Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Mandiin Ikan


__ADS_3

"Wah enak sekali, kalian sedang makan apa?" tanya Hadi yang langsung masuk setelah mengucap salam.


"Jagoan bagi dong?" Hadi pun menghampiri Iko yang sedang makan baso.


"Mau...?" Anak kecil itu menunjukan sendok yang tanpa isinya.


"Boleh?"


Iko langsung ngangguk dan memberikan mangkoknya pada Hadi.


"Ulu, manis sekali..." Hadi bukanya mengambil mangkoknya malah memeluk bayi tampan itu.


"Mas Aarav mana Mas Hadi?" tanya Lydia yang tidak melihat suaminya, yang ada hanya Hadi saja.


"Masih di polda dengan Handan, tapi sebentar lagi selesai kok, tadi hanya ada urusan kecil.


"Tapi hasilnya gimana?"


"Tidak gimana-gimana kan status juga masih sebagai saksi, dan hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ringan saja, mungkin kamu besok gantian bareng sama Mimin, hari ini sudah terlalu sore jadi dibagi dua panggilan, nggak usah dikhawatirin lah namanya juga Wijaya, itu dia marah karena David dipolisikan makanya sekarang nyerang balik kita."


Hadi tetap terlihat tenang dengan sesekali menyuapi Iko, anak itu tadi tidak mau di suapi sama bunda dan mamahnya, tapi giliran dengan Hadi dia mau.


"Tapi yang saya tanyakan itu gimana Mas?" Kali ini Mimin ikut nimbrung.


"Yang mana? Saldo dari Lydia?" tanya balik Hadi.


Mimin membalas dengan anggukan. Mungkin kalau Lydia tidak mengirimkan uang ke rekeningnya ia tidak akan secemas ini, tetapi ada transaksi dari Lydia yang bisa saja masuk dugaan pembayaran jual beli bayi.


"Hal itu nanti dibahas dengan Handan dia dan Aarav paling masih di jalan."


"Ngomong-ngomong sudah lama Om Hadi nggak main ketemu Iko kok makin ganteng aja sih."


"Iya lah siapa dulu ibunya." Lydia melirik Mimin yang masih makan bakso.


Uhukkk... uhukkk...


"Apaan sih Lyd..." Mimin memberi kode dari sorot matanya dia tidak mau dijodoh-jodohkan oleh sahabatnya lagi.


"Lah emang kenapa? Kan yang aku bilang benar, ibunya cantik bapaknya ganteng anaknya yang kaya Iko." Lydia malah melanjutkan, bukanya takut diberi kode agar tidak membahas hal yang sensitif.


"Kalau bapaknya kaya aku kira-kira bakal kaya apa?" Hadi malah melanjutkan ucapan Lydia.


"Kayaknya perlu dibuktikan Mas biar tahu hasilnya kayak apa." Lydia justru memberi kode sama Mimin agar diterima.

__ADS_1


"Ah, nggak asik bunda kamu Ko, malah bahas yang lain, padahal kan Mamah ke sini mau bahas masalah kakek tua kamu."


"Bawa santai aja Min, jangan terlalu diambil serius nanti cepat tua loh."


"Iya aku juga santai kok, kalian kan memang selalu kaya gitu. Ngomong-ngmong Tante Misel ke mana tumben sepi?" Mimin sengaja mengalihkan obrolan.


"Mamih sedang belanja bulanan, mungkin ada yang ingin dibeli jadi berangkat sendiri."


"Pantas sepi biasanya kalau ada Tante rame."


"Enggak ada Mami aja rame, apalagi ada Iko tadi aja udah nangis dua kali, kan rame."


"Wah Jagoan nangis kenapa?" tanya Hadi mana percaya anak tampan dan baik kaya gini nangis.


"Enggak... gak nangis..." Dengan yakin bayi tampan itu tidak mengakui kalau dia tidak nangis.


"Biasa disuruh mandi nggak mau, nangis. Terus giliran udah mau nggak mau udahan badahal tangan udah keriput-keriput kena air." Lydia pun langsung buat laporan.


"Ikan Iko Bunda...." Kali ini mungkin keingat ikanya yang ada di bak mandi mati anak itu bibirnya sudah gerak-gerak mau nangis lagi.


"Kan itu salah Iko, kenapa ikanya dimandiin pake sabun ya mati dong Sayang. Ikan itu nggak bisa dimandiin pake sabun jadinya mati kan."


Sontak saja Hadi dan Mimin yang tadinya mau iba melihat reaksi Iko yang terlihat sangat sedih pun langsung terkekeh.


"Ikanya mati..." jawab Iko, ekspresi wajahnya yang bikin gemas orang yang ajak ngobrol.


"Lagian kenapa ikanya dipakain sabun? Emang ikanya bau?" Kali ini Hadi tidak kalah penasaran dengan kepintaran anak tampan itu.


Iko dengan semangat mengangguk. "Bau amis ikanya...."


Kembali ruangaan pun rame dengan tawa renyah Hadi dan Mimin.


"Sabun dan sampo habis Min, aku tinggal siapkan perlengkapan pakaian Iko, nggak nyangka bak tempat simpan ikan penuh busa dan ikanya mati dong." Lydia menambahkan kepintaran anaknya.


"Sekarang ikanya di mana, dikubur nggak?" tanya Hadi lagi.


Iko menggeleng, "Dikasih makan kucing..."


"Ya ampun Ko gemes banget sih kamu." Hadi mencium anak itu dengan lembut.


"Udah yah makanya sekarang ganti baju, nanti Papah pulang kamu belepotan gitu mana bau baso nanti malah digigitnya disangka baso beranak." Lydia pun beranjak mengambil pakaian untuk abang Iko.


"Mau pakai baju sama siapa?" tanya Lydia sembari menujukan baju."

__ADS_1


Iko sendiri tampak mikir, untuk menentukan pakai baju dengan siapa. Tangan kecilnya menujuk Hadi, sontak saja Hadi langsung senang dan berjingkrak gembira.


"Yeh, akhirnya pilih Om..." Tangan Hadi langsung mengambil pakaian dan perlengkapan Iko. Tentu dengan dibantu oleh Lydia karena Hadi belum begitu tahu cara-cara memakaikan pakaian pada anak kecil.


"Kok milihnya Om Hadi, Bang. Kenapa bukan pilih Mamah?" Mimin menunjukan wajah sedihnya.


Iko pun kembali melihat Hadi dan bergantian sama Mimin.


"Berdua aja si..." Lydia kembali menyalakan percikan api-api kompor biar lebih hangat.


"Boleh kan yah Bang kalau berdua," Lydia kali ini bertanya pada anaknya langsung. Dan Iko pun langsung menjawab dengan anggukan.


"Tuh Min, Iko pun bilang boleh berdua. Nggak apa-apa belajar ngurus anak siapa tahu tahun depan benaran punya anak lagi, jadi aku punya anak kamu nyusul juga, kan enak tuh Iko banyak temanya." Kan, Lydia mungkin dulunya adalah mantan makcomblang, pinter banget cari celahnya.


Akhirnya setelah dibujuk ini dan itu oleh Lydia, dan Hadi yang juga tampak tidak ahli memakaikan pakaian pada Iko, Mimin pun turun tangan membantu pakaikan anaknya baju.


"Yeh sekarang udah tampan lagi." Terakhir Hadi menyemprotkan minyak wangi pada anak tampan itu.


Hai Kakak-kakak yang cantik dan ganteng Abang udah ganteng dan wangi kan....?



"Wah, wangi minyak telon kayaknya ada yang baru mandi nih..." Aarav pun langsung masuk setelah mengucap salam dan mencuci tanganya, di belakanya ada laki-laki yang sangat mirip dengan Hadi. Tanpa memperkenalkan namanya Lydia pun sudah tahu kalau laki-laki itu adalah Handan, sang pengacara yang membantu kasus Mimin dan David, tapi juga sekarang merangkap kasus Mimin, Aarav dan Wijaya.


#Gajih Handan banyak dong...


"Ini anak yang kamu ceritain Bang. Pantes ngotot banget biar aku datang ke Jakarta ternyata ini toh alasanya." Handan yang memang iseng bin jail terutama dengan Hadi pun langsung melancarkan aksinya.


"Bawel, loe nggak dapat jatah ngomong di sini." Hadi memberikan tatapan sengit pada Handan.


"Yeh cemburu, baperan banget punya abang." Handan menujuk Hadi dengan bibir diangkat sebelah.


Mereka pun ngobrol dengan diselingi pertengkaran-pertengkaran kecil terutama Handan dan Hadi yang hampir nggak pernah sependapat, ada ajah perdebatan yang di keluarkan. Maklum adek kakak memang suka gitu. Dekat aja gelut terus tapi kalau jauhan baru dah kangen-kangenan.


"Tadi hasilnya gimana Mas?' Setelah obrolan ringan Lydia yang penasaran dengan asil sang suami pun langsung mencecar pertanyaan hasil pemeriksaanya.


"Aman, pertanyaanya pun gampang-gampang, dan semuanya bisa dijawab dengan jelas dan memuaskan. Tinggal menunggu hasilnya nanti kalau semua sudah sidang.


"Pertanyaanya apa aja?" tanya Lydia dan Mimin hampir bersamaan."


Bersambung.....


...****************...

__ADS_1


__ADS_2