misal mencuri, dia menjadikan mencuri untuk mata pencaharian, dengan beranggapan dia tidak bisa hidup tanpa melakukan itu semua, dan akan ada kepuasan setelah melakukan itu, dan ada penasaran kejahatan yang lainya, meskipun di penjara bebas dia akan melakukan lagi. Itu yang real karena jahat. tiga puluh persen orang jahat yang terpaksa, mereka terpaksa melakukan kejahatan itu karena ekonomi, uang biasanya adalah faktor utama. tiga puluh persen lagi dia yang jadi korban dari kejahatan lain, banyak saya menemukan kasus seperti ini, tetapi kembali lagiĀ  hidup ini pilihan kalau Anda mau tobat dan memperbaiki diri, di penjara hidayah itu juga bisa datang. Hidayat datang tidak selalu di tempat yang indah dan suci. Jangan malu kalau ada sebutan mantan napi. Justru yang jadi napi tidak semuanya buruk, tidak semua orang bertato penjahat, tidak semua yang tinggal didalam pondok juga baik."


"Jadi kalau saya mau belajar untuk sholat apa Tuhan akan memaafkan?" tanya David kali ini ada segurat senyum semangat di wajah tampannya. Saking tampannya ia sebagai narapidana, bahkan sepertinya David adalah napi paling tampan. Banyak yang berbisik 'Sayang banget tampan-tampan tapi di penjara'.


"Tentu dong. Allah lebih suka dengan hamba yang bertaubat. Dosa yang maha tinggi pun akan Allah ampuni asal bertaubat. Jadi kapan akan mulai belajar sholat?" tantang laki-laki berpeci itu.


David kembali diam.


"Sekarang mau?"


David nampak kaget dengan pertanyaan laki-laki yang duduk di sampingnya dengan dibatasi jeruji besi.

__ADS_1


"Sa... saya belum siap," jawab David dengan terbata.


"Kenapa?" tanya Laki-laki itu dengan nada yang kecewa. "Tunggu apa lagi, niat baik, sebaiknya disegerakan," imbuhnya.


"Entahlah, saya masih malu untuk memulainya."


"Malu? Malulah ketika kita berbuat dosa, tetapi bangga, bukan malu memulai untuk kebaikan."


"Saya tidak punya perlengkapan ibadah seperti yang Anda punya." David menunjuk apa yang laki-laki itu kenakan.


"Nanti saya akan belikan untuk Anda, sebagai kado, selama Anda belum punya sendiri, Anda bisa pakai punya saya."


"Pinjam?" tanya David.


"Kalau Anda mau saya bisa berikan juga."


"Apa Anda tidak akan menertawakan saya karena saya tidak bisa sholat?" tanya David dengan ragu.


"Kenapa harus ditertawakan, belajar itu tidak harus kecil. yang mualaf mereka bahkan belajar saat sudah dewasa, yang sudah tua juga banyak yang masih mau belajar. Jangan pernah malu untuk belajar karena di sini semuanya juga tidak langsung pandai beribadah. Tidak jarang saya mengajari para napi yang tidak bisa bacaan sholat, tetapi sekarang dia jadi muslim yang taat."


"Kalau gitu saya mau belajar mulai sekarang." David dengan yakin akan belajar apa itu sholat, mungkin dengan dia mulai mendekatkan diri pada Alloh, dia akan merasakan kedamaian dalam dirinya.


"Alhamdulillah, saya sangat senang dengarnya."


David pun setelah menghabiskan dua jam belajar untuk menghafal gerakannya, akhirnya sholat pertama yang ia jalankan adalah sholat Isa dengan empat raka'at dengan buku catatan di tangannya.


Laki-laki itu pun merasa di dalam penjara tidak sebegitu menyeramkan, dan ia justru ingin lebih lama untuk tinggal di tempat itu. Sehingga ia akan mengakui kejahatannya agar dia bisa lebih banyak ilmu yang didapatnya.


#Mohon maaf apabila dalam penjelasan ada yang salah. Koreksi kalau salah.


Bersambung.....

__ADS_1


...****************...


__ADS_2