Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Pipi Gembil


__ADS_3

Hari terus berganti, Keluarga Aarav dan Lydia pun kini sudah cukup tenang hal itu karena sudah tidak ada lagi yang mengirimkan terror, tetapi mereka  belum berani pulang ke rumah masing-masing. Di rumah baru mereka lebih tenang karena tidak ada yang mengganggunya. Mimin pun sudah kembali pulih dan beraktifitas seperti biasa. Kasus David pun sudah mulai masuk ke persidangan, semua bukti dan pengakuan David membuat laki-laki itu harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya, tidak ada yang bisa membuat dia bebas dengan mudah termasuk Wijaya, laki-laki paruh baya itu mau tidak mau tetap membiarkan kasus anaknya mengikuti proses sesuai dengan alurnya.


David sendiri merasa nyaman tinggal di dalam penjara karena dia merasakan lingkungan yang baik dan mendukungnya, buktinya saat ini bukan hanya Yanto yang mengajarkan David lebih mengenal apa itu islam. Teman-teman sesama narapidana pun tidak ada yang berani mengejeknya semua meperlakukan David dengan sangat baik. Bahkan tidak segan-segan untuk mengajarkan ilmu agama pada David, saling berbagi cerita dan pengalaman.


"Iko... Sayang, lihat siapa yang datang." Anak yang sebentar lagi merayakan ulang tahun ke dua tahun pun langsung mengalihkan fokusnya dari mainan ke arah pintu. Di mana wanita yang telah melahirkanya sedang berjongkok dengan merentangkan tanganya.


"Ma... mamah..." Iko langsung berlari untuk memeluk Mimin.


"Oh ya Alloh, kamu kasih makan apa Iko Lyd, aku hampir tidak kuat menggendongnya." Mimin berlaga bungkuk-bungkuk seolah ia memang tidak kuat menggendong anaknya itu.


Jelas saja Iko malah suka dengan candaan sang ibu.


"Abang di tanya sama Mamah, makanya pakai apa?" Lydia menyerahkan jawabanya pada anaknya langsung.


"Ikan, telor, sama sayul." Iko langsung jawab dengan cepat.


"Ngomong-ngomong kamu pulang kerja langsung ke sini?" tanya Lydia sembari duduk di karpet maklum anaknya demen mainan jadi bundanya ngampar biar bisa sekalian awasin jagoan.


"Iya, kamu ngidam nggak Lyd?" tanya balik Mimin yang lihat Lydia kayaknya baik-baik saja hamilnya.


Lydia menjawab dengan gelengan kepala. "Enggak yang parah banget, tapi tetap kalau pagi suka ada mual-mual tapi kalau sudah minum teh jahe, bada tidak lama sudah enakan."


"Syukurlah aku senang dengarnya. Iko rewel nggak mau punya adik lagi?"


Kali ini dengan cepat Lydia membalas pertanyaan Mimin dengan gelengan kepala. "Iko pintar bahkan anak kamu kalau digendong sama aku sekarang nggak mau. Katanya kasian dedenya. Mas Aarav suka bilang Iko jangan minta gendong sama bunda ada dedeknya, jadi sekarang dia udah tahu."


Mimin mengulas senyum. "Aku senang dengarnya, sempat takut kalau Iko akan rewel apalagi kamu hamil kembar pasti sangat berat. Tapi kalau Iko baik aku jadi tenang."

__ADS_1


Mimin dan Lydia pun terus terlibat obrolan terutama kasus David dan Mimin.


"Berati kamu dari kejadian belum ketemu dengan ayahnya Iko?" tanya Lydia, karena wanita itu tahu dari cerita sang suami David ingin bertemu dengan Mimin, untuk meminta izin  ingin bertemu dengan putranya. Namun ternyata Mimin sampai saat ini kasusnya akan masuk persidangan belum juga bertemu.


"Aku belum siap. Apalagi aku sekarang datang ke sini juga lagi kepikiran sesuatu." Mimin mengambil kertas panggilan pemeriksaan dari polisi atas laporan Wijaya. Wanita itu sempat berpikir kalau kakeknya Iko itu hanya menakut-nakuti dirinya dengan ancaman laporan polisi, tetapi kenyataanya hari ini Mimin dapat surat dari kepolisian.


Lydia menatap Mimin, ketika sahabatnya memberikan amplop berwarna coklat. Apa ini Min?" tanya Lydia dengan bingung. Apalagi wajah Mimin cukup tegang dan murung.


"Kakeknya Iko benar-benar melaporkan aku dan kalian ke kantor polisi dengan tuduhan jual beli bayi."


Mendengar ucapan Mimin Lydia langsung mengambil surat yang ada dihadapanya. Dengan tangan bergetar ia langsung membukanya, membaca dengan gerakan cepat.


"Gila yah, maksudnya apa coba," oceh Lydia dengan marah tuduhan Wijaya cukup ngarang.


"Jujur aku punya rasa takut kalau kita akan kalah." Mimin menunduk dengan air mata yang sudah jatuh.


Melihat kalau sahabatnya seperti tertekan Lydia pun menggenggam tangan Mimin, dan memberikan kekuatan. "Kenapa bisa kamu berpikiran seperti itu. Mas Aarav dan Mas Hadi sudah bilang juga dengan aku kalau bukti kita kuat, lalu kenapa kita harus takut. Handan juga sudah bilang sama kamu kan Bang Jono juga sudah kamu temukan, ponsel lama kamu sudah di service ada bukti percakapan kamu dengan Wijaya lalu apa yang kamu takutkan." Suara lebut yang keluar dari bibir Lydia cukup membuat hati Mimin lebih tenang.


Ruangan luas itu pun hening, yang terdengar hanya suara Iko bermain mobil-mobilan.


Lydia dan Mimin nampak berpikir mencari solusi.


"Sekarang Mas Aarav dan Mas Hadi di mana? Kamu tadi pulang mereka masih di kantor atau ada acara lain?" tanya Lydia heran ini sudah lebih dari jam pulang kantor, tetapi suaminya belum pulang kerja, pasti sedang mengurus masalah laporan Wijaya.


"Pergi sama Handan ke polda, memenuhi panggilan polisi. Aku dapat gantian besok," jawab Mimin dengan lesu.


"Kamu yang sabar yah, kita buktikan pasti ini semua bisa kita lewati." Lydia mengusap pundak Mimin, meskipun dia juga kepikiran dengan nasibnya sendiri secara tidak langsung baik Mimin dan Lydia kalau terbukti akan sama-sama dapat hukuman dan denda uang yang tidak sedikit.

__ADS_1


"Aku nggak nyangka ada orang yang benar-benar jahat banget kayak dia. Padahal aku nggak pernah ngusik kehidupan mereka tapi ya Alloh sejak aku kenal dengan mereka ada terus ujian yang mereka buat."


"Kamu yang sabar dia pasti akan dapat karmanya, aku yakin itu. Sebenarnya aku ada ide untuk mengatakan uang yang aku berikan dari kamu, tapi entahlah masuk akal atau tidak."


Mendengar kalau Lydia memiliki ide. Mimin pun langsung memalingkan pandanganya, dan menatap Lydia meminta penjelasan.


"Bukanya aku dan kamu pernah terlibat jual beli tempat fitness kamu, gimana kalau uang yang aku berikan itu seolah-olah kamu jual tempat itu lagi." Lydia mengembangkan senyum lagi.


"Aku tidak tahu itu nanti bisa masuk untuk bukti transfer atau malah cacat hukum dan kita ketahuan mengarang cerita, takut nanti jadi bumerang untuk kita. Kita nanti bisa tanyakan pada Handan dia yang tahu dengan hukum-hukum, nanti tunggu masukan dari dia. Karena saat ini kita harus benar-benar hati-hati jangan sampai nanti malah menimbulkan masalah baru. Mas Hadi dan Mas Handan sih tadi sempat bilang kalau mereka bisa memberikan alasan uang-uang itu, tetapi aku belum lihat dari pertemuan mereka hari ini."


"Ya udah kalau gitu kita jangan bahas itu lagi, nanti malah bikin stres lebih baik beli bakso yuk. Enak kali makan yang pedas dan seger."


"Mau... mau... abang mau." Kali ini malah Iko yang langsung setuju dengan usulan bundanya.


"Abang mau bakso juga?" tanya Mimin dengan gemas. Dan Iko langsung mengangguk dengan semangat.


"Ya udah kita beli online ajah yah."


Tidak lama menunggu bakso pun datang dan mereka makan bersama, termasuk Iko pun ikut menikmati bakso dengan lahap.


"Pantas badannya berat. Lihat makannya lahap banget. Mana nggak mau disuapin."


#Jadi pengin baso... 🤭



...****************...

__ADS_1


Ini si pipi gembil Abang Iko .



__ADS_2