
"Alhamdulillah... " ucapan hamdalah menggema di dalam ruangan sidang, setelah perjuangan satu tahu lebih untuk mendapatkan hak adopsi Iko, akhirnya pengadilan memutuskan kalau Iko saat ini sudah resmi menjadi anak asuh dari pasangan Lydia dan juga Aarav.
Tanpa terasa air mata bahagia pun turun untuk mengabarkan bahwa saat ini Lydia dan Aarav sedang berbahagia.
"Alhamdulillah akhirnya perjuangan kita tidak sia-sia setelah satu tahu setengah berjuang kita bisa bernafas lega juga," ucap Lydia dengan senyum terus mengembang sempurna, bukan hanya Lydia dan Aarav yang berbahagia. Papi Sony dan Mami Misel pun terlihat sangat bahagia dengan putusan pengadilan yang menurutnya sangat adil itu.
"Tapi kenap Mimin tidak hadir yah, apa mungkin dia tidak siap untuk mendengar putusan pengadilan," tanya Mami Misel yang sejak tadi mencari keberadaan Mimin, tetapi tidak juga menemukanya.
"Mungkin Mam, pasti dia juga ada rasa berat memberikan Iko. Apalagi ini adalah anak pertama," balas Lydia, dia mencoba memahami perasaan Mimin. Meskipun selama ini Mimin selalu berkata kalau dia tidak pernah keberatan apabila Iko menjadi anak adopsi dari Lydia dan juga Aarav, tetapi dalam hati kan tidak ada yang tahu.
"Tapi kamu bilang kan kalau dia tetap bisa bertemu dengan Iko kapan pun dia mau? Kita tidak akan melarang Iko untuk bertemu dengan dirinya," balas Mami Misel lagi.
"Sudah Mih, dan Lydia juga sudah bilang bahkan kalau Mimin ingin Iko menginap maka Lydia tidak akan melarangnya," balas Lydia dengan yakin dan itu adalah keputusan bersama dengan Aarav dan juga Mimin.
"Kalau gitu sekarang kita pulang dan siapkan acara syukuran untuk rezeki kita kali ini." Papih Sony dan Mami Misel tanpa sepengetahuan Lydia dan Aarav sudah menyiapkan syukuran kecil-kecilan untuk bersyukur dengan rezeki yang mereka dapatkan sejauh ini. Bagi mereka Iko adalah rezeki yang tidak ternilai harganya.
"Syukuran saat ini juga Pap?" tanya Lydia untuk memastikan lagi.
"Yah, ini adalah hari bahagia untuk kita."
__ADS_1
Tanpa menunggu lama setelah menyelesaikan semua urusan untuk keperluan surat-surat adopsi, Lydia dan keluarganya pun langsung pulang ke rumah di mana di rumah mereka akan segera diadakan syukuran untuk Iko yang saat ini sudah jadi anak mereka di mata hukum dengan kuat dan tidak akan bisa yang mengambilnya lagi.
"Selamat yah Lydia, aku ikut senang karena sekarang Iko sudah jadi anak kalian," ucap Mimin yang ternyata wanita itu lebih memilih untuk menunggu keluarga Lydia di rumahnya.
"Terima kasi Min, kamu jangan berkecil hati yah, meskipun Iko dalam mata hukum adalah menjadi anak aku dan juga Mas Aarav, tetapi aku sudah pernah bilang sama kamu kalau Iko adalah anak kamu juga, aku hanya menyelamatkan Iko dari papahnya yang bisa saja mengambil Iko dari tangan kamu," jawab Lydia meskipun sahabatnya menunjukan kalau dia baik-baik saja, tetapi dia tahu hati Mimin pasti sedih ketika anak yang dilahirkan menjadi anak orang lain di mata hukum.
"Terima kasih Lyd. Aku akan banyak sekali hutang budi sama kamu, dan aku juga sejak tadi sudah bermain dengan Iko," balas Mimin dengan menunjuk Iko yang sedang berjalan masih seperti robot.
"Kita berdoa bersama-sama semoga setelah ini tidak ada lagi masalah yah, baik dari David maupun dari yang lainya, semoga saja dengan Iko sudah resmi jadi anak kami, kini kita bisa jauh lebih tenang. Dan kamu kalau mau ajak Iko main atau nginap di rumah kamu kami bilang saja, aku tidak akan melarangnya." Lydia tidak mau apabila dengan dia yang sudah menjadi orang tua Iko, malah membuat Mimin merasakan adanya jarak dengan buah hatinya, dia tetap akan membebaskan Mimin kapanpun dia ingin bertemu dengan Iko.
"Itu bisa diatur Lyd, aku tahu kamu orang yang baik dan tidak mungkin kalau kamu akan memisahkan aku dengan Iko."
Hari ini juga mereka mengadakan syukuran dengan putusan pengadilan yang sudah secara resmi memberikan surat adopsi untuk Iko sebagai anak adopsi Lydia dan juga Aarav.
Brugggh... Seorang laki-laki berjalan dengar tergesa dan menabrak wanita yang sedang berjalan dengan telepon genggam di tangannya. Dengan gambar anak kecil dengan dirinya.
"Heh, lu kalau jalan pakai mata dong," ucap laki-laki itu dengan suara yang cukup keras. Padahal dia tidak terluka maupun terjatuh, itu hanya tabrakan biasa saja, tetapi marahnya seolah dia sudah terluka parah akibat tabrakan barusan.
"Mohon maaf Tuan, saya tidak melihat Anda, jadi maafkan saya, saya sedang melihat ponsel ditangan jadi tidak fokus dengan jalan," balas wanita itu dengan suara yang tetap terlihat tenang, meskipun dia tahu kalau bukan dia yang salah, tetapi laki-laki itu yang berjalan dengan tergesa sehingga tidak melihat ada orang dihadapan dirinya.
__ADS_1
"Mimin..." Suara yang masih laki-laki itu kenali, yah Mimin memang memiliki suara yang khas, yaitu serak dan berat, sehingga dia bersembunyi di balik cadar pun tetap bisa dikenalinya.
"Maaf saya sedang sibuk," balas Mimin, dengan langkah panjang ingin kabur dari laki-laki itu. Yah dia adalah David laki-laki yang sudah satu tahun ini tidak lagi mengganggu dirinya karena mungkin David berpikir kalau Mimin tidak akan sembuh.
"Min, tunggu tanpa meminta persetujuan David langsung menahan tangan Mimin, agar tidak berjalan meninggalkan dirinya.
"David, lepaskan kita bukan muhrim, kamu tidak bisa pegang aku sembarangan." Mimin mencoba melepaskan tangannya yang di pegang dengan kuat oleh mantan suaminya itu.
"Jangan sok suci kamu Mimin. Aku sudah tahu semua isi tubuh kamu yang sok kamu tutupi itu," balas David dengan suara yang terdengar sangat merendahkan.
"Kamu ngomong apa sih David, kita saat ini sudah tidak ada hubungan apa-apa sehingga tidak ada alasan untuk kamu tetap mengganggu aku, apalagi sampai pegang tubuhku sesuka hati kamu, itu dosa," balas Mimin, meskipun ia sudah dikuasai dengan kemarahan, tetapi wanita itu tetap mencoba untuk tenang karena ia sudah sangat tahu kalau David tidak bisa diajak bicara keras.
"Min, aku ingin ngomong sesuatu dengan kamu, ini sangat penting," ucap David yang mengabaikan ucapan Mimin itu.
"Maaf David, aku sedang bekerja dan aku tidak bisa berbicara dengan kamu dengan sembarangan karena kita sudah tidak ada hubungan apapun. Dan kita juga tidak sepatutnya ngomong sesuatu karena kamu sudah punya keluarga," balas Mimin yang tahu kalau mantan suaminya sudah menikah lagi.
"Ini tentang foto anak yang ada di ponsel kamu. Anak siapa ini?" tanya David dengan memegang ponsel yang tanpa Mimin tahu sempat jatuh saat tabrak dengan mantan suaminya dan tanpa Mimin tahu kalau David mengambilnya.
Sontak saja Mimin kaget dengan pertanyaan David. Terlebih sangat jelas itu foto dirinya dengan buah hati mereka.
__ADS_1
Bersambung...
...****************...