Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Maaf?


__ADS_3

Waktu bergulir terasa sangat cepat, dalam pikiran Mimin masih terekam dengan jelas saat ia masih kecil, hidup penuh keharmonisan, penuh canda dan juga tawa. Hingga beranjak dewasa, masih terus dihujami kebahagiaan. Memiliki ayah, ibu dan seorang kakak laki-laki yang cukup dekat dengan dirinya, kata orang itu adalah suatu keberuntungan. Itu pula memang yang dirasakan oleh Mimin, ia masih tidak menyangka kalau apa yang ia rasakan saat itu harus berakhir dengan rasa sakit yang hingga detik ini sulit untuk menyembuhkannya.


Berdamai dengan hati sendiri nyatanya tidak segampang orang katakan. Setiap senyum yang ia tunjukan nyatanya menyimpan kesakitan yang luar biasa. Itu yang saat ini Mimin rasakan. Ia berperang dengan hatinya, antara kata maaf dan kemarahan. Ia mencoba mengobati rasa sakitnya. Karena dia juga memiliki harapan bahagia seperti yang orang lain rasakan. Berkumpul dengan keluarga. Meskipun dulu orang-orang itu pernah menyakitinya.


Wanita bercadar itu bergeming di ambang pintu, pandangan matanya terfokus pada sesosok laki-laki yang terasa asing di matanya. Tubuhnya tidak sekokoh dan seperkasa dulu. Kini laki-laki yang sangat ia benci justru hanya manusia yang sedang berjuang untuk kesembuhannya. Tubuhnya sangat berbeda dengan dulu, sekarang lebih seperti tulang berbalut kulit. Ruangan yang luas, yang mana ruangan itu dulu adalah kamar ke dua orang tuanya dan ia dulu sangat senang berada di kamar itu, karena terasa nyaman dan hangat. Namun, sekarang kamar itu terasa dingin dan asing. Ia justru seperti berada di sebuah kamar di rumah sakit. Banyak alat medis berada di kamar itu.


Julio berjalan ke samping sang ayah yang kembali terpejam. "Yah, Jasmin sudah pulang. Ayah pengin ketemu dengan Jasmin kan? Dia sekarang ada di sini. Pengin ketemu Ayah." Julio berbisik di samping telinga Lukman.


Seperti sebelumnya Lukman pun ketika mendengar nama putrinya langsung bangun dan pandangan matanya mencari sosok putrinya.


"Ayah sudah menunggu kamu pulang. Kemarilah Ayah hanya ingin melihat putrinya." Julio menatap Mimin yang masih bergeming di ambang pintu.


Hadi yang melihat Mimin tidak merespon ucapan Juio pun memegang pundak calon istrinya, hingga wanita bercadar itu tersentak kaget.


"Ayah kamu mau ketemu kamu." Hadi menunjuk Lukman yang menatapnya dengan tatapan lemah dan bingung ketika melihat wanita yang berpakaian tertutup.


"Jasmin .... apa itu kamu Nak?" tanya Lukman dengan suara lirih, dan tangan mencoba meraih tangan Mimin.


"Ayah kamu ingin berbicara dengan kamu. Kamu mendekatlah." Lagi, Hadi berbisik pada Mimin, yang nampaknya ragu untuk mendekat pada ayahnya. Mimin pun memalingkan pandangan matanya menatap Hadi, seolah ia bertanya dengan keberadaan Hadi.


"Temui Ayah kamu, kasihan beliau rindu dengan putrinya." Hadi kembali berbisik agar Mimin jangan ragu untuk mendekat pada ayahnya.


Wanita berpakaian gamis panjang serta hijab dan niqab pun perlahan berjalan ke arah Lukman dan duduk di kursi yang sudah di sediakan di samping kanan Lukman, tidak lupa Hadi pun mengikuti calon istrinya dan berdiri persis di samping Mimin.

__ADS_1


Di balik cadarnya Mimin mengembangkan senyum tipis meskipun terpaksa.


"Ka ... kamu sudah pulang?" tanya Lukman dengan suara yang lirih dan terbata. Namun, Lukman tidak begitu yakin karena wajah Mimin masih tertutup niqab dan hijab panjang. Sedangkan dulu Mimin adalah wanita yang berpakaian terbuka dan sangat mencintai olahraga. Sehingga tubuhnya bagus dan saksi.


Mimin mengangguk dengan lemah ingin ia menyapa ayahnya tapi tenggorokanya sakit seperti ada yang mencekiknya hingga ia ingin berbicara rasanya sangat sulit.


"I... iya saya Jasmin." Akhirnya Mimin menjawab ucapan Lukman meskipun terbata dan ragu.


"Tadinya kondisi Ayah tidak seperti ini, tapi belakangan kondisinya semakin menurun. Itu sebabnya aku minta kamu pulang karena orang tua  kita hanya tinggal ayah. Aku tidak ingin kamu menyesal seperti yang aku rasakan karena tidak bisa melihat wajah Ibu untuk terakhir kalinya. Jangan tanya penyesalan itu seperti apa? Karena rasanya sangat sakit bahkan tidur pun aku tidak bisa tenang." Julio menatap adiknya yang matanya sudah merah karena menangis sejak tadi.


"Jasmin ... maaf ... Ayah minta maaf ...." Lukman kembali berbicara dengan terbata. Sedangkan Mimin, dari tadi masih menunduk. Tenggorokanya semakin sakit ketika ayahnya meminta maaf.


"Ayah sudah menunjuk pengacara keluarga untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dengan Ibu dan Ayah. Aku pun tidak tahu kronologi pasti, apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka. Karena Om Hilmi pun hanya mau membuka wasiat dari Ayah kalau sudah ada kamu. Nanti kita akan temui Om Hilmi bersama-sama." Julio lagi-lagi menyela ucapan Lukman.


"Jasmin ... kamu akan di sini terus kan?" tanya Lukman suaranya semakin lemah dan terlihat seperti sangat sulit untuk berbicara. Contohnya saat ini ia berucap beberapa kata saya, Lukman sudah ngos ngosan seperti telah melakukan lomba lari hingga ratusan meter.


"Jasmin mau nikah?" tanya Lukman dengan wajah kaget, tapi tidak mengurangi rasa bahagianya. Karena putrinya pulang.


"Iya Om, apa Om Lukman izinkan Hadi menikah dengan Mimin?" tanya Hadi ulang. Laki-laki itu benar-benar tidak pernah bermain-main dengan ucapanya. Ia langsung meminta izin pada orang tua Mimin, ketika melihat kalau kondisi Lukman cukup parah. Bahkan yang ia ingat sepertinya hanya Jasmin, untuk merespon ucapan Julio pun Lukman seperti kesulitan. Atau justru ia sudah lupa kalau Julio adalah anaknya juga. Yang ia ingat hanya Jasmin.


Dengan lemah Lukman mengangguk yang tandanya ia mengizinkan kalau Hadi menikah dengan putrinya.


"Kapan Jasmin akan nikah?" tanya Lukman dengan menatap Mimin, yang menunduk bingung.

__ADS_1


"Apa Ayah ingin lihat Jasmin nikah?" tanya Julio, masih dengan berbisik.


Tanpa ada yang menduga untuk kali ini Lukman mengangguk lagi. Yang menandakan kalau Lukman ingin melihat putrinya menikah.


"Kalau gitu Julio bicara dulu dengan Hadi yah." Julio menatap calon adik iparnya agar ikut dengan dirinya.


"Min, aku tinggal berdua tidak apa-apa kan?" tanya Hadi pada Mimin. dan wanita bercadar itu pun mengangguk.


Hadi dan Julio pun meninggalkan Mimin, kali ini hanya berdua dengan Lukman. Sekaligus Hadi juga ingin memberikan waktu untuk Mimin mungkin bisa lebih leluasa berbicara dengan ayahnya ketika hanya berdua saja. Mungkin Mimin merasa tidak nyaman kalau mau berbicara dengan Lukman karena ada dirinya dan Julio yang mendengar obrolan mereka.


Mimin menatap Lukman yang masih menatap Mimin juga. Perlahan Mimin pun membuka niqab yang ia kenakan ketika Hadi dan juga Julio sudah keluar.


"Kamu Jasmin ...." ucap Lukman setelah Mimin membuka kain yang menutupi sebagian wajahnya.


"Kamu  Jasmin kan ....?" tanya Lukman lagi, padahal ia tadi sudah diberitahu kalau wanita itu adalah Jasmin.


"Iya saya Jasmin ...." balas Mimin dengan suara lirih. Ingin ia langsung memaki ayahnya, dan mengatakan dengan kata-kata kasar dan pelampiasan kemarahanya. Namun, yang keluar dari bibirnya justru kata-kata manis berbeda dengan apa yang ada dalam perasaanya yang seperti lahar panas yang tengah meletup-letup.


"Ja ... ja-ngan pergi lagi yah ...." Mohon Lukman dengan tatapan yang mengiba.


Bukan itu yang Mimin dengar dari bibir ayahnya. Yang Mimin ingin dengar adalah penjelasan dengan kematian ibunya, tapi Mimin menahanya. Ia tahu ingatan ayahnya terganggu buktinya ia masih bertanya Mimin sedangkan dari awal juga sudah diberi tahu kalau yang datang adalah putrinya.


Mimin hanya mengulas senyum masam dan mengangguk lemah. Tanpa ingin menjawab, karena jujur dari dalam hatinya ia tidak ingin tidur atau kembali ke rumah ini. Rumah ini mengingatkan dirinya pada kenangan yang tidak ingin Mimin ingat lagi. Namun, justru ayahnya menginginkan agar dirinya tidak pergi dari rumah ini.

__ADS_1


Bersambung....


...****************...


__ADS_2