Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Hukum Tabur Tuai


__ADS_3

Di saat Mimin sedang menikmati kebahagiaanya dengan keluarga barunya, di sebuah rumah sakit yang besar. Justru sebaliknya sepasang suami istri sudah hampir tiga bulan lebih dirawat di rumah sakit, tapi belum juga ada perubahan yang berarti pada suaminya.


Yah, dia adalah Wijaya dan istrinya. Aset-aset yang dimiliki pasangan suami istri itu pun perlahan lenyap dijual untuk biaya pengobatan suaminya.


Sakit yang diderita Wijaya cukup berat yaitu pecah pembuluh darah di otak. Ia sudah dilakukan operasi ke dua kalinya di mana laki-laki itu yang pertama pembuangan darah yang mengendap di otak, dan yang kedua pun sama masih ada darah yang tersisa sehingga di lakukan pembedahan ke dua kalinya. Kondisinya sekarang bisa dikatakan sudah jauh lebih baik, tapi juga belum bisa dikatakan ingatanya kembali seratus persen.


Pecah pembuluh darah yang dialami Wijaya memang bukan yang parah banget dan bukan juga yang mengakibatkan hilang ingatan atau bahkan kembali ke pemikiran saat kecil. Meskipun yang terjadi pada Wijaya adalah pecah pembuluh darah yang masih ringan, tapi bukan berarti Wijaya bisa dikatakan baik-baik saja.


Contohnya yang terjadi sekarang ini, dalam ingatannya yang paling kuat adalah soal Mimin. Entah berapa kali laki-laki tua itu memanggil-manggil nama mantan menantunya.


"Mimin ... Mimin ..." Wijaya memanggil Mimin kembali dengan suara yang lemah. Risa pun berjalan menghampiri suaminya. Beruntung Wijaya meskipun dalam keadaan sakit dan jatuh miskin Risa masih mau menemani dan melayani laki-laki itu. Meskipun Risa sudah lelah dan sudah ditunggu beberapa kali punya pikiran menyerah merawat suaminya.


"Jangan panggil Mimin lagi! Dia tidak akan datang ke sini," ucap Risa dengan ketus. Ini bukan ucapan pertama kalinya Wijaya diperlakukan seperti itu oleh Risa. Wanita paruh baya itu sebenarnya ingin meninggalkan Wijaya, tapi dia masih punya hati nurani karena anaknya juga masih ada di dalam penjara. Sehingga wanita itu masih bertahan, tetapi perlakuannya juga makin sering membentak Wijaya.


"Mimin ke mana?" tanya Wijaya dengan suara lirih.


"Mana aku tahu, mungkin sedang senang-senang dengan harta dan kekayaannya. Dia sekarang udah kaya jadi jangan berharap kalau Mimin akan datang menjenguk kamu." Risa terus membuat Wijaya kembali tertekan.


"Aku mau ketemu Mimin," rengek Wijaya. Yah, hampir setiap hari laki-laki tua itu selalu mencari-cari Mimin. Dalam ingatanya Mimin adalah anaknya. Bahkan kalau diingatkan bahwa Mimin bukanlah anaknya melainkan menantu. Sedangkan yang menjadi anaknya adalah David. Laki-laki tua itu justru tidak ingat kalau nama anaknya bernama David. Yang ia ingat anaknya namanya Mimin. Hal itu berhasil membuat Risa sangat dongkol karena berapa kali wanita itu mengatakan kalau Mimin bukanlah anaknya melainkan menantu yang sudah tidak perduli dengan dirinya.


Namun, sekeras itu pula Wijaya menolak bahwa anaknya adalah Mimin, ia ingin bertemu dengan Mimin, bahkan entah berapa kali kalau Wijaya selalu minta pada dokter dan perawat yang menjaganya apabila Risa pergi bekerja agar meneleponkan Mimin dan datang untuk menemuinya.


"Sudah dibilang, Mimin itu bukan anak kamu. Anak kamu itu David. Mimin hanya orang asing yang kebetulan datang dan masuk ke dalam cerita hidup kita. Lupakan Mimin atau kamu akan semakin gila." Risa berbicara cukup keras, dan dengan nada yang ketus.


Tes ... Wijaya pun menangis ketika Risa marah padanya bukan ia tidak terima dengan apa yang dia rasakan tapi Wijaya sakit hati ketika anaknya selalu tidak diakui oleh istrinya.

__ADS_1


#Ya jelas tidak diakui kan itu bukan anak kamu Wijaya.


Risa sendiri yang kesal dan marah dengan Wijaya pun lebih memilih meninggalkan ruangan suaminya. Wanita paruh baya itu pun mengambil tas mahalnya dan menitipkan Wijaya pada perawat. Ia ingin menemui anaknya dan bercerita kalau dirinya sudah tidak sanggup lagi merawat suaminya yang semakin tidak bisa dinasihati. Wijaya terus saja mengira kalau anaknya Mimin. Sedangkan Risa juga sudah sekuat tenaga mengatakan kalau Mimin bukanlah anggota keluarganya lagi.


Sedangkan Wijaya ketika Risa pergi ia dihinggapi rasa bersalah dan juga bingung, tapi dalam alam bawah sadarnya laki-laki itu hanya ingat kalau Mimin adalah anaknya.


*********


Di saat Wijaya di tempat lain ingin sekali bertemu dengan Mimin yang ia ketahui kalau wanita yang ia panggil-panggil terus namanya adalah anaknya. David di sel tahanan pun di kabarkan kalau ada yang ingin bertemu. Laki-laki yang sekarang sudah benar-benar berubah. David pun cukup kaget ketika kepala lapas mengatakan kalau ada yang ingin bertemu dengan dirinya. Sedangkan sudah  cukup lama  kalau tidak ada lagi yang menjenguk dirinya. Terakhir yang datang menjenguk dirinya adalah Aarav dan itu pun sebelum sidang putusan pengadilan. Ada sih yang datang lagi, tapi pengacara keluarganya membertahukan aset-aset keluarga yang dijual untuk biaya pengobatan ayahnya.


Dengan rasa penasaran Hadi pun langsung keluar ke ruangan besuk. Laki-laki berpeci putih pun cukup kaget ketika melihat yang datang menemui dirinya adalah wanita yang sudah melahirkannya.


Risa menunduk seperti menahan kesedihannya. Untuk sesaat David pun bergeming, bingung dan deg-degan ketika Risa tiba-tiba datang menemui dirinya.Setelah David menyiapkan dirinya untuk bertemu dengan sang ibu laki-laki itu pun mendekat ke arah Risa. Yah, David takut kalau kedatangan Risa untuk memberikan kabar kurang mengenakan.


"Ehemz ... Mamah ..." Suara David yang lembut membuat hati Risa berdesir hebat. Dulu saat ia berjaya bertemu dengan anak itu sangat jarang, selain ia yang sibuk dengan pekerjaanya. David pun selalu seperti itu sibuk juga dengan pekerjaanya. Sehingga ketika ia berpisah dengan David, karena David tersandung masalah hukum ia pun seperti tidak merasakan kedekatan sama sekali dan tidak merasakan kehilangan seperti pada orang tua dan anak yang lainya.


"Kamu sekarang jauh lebih baik," ucap Risa ketika melihat anaknya yang terlihat lebih dewasa dari sebelumnya.


"Ya, mungkin ini adalah teguran untuk David sehingga David bisa jauh lebih baik lagi," ucap David dengan nada bicara yang tenang. Risa mengulas senyum masam. Hatinya sakit. Ketika kembali mengingat keluarganya di saat usia tua  bukanya ketenangan yang didapatkan justru rasa tidak nyaman membuat Risa semakin serba salah.


"Vid, Mamah sudah tidak kuat menghadapi Papah kamu. Setiap hari selalu membuat Mamah sesak dan ingin pisah saja," ucap Risa tidak ingin lagi menahan diri untuk mengatakan alasan dirinya datang menemui David.


Sedangkan David hanya tertawa getir mendengar ucapan sang ibu. "Jadi ini alasan Mamah datang ke sini?" tanya Hadi dengan suara yang bergetar. Laki-laki itu tengah mengolah emosinya. Yah ia sedang marah dan kecewa dengan ucapan ibunya.


"Papah kamu selalu memanggil-manggil Mimin, yang dia ingat Mimin adalah anak papah kamu. Sedangkan dia saja tidak mengingat kamu sama sekali. Mamah cape Vid mengurus papah kamu yang seperti anak kecil. Dinasihati berulang kali tetap saja tidak berfungsi otaknya," jawab Risa dengan suara yang bergetar ketika menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarganya.

__ADS_1


Glek!! David menelan salivanya kasar. Ia tahu ini adalah hukum tabur tuai, sama halnya dengan dirinya sekarang merasakan hasil dari apa yang dia lakukan selama ini.


"Papah sedang berada dititik terendah. Kenapa Mamah justru nyerah. Bukanya Dokter juga sudah menjelaskan apa efek dari sakit yang Papah derita. Salah satunya kehilangan ingatanya sebagian seperti yang Papah alami. Percayalah Papah juga tidak ingin seperti ini. Tolong jangan tinggalkan Papah. Beliau butuh Mamah untuk menemani hari tuanya. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi nantinya ketika Mamah meninggalkan Papah. Apa Mamah tidak menyesal dan tidak kasihan siapa yang merawat Papah nantinya kalau Mamah menyerah dan meninggalkan Papah. Ok, kalau David  tidak di penjara mungkin David akan setuju saja dengan apa keputusan Mamah, biarkan David yang menjaga Papah, tapi kalau David di penjara siapa yang akan menjaga Papah?" David mengeluarkan unek-uneknya.


Besar harapan David kalau sang Ibu bisa mempertimbangkan apa yang jadi putusannya.


Risa, pun kembali diam merenung apa yang dikatakan oleh David.


"Mungkin Papah sekarang sedang dapat ujian yang besar, tapi kita tidak pernah tahu kedepanya. Mungkin Papah akan sembuh dan kita tidak tahu dengan nasib Mamah kedepanya, atau nasib David juga kedepanya seperti apa. Tolong jangan egois. Jangan mentang-mentang sekarang Mamah masih sehat dan bisa cari uang sendiri. Mamah tinggalkan Papah, sedangkan Mamah sendiri tahu betul kalau Papah hanya ada Mamah saat ini. Mamah bahkan tahu kalau David tidak bisa menjaga kalian. Tolong sekali lagi pertimbangkan keputusan Mamah," ucap David dengan penuh permohonan.


Sedangkan Risa tidak bisa menjawab lagi. Yah, ia pun tidak memungkiri kalau apa yang David katakan juga ada benarnya.  Untuk beberapa saat ruangan besuk pun hening, baik David maupun Risa sibuk dengan pemikiranya masing-masing.


"Mamah akan coba pikirkan ulang." Sesuai yang David inginkan akhirnya Risa pun bersedia mengikuti apa yang disarankan oleh putranya. David pun bisa bernafas lega meskipun ia masih saja cemas takut kalau nanti Risa akan merubah pikirannya lagi, tapi setidaknya Risa masih mau mencoba untuk sabar menghadapi Wijaya.


David perlahan menggenggam tangan Risa yang diletakan di atas meja. "David tahu kalau Mamah saat ini sedang berada di titik terendah, tapi David mohon jangan saling egois, jangan tinggalkan Papah ketika Papah sedang banyak masalah dan sedang dalam ujian yang seperti ini."


Risa menitikan air matanya ketika sekarang putranya bisa menasihatinya. Risa mengangguk menandakan kalau wanita itu setuju dengan apa yang David katakan.


"David ucapkan terima kasih karena Mamah mau mempertimbanghkan lagi keputusan Mamah. David ucapkan terima kasih karena Mamah sabar menjaga Papah. Maafkan David yang hingga usia seperti sekarang ini belum  bisa membahagiakan Mamah." David mencium tangan wanita yang telah melahirkanya.


Risa pun justru semakin terisak ketika diperlakukan manis oleh putranya. Setelah ngobrol cukup lama. Kini Risa pun pamit meninggalkan David, setelah ngobrol dan menceritakan kondisi suaminya. Kini Risa pun sudah jauh lebih tenang.


Begitupun dengan sepeninggalnya Risa, David pun dilanda kembali penyesalan. Kini ia sadar kalau hukum karma memang ada. Eh, tepatnya hukum tabur tuai. Apa yang dia tanam saat ini adalah buah dari apa yang dia lakukan sebelumnya.


"Ya Tuhan, tolong jaga ikatan suci pernikahan Mamah dan Papah. Tolong sehatkan Papah dan berikan kesabaran pada Mamah. Tolong Tuhan lindungilah mereka dari hal-hal yang buruk. Hamba ingin bersama dengan beliau." David berdoa dengan tulus untuk kedua orang tuanya. Serta untuk hidupnya di mas depan.

__ADS_1


Bersambung....


...****************...


__ADS_2