Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Dua Sultan Beraksi


__ADS_3

Operasi yang dijalani oleh Wijaya pun berhasil dan semuanya berjalan dengan lancar. Kini bahkan Wijaya sudah dipindahkan ke ruang ICU, menunggu kondisinya setabil baru akan dipindakan ke ruang rawat inap.


Di luar Risa berdiri memandangi suaminya. Ia masih teringat ucapan dokter beberapa jam yang lalu. Dokter menghimbau agar dirinya sabar merawat Wijaya, karena pasien yang mengalami pecah pembuluh darah di otak, penyembuhanya tidak bisa cepat apalagi Wijaya termasuk dalam kondisi yang cukup serius, pembulu darah yang pecah ada empat belas sehingga dalam pengobatanya harus benar-benar butuh kesabaran dan tidak bisa cepat. Beruntung tidak terjadi hal yang fatal, banyak kasus seperti Wijaya tidak tertolong karena telat penanganan.


"Pah, kenapa semuanya jadi seperti ini. Mamah tidak tahu sanggup atau tidak menghadapi ini semua," gumam Risa dari balik kaca yang memperlihatkan suaminya masih tidur dengan pulas dengan alat medis yang lengkap.


"David, adai kamu ada di sini. Mamah pasti tidak secemas dan sebingung sekarang. Mamah di sini bingung mau memulai dari mana." Risa pun kembali menangis. Padahal sebelumnya ia adalah wanita yang kuat hampir tidak pernah dalam hidupnya menangis apalagi berputus asa. Risa adalah orang yang selalu optimis bahwa ia bisa melewati segala ujian. Risa adalah orang yang sangat berambisius bisa mencapai segala cita-citanya.


Wanita paruh baya itu pun duduk, dari kemarin ia kurang istirahat, kurang makan dan pikiranya sangat bingung dengan musibah ini yang begitu tiba-tiba.


"Aku harus melakukan perubahan tidak mungkin aku hanya berdiam diri di sini dengan berharapkan bantuan datang. Orang-orang tidak akan membantu kalau aku tidak bekerja sendiri." Risa yang memang dari awal sudah memilih menjadi wanita karir pun memutuskan mengambil alih perusahaan suaminya. Ia harus menyelamatkan apa yang masih bisa diselamatkan. Pengobatan suaminya butuh biaya yang tidak sedikit. Dan juga biaya hidup, kalau ia tetap berdiam diri dan hanya meratapi nasib yang ada hanya keterpurukan dan putus asa dalam hidupnya.


Risa menghubungi orang kepercayaan suaminya agar tahu perkembangan perusahaanya yang akan di jual dan juga Risa sudah memutuskan untuk menjual aset lainya, rumah-rumahnya termasuk rumah yang masih dikuasai oleh karyawannya akan dijual. Uang-uangnya selain untuk biaya hidup juga untuk pengobatan suaminya, dan mungkin ia akan memulai bisnis yang kecil yang peting bisa bertahan hidup.


Masalah yayasan sekolah yang ia pimpin, meskipun berat Risa akan serahkan kepada yang lain. Dari pada semakin kacau nanti banyak pelajar yang hilang tempat untuk menempuh pendidikan.


[Hallo Nyoya apa ada yang perlu saya bantu?] tanya Tito dari sebrang telepon ketika Risa menghubungkan asisten kepercayaan suaminya.


[Bagaimana perkembangan perusahaan suamiku yang akan dijual? Apa sudah ada calon pembelinya?] tanya Risa tanpa banyak basa basibasi lagi, ia langsung pada topik permasalahan dirinya menghubungi Tito.


[Saya akan pastikan lagi dengan calon pembelinya Nyoya, ngomong-ngomong bagaimana kondisi Tuan Wijaya. Saya belum sempat menjenguk.]


[Kamu cepatlah tanyakan dan urus pekerjaan yang lebih penting dulu. Jangan hawatir kan suami saya. Karena semuanya akan baik-baik saja.]


[Baik Nyonya.]

__ADS_1


Risa langsung menutup sambungan telepon dengan Tito. Ia kini bisa bernafas lega dan besar Harapannya perusahaannya akan segera terjual. Agar ia bisa sedikit bernafas tidak terlalu berat memikirkan biayanya pengobatan suaminya. Meskipun ada asuransi kesehatan, tetapi kenyataannya tidak semuanya biaya di klaim oleh perusahaan ansuransi. Risa tetap harus memiliki uang yang banyak untuk pengobatan suaminya.


********


Di tempat lain.


"Bagiamana Tuan Hadi dan Tuan Aarav, kami sangat berharap Anda bisa membeli perusahaan bos kami. Saya jamin Anda semua tidak akan rugi kalau membeli perusahaan bos kami, karena hasil produksinya sudah banyak dikenal oleh masyarakat, pemasaranya luas bahkan hampir seluruh penjuru tanah air. Jadi saya pastikan Anda tidak akan rugi." Tito untuk kesekian kalinya mendatangi Hadi dan Aarav yang dari awal memang tertarik dengan perusahaan Wijaya, tetapi Hadi dan Aarav pun tidak ingin terkesan buru-buru. Mereka benar-benar mencari tahu semuanya perlanggaran apa saja yang dilakukan perusahaan Wijaya itu jangan sampai Hadi dan Aarav justru merasa rugi ketika membeli perusahaan itu, terlebih yang ditawarkan untuk sebuah pabrik pengolahan kelapa sawi dijual dengan harga yang murah.


Aarav dan Hadi mengecek ulang apa saja masalah yang dihadapi perusahaan Wijaya apakah murni hanya dengan karyawanya saja, atau justru ada juga kecurangan dalam pembayaran perpajakan, dan apakah perusahaan itu ada utang bank, Aarav dan Hadi benar-benar mengecek itu semua.


Setelah semuanya aman Aarav dan Hadi pun baru yakin akan mengambil alih perusahaan kakek tua itu.


Untuk masalah perusahaan kalian dengan karyawan sebelumnya yang bermasalah bagaimana?" tanya Aarav, karena permasalahan ini harus pasti jangan ada yang merasa tertipu dengan jual beli perusahaan ini.


"Kami yang akan bereskan semuanya Anda tinggal terima bersih, anggap saja perusaha itu baru lagi dan tentunya Anda sudah punya pasar yang luas.


"Anda tenang saja Tuan, saya yakin pemasaran kalian akan tetap lancar, karena berdaraskan pengalaman saya, namanya konsumen kalau sudah tahu kualitas mereka tidak akan ragu membelinya dan tidak akan terpengaruh dengan masalah yang ada dalam perusahaan. Dan ingat masih banyak masyarakat yang buta internet dan mereka juga yang melek internet tidak semuanya tahu berita akan atasan saya, jadi saya yakin tidak akan berpengaruh pada penjualan dan produksi kalian nantinya. Asalkan kualitas tetap sama dan tidak adanya perubahan kualitasnya." Tito menjelaskan dengan sangat detail dan menyakinkan Aarav dan Hadi untuk membeli perusahaan Wijaya.


Yah, Aarav dan Hadi memang sudah berhasil menggaet adik-adiknya agar ikut berinvestasi di perusahaan yang akan mereka beli, sehingga mereka pun sepakat untuk membeli perusahaan Wijaya selain mengambil keuntungan dalam kesempitan, yang paling baik dalam balas dendam adalah membalas dengan kesuksesan itu yang Aarav dan Hadi usahakan ia ingin jauh lebih sukses dari kakek tua itu agar tidak lagi bermain masalah dengan mereka.


"Kami sangat berharap agar Anda mau membeli perusahaan atasan kami, masalah karyawan kalau Anda tidak yakin kami akan menyelesaikanya, Anda boleh ikut untuk menyelsaikanya, agar Anda yakin kalau kami tidak mangkir dari tanggung jawab kami." Tito terus meyakinkan Aarav dan Hadi, selain dia juga nantinya yang pasti akan mendapatkan komisi yang besar. Tito yang sudah puluhan tahun bekerja ikut Wijaya dan dipercaya menjadi tangan kanan laki-laki tua itu tentu tidak tega melihat Wijaya ditimpa cobaan yang sangat berat.


Tito sudah tahu bahwa atasanya mengalami pecah pembuluh darah, dan ia pun tentunya sudah tahu kalau pengobatan Wijaya tidak sedikit sehingga ia pun mengusahakan yang terbaik kedepanya untuk atasanya. Meskipun mungkin ia sudah tidak lagi bekerja dengan atasanya itu.


"Baiklah, tapi kami meminta keringanan pembayaran. Kami akan bayar sebagian harga dulu, dan ketika surat-surat sudah lengkap dengan masalah utama sudah selesai, kami akan bayarkan sebagian lagi." Hadi mengambil alih keputusan setelah keduanya saling setuju.

__ADS_1


"Alhamdulillah, terima kasih kerja samanya Tuan. Saya berharap setelah perusahaan berpindah tangan pada Anda, semakin maju. Dan semakin banyak memberikan lapangan pekerjaan." Doa tulus dari Tito.


"Amin. Kami juga dengar-dengar atasan Anda jatuh sakit? Kalau boleh tahu sakit apa?" tanya Aarav  Memang mereka belum ada yang tahu sakit apa yang terjadi pada Wijaya.


"Terjadi pecah pembuluh darah, dan terjadi pendarahan hebat di otak, sehingga kemarin langsung menjalani operasi."


"Inalilahi, terus kondisinya sekarang bagaimana?" tanya Aarav dan Hadi hampir bersamaan.


"Jujur saya belum sempat menjenguknya, tetapi barusan Nyonya Risa mengabarkan kalau Tuan Wijaya belum sadar dan masih di ruangan Icu."


"Kalau begitu sampaikan salam kami pada Nyonya Risa, turut prihatin dengan musibah ini, dan untuk Tuan Wijaya semoga cepat puluh kembali seperti sedia kala."


"Semoga Nyonya Risa diberi kekuatan untuk menjalani cobaan ini. Kami tahu ini tidak mudah dan kami berharap semoga segera baik semuanya seperti sedia kala."


Aarav dan Hadi pun tidak lupa memberikan doa-doa terbaiknya untuk Tuan Wijaya dan keluarganya.


Meskipun laki-laki tua itu banyak membuat masalah, tetapi kalau sudah seperti ini mereka pun tidak tega, dan saling mendoakan yang terbaik adalah cara memaafkan kesalahan mereka.


"Terima kasih doa dari kalian Tuan. Nanti pasti akan saya sampaikan pada Tuan Wijaya maupun pada Nyonya Risa. Dan saya juga berharap doa baik Anda semua berbalas baik pada Anda." Tito membalas dengan sangat ramah dan lembut.


Bahkan Aarav dan Hadi sampai heran, di mana Tito adalah orang yang baik dan terlihat sopan, tulus dan jujur, tetapi kenapa bisa bertahan dengan Wijaya yang nampak sebaliknya. Apakah karena terpaksa karena keadaan ataukah memang Wijaya yang sulit dinasihati. Sepertinya tidak mungkin kalau Tito yang baik membiarkan Wijaya melakukan kejahatan dan mendukungnya.


#Aarav dan Abang Hadi uangnya banyak banget yah, othor minta lah buat beli cilok.... 🥴


Bersambung....

__ADS_1


...****************...


__ADS_2