Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Bayi Manja


__ADS_3

Pandangan mata Mami Misel langsung terfokus pada sesosok yang baru saja turun dari mobil mewahnya.


"Loh siapa yang sakit Dok?" tanya Mami Misel ketika melihat dokter Nenti datang ke rumahnya.


"Lydia tadi telpon katanya Aarav sedang tidak enak badan."


Sontak Mami Misel kaget ketiaka tahu kalau Aarav sakit. Mami Misel langsung menghampiri menantunya.


"Lydia memang Aarav sakit? Bukanya tadi pulang dari panti masih sehat-sehat saja?" tanya Mami Misel pada menantunya.


"Lydia juga baru tahu tadi tiba-tiba Mas Aarav yang memilih untuk di kamar terus kirain ada perlu apa ternyata sedang tidak enak badan," adu Lydia.


"Sekarang Aarav sedang apa?"


"Baru aja tidur Mih, habis dipijetin pelipisnya. Mami mau masuk?" tanya Lydia, sembari berusaha bangun, meskipun usia kandunganya baru berusia empat bulan, tapi karena anaknya ada dua sehingga perutnya jauh lebih besar dari kehamilan dengan anak normal.


"Enggak udah biarin Aarav istirahat dulu."


"Dokter sedang sibuk nggak?" tanya Lydia pada dokter Yuli.


"Tidak, baru selesai praktek dan langsung ke sini."


"Kalau gitu istirahat dulu yah, sembari makan, mungkin ada yang dokter mau, Lydia mau lihat Mas Aarav sudah bangun atau belum."


"Iya, santai saja. Kebetulan saya nggak banyak kerjaan kok," jawab Dokter Yuli dengan ramah.


Setelah berpamitan dengan mertua dan yang lainya Lydia pun kembali masuk ke dalam kamarnya, jangan di tanya Iko ke mana, sudah pasti sedang bermain dengan para sepupunya dan ditemani dengan mbak-mbak pengaruhnya, serta ada Amora yang jadi pengawasnya.

__ADS_1


Jadi Lydia bisa santai mengurus bayi gedenya. Lagi pula sedang banyak teman-temanya gini, mana bisa Lydia yang sedang perutnya besar ngawasin Iko, serahkan semuanya pada adik iparnya.


Kepala Lydia mengintip masuk melihat Aarav dari sela pintu di mana, suaminya masih pulas tertidur. Lydia pub tidak jadi masuk karena kasihaan kalau dibangunkan biarkan tunggu sebentar lagi mungkin saja akan bangun.


"Dok, nggak lagi buru-buru kan? Mas Aarav belum bangun, tidak tega kalau mau bangunkan paling tunggu sebentar lagi yah, paling nggak lama juga bangun karena sudah cukup lama tidurnya." Lydia pengambil duduk di samping dokter Yuli yang sedang menikmati rujak bebek dan juga es cendol.


"Tidak Lyd, aku juga lagi makan, biarkan Aarav tidur yang lama kalau perlu biar aku bisa makan semua yang ada di sini. Maklum baru pulang kerja  jadi berasa lapar banget," kelakar dokter Yuli, lagian mana mungkin makan semua yang ada di sana sedangkan makanan yang disediakan untuk tamu-tamu yang datang cukup banyak dan bervariasi.


Mereka pun melanjutkan berbincang-bincang bahagia dengan yang lainya. Maklum adik-adik Aarav dan kakaknya datang ke Indonesia kalau lagi ada acara penting saja, seperti acara kali ini, maka selebihnya pada berjauhan, ada yang di Arab saudi, Italia dan Malaysia. Hanya Aarav yang cinta dengan buatan lokal seperti Lydia.


"Wah ini sih makin rame," ucap Mami Misel ketika melihaat Mimin datang dengan kado besar di tanganya. Jangan ditanya sudah pasti ada penjaganya di belakang Mimin, siapa lagi kalau bukan Sultan Hadi. Yang nampaknya tidak mau kalau bawa papper bag di tangan kanan dan kirinya.


"Astaga kamu bawa apa Min, aku belum lahiran loh kok udah bawa kado aja," ucap Lydia sembari mengambil kado dari Mimin.


"Aku baru ingat kamu beberapa hari lalu ulang tahun pernikahan, dan aku baru sempat belikan kado untuk kamu dan Aarav, selamat anniversary yang ke dua tahu yah, semoga langggeng terus dan bahagia terus," ucap Mimin sembari tangannya mengusap perut Lydia yang sudah mulai buncit.


"Aarav yang bilang, kebetulan waktu dia bungkus kado buat kamu, aku tidak sengaja lihat jadi tanya deh. Yah, jadi tahu lah.


"Terus itu Mas Hadi bawa kado juga?" tanya Lydia sembari menunjuk dua papper bag yang besar yang dibawa oleh Hadi.


"Kadonya sudah diminta sama Aarav, dia minta kadonya bukan barang yah. Mintanya saham supermarket yang punya David, mana mintanya lima persen, bener-bener tuh orang satu, nggak ada akhlak," umpat Hadi, mumpung nggak ada orangnya bisa mengumpat kapan saja.


"Jadi loe nggak ikhlas?" tanya Aarav yang ternyata sudah bangun.


"Bukan masalah nggak ikhlasnya. Loe diminta bantuan untuk sama-sama mengolah tempat itu juga nggak mau. Setidaknya punya saham berpartisipasi juga untuk mengolahnya dong."


"Gue bukan nggak mau bantu ngolah, tapi biarkan loe dan Mimin ada kerjaan kalau gue ikut campur berasa jadi obat nyamuk setiap meeting gue ditengah-tengah kalian terus, ia kalau kerja profesional, kadang-kadang bawaanya gue pengin pulang kalau lihat kalain berdua,"

__ADS_1


"Udah-udah, jadi Mas Hadi bawa apa?" tanya Lydia yang pusing setiap Aarav ketemu dengaan Hadi pasti ribut terus udah gitu nada bicaranya udah kaya orang berantem seriusan.


"Baju dan mainan untuk Jagoan, di mana Jagoanku?" tanya Hadi kini laki-laki itu sudah lebih terbuka bahkan panggil Iko sudah anakku, dan  Mimin pun tidak lagi melarangnya karena memang urusan Wijaya dan dirinya tinggal sekali lagi pertemuan sidang yang artinya janjinya dia untuk memberikan jawaban atas laamaran Hadi semakin dekat. Selama ini baik Hadi dan Handan juga sangat menghormati dirinya dan itu berhasil membuat Mimin merasa nyaman dan tidak lagi terlalu tertutup dengan Hadi maupun Handan sebagai calon adik iparnya. Apalagi Handan juga benar- benar bekerja dengan sangat baik. Dia pun tidak mau dibayar oleh Mimin, mungkin memang sudah di bayar oleh kakaknya atau memang laki-laki itu murni mau membantu kasus Mimin, tanpa adanya imbalan.


"Iko sedang bermain di taman belakang dengan sepupunya, coba aja panggil sudah dari tadi mungkin sudah cape juga," ujar Aarav.


"Mas, tuh dokter Yuli udah datang sekarang diperiksa dulu yah," ucap Lydia mengalihkan obrolan mereka.


Mendengar ucapan Lydia Aarav pun langsung mengerutkan keningnya. "Dokter Yuli, siapa yang panggil dokter Yuli, Mas baik-baik saja tadi kecapean aja kok Sayang sekarang sudah baikan lagi," balas Aarav dengan menunjukan wajah yang segar dan tentunya tidak seperti orang yang sedang sakit.


"Tapi tadi bukanya Mas bilang lemas, mual dan pusing."


"Iya tadi memang kaya gitu, tapi sekarang sudah tidak kok, udah enakan badanya."


Lydia langsung mengernyitkan keningnya, menelisik apakah suaminya berkata benar atau tidak karena rasanya terlalu mustahil sembuh dengan hanya tidur siang.


"Tidak apa-apa Lyd, kamu jangan bingung memang kalau bawaan hamil kaya gitu, kumat-kumatan, kadang sakit kadang  sembuh. Emang kaya gitu kalau ngidam." Dokter Yuli pun mengambil alih menjelaskan apa yang terjadi pada Aarav.


Lydia pun menatap suaminya.


"Tapi kok manjanya nggak ilang-ilang," balas Lydia, malah sekarang makin manja kalau malam aja kalau mau tidur harus di usap-usap rambutnya udah melebihi manjanya Iko.


"Kalau itu biasanya nanti ilangnya kalau anaknya sudah lahir."


Aarav pun hanya tersenyum dengan wajah merah merona. Karena dia akui, memang sekarang seneng banget kalau dimanja sama istri.


Bersambung......

__ADS_1


...****************...


__ADS_2