Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Kena Mental


__ADS_3

"Gimana tadi pemeriksaanya?" tanya Aarav sembari meletakan kepalanya di pangkuan sang istri.


"Alhamdulillah aman, seperti yang Mas bilang kalau Lydia nggak boleh tegang, dan semu pertanyaan bisa Lydia jawab dengan baik." Lydia mengusap rambut suami dengan lembut.


"Yah, soalnya polisi juga bisa membaca gerak gerik kita kalau bohong, mereka bisa tahu jadi lebih baik santai dan konsisten menjawab."


Lydia mengangguk dengan tangan bermain di atas wajah suaminya. "Degar-degar dari Handan kalau David paling dua kali lagi persidangan, Mas udah ketemu lagi dengan dia?"


Aarav menggeleng. "Mas hanya sebagai saksi tambahan kurang banyak bertemu dia, Hadi yang sering bertemu dia, karena Hadi saksi yang kuat. Kenapa?"


"Tidak tadi sempat makan dulu dengan Mimin, dan ada obrolan juga dengan masalah David dan Iko. Mimin sudah memberi izin kalau dia biarkan Iko bertemu dengan David. Tapi Mimin minta Lydia temanin. Kira-kira gimana menurut Mas?"


Aarav mengangguk menandakan ia paham dengan pertanyaan sang istri. " Kalau kata Mas nanti saja kalau sidang putusan pengadilan kita datang semua, dan sekalian ajak Iko, dan untuk penyemangat David di penjara kita pertemukan dia dengan anaknya. Kalau sekarang-karang jangan dulu, Wijaya masih menginginkan cucunya takut nanti menimbulkan kejahatan baru, cape banget ngadapin dia."


Mendengar usulan dari sang suami. Lydia pun langsung memberikan anggukan setuju. "Ngomong-ngomong sekarang Mas Hadi dan Mimin sedekat apa sih Mas? Kok Lydia lihat kayaknya Mimin ada yang ditutupi dengan Mas Hadi apa mereka diam-diam sudah berkomitmen? Mungkin saja Mas Hadi ada cerita gitu sama Mas. Kalau Mimin nggak mau cerita sama Lydia, mungkin nggak percaya."


"Hadi dan Mimin, Mas kurang tahu, kayaknya biasa saja dekat ya sebagai bawahan dan atasan, Hadi dan Mimin kan memegang bagian penjualan, jadi sering sama-sama, tapi kalau ada hubungan serius bagus dong. Kalau aku suka dengar candaan Handan dan Hadi sih memang sepertinya akan segera naik kepelaminan tepatnya kapan tidak tahu, mungkin Mimin bukan tidak mau cerita sama kamu, tapi tidak ingin memberitahukan karena masih banyak masalah dia yang belum selesai, takut nanti heboh duluan."


"Iya sih, Lydia pikir Mas Handan itu hanya bercanda, tapi ternyata mungkin memberikan kode-kode."


"Dia itu memang kaya gitu kalau dengan Hadi jarang akur, tapi omongan dia rata-rata fakta, mungkin kalau sodara cowok sama cowok gitu kali yah kalau ketemu juga ribut terus, tapi tetap hampir tiap hari Handan datang ke kantor. Jadi rame dah kantor."


"Lydia sodara cewek sama cewek malah nggak akur..." Lydia tersenyum getir hampir dua tahun ia hidup terpisah-pisah dengan adiknya dan belum ada  tanda-tanda adiknya akan datang padanya dan meminta maaf.


Aarav menatap mata sang istri yang memerah. "Kamu kangen sama Ibu dan Bapak, kalau kangen nanti selesai masalah kita dan Wijaya, kita pulang kampung bagaimana? Sekalian ajah Iko, adik kamu Lysa kan juga belum pernah ketemu dengan Iko."


Lydia menyeka air matanya dan memberikan seulas senyum bahagia. "Pengin sih ketemu dengan keluarga, tapi apa Lydia nggak keburu lahiran?" tanya Lydia dia tidak tahu seberapa lama masalah dengan laki-laki tua itu akan selesai.

__ADS_1


"Hahah... Sayang kalau tidak ada drama dari Wijaya, persidangan itu paling juga dua bulan sudah selesai, kalau sekarang anak kita dua bulan, berati kurang lebih usia empat bulan kita sudah bisa mudik. Bisa sekalian bikin sukuran di kampung kamu juga," usul Aarav dengan semangat.


"Lydia takut kalau nanti malah kita terbukti bersalah bagaimana?" Wajah Lydia kembali murung.


"Kita boleh mempersiapkan hal terburuknya, tetapi kita juga tidak boleh terlalu percaya, kita akan terus berusaha agar bisa menang dari tuntutan Wijaya. Mas akan hubungi semua orang yang terlibat pengobatan Mimin, mungkin dibutuhkan kesaksianya, termasuk dokter Dony Mahendra, dokter Sera, kalau perlu Abah dan Ambu, akan Mas minta bantuanya. Pokoknya kami tidak akan biarkan Wijaya menang. Pokoknya Mas dan yang lainya pun sudah wanti-wanti tidak ada proses uang di dalam masalah ini, kita juga minta sidang terbuka jangan tertutup agar semua bisa menghadirinya dan mengikuti proses sidang ini."


"Terima kasih Mas, Lydia sekarang sedikit lega. Jujur ada rasa takut kalau Wijaya akan menggunakan saksi-saksi meberatkan kita dengan kekuatan uangnya."


"Uang Wijaya? Dia tidak sekaya dulu Sayang, perusahaanya pun sedang banyak masalah banyak karyawan yang membuka suara tentang masalah dalam perusahaanya. Dia sekarang lagi pusing, apalagi tidak ada David yang diperalat agar menghasilkan uang banyak. Tanpa David Tuan Wijaya tidak punya kekuatan pemimpin yang kuat. Beruntung David orang yang pandai dalam mengambil kesempatan pekerjaan meskipun kadang cara dia mengikuti cara Wijaya kotor, tapi kalau tidak kotor pun keberhasilan David dalam bisnis pantut diacungi jempol. Makanya Wijaya kehilangan David sangat terlihat prusahaanya makin goncang, dan banyak karyawan yang menuntut uang gaji lembur dan membuka keburukan dalam prusahaanya. Jadi Mas rasa dia juga tidak akan punya uang untuk membayar orang tinggi. Kecuali kalau dia memang siap hancur mungkin akan menghalalkan segara cara."


Lydia pun mengulas senyum lebar.


"Lydia tidak sabar melihat kakek tua itu jadi gelandangan... Sudah banyak terbukti perusahaan besar ketika bermasalah dengan karyawanya bisa dibikin miskin dalam waktu satu malam."


"Hust jangan jadi gelandangan juga kasihan. Biarkan  dia tetap kaya, tapi hidupnya nggak tenang saja, dikejar-kejar tuntutan karyawan dikejar-kejar tagihan dan lain sebagainya itu sepertinya cocok."


"Papah.... Bunda...." Iko masuk dengan membawa, boneka Ikan hadiah dari Mimin sekarang tidak lagi merengek-rengek minta ikan karena tidur pun bareng ikan sekarang.


"Papah Awas...." Iko langsung menarik Aarav agar jangan tiduran di pangkuan bundanya.


"Astaga Abang, Papah belum juga satu jam manja-manjaan sama Bunda," protes Aarav sembari mengangkat kepalanya tidak lagi rebahan di pangkuan sang istri.


"No...No... Papah dedenya nanti sakit." Iko menggerak-gerakan jari telunjuknya agar Aarav tidak meminta pangku sama bundanya.


Tawa pun langsung menggema dalam ruangan yang luas itu.


"Kamu pintar banget anak siapa sih." Aarav mengangkat tubuh anaknya dan dipangku oleh dirinya.

__ADS_1


"Papahnya kena mental yah Bang, makanya jangan larang abang minta gendong yah Bang, sekarang dilarang juga sama anaknya minta pangku." Lydia tertawa renyah, melihat kepintaran Iko.


"Iya harus hati-hati sekarang kalau ngomong sama dia pintar banget."


"Papah, Iko punya ikan bangus..." Iko menunjukan boneka ikan, yang berwarna orange itu, dan ada juga boneka lumba-lumba dari semua ukuran.


"Kok bagus sekali ikanya dari siapa?" tanya Aarav mengetes ingatan anaknya.


"Mamah Min..." jawabnya dengan senyum mengembang.


"Iko bilang terima kasih tidak sama Mamah?" Kali ini Lydia yang bertanya.


Dan Iko mengangguk dengan kuat. "Iko mau bobo lagi dengan Mamah tidak?"


Kali ini Iko menatap Aarav dan Lydia bergantian.


"Kalau mau nanti Iko boleh nginap lagi di rumah Mamah, kasihan Mamah sedang banyak masalah mungkin kalau Iko nginap akan sedikit terhibur. Iko mau nggak?" tanya Lydia lagi.


"Mau..."


"Ok kalau mau nanti Bunda bilang Mamah, tapi jangan rewel yah kalau bobo sama Mamah..."


"Ok..." Iko memberikan jawaban dengan penuh semangat.


#Paus-puasin dah tuh Rav, Abang Iko mau diungsiin sama Lydia.... 🤭


Bersambung.....

__ADS_1


...****************...


__ADS_2