
Julio menatap punggung Hadi yang berjalan sedikit bungkuk. Yah, ia masih sedikit merasakan nyeri di bagian luka bekas operasinya. Laki-laki itu sangat menggantungkan harapan pada Hadi, mungkin pada Hadi hubungan dirinya dan Mimin akan kembali membaik. Mungkin memang ia sangat tidak tahu diri menginginkan suatu permintaan yang sangat berat. Ia yang berbuat, tetapi menginginkan bantuan dari orang lain untuk mendapatkannya. Tidak tau diri bukan?
"Andai saat ini Tuhan bertanya padaku, apa keinginan terbesarku saat ini, dan Ia akan mengabulkanya. Maka akan aku jawab. Aku ingin hubungan dengan adikku kembali harmonis. Aku ingin diizinkan menjadi kakak yang bisa mendengarkan keluh kesah adikku. Kami duduk bersama sembari minum teh di temani dengan cemilan alakadarnya, dan ngobrol menghabiskan waktu pagi yang hangat. Tapi, aku sadar itu hanyalah impianku yang sangat sulit diwujudkan." Julio tersenyum gentir ketika mengingat kembali, masalah-masalah yang berporos para dirinya.
Drettt ... ponsel yang ada di sakunya begetar. Laki-laki itu membuka ponselnya. Ia memejamkan mata ketika melihat siapa yang menghubunginya. Perawat Damian yang ternyata menghubunginya. Perawat yang ia tugaskan untuk menjaga ayahnya.
[Hallo ada apa Man?] tanya Julio begitu ia mengangkat sambungan teleponya.
[Mas, Anda di mana? Tuan Lukman kondisinya semakin memburuk, bisa Anda pulang!]
Deg! Julio kembali di hadapkan dengan kondisi yang sama-sama sulit. Adiknya masih di rumah sakit, dan sekarang papahnya juga kondisinya semakin memburuk. Julio bercita-cita ingin mempertemukan Jasmin dengan ayahnya setidaknya sekali sebelum sang ayah berpulang. Namun, dia juga nggak bisa memaksakan, karena kondisi sang adik juga yang mengalami tekanan mental yang begitu hebat. Ia masih teringat apa kata Dokter Sera, kalau tekanan mental itu sakit yang paling mematikan. Laki-laki itu tentu tidak ingin kalau adiknya mengalami tekanan itu.
[Mas .... Mas .... Anda bisa dengar suara saya?] Demian kembali memanggil Julio yang tiba-tiba menghilang suaranya.
[Iya Man, saya akan pulang sekarang juga,] ucap Julio dengan tubuh yang lemah karena semalaman ia tidak tidur, dihukum dengan penyesalan membuat Julio merasakan tubuhnya melayang-layang. Untuk pulang pun akhirnya Julio memilih naik taxi, sedangkan mobil untuk sementara waktu ditinggalkan di rumah sakit.
******
Julio langsung mengayunkan kakinya menuju kamar pribadi sang ayah. Di dalam sana hanya ada Demian yang setia menemani Lukman. Pandangan mata Julio menatap Lukman yang kondisinya semakin memprikatinkan. Melihat pintu kamarnya di buka Lukman langsung mengalihkan pandanganya. Di hidung dan mulutnya Lukman terpasang masker oksigen.
Laki-laki tua itu seolah tengah menunggu putrinya datang. Julio duduk di kursi samping Lukman. Ia memegang tangan laki-laki yang bahkan kulitnya sudah semakin kriput.
"Kamu sudah pangil dokter Man?" tanya Julio dengan pandangan mata yang masih terus tertuju pada Lukman yang kembali memejamkan matanya.
"Sudah Mas."
__ADS_1
"Hasilnya gimana? Apakah ada perubahan?" tanya Julio lagi. Siapa yang tega melihat kondisi ayahnya yang seperti ini, tapi harus dihakimi karena kesalahannya? Andai boleh, ia juga ingin memberikan pelajaran pada ayahnya, tapi kondisi fisiknya yang terus melemah membuat Julio tidak tega untuk menghukumnya.
"Hasilnya tidak ada yang berubah secara berarti. Bahkan dokter berkata, sekalipun di lakukan tindakan operasi lagi. Kondisi Tuan Lukman yang sudah semakin lemah sangat kecil kemungkinan untuk sembuh. Sehingga mereka juga tidak berani melakukan tindakan dalam kondisi yang sudah sangat kecil untuk sembuh seperti sekarang ini." Demian menyampaikan dengan apa yang Dokter katakan juga.
"Jadi, kita harus pasrah saja seperti ini. Hanya tinggal menunggu ..." Julio tidak melanjutkan ucapanya karena ia tidak kuat. Ia terlalu sedih dengan kondisi ayahnya.
"Maaf Mas, tapi memang itu yang Dokter katakan. Kami juga tidak ingin dalam posisi seperti ini, tapi kondsi pasien yang sudah berumur memang seperti itu, mau atau tidak mau kita harus pasrah, dan hanya menunggu ajal."
Test ... Julio kembali meneteskan air matanya. Ini adalah masa-masa terberatnya. Ia harus kembali kehilangan orang tuanya. Bedanya dulu dia tidak tahu ibunya dimakamkan. Bukan dia yang tidak tahu, tapi dia yang tidak mau tau.
"Yah, bertahan yah. Setidaknya sampai Jasmin mau menemui Ayah, jadi Ayah bisa mengatakan secara langsung perminta maaf Ayah. Bukanya Ayah pengin ketemu Jasmin? Doakan Julio bisa membawa Jasmin ke sini. Ayah tunggu yah. Jangan nyerah dulu," bisik Julio di samping telinga Lukman.
Laki-laki tua itu yang sebenarnya masih bisa mendengar dan merespon hanya saja kondisi fisiknya yang semakin lemah membuat dia tidak bisa beraktifitas seperti orang sehat. Lukman membuka matanya kembali ketika mendengar nama anak yang ia tunggu-tunggu disebut oleh Julio.
"Iya, Ayah kuat yah, tunggu sampai Jasmin datang ke sini. Julio akan mencoba cara lain, mungkin saja Jasmin mau bertemu Ayah," ulang Julio. Dan laki-laki itu bisa melihat bibir Lukman tertarik samar. Seolah laki-laki itu ingin menujukan kalau dirinya bahagia dengan mendengar nama putrinya.
Julio yang sudah kehilangan akal pun mencoba merekam kondisi Lukman. Lalu ia mengirimkan rekaman kondisi sang ayah pada calon adik iparnya. Tersetah mungkin ada yang mengatakan jual kesedihan ataupun jual perhatian. Yang terpenting Julio ingin terakhir kalinya mempertemukan Jasmin dengan ayahnya.
[Ini kondisi Ayah saat ini. Ayah sangat ingin bertemu dengan Jasmin. Kalau Mimin mau temui Ayah, karena keinginanya saat ini hanya ingin melihat Jasmin.] Itu adalah caption dari vidio yang Julio kirimkan pada Hadi. Kini harapan Julio hanya pada Hadi. ia ingin Hadi bisa membujuk Mimin untuk menemui ayahnya.
*********
Di rumah sakit.
"Dari mana Mas?" tanya Mimin, wanita itu sudah banyak berbicara dan kembali ceria. Bahkan sesekali Mimin tertawa dengan renyah ketika Arum bercerita masa-masa kecil Handan dan Hadi.
__ADS_1
Kini Mimin jadi tahu kalau Hadi itu adalah orang yang sangat usil, dia selalu ngusilin adiknya Handan hingga nangis, dan kalau sudah nangis dia akan kabur. Sedangkan Handan dia adalah korban dari sang mamah yang ternyata ingin memiliki anak perempuan. Handan saat kecil sering dikuncir rambutnya, saking ingin punya anak perempuan. Cerita receh itu berhasil membuat Mimin tertawa renyah.
"Abis dari luar ngobrol-ngobrol ajah, kenapa kangen yah." Hadi pun duduk di samping Mimin kini Iko pun sudah bangun dan sekarang sedang bersender di tubuh Mimin dengan ngemil biskuit.
"Ya nggak juga, kan cuma tanya mungkin Mas ada kerjaan," elak Mimin, ya padahal kangen sih. Seneng Mimin lihat Hadi yang sudah sembuh.
"Kalau beneran juga nggak apa-apa lagi. Ya biar aku senang gitu." Hadi menaik turunkan alisnya.
"Dih jadi genit sih sekarang. Perasaan kemarin nggak deh."
"Gak apa-apa genit sama calon istri," bela Hadi dengan percaya diri.
"Iya deh iya yang punya calon istri."
"Ngomong-ngomong jagoan udah bangun aja. Enak banget ngemil biskuit. Sekrang kayangnya udah nggak pucat yah. Udah sembuh ini mah." Hadi mengacak-ngacak rambut calon putranya.
"Kan abis makan, sekarang sudah mau makan meskipun hanya tiga suap, tapi udah mau makan, dan sekarang ngemil," adu Mimin, senang karena anaknya sudah kembali ceria. Apalagi pas diacak-acak rambutnya oleh calon papahnya udah bisa protes.
"Jangan diacak-acak rambutnya, nanti jelek!"
#Nah loh Om Duda, calon anakmu ngambek ☺
Salam dari calon anaknya Om Duda nih. Senggol dong.... 😎
__ADS_1