Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Rindu Yang Terobati


__ADS_3

Aku berjalan dengan setengah berlari ketika melihat Ibu berdiri di balik pintu. Akhirnya penantian panjang ini terbayar lunas dengan sosok wanita yang telah melahirkan ku berdiri di ambang pintu. Tangis bahagia pun tidak bisa aku bendung ketika bisa memeluk Ibu lagi setelah hampir dua bulan kita berpisah.


"Alhamdulillah akhirnya Ibu, dan Bapak sampai juga. Semalaman Lydia hampir tidak bisa tidur, karena cemas takut terjadi sesuatu dengan Ibu dan Bapak," ucapku sembari mengusap air mata bahagia ini.


"Kan Ibu udah bilang ke sini bareng Mang Jamil, Mang Jamil udah biasa bolak balik Jakarta jadi aman," balas Ibu sembari mengusap-usap punggungku. "Rumah kamu enak banget Mbak, kalau gini sih Ibu betah di Jakarta," imbuh Ibu setengah berkelakar, menghiburku agar tidak mewek lagi.


"Lydia senang malah kalau Ibu dan Bapak betah di sini, jadi bisa lama-lama tinggal di rumah Lydia, atau mau menetap tinggal di sini? Kamar di sini banyak jadi nggak akan masalah." Siapa sih yang tidak senang orang tuanya betah di rumah kita.


"Lah nanti kalau Bapak sama Ibu tinggal di sini yang ngurus sawah sama penggilingan padi siapa? Ini aja di titipin sama Kiki kerjaan rumah. Nggak bisa lama-lama padi udah hampir panen."


Hemzz selalu saja gitu, kerjaan nomor satu. Tapi mau bagaimana lagi hanya dari pekerjaan itu banyak menghidupi keluarga dan juga bisa memberi sedikit rezeki pada warga dengan ikut panen dan bagi hasil. Itu adalah momen yang paling di tunggu oleh warga, bahkan sampai ada yang nungguin di pinggir sawah, agar tidak ketinggalan manen. Momen yang entah kapan lagi aku melihatnya. Dulu momen seperti ini selalu saja menjadi hiburan untukku, rasanya senang bisa lihat orang berebut metik padi.


"Bapak sama Mang Jamil mana ko belum naik?" tanyaku setelah Ibu duluan naik malah Bapak dan Mang Jamil nggak masuk-masuk.


"Ada di bawah tadi sedang ngobrol sama satpam, paling sebentar lagi juga masuk. Mana Iko, Ibu ingin lihat secara langsung. Kalau di ponsel  gemas banget."


Ternyata bukan hanya Mami Misel dan yang lainya yang terpincut dengan Iko. Ibu juga datang ke sini yang ditanya Iko duluan.

__ADS_1


"Ada di dalam Bu, biasa sedang main sendiri." Aku pun menggandeng Ibu untuk masuk ke dalam dan mengenalkan langsung ke Iko.


"Ya Tuhan, ini anak kamu Mbak. Anak seganteng ini kok dikasih gitu aja ke kamu, ibunya tega banget," ujar Ibu dengan menggendong jagoanku. Memang Ibu belum begitu tahu kisah Iko, aku hanya bicara kalau ibunya memberikan pada aku, untuk dirawat. Aku belum sempat bercerita banyak tentang Iko.


"Ibu, ibunya Iko hanya menitipkan anaknya sama Lydia, karena sang ibu sedang sakit dan lagi menjalani pengobatan untuk penyembuhannya sehingga dari pada di titipkan sama orang lain, makanya dia memilih di titipkan sama Ldia, tapi nanti kalau sudah sembuh kemungkinan akan diambil lagi," balasku dengan berhati-hati. Aku rasanya tidak ikhlas kalau Mimin dikira tidak mau merawat Iko, sedangkan aku yakin dalam batin Mimin pasti dia juga menginginkan merawat anaknya, buktinya meskipun dia susah masih mempertahankan Iko hingga melahirkan, tetapi keadaan yang tidak bisa membuat Mimin melakukanya.


"Oh kasihan sekali, semoga dia cepat sembuh, dan kamu juga cepat hamil biar nanti kalau Iko diambil ada penggantinya."


Aku langsung meng-Aminkan dengan sungguh-sungguh. Doa dari Ibu bisa diibaratkan seperti tombak yang tajam, semoga saja dengan doa Ibu aku akan segera hamil.


"Ngomong-ngomong ini suami kamu masih kerja?" tanya Ibu dengan mata memindai ke segala penjuru.


"Rezeki kamu memang baik Mbak, beda dengan adik-adik kamu yang kurang beruntung. Kamu dan Lysa yang memiliki pasangan menurut ibu baik. Dirli sebenarnya dia baik, tapi Lyra yang mulai masalah dengan berbohong.


Jadi sekarang orang tuanya dengan keluarga kita juga belum bertegur sapa. Mungkin mereka kecewa sehingga mengambil langkah itu. Samsul malah nggak tahu kabarnya ke mana, katanya kerja untuk menghidupi anak-anaknya. Entahlah Ibu juga sebenarnya kalau bukan urusan anak-anak dan cucu malas berhubungan dengan keluarga dia. Tapi ada cucu yang kadang tinggal bersama kita dan kadang juga tinggal di rumah kakek dan neneknya yang lain." Tanpa aku yang minta nyatanya Ibu juga bercerita mengenai permasalahan keluarga kami.


"Ibu sama Bapak sabar yah mungkin keluarga kita sedang di uji dan sebentar lagi akan diangkat derajatnya, dan tetap berdoa bahwa semuanya akan kembali ke Ibu, adik-adik akan kembali akur. Terus sekarang anak Lyka sama Lyra semuanya di rumah keluarga Samsul?" tanyaku, mengingat ibu tidak bilang akan membawa ponakanku ke sini.

__ADS_1


"Dari sebelum puasa diambil sama mereka, bahkan tadinya anak Lyka mau Ibu sama Bapak bawa ke Jakarta, tapi keluarga Samsul tidak izinkan jadi bagaimana lagi, kita yang waras ngalah saja. Cape  bersitegang dengan mereka ujungnya pasti mereka tetap menang," balas Ibu, yah keluarga Samsul adalah polisi mereka jarang mau ngalah, jadi Ibu dan Bapak kadang yang harus ngalah agar tidak terlalu berlarut masalahnya.


Kami pun terus ngobrol dengan mengasuh Iko yang anteng Ibu gendong. Bapak dengan Mang Jamil ternyata memilih di bawah ngobrol santai dengan melihat koleksi ikan mas suami yang banyak, aquarium dan kolam semuanya cukup untuk menghilangkan jenuh, dan setres. Belum kicauan burung yang sengaja di pelihara menambah suasana lantai bawah cukup menjadi tempat favorit untuk ngobrol. Jangankan Bapak dan Mang Jamil yang lebih nyaman di bawah, tetangga pun kalau pulang teraweh ada aja beberapa orang yang mampir untuk ngobrol-ngobrol santai dengan Mas Aarav di bawah.


Rasa sedih Ibu karena dijauhkan dengan ke dua cucunya, akhirnya di sini bisa di obati oleh hadirnya Iko, aku biarkan Iko di asuh oleh Ibu untuk menghilangkan kangennya dengan cucu yang sudah satu bulan tidak bertemu. Orang tua Samsul mengambil cucunya dari orang tuaku dengan alasan mereka sibuk, padahal biarpun Ibu dan Bapak ada kerjaan di luar rumah, cucunya di rumah ada yang jaga, malah kadang diajak, tapi mungkin mereka tidak puas dengan cara mendidik Ibu sehingga diambil semuanya, anak Lyra dan Lyka.


"Ngomong-ngomong Lyka dan Lyra gimana kabarnya Bu, apa mereka sering telpon ke Ibu, terus tahu anak mereka diambil sama bapaknya?"


"Lyka sering telpon, malah semalam juga telpon pas Ibu bilang mau ke rumah kamu, ya dia juga nitip salam buat kamu. Lyka tahu anaknya diambil keluarga Samsul, dan ya dia sih nggak ada masalah. Terserah bapak anaknya aja. Nanti juga kalau anaknya udah gede tahu ibu kandungnya dan bisa nentuin mau tinggal di mana. Asalkan anak nggak terlantar dia tidak masalah."


Aku pun membalas salam dari Lyka, meskipun aku tidak sependapat dengan cara berpikir Lyka tentang anaknya, tapi aku mencoba mengerti mungki Lyka tidak mau memperpanjang masalah.


"Kalau Lyra kurang tahu, karena memang di pesantren kan nggak boleh ada ponsel, khusus belajar, tapi kalau ditanya ke penjaga pondok semuanya aman. Ibu hanya bisa berharap semoga Lyra berubah dan jangan melakukan pemikiran bunuh diri lagi. Dan bisa ngontrol emosi dan obsesinya. Bisa ngalah semua pikirannya jadi lebih baik lagi."


Amin....


#CATATAN : Novel ini menggunakan sudut pandang POV 1 (Lydia) sehingga semua cerita diambil dari sudut pandang Lydia. Yah bisa dibilang disini Lydia yang sedang bercerita dengan lingkungan sekitar mereka. Namun, mungkin banyak kurang puas dengan cerita yang menggunakan POV 1. Maka kedepannya akan di pindah menggunakan POV 3 (Sudut pandang penulis) jadi semua tokoh akan dibuat seolah bercerita.

__ADS_1


Terima kasih untuk yang masih mengikuti cerita ini. Yang mau mudik hati-hati di jalan dan yang bikin kue semangat. Yang masih kerja yukkk semangat terus.....


__ADS_2