Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Jatuh Sakit


__ADS_3

Hari terus berjalan begitu pun persidangan atas laporan Wijaya berjalan dengan baik, setelah proses mediasi, berlanjut pembacaan gugatan, setelah itu saksi dan bukti dari dua belah pihak bergantian dari pihak Mimin, serta pasangan Lydia dan Aarav  sebagai tergugat, setelah itu saksi dan bukti dari pihak Wijaya sebagai penggugat. Mimin pun benar-benar menggunakan momen saksi ini dengan sebaik-baiknya. Bang Jono di hadirkan dalam saksi yang telah dituduh menghamili Mimin dan bukti chat dari Wijaya dan uang-uang dari David yang tidak Mimin sentuh sama sekali, dan alasan Mimin memberikan anaknya pada Lydia, dan alasan Lydia menerima anak Mimin semuanya di jabarkan dengan jelas dan singkat. Mimin dan Lydia sangat memanfaatkan kesempatan ini agar sidang bisa mereka baktikan bahkan mereka tidak melakukan jual beli anak.


Kalau Mimin butuh uang pasti lebih memilih memakai uang dari David dari pada menjual anaknya. Yang Mimin lakukan dari awal hanya ingin melindungi anaknya dari keluarga David, karena Mimin taku tidak bisa melindungi anaknya. Sehingga ia butuh pasangan yang bisa melindungi Iko dengan baik.


Susuai dugaan Aarav dan yang lainya, proses sidang atas aduan Wijaya benar-benar alot. Pihak Wijaya selalu mengajukan  banding atas putusan pengadilan, seharusnya persidangan tidak berlarut andai Wijaya menerima keputusan sidang dengan legowo, tetapi rupanya laki-laki itu kembali mengajukan banding, sehingga persidangan dilanjutkan untuk mempelajari banding yang diajukan oleh pihak penggugat.


Sebenarnya baik Mimin maupun Aarav tidak heran dengan ini semua mereka semua bahkan sudah mempersiapkan hal ini. Aarav dan timnya sudah sepakat mengikuti permainan Wijaya meskipun Aarav tetap yakin dengan seratus persen kalau ia akan memenangkan kasus ini, alias pengaduan Wijaya gugur dan tidak terbukti bahwa Aarav dan Mimin melakukan jual beli anak. Aarav sudah berjanji bahwa ia tidak akan membuat keributan sehingga mengikuti permainan Wijaya yang tidak mau menerima kenyataanya kalau adanya akan gugur alias tidak bisa mempolisikan Mimin dan Aarav.


Seharusnya hari ini adalah sidayh putusan akhir tetapi berhubung pihak Wijaya melakukan banding sehingga sidang di perpanjang hingga tiga kali pertemuan lagi mendengarkan  bading dari Wijaya dan membelaan dari Aarav dan timnya dan terakhir setelah perundingan maka akan di berikan pengumuman atas hasil sidang.


Andai dibilang bosan, sudah jelas sangat bosan, karena selain cape juga menguras emosi dan pikiran. Tanpa terasa usia kandungan Lydia pun sudah masuk empat bulan, rencananya kalau memang kasusnya selesai dua bulan Lydia akan membuat selamatan empat bulan di kampung halamannya.


Namun nampaknya Wijaya tidak mengizinkan kalau dirinya pulang kampung sehingga. Terpaksa Lydia mengadakan pengajian di yayasan panti asuhan dan pengajian keluarga besar di rumah persembunyianya. Dan setelah semua urusan dengan Wijaya selesai ia akan pulang kampung untuk mengobati rasa kangennya dan juga sekalian mengadakan pengajian atas kelahiranya.


[Min, nanti jangan lupa datang pengajian di rumah yah sekalian dengan Hadi. Hanya keluarga dan kerabat saja yang datang kok, maklum rumahnya masih disembunyikan,] Itu adalah pesan yang dikirim pada Mimin.


[Iya nanti kami datang, acara di panti bagaimana semuanya lancar?] tanya Mimin, karena ia yang harus kerja sehingga tidak ikut acara selamatan di panti dan di rumah mereka tinggal, untuk mengundang tetangga-tetangga dan di tutup dengan doa kebaikan.


"Alhamdulillah sudah selesai, dan semuanya berjalan lancar.]


[Ok, kalau gitu kita bertemu nanti yah.] Mimin pun melanjutkan pekerjaanya dan akan pulang awal untuk menghadiri pengajian empat bulan ke hamilan sahabatnya.


Di rumah keluarga Aarav sendiri keluarganya sudah datang dan ramai dengan ponakan-ponakan yang memang adik-adik Aarav sengaja pulang untuk memberikan selamat secara lansung. Iko sendiri sekarang terlihat sangat senang karena banyak teman-teman bermainya.

__ADS_1


"Mas, kamu kenapa nggak keluar kamar?" tanya Lydia yang barusan masuk ke kamarnya karena sejak pulang dari panti dan kemarin ada acara di rumah pribadinya memang wajah Aarav seperti menahan sakit dan lebih banyak mengurung di dalam kamar.


"Kamu coba sini Sayang, tolong pijitkan kepalaku, aku sangat pusing," ucap Aarav dengan meletakan tangan sebelah kanannya di kening dan memijatnya dengan pelan.


Lydia pun nampak cemas dengan sikap Aarav yang sangat berubah. Punggung tangan Lydia pun diletakan di atas kening sang suami.


"Tpi tidak panas Mas, apa yang Mas rasakan?" Tanya Lydia dengan memijit kening sang suami yang rebahan di atas pangkuanya.


"Kepalanya pusing dan mual-mual, tapi kalau mual itu kadang datang kadang hilang," adu Aarav dengan mata yang terus terpejam.


"Mungkin Mas kecapean, atau malah ini akibat Mas itu hampir setiap hari makan rujat terus. Sekarang coba jangan makan rujat dulu, bukan tidak boleh makan rujak, tetapi jangan terlalu sering. Mas itu hampir setiap hari beli yang seperti itu, bahkan Mas Hadi sering lapor sama Lydia kalau Mas makan kaya gituan setiap hari. Sekarang dikurangin yah." Aarav dulu adalah orang yang sangat menjaga kalori yang masuk ke tubuhnya, tetapi sejak Lydia hamil ia sepertinya lupa akan misinya, untuk hidup sehat. Sekarang kayak yang penting enak, sehat nomer sekian.


Meskipun Aarav nampak sedih dan kecewa karena dilarang makan rujak dulu, tetapi demi kebaikan Aarav pun mengangguk. Setelah melihat jawaban dari suaminya Lydia pun memijit kepala suaminya.


"Apaa mau Lydia panggil dokter?" tanya Lydia yang nampaknya suaminya itu terlihat semakin lemas.


"Astaga Mas, namanya sakit emang  boleh di minta jangan. Lagian mungkin ini semua juga karena Mas yang akhir-akhir ini kecapean ngurus sidang, pekerjaan dan juga selamatan anak kita. Lebih baik Mas istirahat yah, Lydia akan panggil dokter dulu," ucap Lydia sembari bersiap akan beranjak bangun dari ranjangnya, tetapi di tahan oleh Aarav.


"Biarkan Mas istirahat sebentar dengan memeluk kamu dan anak-anak kita." Aarav yang berbicara dengan nada lemah dan pelan pun membuat Lydia tidak bisa menolak permintaan Aarav sehingga Lydia pun membiarkan suaminya memeluk tubuhnya dan untuk sesaat tertidur denga pulas.


Setelah memastikan kalau suaminya tidur dengan nyenyak Lydia pun perlahan turun dari kasur dan hendak memanggil dokter agar memeriksa suaminya. Yah Aarav tidak akan pernah mau diajak ke rumah sakit, ia lebih nyaman dalam hal apa pun selalu di ruamh kecuali apabila tidak ada alat yang bisa digunakan baru mungkin Aarav mau diajak berobat ke rumah sakit, tetapi selagi di rumah bisa makan Aarav akan memilih untuk istirahat di rumah saja.


"Abang kenapa Kak?" tanya Ainun ketika melihat kakak ipar keluar dengan mengendap-endap.

__ADS_1


"Kurang enak badan, sekarang baru tidur, dan mau panggil dokter," jawab Lydia dengan duduk di samping adik iparnya dan bersiap memanggil dokter pribadi keluarganya.


Cukup lama Lydia duduk dengan terfokus dengan ponselnya, ia sedang berkirim pesan dengan dokter kepercayaan keluarga mertuanya.


"Emang Abang ngeluh apa?" tanya Masaya, kakak ipar Lydia.


"Ngeluh badan lemas, kepala pusing dan mual-mual," jawab Lydia setelah memastikan kalau dokter akan datang untuk memeriksa suaminya.


"Ah, itu sih jelas Aarav ngidam Lyd, emang kadang ada banyak laki-laki yang ngidam saat istri hamil," jelas Masaya yang sudah memiliki dua anak.


Mendengar ucapan dari kakak iparnya Lydia pun langsung mengalihkan pandanganya. "Tapi bukanya kalau ngidam itu biasanya trimester awal yah, ini kan sudah masuk ke dua masa sih ngidam?" tanya Lydia dengan heran.


"Ngidak nggak harus trimester awal ke dua atau akhir pun ada tergantung bawaan bayi, tapi kamu hebat loh Lyd nggak ngidam padahal hamilnya kembar tapi baik-baik." Masaya mengusap perut adik iparnya yang terlibat semakin buncit.


"Mudah-mudahan jangan lama deh ngidamnya kasihan kalau berlanjut lama. mana persidangan masih ada satu kali lagi."


"Tinggal putusan akhir kan setelah banding?" tanya Ainun yah mereka meskipun tinggal berjauhan, tetapi tahu betul perkembangan kasus-kasus sodaranya.


"Iya tapi ya itu bikin stres."


"Jangan di pikirkan terlalu dalam, anggap saja sedang bermain sidang-sidangan maklum orang seusia Wijaya itu kadang lagi lucu-lucunya."


Mereka pun terkekeh mendengar ucapan Masaya. Untung sodara Aarav baik-baik sehingga Lydia tidak sedih meskipun orang tuanya dan sodaranya tidak ada yang bisa hadir di acara empat bulanan anaknya.

__ADS_1


Bersambung.....


...****************...


__ADS_2