
Kami pun terus mengobrol. Aku bahkan lupa, padahal tadi aku yang meminta mas suami istirahat, tapi malah sekarang aku yang mengajak untuk mengobrol dengan santai hingga rasa kantuk itu hilang. Dan kami saling bercerita dengan romantis.
"Mas Lydia mau tanya, boleh nggak?"
"Tanya apa? Kalau Mas bisa jawab, pasti di jawab, tapi kalau nggak buat PR (Pekerjaan Ranjang) ya," kelakar mas suami. Yah kalau lagi berduaan dan ada pembahasan pasti tidak jauh-jauh dari PR.
"Mas, Lydia serius," ucapku dengan menunjukkan wajah yang serius juga. Aku pun melihat wajah mas suami serius.
"Mas gimana kalau tiba-tiba orang tua Iko, atau bahkan keluarga Iko datang dan ingin mengambil Iko dari tangan kita? Yang mungkin saja entah dari mana datangnya info dan mengatakan kalau Iko adalah keluarga mereka, dan keluarga Iko menginginkan anak kita, Mas akan bagaiman?" tanyaku, saat ini pembahasannya memang sedikit serius, cenderung berat.
Aku menatap mas suami yang mana wajahnya sudah mulai terlihat tegang, dan siap untuk berpikir keras. "Mas secepatnya akan bikin surat adopsi, dari surat perjanjian yang kamu dan ibu dari Iko sudah jelas kalau wanita yang melahirkan Iko tidak mengizinkan apabila dari pihak suaminya mengambil anaknya. Mas rasa dari surat itu bisa menguatkan hak asuh Iko ke tangan kita," jawab Mas suami, sesungguhnya jawaban itu sudah lebih dari cukup untuk aku, tetapi rasa cemas seolah masih terus menyelimuti hati ini.
"Tapi kalau ternyata keluarganya orang yang cukup penting, uangnya banyak dan bisa membeli apapun termasuk menyuap hukum untuk mengambil hak asuk Iko, apa Mas akan berjuang juga agar Iko tetap jadi anak kita?" tanyaku lagi, yah aku selain baik juga ada sifat ngeyelnya, rasanya belum puas kalau belum mendapatkan jawaban yang benar-benar sesuai dengan yang aku inginkan.
"Oh sudah jelas, lagian kalau orang itu menggunakan uang untuk sebuah perkara, Mas justru semakin suka, karena tandanya kita bisa menggulirkan dengan uang juga. Jadi kamu jangan khawatir Iko itu sudah diserahkan pada kita jadi tidak ada alasan untuk memberikan Iko pada orang yang tidak tahu jelas keluarga Iko atau tidak. Lagian, pasti ada alasan ibunya tidak mau anaknya diasuh oleh keluarga suaminya. Apalagi wanita itu lebih memilih kamu yang mengasuh Iko, yang notabenya kamu dan dia tidak begitu kenal. Pasti wanita itu tidak asal memberikan anaknya pada kamu. Apalagi sampai membuat surat perjanjian. Mas yakin ibu itu ingin yang terbaik untuk Iko, dan dia sendiri tidak percaya kalau Iko diasuh oleh keluarga suaminya. Pasti ada keluarga suami itu yang membuat dia melakukan itu semua. Kalau tidak, sudah pasti wanita itu lebih memilih memberikan Iko pada keluarganya. Kamu tenang saja, Mas akan lakukan apapun untuk melindungi Iko dari siapa pun yang berniat jahat pada dia. Mulai saat ini Iko sudah jadi anak kita, maka sudah jadi tanggung jawab Mas juga."
Tanpa terasa air mata ini menetes dengan elegan, ketika mendengar jawaban Mas suami. Yah, pasti ada rasa sakit yang sudah tidak terbendung yang dirasakan oleh Mimin, sehingga Mimin lebih percaya Iko, aku yang mengasuhnya dari pada keluarga suaminya.
"Semoga saja yah, apa yang jadi ketakutan Lydia nggak terjadi," ucapku sembari mengembangkan senyum. Aku percayakan semuanya pada mas suami. Selama aku dan mas suami bersatu pasti semuanya bisa teratasi.
"Amin... jadi mau ngobrol terus nih nggak mau tidur?" tanya mas bojo dengan menunjuk jam yang sudah jam dua belas malam, saking asiknya ngobrol malah aku mengacaukan jam tidur mas suami.
"Ya Allah Mas maaf, gara-gara Lydia, tidur Mas jadi terganggu. Ini karena Lydia tidur sore jadi nggak ngantuk-ngantuk," ucapku sembari mengatupkan kedua tanganku sebagai permohonan maaf.
"Kayaknya kalau sudah bangun begini paling enak digombalin. Mana nih gombalannya. Puisi, masih iri loh gara-gara hanya jagoan yang dapat puisi tadi, malah suaminya tidak dapat apa-apa," jawab mas bojo.
Aku pun kembali berpikir. "Kalau puisi belum nemu ide Mas, gimana kalau pantun," ucapku dengan menaik turunkan alisku.
"Pantun?" Cukup lama kang mas suami berpikir keras.
"Boleh lah, suasana baru tadi di nyanyiin, sekarang pantun, besok apa lagi...?"
"Kayaknya besok-besok, Lydia akan baca dongeng," kelakarku, yah buat latihan mendongeng pada Iko nanti. Untuk sementara waktu Iko belum terlalu tahu dengan dongeng maka latihannya dengan mas suami.
"Dongeng itu gosip bukan sih?" tanya Mas suami, malah secara tidak langsung menuduh aku untuk mengajak ghibah.
"Beda dong Mas kalau gosip jatuhnya ghibah, kalau dongeng yang Lydia bercerita sendiri Mas cukup dengar dan tela'ah, tanpa menanggapinya lagi, kalau ditanggapi lagi jatuhnya gibahin tetangga," balasku dengan setengah terkekeh.
"Kamu memang bisa banget kalau balas omongan, bisa nggak jangan terlalu lucu, jatuhnya aku bingung kamu itu istri, apa pelawak." Nah kan, makin menjadi.
"Terus, jadi nggak dibikinin pantun? Tapi kayaknya ini pantun nggak masuk sih. Entahlah masuk atau tidak tapi jujur Lydia belum punya ide puisi, jadi yang ada dulu ajah yah," balasku dengan bersiap otak ini mencari pantun yang sedikit menghibur agar tidak stres banget pikiran ini.
"Ya dah, pantun kek atau apalah itu yang penting gombalin, kangen kegombalan kamu," ucap mas suami, setengah memelas cenderung maksa.
"Mas, aku memang tidak pantai bersajak. Apalagi mengatakan cinta, tapi aku akan coba, semua ini demi kamu laki-laki yang aku cinta." Aku melihat mas suami sudah siap-siap dengan senyum malu-malunya yang jujur membuat aku candu.
Aku mengatup wajah mas suami dengan ke dua tanganku.
Minum jamu, rasa empedu
Minum obat pakai roti
__ADS_1
Tatapan matamu begitu sendu
Membuat aku jatuh hati
"Udah satu ajah yah?" ucapku yang melihat mas suami seperti malu-malu meong, senyum tertahannya sangat candu bagiku. Ini yang membuat aku selalu memiliki ide untuk menggombalin kang mas suami, senyum malu-malunya tidak ada obat.
"Lagi dong masa cuma satu. Tanggung jawab lah kan udah dibangunin," ucapnya, nah kan emang gitu, selalu ketagihan dengan gombalanku.
"Lama-lama aku buka kelas gobal di sini Mas," balas ku setengah terkekeh."Nanti kita nggak tidur-tidur malah buat pantuan terus," imbuhku lagi.
"Dari pada olahraga juga nggak bisa, jadi buat gantinya ayolah buat pantun lagi."
"Ok lah demi kang mas bojo nih. Di bikinkan pantun cinta lagi. Untung istrimu baik dan sabar mas," pujiku pada diri sendiri yang langsung disambut dengan gelak tawa dari Mas Aarav.
Si Andi membeli buku
Si Dodo membeli merpati
Hadirmu di sini duhai suamiku
Bak pangeran penyejuk hati
"Uluh... jadi sayang." Mas suami langsung memelukku dengan gemas, hingga rasanya aku jadi terbang.
Meja kuat terbuat dari kayu jati
Kayu jati dari tanah Jawa
Wahai mas bojo penyejuk jiwa.
Memasak air pakai panci
Panci ditaruh di atas tungku
Setia adalah janji suci
Bagi kamu penghias hatiku
Bocah bermain dengan wajah ceria
Berlari tanpa memakai sepatu
Inginku, kau selalu bahagia
Temaniku hingga ujung waktu
Kembali aku melihat mas suami tak henti-hentinya tersenyum terkekeh setiap aku membaca pantun.
"Mas, harusnya kalau Lydia baca pantun. Mas bilang 'Ea'... kalau tidak 'cakep' Biar lebih berasa kaya di tipi," ucapku sembari memeragakan khas pelawak kalau lagi gombal.
"Ya udah ulang-ulang, abis tadi saking senengnya sampe lupa," ucap mas suami.
__ADS_1
"Udah malam ah, otaknya udah nggak bisa loading lagi. Apalagi mikir udah lima watt nih, ngantuk," balasku dengan berpura-pura menguap.
"Yah padahal pengin satu lagi," ucap Mas suami dengan suara mengiba.
Menghabiskan malam bersama-sama
Cakep... aku justru terkekeh ketika mau melakukannya, karena logat mas suami sangat kaku jadi geli dengarnya.
Menatap bulan dan indahnya bintang
Cakep... jangan ditanya aku justru semakin terkekeh karena mas suami menambahkan kata cakep nggak cocok banget
Bukan paras hal utama aku jatuh cinta
Cakep... kali ini aku coba menahan tawa
Melainkan kasih sayang yang tak terbilang
Final, aku melambaikan tangan. Ngantuk...Tidur yuk!!
"Eh, tunggu masa pembaca nggak dibuatkan pantun, kasihan katanya pengin juga dibikinkan pantun tuh."
Hemz.... baiklah berhubungan Lydia emang baik pake komplit jadi khusus buat pembaca juga dibuatkan pantun dah.
#Untuk pembaca yang tengah berpuasa#
Buah mangga dimakan rusa
Makan puding rasa anggur
Buat yang berpuasa
Jangan lupa sahur
Ke pasar membeli Sayur
Dimasak tanpa rasa
Ayo kita sahur
Besok kita puasa.
Buat yang berpuasa, selamat menjalankan ibadah puasa.
Bersambung....
...****************...
Masih di pantau sama anaknya. Kasihan banget Iko jadi obat nyamuk...
__ADS_1