
Lelah fisik, pikiran dan juga batin. Itu yang dirasakan oleh Julio. Namun, ia tahu itu semua bukan alasan untuk berhenti. Ia pernah melakukan kesalahan terhebat, sehingga kali ini laki-laki itu pun mencoba melawan perasaanya yang mengganggunya. Tidak ada yang ingin berada di posisi Julio, maupun Mimin, tapi takdir bukan sebuah pilihan, mau tidak mau ia harus menerima dan menjalaninya.
Dulu, ia adalah anak yang hidup dengan pikiran apa kata gue, atau bisa dibilang suka-suka gue ajah hidupnya. Tidak pernah ada yang mengarahkan. Lukman sibuk dengan pekerjaanya. Begitupun Tizi sang ibu tiri yang subuk dengan kehidupanya sendiri. Namun, hidup bagai rolercoaster yang tiba-tiba. terjun bebas. Dalam waktu singkat ia dipaksa untuk memahami kedaan yang sangat berbeda jauh dengan kehidupan sebelumnya.
Seperti anak ayam kehilangan induknya, mungkin itu yang Julio rasakan. Seperti sekarang ini, ia bingung akan meminta bantuan pada siapa, ketika adiknya belum juga membuka pintu maaf.
Hadi, laki-laki itu pun teringat dengan sosok laki-laki yang siang tadi menghampiri dirinya. Yah, bisa ia lihat dari cara berbicaranya kalau laki-laki itu baik dan juga ada harapan darinya kalau bisa menjadi perantara perdamaian dirinya dengan Jasmin. Tanpa pikir panjang Julio pun meraih ponselnya. Ia merekam kondisi terakhir Lukman yang semakin memprihatinkan.
[Maaf kalau aku tidak tahu diri, tapi kalau boleh minta tolong. Katakan pada Mimin, ini kondisi Ayah yang semakin melemah. Barusan setelah berbicara dengan kamu. Aku dapat telepon dari perawat yang menjaga Ayah, mengabarkan kondisi Ayah yang semakin melemah. Dan barusan Ayah masih terus memanggil Jasmin. Kalau boleh memohon, aku ingin Jasmin datang menjenguk Ayah. Meskipun terakhir kalinya bertemu.] Itu adalah pesan yang dikirimkan Julio setelah mengirimkan vidio kondisi ayahnya.
Julio mengusap punggung tangan Lukman yang hanya tinggal tulang dan kulit. Dulu dia adalah laki-laki yang tampan dan gagah, tapi sekarang yang ada tubuhnya hanya tinggal kulit dan tulang.
"Demian. Apa selama aku pergi Ayah ada ngomong sesuatu?" tanya Julio pada laki-laki yang selalu ada di samping ayahnya.
Demian tidak langsung menjawab pertanyaan Julio. Ia menunduk mungkin mengingat apa yang dia katakan oleh ayahnya selama ia pergi.
"Setahu saya, Tuan Lukman tidak mengatakan apa-apa selain bertanya ke mana Nona Jasmin. Hampir setiap saat yang ditanyakan adik Anda," jawab Demian, sedikit melemah. Julio tahu betul, yang ada dalam pikiran ayahnya adalah Jasmin. Itu semua karena alam bawah sadarnya merasa paling bersalah dengan Jasmin.
"Terima kasih sudah menjaga ayahku selama aku tidak ada. Kamu boleh istirahat pasti kamu cape menjaga ayahku. Sekarang biar aku yang jaga Ayah, nanti kalau kamu sudah segar dan mendingan kita bisa gantian lagi," ucapku, sebagai anak aku ingin merawat dan menemani Ayah, saat-saat seperti ini tidak akan terulang kembali. Aku tidak tahu seberapa besar kesalahan Ayah, tapi yang aku tahu, kewajiban anak adalah merawat orang tuanya.
__ADS_1
******
Di rumah sakit. Hadi pun terus bercengkrama dengan Iko dan Mimin, siapa pun yang melihat pasti akan berpikir kalau mereka benar-benar sangat mirip dengan keluargaa yang bahagia.
Bahkan Arum dan Ahmad pun berpikir demikian. Mereka melihat Hadi langsung sembuh, padahal kemarin ia baru melaksanakan operasi, biasanya pasti masih lemas, tapi Hadi justru nampak segar. Entah apa yang dibicarakan oleh Hadi, Mimin dan Iko. Nampaknya mereka sangat bahagia.
Mimin pun sesekali terlihat tertawa melihat obrolan Hadi dan Iko. Entahlah anak dua tahun setengah itu sangat nyambung dengan obrolan dengan calon papah tirinya.
Dreeettt ... Dreeetttt .... Ponsel di saku Hadi bergetar. Menandakan ada pesan masuk. Tanganya di bawah sana merogih saku celananya dan mengambil ponselnya.
Deg! Pandangan matanya langsung terfokus dengan layar ponselnya.
"Om ... ini belapa?" tanya Iko menujukan jari-jarinya yang berdiri. Namun Hadi justru bergeming, ia tidak mendengar pertanyaan Iko. Pandangan matanya terus menatap layar ponselnya.
"Mas, ini Iko tanya." Mimin mencoba memanggil calon suaminya, tanganya menujuk jari-jari Iko yang masih berdiri. Namun, lagi-lagi Hadi bergeming. Ia masih berpikir cara memulai membuka obrolan yang menyinggung kondisi calon mertuanya.
Dalam perasaan Hadi masih ada rasa takut kalau Mimin akan kembali mengalami tekanan mental lagi, dan mengakibatkan kondisinya kembali melemah, tapi ini soal nyawa. Mana tega ia menahannya.
"Om ... ini belapa." Iko yang gemas pun langsung mengambil ponsel Hadi. Laki-laki itu langsung tersentak kaget ketika ponselnya berpindak ke tangan calon anaknya.
__ADS_1
"Mamah, ini ..." Iko dengan polosnya memberikan ponsel yang dia ambil dari tangan Hadi ke Mimin. Karena penasaran Mimin pun melihat aya yang kira-kira membuat calon suaminya melamun terus.
Deg! Sama dengan Hadi, setelah melihat foto yang Julio kirimkan. Mimin juga terkejut. Kelopak matanya langsung memanas. Marah, benci dan kasihan menjadi satu. Ia ingin bertanya dengan apa yang terjadi dengan ayahnya, tetapi bibirlnya kelu. Sulit untuk diucapkan.
Tes... Mimin pun akhirnya meneteskan air matanya. Hadi yang bingung pun hanya diam. Bingung dan serba salah. Perlahan Hadi mengangkat tanganya, dan mengusap punggung Mimin.
"Kamu pengin ketemu dengan ayah kamu?" tanya Hadi dengan suara yang parau, dan lirih. Tenggorokanya pun rasanya seperti tercekik.
"Aku tidak tahu ..." balas Mimin dengan menangis. Hingga Iko yang tidak tega melihat mamahnya menangis pun ikut menangis.
Ahmad dan Arum yang panik pun langsung mengambil Iko daan mengajaknya keluar ruangan. Calon kakek dan nenek itu mengajak Iko bermain, agar tidak sedih dan ikut merasakan apa yang Mimin rasakan. Lydia sendiri datang mendekat ke Mimin, ingin tahu apa yang membuat Mimin kembali menangis.
Lydia menatap Hadi, seolah tengah bertanya ada apa? Hadi hanya memberikan ponselnya. Ia tentu yakin Lydia akan tahu apa yang sebenarnya terjadi setelah membaca pesan dari Julio.
"Astaga, separah ini kondisi Om Lukman?" gumam Lydia, yang kembali membuat Mimin bersedih.
"Apa aku harus temua laki-laki itu?" tanya Mimin di sela-sela tangisanya.
Sama dengan Hadi. Lydia pun mengusap punggung Mimin, seolah memberikan dukungan. "Kalau aku boleh memberikan usul, sebagai anak, kamu temui ayah kamu. Terlepas dari kesalahanya. Ia tetap ayah kamu. Namanya orang tua tidak ada bekasnya. Begitupun orang tua dengan anak tidak ada istilah bekas anak. Salah atau tidak kita tetap ada kewajiban untuk menghormati mereka," balas Lydia dengan pelan-pelaan. Ia tidak mau nanti apa yang Lydia sarankan justru terkesan membela Lukman.
__ADS_1
Bersambung...
...****************...