
Telingaku tergelitik dengan suara tawa mas suami yang terdengar sangat bahagia, dengan perasaan yang malas aku membuka mata ini. Aku pun mengembangkan senyum ketika mas suami tertawa semakin renyah.
"Ada apa sih Mas?" tanyaku kenapa mas suami perasaan hanya menatap Iko sudah tertawa dengan renyahnya.
"Coba deh kamu lihat Iko itu sedang tidur, tapi terwa-tawa sendiri, dan Mas ketawa dia makin ketawa dengan lebar, lucu banget deh," ucap mas suami dengan jari telunjuk menunjuk anak kami yang matanya terpejam, tetapi bibirnya tertawa-tawa seolah sedang bermain di dalam mimpinya.
"Mungkin Iko tahu kalau Mas sedang mengajak bermain," jawabku, tetapi aku pun sama merasakan candu ketika mendengar tawa anak kami.
"Loh, Mamih mana? Bukanya tadi Lydia sedang rebahan sama Mamih?" tanyaku yang baru sadar kalau mamih mertua sudah tidak ada di kamar kami.
"Mamih udah pulang, mungkin baru sepuluh menit yang lalu, bahkan mungkin baru ke luar dari pintu gerbang perumahan ini," balas mas suami yang sama dengan mamih mertua senang mencium tubuh bayi Iko, bau minyak telon dan bedak bayi seolah lebih menggoda dari pada parfurm mahal yang harganya puluhan juta
"Udah pulang? Kok nggak bangunkan Lydia?" tanyaku lagi, aku jadi mersa tidak enak mana mertua main aku malah ketiduran.
"Kata Mamih kasihan, pasti kamu juga kecapean. Biarin sih, paling juga besok ke sini lagi. Yakin deh, Mamih pasti tidak betah di rumanya lagi. Mamih bisa-bisa lebih betah di rumah kita, tadi aja udah pengin nginap, tapi nggak boleh sama yang punya. Jadi mau nggak mau harus pulang, dari pada papih marah kan," kelakar mas suami, aku pun senang mendengarnya kalau memang mamih mertua suka dengan adanya Iko, itu tandanya bayi ini datang memang untuk penyempuran kebahagiaan rumah tangga kita.
"Beryukur banget Lydia punya mertua seperti Mamih dan Papih Sony yang baik-baik semua," ucapku sembari memiringkan tubuhku menatap Iko yang seolah sangat nyaman tidur dalam rumah barunya.
"Kok beruntung dapat mertua yang baik-baik saja, apa nggak beruntung dapat suami yang baik juga seperti Mas?" tanya Mas Aarav dengan menatap tajam kearahku. Aku pun terkekeh mendengar pertanyaan mas suami itu. Yah, aku tahu dia hanya iri karena aku hanya memuji Mamih dan Papih mertuaku saja, tanpa adanya pujian dengan kang mas bojo.
"Apa mau dibikinkan puisi untuk membuktikan rasa terima kasih yang entah harus dengan cara apa lagi Lydia ungkapkan. Semuanya cara sudah digunakan untuk Lydia mengungkapkan, bahkan dalam barisan doa pada Sang Pencipta nama Mas menjadi urutan yang atas, kurang bukti apa lagi?" tanyaku dengan kembali menatap mas suami. Kami pun larut dalam pandangan penuh cinta.
__ADS_1
"Jagoan bangunlah, lihat Bunda kamu sedang berusaha merayu Papah," adu mas suami sama jagoan kecilnya. Sesuai yang di perintah mas suami. Iko pun menggeliatkan tubuhnya dengan tangan kecilnya seolah tengah menonjok.
Untuk beberapa saat kami pun diam memperhatikan jagoan kami yang sang menggemaskan itu, dari tingkahnya selalu memberikan kedamaian hati. Suatu keberuntungan juga Iko bukan anak yang rewel buktinya ia bangun pun langsung bermain jari-jarinya dan menatap kesekeliling dan memperhatikan yang mungkin menurutnya sangat aneh itu.
"Mas nitip sebentar yah, Lydia mau bikin susu untuk jagoan," ucapku yang jangan nunggu persetujuan dari mas suami, karena jawabanya sudah sangat yakin kalau pasti boleh apalagi untuk anaknya.
Aku pun turun ke bawah yang mana di bawah sudah sepi. "Mbok, Bibi-Bibi sudah pada pulang semua yah?" tanyaku pada Mbok Jum yang sedang merapihkan barang-barang di lemari pendingin.
"Sudah Mbak, tapi kata Nyoya Misel besok ada Bibi yang akan datang untuk bantu-bantu di rumah ini satu lagi, katanya kalau Mbok sendirian kasihan lah rumah ini besarnya dua kali lipat dari rumah sebelumnya," jawab Mbok Jum, yah memang benar-benar luas dan juga perabotnya yang perawatanya harus benar-benar nggak boleh salah karena aku yakin pilihan barang Amora untuk perawatanya ajah khusus, semakin mahal barang justru untuk merawatnya semakin sulit, dan butuh ketelitian.
"Ya udah memang harusnya kaya gitu, kalau Mbok sendirian kasihan juga, apalagi sekarang Lydia ada Iko jadi nggak bisa bantu-bantu banyak," balasku, tidak memerlukan waktu lama setelah susu jadi, aku pun kembali naik ke atas.
Ini Baby Iko lagi didongengin sama papah Aarav...
Mana serius banget mukanya bayi, kaya lagi mikir rumus fisika....
Namun, lagi-lagi aku melihat mas suami tidak seperti itu. "Horehhh... Susu Iko udah datang. Iko udah haus loh Bun, nggak sabal sampe nangis-nangis," adu mas suami yang menirukan suara anak kecil.
"Kan bikin Cucunya jauh Sayang, jadi lama," jawabku sembari memberikan susu pada mas suami yang tengah menggendong baby Iko.
__ADS_1
"Besok, pindah satu dispenser aja di kamar ini dan meja kecil untuk stok susu Iko biar nggak naik turun, selain cape juga kasihan kalau Iko ditinggal di kamar sendirian," ucap mas suami, padahal aku tadinya juga sudah punya pikiran seperti itu, tetapi ternyata sudah keduluan sama mas suami rencananya.
"Hehehe, baru aja mau ngomong gitu, tapi udah keduluan sama papahnya jagoan Iko, " ucapku sembari duduk menatap keromantisan ayah dan anak lelakinya.
"Mas, Lydia boleh tanya nggak?" Aku rasa ini momen yang sangat pas kalau aku tanya soal David, jiwa penasaranku tidak akan berhenti kalau aku belum tahu kebenaranya.
Mas Aarav yang sedang fokus memegang dot Iko dan Iko yang terlihat sangat harus pun memalingkan pandanganya ke arahku. Dengan tatapan yang mengandung tanya mas Aarav menatap semakin dalam.
"Tanya apa? Soal Siska?" tebak Mas Aarav yang sudah jelas aku menggelengkan kepalaku.
"Bukan, lagian aku rasa hubungan mas Aarav kalau dengan Mbak Siska dari awal sudah jelas, jadi aku rasa sudah cukup informasi mengenai Mbak Siska, kecuali memang kalau Mas Aarav memang masih punya sebuah rahasia dengan Mbak Siska yang sengaja ditutupi dari Lydia," ucapku dengan santai. Yah, memang seperti itu, aku merasa Mbak Siska itu bukan ancaman yang terlalu berati untuk aku karena dari awal Mas Aarav sudah sangat terbuka mengenai mantan istrinya, dan beberapa kali aku bertemu langsung dengan Mbak Siska membuat aku tahu cukup banyak wataknya yang aku anggap tidak terlalu menjadi penghalang dalam masalah rumah tanggaku.
"Oh, kirain mau bertanya mengenai dia, terus tanya apa dong, aura-aura dari wajahnya sih kayaknya pertanyaannya sangat berat kalau benar hadiahnya pasti gede nih," kelakar Mas Aarav, kini sudah banyak kemajuannya ada candaan tidak seperti pertama kenal yang kaku banget kaya kanebo kering dan ngomong juga ya seperlunya, sekarang kebanyakan bergaul dengan aku mas Aarav aku akui sudah banyak kemajuan selain banyak ngobrol juga banyak bercanda.
"Ini soal David." Aku menunduk untuk sekilas dan setelahnya menatap Mas Aarav dengan tatapan yang cukup serius.
Mas Aarav tampak mengernyitkan dahinya, "David ada apa dengan David? Apa ada yang menarik dari dia?" tanya Mas Aarav dengan suara yang lirih dan tatapan yang bingung.
Bersambung...
...****************...
__ADS_1