
Mas Aarav menggenggam tanganku dengan kuat. Rasanya tubuhku seperti mati rasa ketika mendengar kabar kalau aku diminta datang ke kantor polisi. Meskipun aku tahu kedatanganku ke kantor polisi bukanlah untuk menanggung semua yang bukan kesalanku, tetapi aku diminta menjadi saksi atas apa yang menimpa adik bungsuku.
Tubuhku ditarik dengan lembut oleh mas bojo untuk bersandar pada dada bidangnya. Aku memejamkan mataku dengan kuat merasakan denyut jantung mas bojo yang aku tahu kalau kang mas suami juga deg-degan meskipun tidak separah aku.
Yah, tadi saat kami tengah menikmati sarapan pagi. Ponselku berdering yang ternyata itu dari adikku yang lain. Lyka memberitahukan agar aku segera menyusul ke kantor polisi karena akan di mintai keteranganku sebagai saksi atas kasus yang menimpa adik bungsuku. Seketika itu selera makanku menguai. Jangan untuk makan, untuk berpikir tetap santai saja sudah tidak bisa.
Gegas aku pun menghubungi Bapak agar segera bergantian menjaga Lyra yang bahkan untuk perubahanya aku belum melihatnya sama sekali. Setelah aku berpamitan pada Bapak, dan juga menceritakan yang sebenarnya terjadi, kami pun langsung menuju kantor polisi di mana Dirly ditahan.
"Aku takut banget Mas, takut kalau nanti namaku terbawa-bawa dalam masalah ini. Meskipun pasti entah secara langsung ataupun tidak namaku pasti akan menjadi pemicu masalah ini terjadi. Kenapa seolah takdir tidak pernah membiarkan kebahagiaan memelukku lebih lama? Selalu saja hadir berganti dengan duka," gumamku dari balik pelukan mas suami yang hangat itu.
Dari balik hijabku aku bisa merasakan kalau tangan mas suami terus mengusap pucuk kepalaku. Yah, berkat usapan tangan dari mas bojo aku bisa merasakan sedikit kedalamaian hati.
"Kamu yang sabar yah. Aku akan terus menemani kamu. Apapun yang kamu alami aku akan terus ada di samping kamu untuk menguatkan, kita hadapi bersama-sama." Hatiku justru sakit dan sedih ketika aku mendengarkan ucapan mas suami. Sungguh aku harus bersyukur dalam bentuk apa lagi karena telah dikirimkan sang pelindung yang begitu baik dan tidak pernah ikut-ikutan membenci.
"Terima kasih Mas, aku sangat beruntung dan berterima kasih karena Tuhan menitipkan aku pada imam seperti kamu. Maaf kalau kamu justru masuk dalam urusanku yang rumit ini. Aku juga nggak tahu kenapa hdupku jadi selucu ini," jawabku dengan setengah terisak. Meskipun aku sudah berjanji kalau aku tidak akan menangis lagi nyatanya tidak bisa air mata itu tetap luluh dan seolah tengah meledekku, di mana aku yang selalu berkata tidak ingin menangisi hidup yang lucu ini.
"Sepertinya aku yang seharusnya berbicara seperti itu. Aku yang seharusnya bersyukur karena memiliki istri yang baik dan tidak pernah merasa kamu lebih baik dari aku, meskipun dalam kenyataanya pengertian kamu dalam segi agama jauh lebih baik dari pada aku, tetapi aku justru sekarang seolah baik agamanya itu karena kamu yang merendah untuk membuat aku tidak berkecil hati, terima kasih." Mas Aarav sepanjang perjalanan mengajak aku mengobrol yang sebenarnya aku tahu apa yang kami obrolkan tidaklah begitu penting. Aku tahu apa yang Mas Aarav lakukan untuk terus mengajak aku ngobrol, adalah salah satu cara agar aku tidak tegang.
Hingga tanpa sadar kami sudah berada di depan kantor polisi di mana di dalam sana Dirly sudah dulu berada untuk dimintai keterangan. Aku menggosok-gosokan tanganku untuk mengurangi kegugupanku. Selain gugup aku juga merasakan kalau seolah aku akan menghadapi sidang skripsi, rasanya tegang yang luar biasa. Tubuh kaku dan bibi juga kaku.
Aku tersentak kaget ketika Mas Aarav yang berada di sampingku menggenggam tangan aku untuk memberikan kekuatan. "Rileks ada aku di samping kamu. Kalau bisa kamu tetap tenang dan jawab pertanyaan-pertanyaan dari polisi nanti dengan santai dan juga jangan panik dan jangan biarkan gerogi menguasai kamu. Aku yakin kamu pasti bisa melakukanya. Untuk kali ini ayo berjuang, setelah masalah ini selesai kita jalan-jalan ke Bali. Atau mau ke rumah adik-adikku di luar negri ada yang di Turki loh, adikku yang di Turki kemarin nggak ikut pulang soalnya sedang ngidam, mungkin kita akan main ke sana biar kamu cepat ketularan ngidam juga. Atau mau umroh sekalian ke rumah adikku yang bungsu Amora, dia yang paling beruntung di antara kami selain dapat suami kaya raya, termasuk jep pribadi yang kemarin kita pakai punya dia hadiah kehamilan dari suaminya. Dia juga paling baik dengan Mas, kalau ada acara Mas gak pernah keluarkan uang selalu dia yang bayar, dalam kamu dia tidak pernah mau dikasih meskipun sama kakaknya. Selalu dia yang memberikan pada kami. Meskipun dia bungsu." Mas Aarav terus memberikan aku semangat.
"Aku iri Mas, sama kedekatan kalian. Kalau Lydia malah kebalikan," aduku dengan suara kembali lirih.
Mas Aarav kembali merangkulku. "Mereka adik-adik kamu juga. Mereka sayang sama kamu seperti sama abangnya."
Bahkan dari sekian banyak hari yang kami lalui, kali ini orbrolan paling banyak yang dia lakukan. Maklum Mas Aarav itu termasuk laki-laki yang bisa dikatakan dingin dan hemat obrolan. Tapi kali ini sepanjang kita meninggalkan rumah sakit. Terus berceloteh memberikan dukungan untuk aku.
__ADS_1
Aku memberikan senyum terbaikku dan juga tentu tidak lupa untuk kesekian kalinya aku mengucapkan rasa terima kasih pada mas suami. Yang selalu memberikan dukungan, aku tidak bisa membayangkan andai mas suami tidak ada bagaimana panik dan tegangnya aku berada di posisi ini.
Kecemasan kembali mengusaiku ketika aku dan mas suami berbeda masuk ruangan. Yah kami berdua memasuki dua ruangan yang berbeda untuk menjawab pertanyaan penyidik.
Setiap aku akan menjawab pertanyaan laki-laki berseragam coklat aku selalu teringat apa ucapan Mas Aarav. Dengan sebisa mungkin aku tetap tenang dan menjawab dari yang aku tahu.
Pertanyaan yang aku harus jawab pun cukup banyak, termasuk hubungan aku dan Lyra serta hubungan aku dengan Dirly, semua aku jawab sesuai dengan yang aku alami tanpa melebihkan dan juga tanpa mengurangi. Namun aku cukup terkejut ketika polisi menayakan juga Samsul, di mana Samsul adalah suami dari adikku yang pertama yaitu Lyka.
Sama seperti pertanyaan yang ditujukan pada Dirly akupun menjawab pertanyaan tentang Samsul dengan lancar. Apalagi hubungan aku dan suami Lyka cukup jauh, tidak terlalu dekat karena Samsul sendiri bekerja mengurus penggilingan padi Bapak, sedangkan Dirly dan aku cukup dekat karena kami sama-sama bertugas membantu Bapak dalam bidang pembangunan desa. Aku membantu Bapak mengatur keuangan desa. sedangkan Dirly membantu Bapak untuk menjalankan projek-projek Bapak, agar terarah dengaan baik dan tepat sasaran.
"Minum dulu." Mas Aarav yang sudah selesai lebih dulu menjalani pemeriksaan datang menghampiriku ketika aku baru ke luar dari ruang pemeriksaanku.
"Terima kasih Mas," jawabku sebari tangan kananku yang bergetar meraih botol mineral yang di berikan Mas Aarav. Dengan tegukan besar aku menelan air minum yang cukup dingin untuk membasahi tenggorokanku dan mendinginkan pikiranku.
"Mas diperiksa juga?" tanyaku untuk memastikan lagi. Kami saat ini tengah berjalan menuju kursi yang ada di bawah pohon waru untuk berteduh dan membagi cerita saat di dalam ruang pemeriksaan tadi.
"Pertanyaan apa? Susah tidak?" tanyaku kepo maksimal. Mas Aarav membalas dengan gelengan kepala.
"Hanya soal malam tadi kita ke mana dan juga kenal kamu dari mana, dan kejadian saat kita makan dan adik kamu yang tiba-tiba marah dan juga suaminya datang. hanya itu. Kamu gimana susah nggak soalnya?" tanya Mas Aarav sembari terkekeh ketik melihat wajahku yang masih tegang itu.
"Entahlah mungkin soal Lydia ada tiga puluh pertanyaan Lydia tidak hitung, tapi susah banget. Aku yakin kalau ini ujian kelulusan kelas Lydia pasti akan tinggal kelas," jawabku dengan setengah berkelakar mengikuti gaya Mas Aarav.
Hingga aku lihat Mas Aarav terkekeh ketika mendengar candaanku yang pasti laki-laki itu tahu kalau itu hanya caraku untuk membuat Mas Aarav tidak panik.
"Kita cari tempat untuk menginginkan otak dulu, aku lihat kamu tegang banget. Aku takut nanti kamu akan sakit," ucapnya sembari terus menatap aku dengan penuh perhatian.
Aku melihat jarum jam di pergelangan tangan. "Jangan lama yah, habis Dzuhur kita ke rumah sakit lagi takut Bapak ada urusan," jawabku, aku tidak mau karena masalah ini Mas Aarav merasa di abaikan oleh aku.
__ADS_1
"Siap istriku."
Aku terkekeh, hatiku cukup damai dengan dukungan yang sangat berarti dari mas bojo.
" Arti Kehadiranmu "
Wahai suamiku
Hadirmu memberi nada pada lorong-lorong sepi duniaku
Hadirmu melukis indahnya pelangi pada hitam putih perjalanan hidupku
Kau adalah semangatku
Kau juga cahaya hatiku
Dalam segala ketidak sempurnaan hidupku
Kehadiranmu lah yang menyempurnakannya.
Kembali aku melihat wajah Mas Aarav memerah. "Oh Tuhan ternyata Mas bojo bisa salting juga."
...****************...
#Jangan bosen kalau Mbak Lydi bersenandung cinta yah, karakter dia itu romantis dengan bermain kata, sedangkan Om Duda lebih kaku dan tidak bisa beromantis dengan utaian kata. Jadi mereka dua karakter yang sangat berbeda, dipertemukan dalam satu ikatan suci pernikahan untuk saling melengkapi satu sama lain.
Mampir ke novel bestie othor yuk...
__ADS_1