
Pukul sepuluh pagi.
Aarav yang kebetulan lewat ruangan Mimin pun cukup kaget ketika Mimin tidak ada di ruanganya. Calon bapak tiga anak itu pun langsung membuka pintu ruangan kerja Mimin.
"Sepertinya Mimin nggak masuk ...." gumam Aarav dilihat dari kerapihan ruangan Mimin tidak ada barang yang bercecer seperti orang kerja. Layar monitor laptopnya pun mati.
"Kalau tidak ada di ruangan, ke mana Mimin? Bukanya Mimin berangkat lebih dulu," batin Aarav. Yah, kalau berangkat kerja lebih dulu seharusnya sampai lebih dulu, tapi sampai sekarang jam sepuluh Mimin tidak juga ada di ruanganya.
Aarav kembali ke luar dari ruangan Mimin. Laki-laki itu bertanya pada teman Mimin, dan jawaban teman-teman satu bagian dengan Mimin cukup membuat Aarav kaget.
Mimin, hari ini tidak ada datang ke kantor, dan tidak ada yang tahu juga alasan Mimin tidak datang ke kantor. Dengan bingung Aarav pun kembali ke ruanganya.
"Apa Mimin benar-benar tersinggung dengan ucapan Lydia? Kenapa Mimin sekarang jadi beda banget sih. Kenapa Mimin jadi baperan banget kayak anak kecil," gumam Aarav.
Laki-laki itu mencoba menghubungi Mimin. Sesuai dugaan Aarav kalau Mimin tidak mengaktifkan teleponnya. Aarav yang awalnya berpikir positif pun jadi ternodai pikirannya dengan pikiran yang kurang baik.
"Bener-bener itu orang satu, bikin masalah aja." Aarav pun langsung meninggalkan ruangnya. Ia hanya ingin mengecek ke rumah sakit apakah Mimin, masih ada di rumah sakit, atau memang Mimin sebenarnya sedang ada masalah. Sebenarnya bisa saja kalau dia ngecek ke rumah sakit dengan menelepon Lydia, tapi sekarang kondisi istrinya sedang hamil dan juga Hadi akan menjalani operasi sehingga Aarav pun mencoba mencari tahu sendiri. Dari pada malah membuat orang yang ia sayang stres.
Sepanjang perjalanan ke dua mata Aarav pun awas melihat ke sekeliling jalan, mungkin saja melihat Mimin. Tepat di pintu gerbang terminal yang cukup besar di mana biasanya orang menggunakan terminal itu untuk melakukan perjalanan ke luar kota atau provinsi. Aarav melihat orang yang sedang ia cari. Yah, Aarav hafal betul sosok Mimin. Wanita itu baru turun dari angkutan kota dan berjalan di pinggir jalan.
"Mau ke mana Mimin? Apa mungkin dia akan kabur? Tapi ke mana? Apa dia sedang ada masalah yang ia coba pendam sendiri?"
__ADS_1
Aarav pun memilih putar balik dan mengikuti Mimin masuk ke dalam terminal. Loket penjualan tiket Jakarta - Bayuwangi menjadi tempat yang dituju oleh Mimin.
"Loh ngapain dia ke Banyuwangi, itu bukanya kampung halaman Lydia." Aarav semakin yakin Mimin pasti akan mengunjungi makan ibunya. Yah, Aarav tahu banyak tentang Mimin dari Lydia, termasuk makam ibunya yang ada di Banyuwangi.
Tanpa menunggu lama Aarav pun menyusul Mimin. Ikut naik ke bus yang akan membawa Mimin ke kota di mana ibunya di makamkan. Mimin yang merasa kalau ada yang mengikuti pun menghentikan langkahnya. Dan membalikan badan.
Deg! Mimin terkejut ketika melihat Aarav di belakangnya.
"Mau ke mana?" tanya Aarav tanpa basa basi. Kedua tanganya ia masukkan ke dalam saku celananya.
"Kenapa ikuti aku?" tanya balik Mimin, dengan suara yang serak, karena kebanyakan menangis.
"Kalau tidak aku ikuti kamu pasti akan pergi. Ada maasalah? Selesaikan jangan kabur. Jangan bikin kita jadi beranggapan buruk sama kamu. Hadi di rumah sakit, sedang butuh dukungan kamu, jangan kamu malah pergi. Iko, anak kamu, kamu harus tanggung jawab dengan masa depannya. Kami hanya dititipkan untuk melindungi dia. Jangan jadi pecundang yang langsung pergi begitu masalah kamu sudah selesai. Kamu juga bertugas dalam pekerjaan, pikirkan lagi. Kalau kamu tidak ada, siapa yang akan mengerjakan perkerjaan kamu, kamu sudah mengusai semua kerja kamu kalau mau pergi cari penggantinya dulu, jangan bikin kami rugi karena keegoisan kamu." Tanpa melihat lokasi Aarav langsung mencecar Mimin.
"A ... aku pasti kembali," balas Mimin dengan terbata.
"Kalau kamu mau ambil cuti datang ke ruangan atasan kamu, utarakan apa yang jadi kemauan kamu. Jangan kaya gini. Kami sudah sangat percaya dengan kamu untuk bekerja di kantor, tapi apa balasan kamu. Kamu malah buat kecewa kami." Tidak perduli banyak pasang mata yang menatap Aarav yang sedang marahin Mimin, laki-laki itu terus membuat Mimin tidak berkutik.
Mungkin selama ini, orang-orang terlalu baik pada Mimin sehingga ia dengan enaknya menentukan pilihan, karena beranggapan kalau orang-orang akan kembali memaafkan dirinya apabila melakukan kesalahan terfatal sekalipun.
Mimin hanya bisa menunduk ia tidak berani melihat Aarav, apalagi wanita bercadar itu tahu banyak pasang mata yang menatap ke arah dirinya.
__ADS_1
"Buang tiket itu, dan kembali ke kantor. Kerjaan semua terbengkalai. Kalau kamu mau mengunjungi makam ibu kamu tunggu Hadi setidaknya sudah pulih. Ikut aku kembali ke kantor!" Tanpa menunggu jawaban dari Mimin laki-laki itu pun langsung meninggalkan Mimin, ia sangat yakin kalau Mimin pasti akan mengikuti dirinya.
Tangan Mimin meremas tiket yang sudah ia beli. Air matanya ingin segera keluar, tetapi wanita itu dengan sekuat tenaga menahanya. Dengan terpaksa Mimin mengayunkan kakinya, mengikuti apa ucapan Aarav. Ia duduk di kursi penumpang belakang sedang Aarav di depan seorang diri. Bukanya Aarav melajukan mobilnya. Ia justru duduk diam. Untuk beberapa saat di dalam mobil pun terjadi keheningan.
"Apa kamu tidak mencintai Hadi? Kalau tidak, tinggalkan dia. Kasihan dia juga butuh bahagia dan kepastian. Aku pikir kamu pernah disakiti tidak akan pernah terlintas dalam pikiran kamu untuk menyakiti orang lain nyatanya kamu orang yang sangat berbeda. Aku seperti melihat orang lain di diri kamu." Aarav membuka obrolan, sedangkan Mimin hanya menunduk memainkan jari-jarinya, tanpa membalas ucapan Aarav sepatah kata pun.
"Aku tidak akan membahas hutang budi, karena apa yang kami lakukan sama kamu ikhlas, takutnya kalau aku membahas kebaikan kita justru pahala kita akan hilang, tetapi setidaknya kamu sebelum bertindak berpikir panjang. Lydia sampai kepikiran takut kamu marah dengan dia. Kamu tahu istriku sedang hamil, kalau tadi aku tidak menemukan kamu, dan kamu pergi, Lydia akan sangat merasa bersalah dan berakibat stres. Kamu tahu kan orang hamil resikonya bertarung nyawa, tidak boleh stres. Dan kamu hampir membuat istriku stres."
Aarav masih melanjutkan ceramahnya, rasanya ia sangat marah dan kesal dengan sikap Mimin yang menurut Aarav sangat kekanakan.
"Lalu Hadi, ia sekarang sedang menjalani operasi, namanya sakit kalau sudah berhubungan dengan operasi itu bukan sakit yang ringan. Masa penyembuhanya jauh lebih lama dan rasanya tidak enak. Kamu semestinya sebagai wanita yang Hadi cintai datang dan berikan dukunga. Jangan malah menambah beban pikiran Hadi. Aku nggak tahu apa yang ada dalam otak kamu. Kau terlalu egois, Mimin." Suara Aarav sudah sangat bergetar, saking marahnya.
"Ma ... maaf ...." Hanya satu kata yang terdiri dari empat huruf yang keluar dari bibir Mimin.
"Maaf, yah kata inilah yang selalu membuat kamu berpikir dengan gampang. Mentang-mentang kamu selalu dimaafkan oleh orang-orang yang sayang dengan kamu, kamu selalu menggunakan jurus itu untuk menutupi kesalahan kamu. Tidak semua masalah selesai dengan kata maaf. Mungkin ia dulu aku pernah memaafkan kesalahn dan semua kebodohan kamu. Tapi kalau udah di maafkan dan memperlakukan kesalahan yang sama lagi, apa itu masih bisa aku maafkan? Tidak! Kamu harus buktikan jangan hanya maaf, tapi tanpa bukti."
Aarav tahu Mimin sudah menangis, tetapi sekali lagi ia tidak ingin terbuai dengan tangisan Mimin. Biarkan dia nangis, tetapi habis itu jangan terlalu berpikir gampang.
"Apa masalah kamu sampai kamu ingin pergi dari sini?" tanya Aarav kali ini dengan suara yang lebih lembut.
Satu, dua, dan tiga. Mimin tidak menjawab pertanyaan Aarav. Bibirnya seolah berat untuk bercerita apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
"Orang lain tidak akan tahu kalau kamu hanya diam saja. Katakan apa yang membuat kamu ingin pergi dengan cara seperti ini?" tanya ulang Aarav kali ini dengan memalingkan wajahnya dan menatap pada Mimin dengan tatapan yang tajam.
"A ... aku tidak bisa menikah dengan Had!"