
Benar saja apa perkiraan Hadi, Aarav begitu sambungan telepon terputus ia pun langsung menggunakan jurus mengomel.
"Dasar teman nggak ada akhlak. Bener-bener nggak ada lawan nih orang, Nikah udah kaya orang bau BAB. Perasaan Hadi kemarin baru operasi, Mimin juga semalam baru masuk rumah sakit, nah sekarang tiba-tiba mau nikah aja. Aduh. Udah deh dua orang itu emang nggak ada lawan." Aarav terus ajah ngoceh bibirnya, sembari tanganya terus merapihkan tumpukan map. Biarin dah laporan numpuk. Yang penting ia pulang dan nyanyiin pernikahan Hadi dan Mimin.
Kini justru Aarav tersenyum penuh arti, dalam batinnya sebagai orang yang iseng dari lahir. Aarav pun langsung tersenyum, dalam sekecap mata ia langsung ada ide jahil.
"Kayaknya seru nih ngerjain pengantin baru dengan tumpukan map. Tambahin kerjaan biar makin gas pol lemburnya." Aarav terkekeh sendiri sembari membayangkan pasangan pengantin baru teler laporan. Ya meskipun pada kenyataanya Aarav tidak setega itu.
"Kamu kenapa Rav, ketawa-ketawa sendiri?" tanya Papi Sony yang tiba-tiba masuk ke ruangan anaknya tanpa ada suara bunyi pintu yang dibuka.
"Loh Papi, kapan masuknya?" Tuh kan Aarav juga kaget papihnya masuk dari mana.
"Makanya kalau dapat kabar gembira bagi-bagi. Dari tadi Papi berdiri di depan pintu kamu nggak lihat. Ada apaan sih sampai ketawa-ketawa sendiri tadi, Papih kira kamu kesambet." Papi Sony duduk di kursi kerja anaknya. Agak heran sih ini baru jam dua, tapi anaknya sudah siap-siap seperti mau pulang.
"Aarav mau pulang Pih. Hadi sama Mimin mau nikah sekarang," jawab Aarav dengan jujur. Sontak saja Papi Sony juga terkejut dengan ucapan Aarav.
"Nikah? Bukanya dua orang itu lagi pada sakit?" Pertanyaan yang sama dengan Aarav.
"Nah, makanya itu Aarav pun berpikir seperti itu. Hadi kemarin baru aja operasi. Malamnya Mimin nyusul masuk rumah sakit, tapi barusan Hadi bilang mau nikah. Nggak tau apa mereka malam pertama bakal di kamar VIP rumah sakit," kelakar Aarav.
__ADS_1
"Hust ... jangan kaya gitu ah. Mungkin memang udah sembuh semua. Yah udah kalau gitu Papi ikut ke acara Hadi dan Mimin kamu tunggu Papi yah." Papi Sony pun berajak dari duduknya dan akan bersiap pulang. Tentu membereskan dulu laporan yang belum selesai sama halnya seperti yang Aarav lakukan.
******
Di saat Aarav dan Papi Sony bersiap akan segera pulang. Hadi sendiri setelah menghubungi Aarav kini ia pun menghubungi ke dua orang tuanya. Salah memang seharusnya Hadi lebih dulu menghubungi ke dua orang tuanya baru menghubungi Aarav.
Berbeda dengan Aarav kalau ngangkat telpon lama banget, Arum justru begitu ponsel berdering langsung diangkat. Pokoknya seperti mancing pas ikan sedang lapar langsung disambar, begitulah Arum ketika ponselnya berbunyi.
[As'salamualaikum Sayang, bagaimana kalian di sana. Apa pertemuan Mimin dan ayahnya berjalan dengan lancar. Mimin nggak jatuh sakit lagi kan," cecar Arum begitu tahu kalau yang telepon adalah anak sulungnya.
[Wa'alaikumus'salam Mah. Alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar. Mah, doa Mamah langsung terkabul,] balas Hadi tanpa basa-basi.
[Iya Mah,kondisi ayahnya Mimin semakin melemah. Sehingga Julio menyarankan Mimin agar nikah sekarang dengan disaktikan oleh ayahnya," jelas Hadi.
[Alhamdulillah, akhirnya doa Mamah dikabulkan juga.] Tuh kan Arum tidak henti-hentinya langsung mengucapkan hamdalah.
[Tapi Mah, masalahnya Hadi belum beli cicin pernikahan dan juga belum beli mas kawain dan semuanya.] Maksudnya sih pengin minta tolong agar Arum membelikan semua kebutihanya, dan Hadi akan mempersiapkan semua keperluanya di sini. Mungkin siapkan catering dan sedikit suguhan dari restoran. Masa mentang-mentang nikah dadakan, makanan atau minuman pun tidak ada setidaknya ada Aarav pasti bakal di jadiin candaan kalau tamu tidak dikasih makan.
[Ya udah kamu tenang saja, sekalipun Papah dan Mamah baru di Jakrta tapi bukan berati Mamah dan Papah tidak tahu di mana tempat toko perhiasan. Kamu jangan pikirkan mas kawain ataupun masalah seserahan Mamah dan Papah akan segera cari. Dan kamu kirimkan saja alamat di mana rumah Mimin.] Arum sangat antusias ketika mendengar kalau anak sulungnya akan menikah. Ia memiliki anak dua laki-laki semua tapi belum ada satu pun yang sudah nikah.
__ADS_1
Ketika dulu Hadi pertama nikah di usia dua puluh tiga tahu, bahkan Hadi dan mantan istrinya bisa dikatakan nikah muda. Hadi sendiri saat itu masih kuliah sembari membantu bisnis papahnya. Dan mantan istrinya baru lulus sekolah menengah atas. Hal yang berbeda justru di alami Handan, hingga kini usianya sudah menginjak tiga puluh enam tahu, laki-laki yang sudah sukes menjadi advokat justru tidak ada tanda-tanda akan nikah. Entahlah, Handan dan Hadi sama-sama sibuk dengan pekerjaan sehingga mereka belum juga memikirkan menikah, dan sekarang di saat Hadi ada kabar mau nikah sontak Arum sangat bahagia.
"Pah ... Papah .... " Arum langsung menghampiri suaminya yang sedang bermain dengan calon cucu barunya. Eh, salah maksudnya beberapa saat lagi Iko akan resmi jadi suaminya.
"Apaan sih Mah, Iko sampe kaget gitu." Ahmad langsung menggendong Iko, dan tangan kananya mengusap dada Iko yang terlihat kaget ketika melihat Arum yang terlihat sangat bahagia.
"Itu Pah, anak kita mau nikah sekarang dengan ibunya Iko," balas Arum dengan suara tergesa serta sedikit terburu-buru.
"Hah, sekarang nikah? Kok bisa?" tanya Ahmad sama dengan Aarav kaget campur tidak percaya.
"Ih Papah, anaknya mau nikah kok bilang ko bisa. Ya bisalah Hadi kan normal." Arum langsung menujukan wajah tidak sukanya.
"Eh maksud Papah bukan gitu, ko bisa dadakan kenapa tidak besoik atau lusa. Kaya gini mana kita ada persaiapan," jelas Ahmad.
"Ini kondisinya darurat, ayahnya Mimin kondisinya sudah sangat lemah, jadi mereka minta kalau Hadi serius mau nikahin Mimin lebih baik disegerakan karena ayahnya ingin menyaksikan putrinya menikah. Makanya pernikahanya dadakan. Udah yuk kita siap-siap mau ke mall dulu, beli mas kawin, seserahan dan segala macam kebutuhan untuk menikahkan anak kita dengan ibunya Iko. Aduh Mamah nggak sabar pengin buru-buru gendong cucu baru," rancau Arum sembari tanganya memeragakan menggendong bayi.
"Yan udah kalau gitu, Iko kita ke Mamah mau nggak?" tanya Ahmad pada calon cucunya. Yang nampak bingung dengan kakek dan neneknya yang terlihat sangat bahagia.
"Mau Iko mau sama Mamah," jawab Iko yang nampak bahagia karena akan bertemu dengan ibunya.
__ADS_1
Bersambung...